Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kado untuk menantu


__ADS_3

"Belikan kertas kado sana, pilih yang motif nya bagus. Setelah itu, kamu bungkus yang rapih."Titah ibu padaku. Apa ibu tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat ini? jawabannya adalah tidak. Ibu tidak akan pernah peduli dengan perasaanku. sampai menangis darah pun ibu tidak akan peduli pada perasaanku.


Aku menggendong Zain kemudian beranjak pergi dengan mata berkaca kaca. Di tengah jalan menuju warung, air mata ku mengalir lalu aku segera menyekanya karena aku tidak ingin orang orang melihat air mataku.


"Beri hamba mu ini kesabaran seluas samudra untuk menghadapi sikap ibu ya Allah. Tolong ketuk hatinya agar dia mau menyayangiku sama seperti pada anaknya yang lain." Siang dan malam aku selalu berdoa tanpa putus untuk ibuku. Namun, sepertinya tuhan masih enggan mengabulkan doaku.


Aku berjalan menuju warung untuk membeli kertas kado yang di perintahkan oleh ibu. Ku pilih warna pink motif hello Kitty. Terserah dia suka atau tidak aku tidak peduli yang penting aku sudah berbaik hati membelikannya memakai uangku meskipun hanya harga dua ribu rupiah.


Setelah itu, aku kembali lagi ke rumah membawa kertas yang ibu inginkan. Tiba di rumah aku langsung menghampiri ibu yang sedang menungguku di ruang TV.


"Ini Bu kertasnya." Aku menyodorkan kertas kado yang baru ku beli lalu ibu mengambilnya dari tanganku. Dia memperhatikan kertas yang bermotif hello Kitty.


"Lho, kok motifnya hello Kitty Nur, apa kamu pikir si Yati itu bocah?"


"motif nya tidak ada pilihan lain Bu, hanya ada hello Kitty, marsa, spong Bob, Tom dan Jerry serta Doraemon." Aku sengaja berbohong karena sebenarnya aku malas sekali untuk memilihnya toh kertasnya sama saja hanya warna dan motifnya saja yang beda.


"Ya sudah kalau gitu bungkus sekarang." Titah ibu dengan entengnya.


"maaf Bu, tidak bisa. Aku mau goreng kerupuk buat besok di kirim."


"Yaelah, kan bisa kamu kerjakan nanti malam Nur goreng kerupuknya."


"Mau aku yang goreng kerupuk terus ibu yang membungkus kado atau mau aku yang membungkus kado dan ibu yang menggoreng kerupuk?" aku memberi dua pilihan untuknya. Ibu terdiam seperti sedang berpikir lalu tak lama kemudian dia mengambil keputusan yang aku tawarkan.

__ADS_1


"Yaudah aku bungkus kado saja."jawab ibu dengan bibir di majukan ke depan. Benar saja dugaan ku kalau ibu pasti akan memilih untuk membungkus kado saja. Ibu mana mau berdiri lama di depan kompor apalagi di hadapannya ada api dan minyak yang panas.


Aku menuntun Zain menuju dapur sambil membawa mainan rongsokan miliknya.


"Sayang, mama mau goreng kerupuk. Zain mainnya di dapur saja ya nak temani mama dan jangan main kemana mana."


"Iya mama," jawab Zain sambil tangannya memaju mundurkan mobilan yang sudah rusak. Aku tersenyum lalu mengecup pucuk kepalanya. Betapa bersyukurnya aku memiliki Zain yang tidak pernah merengek dan manja. Dia seperti mengetahui bagaimana kondisi mamanya.


Aku mulai menggoreng kerupuk di atas wajan yang cukup besar hingga kerupuk yang ku goreng sudah menghasilkan kerupuk matang yang cukup banyak di sebuah wadah besar.


"Nur..ibu mana?" panggil bang Supri dengan suara lantang di ambang pintu dapur membuatku terperanjat kaget. Untung saja hanya melepaskan serokan yang sedang ku pegang di atas wajan bukan menaburkan isi minyak panas yang ada di dalam wajan. Aku melirik bang Supri dengan ekor mataku Lalu memalingkan kembali wajahku ke wajan penggorengan kerupuk. Aku muak sekali melihat mukanya yang angkuh itu.


"Heh, Nur. kamu itu budeg apa bisu sih? di tanya kok diam saja kayak tidak punya mulut dan kuping saja kamu." Bang Supri mulai emosi karena aku tidak menanggapinya.


"Aku tidak mengantongi ibu, cari saja sendiri bukannya bang Supri punya dua mata dan dua kaki ? gunakan saja dua anggota tubuh bang Supri itu untuk mencari." Ucapku. memang pada kenyataanya aku tidak tahu dimana ibu berada. sebab, dari tadi aku di depan kompor menggoreng kerupuk. Aku memang sengaja mendiami bang Supri karena aku masih kesal dengannya.


