
Dur dur dur
"Nurii Nuriiii!"
Pintu kamar di gedor oleh ibu sambil berteriak memanggil namaku. Padahal aku baru saja mengucapkan salam dan belum membuka mukena yang ku pakai. Aku segera bangun dan membuka pintu karena aku tidak mau teriakan ibu membangunkan Zain yang sedang tidur kalau di biarkan saja.
"Ada apa sih bu, aku baru saja selesai sholat." Ucap ku dengan suara yang ku pelan kan agar Zain tidak terusik. Padahal sebenarnya aku ingin sekali berteriak balik. Sebab, aku kesal sekali padanya.
"Ada apa ada apa, sholat kok satu jam. Kamu sengaja ya mau menghindar biar tidak ku suruh buatkan nasi goreng?" Sungutnya padaku dengan raut wajah tidak enak di lihat oleh mataku.
Tuduhan ibu membuatku kesal. Padahal aku sholat hanya memakan waktu lima menit saja bukan satu jam yang dia tuduhkan padaku. Selain itu, aku kesal sekali karena ibu menuduhku ingin menghindarinya agar tidak membuat kan nasi goreng untuknya. Seumur hidup kapan aku pernah membantah ke inginkan ibuku? tidak pernah sama sekali. Aku selalu menuruti apa yang dia perintahkan karena dia ibuku yang harus aku hormati sekalipun selalu berlaku buruk padaku.
Kemudian, aku berjalan maju keluar dan ku tutup pintu kamar dengan rapat agar Zain tidak mendengar suara berisik kami.
"Aku sholat hanya makan waktu lima menit Bu. Lagi pula sejak kapan aku pernah membantah keinginan ibu? kapan Bu? aku bukannya mau menghindar tapi aku mau sholat dulu karena waktu maghrib hanya sebentar tidak seperti waktu sholat yang lainnya. Lagi pula kenapa ibu tidak sholat maghrib dulu? memangnya ibu tidak takut dosa meninggalkan sholat terus menerus? ibu kan sering ikut pengajian memangnya ibu tidak pernah mendengar ceramah ustad tentang wajibnya mengerjakan sholat lima waktu?" unek unek di kepalaku akhirnya ku ungkapkan juga di depan ibuku langsung. Entah mengapa rasanya aku memiliki keberanian untuk sedikit menasehati ibuku. Tapi sayangnya apa yang aku katakan malah membuat ibu ku bertambah berang padaku.
__ADS_1
"Jangan sok pinter kamu nur, kamu itu baru anak kemarin sore tentu saja ilmu pengetahuan tentang agamamu jauh di bawahku. Lagi pula, kamu itu tidak pernah ikut pengajian jadi dari mana kamu bisa tahu tentang ilmu agama? aku ini ibumu apa pantas kamu menasehati ibu yang sudah melahirkan mu dengan susah payah? kamu itu sebagai anak mestinya nurut dan berbakti pada orang tua bukan malah sok menasehati ku dengan ilmu agamamu yang cetek itu."
Aku menghela nafas menahan diri dari ucapan pedas yang ingin ku lontarkan pada ibu. Rasanya ingin sekali menimpalinya. Tapi, aku memilih untuk segera beranjak pergi ke dapur dengan mukena yang masih ku pakai. karena jika meladeni ibuku berdebat tidak akan ada habisnya. Aku tau, ibuku masih menatapku kesal karena aku telah mengabaikannya.
Tiba di dapur. Aku segera membuka mukena yang ku pakai lalu ku gantung di atas sampayan tali yang melintang panjang di dapur. Setelah itu, aku mengambil satu butir telor yang tadi sore ku beli untuk makan Zain besok. Karena mood ku lagi kesal pada ibu, aku jadi malas mengulek bumbu. Ku iris saja bawang serta cabai. Setelah itu, ku tumis di atas wajan yang sudah terlihat menghitam karena umur wajan itu sudah genap enam tahun. wajan yang ku beli dengan harga tujuh puluh ribu. Kemudian, ku masukan telor lalu di urak arik. Setelah itu, ku masukan nasi, garam dan kecap tanpa micin. Setelah selesai, aku membawanya ke ibuku yang sedang menonton TV lalu ku letak kan nasi goreng buatan ku tepat di depannya. Dia menatap nasi goreng itu dengan bibir di majukan lima senti.
"Kenapa ngga pake telor ceplok nur? apa kamu budeg bagaimana tadi aku menyuruhmu bikinnya?" Sentak nya tiba tiba. Aku yang baru saja berbalik hendak kembali ke dapur menoleh lagi ke arah ibu.
