
Aku kembali pulang ke rumah dengan wajah ku tekuk. Sebab, entah mengapa aku merasa kesal atas kehadiran keluarga Bu Rida di rumah Raihan.
Raihan melirik ke arahku yang baru saja masuk dan bertanya," sudah pulang mba Nuri?"
Pertanyaan Raihan tidak aku jawab, melirik pun tidak. Aku berjalan menuju dapur dan melewatinya yang sedang menemani Zain bermain di ruang TV. Aku yakin Raihan pasti bingung melihat sikap ku yang tiba tiba datang dengan wajah cemberut bahkan pertanyaan nya saja aku abaikan.
Tiba di dapur aku mengisi gelas kosong dengan air di dalam teko lalu ku teguk hingga tandas. Setelah itu, aku duduk di kursi menghilangkan rasa pegal di kaki karena habis berjalan dengan jarak yang cukup jauh.
Ketika aku sedang memijit kecil betis sebelah kaki ku, Raihan muncul di dapur, sambil tersenyum melihat ku dia bertanya," kenapa dengan kaki nya mba?"
Aku yang sedang membungkuk kan tubuhku agar tanganku sampai pada betis kaki kemudian mendongak.
"Tidak apa apa hanya pegal saja." Aku menjawab pertanyaan Raihan dengan wajah tanpa ekspresi. Entah kenapa hati ku masih merasa kesal saja pada apa yang ku lihat di rumah Raihan tadi sehingga aku melimpahkan kekesalan ku pada Raihan padahal dia tidak salah apa apa.
Raihan berjalan mendekatiku lalu duduk di kursi yang ada di samping kiri ku. Sambil memperhatikan aku yang masih memijit kecil Raihan berbicara menawarkan diri untuk membantu memijit kakiku.
"Biar aku bantu memijit kakinya mba, supaya punggung mba tidak kram karena lama membungkuk."
Aku menghentikan pergerakan tangan ku kemudian meluruskan tubuhku hingga duduk tegak lalu menoleh ke samping dimana Raihan duduk.
"Sudah tidak lagi kok!"
Aku menjawabnya masih dengan wajah datar tanpa senyum. Sikap ku yang tiba tiba berubah seperti ini membuat Raihan penasaran atas apa yang terjadi pada diriku sehingga sikapku berubah dingin.
"Ada masalah apa mba? apa mba bisa ceritakan ke aku masalahnya? siapa tau aku bisa membantu atau memberi masukan."
Aku menggeleng lalu menjawabnya," tidak ada," dengan pandangan ku alihkan ke tempat lain.
"Mba..!"
"Kenapa kamu belum pulang Rai?" tanyaku memotong ucapannya dan dengan pertanyaan konyol. Bagaimana Raihan mau pulang ke rumahnya sementara dia harus menjaga anak ku selama ku tinggal satu jam.
"Mba mengusir ku?" tanya Raihan dengan wajah serius. Padahal aku hanya basa basi saja.
__ADS_1
"Di rumah mu sedang ada calon mertuamu serta calon istrimu. Apa kamu tidak ingin menemui mereka?" Aku berujar dengan wajah tetap seperti semula yaitu datar tanpa ekspresi.
Raihan menatapku dengan tatapan serius kemudian bertanya," Siapa calon mertua serta calon istriku yang mba maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan orang terpandang di kampung ini serta gadis paling cantik di kampung ini." Aku menjawabnya dengan intonasi sedikit di tekan kan. Entah mengapa ucapan Bu Rida yang sering membanggakan Risa selalu terngiang di otak ku dan itu sering membuat aku tiba tiba jadi badmood.
Bukannya aku iri pada kecantikan Risa karena kata kebanyakan orang aku sendiri pun memiliki wajah yang cantik meskipun sekarang kurang terawat. Jika wajahku yang sekarang di bandingkan dengan wajah Risa sudah pasti cantikan Risa. Wajah Risa terlihat kinclong karena terbantu oleh skincare sementara aku terlihat kusam. Jangankan skincare, menaburkan bedak di pipi ku atau menempelkan lipstik di bibirku saja aku tak pernah. Penampilan sehari hariku hanya polos saja tanpa di tutup tutupi oleh make up karena aku sendiri tidak memiliki benda benda itu.