"brengsek kamu...berani melawan lagi kamu sama aku hah." Bang Supri berjalan ke arahku dengan sorot mata nyalang. Aku masih memeluk Zain dengan erat. jujur saja, untuk saat ini aku ketakutan melihat ekspresi muka bang Supri. Namun, sebelum dia mendekatiku ibu muncul dari arah pintu samping.


"Supri..!" panggil ibu. Bang Supri menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah ibu yang baru masuk ke dalam rumah.


"Ibu dari mana saja sih dari tadi aku mencari ibu?"


"Ibu dari rumah tetangga sebentar. memangnya ada apa sih tumben tumbenan kamu mencari ibu?"

__ADS_1


"Aku mau pinjam duit lagi Bu."


"lho kemarin kan sudah."


"Iya tapi kurang Bu. Aku butuh tiga ratus ribu lagi. Seminggu lagi aku dapat gaji pasti aku akan kembalikan plus bunganya."


"Ya sudah kalau gitu ibu ambil dulu." kemudian bergegas pergi ke kamarnya.


Ternyata kedatangannya ke rumah hanya ingin minta uang lagi pada ibu seperti kemarin. Tak lama kemudian, ibu datang membawa uang tiga ratus ribu.


"Nih Sup uangnya. Ini uang terakhir yang ibu punya lho," ucap ibu sambil menyodorkan uang di tangannya pada bang Supri. Bang Supri terlihat sumringah mendapat uang lagi dari ibu.


"Kalau uang terakhir kenapa ibu kasih kan uangnya sama dia Bu? lantas bagaimana dengan kebutuhan sehari hari kita dan modal untuk membeli tepung?" ucap ku. Aku merasa mulutku ini gatal sekali ingin bicara. Apalagi ibu bilang uang yang di berikan pada bang Supri adalah uang terakhirnya. Lantas bagaimana nanti untuk membeli bahan bahan membuat kerupuk lagi? sementara uang di tanganku saja tinggal puluhan ribu lagi.


Bang Supri berkacak pinggang dan melotot ke arahku. Dia tidak terima sama ucapan yang aku lontarkan.


"Heh, Nur. ini duit ibu, terserah dialah mau kasihkan ke aku apa tidak. Makannya kamu kerja nyari duit sana jangan bisanya hanya makan dan tidur saja biar hidupmu ada gunanya. Ini kok hidupmu cuma jadi benalu di rumah ini dan hanya jadi beban orang tua saja."


"Oh, Abang bilang aku ini benalu dan jadi beban orang tua? apa tidak salah? bukannya justru bang Supri sendiri yang sebenarnya benalu? minta duit terus menerus sama orang tua. dan tadi apa yang kau bilang bang? hidupku tidak ada gunanya dan hanya makan dan tidur saja! Lihat itu uang di tanganmu bang, dapat dari mana menurutmu bang? itu uang hasil jerih payah orang yang kamu anggap tidak ada gunanya ini bang. Apa Abang pikir yang membuat kerupuk selama ini itu ibu? aku bang aku, aku yang membuatnya aku pula yang menjualnya ke setiap warung. Ibu hanya nerima bersih uang hasil kerupuk saja."Emosiku meluap. terlebih aku di sebut sebagai benalu dan tidak ada gunanya oleh bang Supri, aku pun tidak terima.


Bang Supri terdiam mungkin sedang mikir dan cari kata kata untuk membalas omonganku balik.


"Apa kau bilang, aku beban ibu? ha ha ha. Apa kamu tidak sadar Nur yang jelas jelas beban ibu itu ya kamu. ngaca dong ngaca. Aku saja sudah tinggal pisah dari ibu karena aku tidak mau jadi benalu di rumah ini sementara kamu masih saja menumpang di rumah ibu. Dan duit ini aku pinjam Nur, bukan minta nanti juga akan aku kembalikan."

__ADS_1


"Oh, kamu lupa ya bang siapa yang membangun rumah ini? gubuk reyot dan kecil sampai istri mu saja tidak mau tinggal di sini. dan sekarang kau lihat kan rumah ini bagus dan besar? Lantas menurutmu siapa yang bangun? ibu? bang Supra ? atau kamu sendiri bang? aku ingatkan lagi sama kamu ya bang biar kamu tidak sembarangan bilang aku menumpang di rumah ibu bahwa rumah ini seratus persen aku yang membangunnya dengan duit seratus lima puluh juta. Aku bisa saja hengkang dari rumah ini asal ibu mau mengganti uangku sebesar biaya rumah yang ku buat."


__ADS_2