"Telornya habis Bu."
"Itu untuk besok Zain makan Bu."
"Halah, memang dasarnya kamu itu pelit dan perhitungan sama orang tua. Besok kan kamu bisa beli lagi dan yang ada apa salahnya ku makan dulu."
Lagi lagi ibu bilang aku pelit dan perhitungan padanya hanya karena perkara dua butir telor. Ingin rasanya aku menjerit dan memaki ibu. Namun, aku menahan nya. Walau bagaimana pun aku tidak boleh menyakiti hatinya karena dia ibu yang telah melahirkan ku.
__ADS_1
Ku langkahkan kakiku kembali ke dapur dengan dada terasa sesak menahan kekesalan pada ibu. Lalu, ku ambil telur satu butir yang niatnya untuk Zain makan pagi. Biarlah, besok Zain makan dengan kecap saja, pikirku. Setelah itu, telur ku goreng mata sapi seperti permintaan ibu.
"Ini telurnya." Ku letak kan telur itu di hadapannya.
Dia melirik pada telur mata sapi yang ku letak kan. Lalu, dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah layar TV sambil mulutnya mengunyah penuh nasi. Dari pojokan aku hanya menelan saliva ku. Sepertinya enak sekali nasi goreng buatan ku yang sedang di makan oleh ibu. Nasi goreng dengan dua telur.
Aku bergegas ke dapur karena perutku harus segera di isi sebelum aku berjibaku membuat kerupuk malam ini. Ku ambil cobek kemudian mengambil beberapa cabai kecil dan sedikit garam lalu menggerus nya di atas cobek itu. Setelah itu, aku meletak kan cobek berisi sambal cabai di atas meja makan lalu mengambil dua centong nasi dan ku letakan di atas piringku. Aku mulai makan. Beberapa tetes air mata mulai mengalir ke pipiku. Bukan karena rasa pedas sambal cabai yang ku makan melainkan rasa sedih di hatiku yang miris melihat betapa susahnya hidupku. Tiap hari aku tidak pernah memakan makanan yang bergizi. Tapi, aku selalu berdoa pada Tuhan semoga makanan tanpa gizi yang ku makan setiap hari tidak menjadi sebuah penyakit di tubuhku. Aku selalu berdoa supaya Tuhan memberiku selalu kesehatan, kekuatan dan umur yang panjang agar aku tetap bisa menjaga Zain anakku hingga tumbuh dewasa nanti karena aku tau jika aku sakit atau meninggal siapa yang akan menjaga dan merawat anak ku karena tidak ada satupun keluarga ku atau keluarga suamiku yang peduli dan sayang pada anak ku, Zain.
Ku usap air mataku dengan lenganku. Aku tidak boleh menangis. Aku harus kuat menghadapi kenyataan yang ada. Aku tidak boleh menjadi wanita lemah. Aku harus menjadi ibu yang kuat untuk anak ku. Ku habiskan sisa nasi di atas piring karena aku tidak ingin membuang buang makanan.
Setelah makan, aku memasuki kamarku untuk melihat Zain yang sedang tidur. Aku takut anak ku terjatuh dari kasur. Benar saja, untung aku melihatnya terlebih dahulu. Zain sudah berada di tepi ranjang jika bergerak sudah di pastikan akan terjatuh. Aku membenarkan posisi tidur anak ku. Lalu, ku ciumi wajahnya. Lagi lagi air mataku keluar. Aku sedih melihat Zain tanpa kasih sayang dari orang orang yang semestinya sayang padanya. Ku hapus air mataku dengan daster lusuh yang ku pakai. Kemudian, aku beranjak keluar dari kamar untuk membuat kerupuk di dapur. Aku melewati ibuku yang belum beranjak dari depan TV.
"Nur, bawakan piringku nih ke dapur," titah ibu padaku tapi matanya tak lepas dari layar TV yang sedang menampilkan sinetron.
Aku menatap pada dua piring kotor dan satu gelas bekas dia makan. Aku tidak protes. Ku ambil saja tiga benda kotor itu lalu membawanya ke dapur lalu mencucinya. Aku ini anak kandungnya tapi ibu seperti memperlakukan aku layaknya seperti seorang pembantu bukan seorang anak kandung. Terkadang aku berpikir kesalahan apa yang pernah aku lakukan pada ibu sehingga dia seperti membenciku. Kenapa perlakuannya berbeda sekali dengan kedua kakakku yang lebih di sayang nya di bandingkan aku.
__ADS_1