Tapi, jika di bandingkan dengan bentuk body, di sini aku yang lebih menonjol. Bukan nya aku bermaksud untuk membanggakan tubuhku tapi memang demikian adanya. Aku memiliki tinggi badan seratus enam puluh tujuh senti meter serta berat badan lima puluh dua kilo gram. Cukup ideal bukan? Sementara Risa memiliki tinggi badan di bawah dadaku serta bentuk tubuhnya lumayan semok. Selain itu, warna kulit pun memiliki perbedaan. Risa berkulit kuning Langsat namun lebih cenderung ke cokelat sementara aku berkulit putih.
Bentuk tubuhku yang tinggi semampai serta ramping seperti wanita yang belum pernah melahirkan padahal aku sudah menjadi seorang ibu. Kulit tubuhku yang putih mulus tanpa noda kerap kali membuat suamiku mas Surya selalu bernafsu ketika melihatku meskipun aku hanya memakai daster lusuh.
Mungkin jika tidak ada hubungannya bersama Raihan aku tidak akan sekesal ini. Apakah aku cemburu karena mereka sudah berhasil mendekati orang tua Raihan? Entah lah aku pun bingung.
"Pulang lah Rai, mungkin mereka sedang menunggu kehadiran mu." Aku menyuruh Raihan pulang tanpa ingin melihat ke wajahnya.
Setelah itu, aku berdiri dan meninggalkan Raihan yang sedang bengong. Aku berjalan ke arah Zain dan menggendongnya lalu memasuki kamarku. Ku letak kan semua mainan Zain di dalam kamar karena untuk saat ini aku hanya ingin menidurkan tubuhku agar setelah aku bangun otak ku bisa melupakan apa yang sudah aku lihat tadi di rumah Raihan. Dan ku biarkan Zain bermain sendirian di dalam kamar selama aku tidur.
Entah karena perasaanku yang dalam ke adaan badmood atau karena memang cuaca siang hari yang panas sehingga aku merasa tubuhku kegerahan padahal ada kipas angin di kamar namun tetap saja terasa gerah. Aku akan mengganti pakaianku dengan pakaian yang terbuka. Kemudian aku memilih di antara daster lusuh ku yang rata rata sudah memiliki sobekan sana sini dan mataku tertuju pada sebuah daster yang jarang ku pakai dan rasanya cocok untuk di pakai dalam keadaan gerah seperti siang ini lalu aku pun memakainya.
Siang menjelang sore aku terbangun dari tidurku. Namun setelah kesadaran ku sudah pulih delapan puluh persen, aku tidak menemukan keberadaan Zain di kamarku. Aku mulai panik lalu meloncat dari tempat tidur kemudian ke luar kamar.
"Zain....Zain...!" Aku berteriak di dalam rumah sambil mataku mengitari setiap ruangan tapi tidak menemukanya. Satu satu nya tempat yang belum aku cari adalah dapur maka aku segera berjalan menuju dapur.
"Zain...Zain..!" seketika aku menghentikan teriakan ku setelah melihat keberadaan Zain yang sedang di suapi oleh Raihan di meja makan serta penampilan Zain yang sepertinya sudah mandi.
Raihan menoleh ke arahku lalu memandangku tanpa kedip namun aku tidak menghiraukan pandangan Raihan. Aku berjalan mendekati mereka lalu memeluk serta menggendong Zain.
"Kamu bikin Mama khawatir nak, kenapa Zain keluar kamar?"omel ku pada Zain namun Zain diam saja. Zain sendiri sudah bisa membuka serta menutup pintu karena ukuran tubuhnya yang terbilang tinggi padahal usianya baru satu tahun delapan bulan. Mungkin kelak setelah dewasa Zain lebih cenderung mewarisi fisik ku di bandingkan mas Surya karena dari postur tubuh hingga wajahnya lebih mirip dengan diriku.
