Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Tumis bayam dan tempe


__ADS_3

"Nur...Nuri...!" teriakan ibu di luar kamar cukup memekak kan telingaku. Aku segera menyimpan uang pemberian Bu haji dan menyelipkannya di bawah baju yang tertata rapih di dalam lemari. Lalu aku menyembulkan kepalaku ke luar pintu. Terlihat penampilan ibuku yang masih acak acakan. Aku tau dia baru bangun tidur. Aku heran pada ibu kenapa dia tidur begitu tahan dari malam hingga siang hari baru bangun.


"Ada apa Bu?"


"Ada apa ada apa, sudah siang hari kenapa kamu belum masak hah?"


Aku menghela nafas. Baru bangun tidur ibu memarahiku. Selain lupa, sebenarnya aku masih kesal dengannya karena sudah menghabiskan semua gorengan yang aku sisakan untuk makan kami bersama. Namun aku sadar tidak baik mendiami orang tua terlalu lama.


"Iya Bu, tunggu sebentar. Lebih baik ibu mandi saja dulu sambil nunggu makanan matang."


Ibu beranjak pergi, ia menurut atas apa yang aku perintahkan padanya. Aku menoleh ke arah Zain yang masih asik bermain mainan nya.


"Nak, mama mau masak dulu, Zain main sendiri saja di sini ya?"


"Iya mama."


Aku tersenyum lalu ku kecup keningnya dengan sayang. Kasih sayang yang tak akan pernah pudar apa pun keadaannya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk memperlakukan Zain dengan baik dan tidak akan pernah memperlakukannya seperti perlakuan ibuku terhadap diriku.


Aku bergegas pergi menuju dapur untuk memasak. Ku rajang sayur bayam serta memotong tempe karena siang ini aku akan memasak tumis bayam serta goreng tempe. Aku tau ibu ku tidak akan menyukainya tapi ku biarkan saja dan terserah dia mau memakannya atau tidak.


Dua puluh menit kemudian masakan ku sudah selesai lalu aku meletakkannya di atas meja makan. Aku bergegas masuk kamar untuk menemui anak ku. Tak lama teriakan keras menggema dari arah dapur. Aku tau mungkin ibu merasa shock melihat makanan yang aku masak untuknya. Aku menghela nafas lalu beranjak keluar kamar dan menemui ibu di dapur.


"Ada apa Bu?" tanya ku santai.


Ibu menatap nyalang ke arahku. Ibu terlihat marah sekali padaku.


"Ada apa ada apa? apa yang kamu masak ini? tega sekali kamu ngasih makanan seperti ini sama ibumu sendiri."


"Maaf Bu, uang ku sudah habis. Lagi pula sekali kali ibu harus makan sayuran. Sayuran itu kaya akan vitamin biar badan ibu segar kalau banyak mengkonsumsi sayuran," alasanku, padahal sebenarnya uangku tidak cukup untuk membeli daging.

__ADS_1


"Halah, alasan saja kamu. Dasar saja kamu itu memang dasarnya pelit sama orang tua."


"Bukan pelit Bu, tapi memang uang ku sudah abis bu."


"Preet, aku tidak percaya kalau uangmu habis. Buktinya kamu bisa membeli gorengan banyak tadi pagi." Ibu memang tidak tau bahwa aku jualan gorengan keliling. Aku sengaja tidak memberi tahunya biarkan saja, pikirku.


"Oh, jadi benar dugaan ku kalau gorengannya di makan sama ibu semua? kenapa di habiskan semua Bu? apa ibu tidak tau bahwa aku serta Zain belum mencicipinya?"


"Halah, jangan pelit sama orang tua, dosanya besar. Lagi pula dosanya besar kalau tidak mau berbagi sama orang tua."


Aku terdiam, lagi lagi ibu mengucapkan kata dosa. Aku menelan saliva ku lalu bergegas meninggalkan ibu yang masih mengomel.


"Heh, Nur. Mau kemana kamu? aku belum selesai bicara."


Aku menoleh pada ibu yang sedang berkacak pinggang.


"Terserah ibu, mau di makan atau tidak makanannya." Aku langsung beranjak pergi tanpa menoleh lagi pada aku. Aku pun tak tau bagaimana ekspresi muka ibuku.


Jam satu siang aku keluar dari kamarku untuk menunaikan sholat dhuhur. Sebelum ke kamar mandi aku melongok kan wajahnya ke atas meja yang sudah bersih tak tersisa. Aku tersenyum, bukannya aku mau marah karena ibu tidak menyisakan makanan di atas meja untukku melainkan aku senang karena ibu akhirnya memakannya juga. Karena untuk makan ku sendiri aku bisa memasaknya kembali karena aku masih menyisakan bahan mentahnya.


Setelah melaksanakan sholat dan makan, aku menoleh ke arah pintu kamar ibu.Terlihat pintu itu tertutup rapat dan aku yakin ibuku tidur lagi. Aku tidak mempedulikannya lalu aku beranjak ke luar rumah untuk mengangkat jemuran pakaian milik Hajah Fatimah. Aku menyetrika pakaian itu satu persatu sambil menyemprotkan pewangi karena aku tidak ingin Bu haji kecewa terhadap ku. Ku tatap celana Levis milik anak bungsunya Bu haji yang berukuran besar.


"Sebenarnya Raihan sebesar apa sekarang celananya saja sebesar gini," gumam ku tanpa sadar. Aku memang tidak pernah lagi melihat Raihan semenjak menikah dengan suamiku. Entah akunya yang sibuk atau dianya yang sibuk sehingga tidak pernah lagi menampakkan wujudnya di hadapanku.


Ku hilangkan pikiranku, lalu aku mulai menggosok lima celana Levis milik Raihan.


Seperti biasa aku bangun subuh untuk menunaikan kewajiban ku sebagai umat muslimah. Setelah itu, aku mulai merajang kecil kecil sayuran untuk membuat bakwan lalu mulai membuat adonan. Ku celupkan satu persatu adonan bakwan di atas wajan panas yang sudah terisi oleh minyak kemarin. Alhamdulilah sisa minyak kemarin masih banyak jadi aku tidak perlu lagi membelinya.


Aku sudah selesai menggoreng semua adonan hingga habis tak tersisa. Ku tatap gorengan yang menggunung di atas penampi beras.

__ADS_1


"Semoga gorengan ku laris lagi hari ini. Amin."


Ku sisakan empat gorengan dan ku letak kan di atas piring lalu ku letak kan di atas meja. Lalu ku ambil lagi empat biji lalu membawanya ke dalam kamarku. Belajar dari kemarin aku tidak ingin menyatukannya dengan bagian ibu karena aku yakin ibu akan menghabiskannya lagi. Ku lihat Zain masih tertidur lelap namun aku memaksanya untuk bangun. Zain tidak menangis namun ia tersenyum seolah olah mengerti bahwa sang mama akan mengajaknya untuk mencari Rizki.


Seperti biasa, ku gendong Zain di belakang punggungku dengan menggunakan jarik lalu aku bergegas keluar dari kamarku. Ku lihat pintu pintu kamar ibuku masih tertutup rapat. Ku biarkan saja lalu aku bergegas keluar rumah dengan satu tanganku memegang gorengan di atas kepalaku, dan satu tanganku membawa baju Bu haji yang sudah rapih serta Zain di belakang punggungku.


Aku tidak menawari tetangga dekat ku terlebih dahulu Sebab aku harus mengantarkan pakaian milik Bu haji agar beban ku berkurang. Aku berjalan menyusuri jalanan menuju rumah Bu haji. Setelah tiba di rumahnya aku mengucapkan salam berulang kali hingga tanpa Bu haji keluar dari rumahnya. Ia tersenyum ke arahku.


"Nuri....!" Ia berjalan ke arahku lalu membukakan pintu gerbang rumahnya.


Aku tersenyum padanya."Iya Bu haji."


"Ayok masuk dulu."


"Ini Bu pakaiannya sudah saya cuci sekaligus di setrika."


"Ya Allah Nur, kenapa tidak nanti saja. Ini pasti berat bawanya."


"Tidak apa apa Bu, sekalian saya lewat."


"Ya sudah kalau gitu yuk duduk dulu saya mau membeli gorengannya."


"Iya Bu haji." Aku menuruti perintah Bu haji untuk duduk di teras depan rumahnya. Lalu aku menuruni dagangan ku di atas kepala."


"Sebentar ya Nur, saya ambil piring dulu."


"iya Bu haji."


Ketika aku sedang menunggu Bu haji kembali, aku merasa ada sosok orang yang sedang memperhatikanku di balik kaca jendela rumah Bu haji. Dan Ketika aku menoleh ke belakang sosok itu bersembunyi di balik gorden.

__ADS_1


"Apa hanya perasaan aku saja?" gumam ku dalam hati.


__ADS_2