Aku menatap Raihan yang masih duduk di kursi sambil memandangku tanpa kedip bahkan mulutnya terbuka sedikit. Aku sendiri heran kenapa Raihan belum pulang? bukan kah tadi pada saat aku mau tidur sepertinya aku mendengar suara pintu teras terbuka? pikir ku.
"Rai, kok kamu belum pulang? bukannya tadi siang kamu sudah pulang?"
__ADS_1
Raihan tidak menjawab pertanyaan ku dia masih saja memandangku seperti merasa kagum saja.
"Hot mama!"gumamnya tiba tiba dengan suara lirih dan pandangan yang tak lepas dari diriku.
"Hah, hot mama!" Aku mengikuti gumaman Raihan tapi aku belum menyadari maksud dari gumaman nya.
"Se xi..!"gumam Raihan lagi dengan pandangan masih mengarah padaku yang berdiri di hadapannya dengan jarak dua meter.
"Se xi!" Kemudian aku menunduk melihat pada penampilanku sendiri dan seketika aku membelalakkan mataku melihat penampilanku yang tidak layak di tampilkan pada seorang laki laki yang bukan muhrim ku.
Hanya karena aku panik mencari keberadaan Zain sampai aku melupakan penampilanku yang hanya menggunakan daster berlengan pendek serta ukuran pendeknya di atas lutut kaki sehingga menampilkan bentuk kaki jenjang ku yang putih mulus tanpa noda. Sebenarnya daster yang ku pakai mestinya ukuran pendeknya sebatas betis jika di pakai oleh wanita yang memiliki tinggi sedang. Namun karena postur tubuhku yang tinggi maka daster itu jadi berukuran pendek di atas lutut ku bahkan setengah pa ha ku.
Sebuah daster tapi lebih mirip sebuah dress. kado dari teman ku saat aku baru melahirkan Zain. Selain itu, dua kancing yang terletak di atas dadaku terlepas tertarik ke samping karena aku menggendong Zain sehingga menampil kan tengah dadaku yang terbuka cukup lebar. Di tambah lagi rambut yang ku kuncir secara asal sehingga menampilkan leher jenjang ku. Pantas saja Raihan menyebutku hot mama dan se xi.
Sambil menggendong Zain, aku berlari menuju kamar ku. Rasa nya malu sekali pada Raihan dan aku takut dia mengira aku menggodanya dengan penampilan ku ini padahal tidak sama sekali.
Ku letak kan Zain di atas kasur lalu segera membuka lemari mencari baju yang layak untuk di pakai dan di tampilkan di depan orang terutama di depan laki laki.
Setelah merasa cukup tertutup dan layak di tampilkan aku kembali ke luar kamar namun Raihan sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arah ku.
"Rai, kenapa kamu masih saja belum pulang?" tanya ku di ambang pintu.
Raihan tidak menjawab pertanyaan ku melainkan mengalihkannya dan berkata," Aku suka sama penampilan hot mama yang tadi." Raihan meledek ku membuat aku benar benar jadi malu dan gugup. Sambil me re mas buku buku jariku, aku menjawabnya," Jangan kamu pikir aku merayu mu Rai dengan penampilan ku tadi. Aku pikir kamu sudah pulang ke rumahmu."
Raihan tersenyum lalu menimpalinya dengan nada menggoda," tidak apa apa kan kalau calon suami pengganti mba melihatnya?"
"Rai, jangan mulai deh!"
"Pantas saja mas Surya tidak ingin melepas kan mba, karena mba wanita yang sangat istimewa," ucap Raihan terlihat sedikit kesal.
"Rai..lebih baik kamu pulang sekarang sebentar lagi mau maghrib lho!" Aku mengalihkan kekesalan Raihan.
"Aku tidak mau pulang mba, aku mau nginap di sini saja nemenin hot mama. Aku tidak ingin bertemu Risa, dia pasti masih menunggu ku di rumah."
__ADS_1
Aku terbengong mendengar penolakan Raihan. Apa iya sampai segitunya Risa menunggu Raihan hingga malam hari di rumahnya? atau hanya alasan Raihan saja?" tanya ku dalam hati.