Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Gelang


__ADS_3

Setelah perdebatan usai dan aku sudah mengetahui siapa diriku, aku mengurung diri di dalam kamar, diam dan merenung. Dalam benak ku berkata kenapa aku baru mengetahui tentang fakta siapa aku sebenarnya setelah usia ku mencapai dua puluh tujuh tahun. Kenapa tidak ada satu orang pun yang memberi tahu tentang asal usul ku termasuk bapak ku.


Seketika aku teringat pada almarhum bapak, bapak yang selalu sayang padaku. Aku selalu ingat perlakuan baik bapak terhadap ku yaitu selalu meratukan aku. Tapi setelah bapak meninggal, keadaan terbalik dan hidup ku berubah menjadi seperti seorang babu yang harus menuruti kemauan ibu yang seperti seorang ratu.


Di tengah termenung sorot mataku tertuju pada lemari baju lalu aku mendekatinya. Aku membuka sebuah laci yang terdapat di dalam lemari lalu mengambil sebuah dompet berukuran sangat kecil terbuat dari kain hasil jahitan tangan bapak. Bapak memberikannya saat aku berulang tahun yang ke lima tahun dan enam bulan sebelum bapak meninggalkan aku untuk selamanya. Bisa di katakan benda itu merupakan satu satunya kenangan dari bapak untuk ku dan aku selalu menyimpan nya dengan sangat baik.


Kemudian aku mengeluarkan isinya, sebuah tulisan ucapan selamat ulang tahun ke lima tahun serta doa dan harapan bapak di atas kertas yang sudah cukup kaku bila di buka karena terlalu lama terlipat dan terselip di dalam dompet kain warna pink. Selain tulisan, bapak juga memberikan hadiah berupa gelang kaki berwarna putih keperakan. Entah terbuat dari apa karena sudah dua puluh dua tahun gelang itu tetap nampak mengkilap dan sedikit pun tidak ada karat. Gelang itu pun memiliki tiga permata yang ukuranya kecil kecil dan lucu serta berkilau. Mungkin nanti jika aku ada waktu luang akan aku tanyakan pada pemilik toko perhiasaan. Selain itu, gelang kaki itu di sertai nama lengkap ku bahkan bapak juga menyertai namanya di ujung nama Nuri Aisha meskipun hanya berupa inisial B. Aku tau karena B itu nama inisial bapak ku yang bernama Baharudin.


Aku menatap Zain yang sedang tidur pulas lalu memasangkan gelang itu di tangan nya karena jika di pasang di kaki gelang itu tidak muat. Aku rasa gelang itu hanya muat di kaki seorang bayi. Aku juga heran sama bapak ketika dia memberikan gelang itu padaku sebagai hadiah karena bentuknya yang sangat kecil hingga aku tidak bisa memakainya pada saat itu. Saat aku mempertanyakan hal itu, bapak bilang dia salah pesan ukuran. Oleh sebab itu, aku tidak pernah memakainya bahkan ibu serta bang Supra dan Supri pun tidak tau tentang keberadaan gelang itu karena aku sendiri tidak pernah memamerkannya pada mereka. Sebab, bisa saja mereka cemburu padaku atas perlakuan bapak.


Aku menatap nanar pada tangan Zain yang sudah ku pakaikan gelang kaki. Gelang kaki itu pas sekali di tangannya. Tidak mengapa aku tidak pernah memakai nya yang penting sekarang anak ku yang memakainya.


"Bapak, Nuri rindu bapak. Andai saja bapak masih ada di samping Nuri, mungkin Nuri tidak akan merasakan yang namanya hidup menderita. Bapak, kenapa bapak tidak pernah cerita siapa Nuri sebenarnya, pak? rasanya sakit sekali melihat kenyataan kalau Nuri bukan darah daging bapak dan lebih sakit karena bapak menemukan Nuri di sebuah tong sampah. Terima kasih ya pak, bapak sudah memberikan kehidupan untuk Nuri ketika orang tua Nuri menganggap Nuri sebagai sampah. Meskipun hanya lima tahun kita bersama dan Nuri menjalani kehidupan keras dan berliku liku ini sendirian.


Air mataku kembali mengalir untuk kesekian kalinya. Aku memikirkan Raihan, jika dia tahu bahwa aku hanya anak yang di pungut dari tong sampah dan Asal usul ku tidak jelas, apakah dia dan Bu haji akan tetap menerima ku? seketika pikiran negatif dan perasaan insecure mulai mendera perasaanku.


Hingga menjelang adzan subuh, kelopak mataku masih saja tidak ingin menutup. Banyak hal yang aku pikirkan karena aku yakin esok hari ibu dan bang Supra pasti meminta ku untuk pergi dari rumah ini.


Aku mengusap wajahku lalu beranjak dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu. Karena aku pikir lebih baik menjalankan ibadah terlebih dahulu agar hati dan pikiranku tenang.


Tok tok


Baru saja aku mengucapkan salam tiba tiba, suara ketukan di jendela kamar ku cukup mengejutkan aku.


"Sayang, ini aku Raihan. Tolong buka jendelanya."


Aku mengernyitkan dahiku. Mau apa Raihan subuh-subuh datang ke rumah mengetuk melalui jendela pula? pikir ku.

__ADS_1


Aku segera membuka mukena dan merapikan nya kembali. Setelah itu, aku segera membuka jendela kamar dan nampak Raihan tersenyum padaku.


"Rai, kamu.."


"Huuss." Dia meletak kan telunjuk jarinya di bibirku.


"Awas dulu, aku mau masuk."


Aku pun menyingkir memberi celah agar dia bisa masuk lewat jendela. Setelah berada di dalam, Raihan langsung memeluk ku dan mengecupi pucuk kepala ku.


"Maaf kan aku ya sayang, tadi malam aku ketiduran jadi telpon dan chat dari bang Supri baru ku lihat setelah sholat subuh."


Aku mendongak menatap wajahnya di tengah pelukannya." Maksudmu?"


"Tidak apa apa, sayang. Dari rahim siapa pun kamu terlahir, aku tidak peduli dan tidak akan mengurangi rasa sayang ku sama kamu dan Zain."


"Rai, kamu.."


Aku memeluk Raihan sangat erat dan menumpahkan airmata ku di dada bidangnya. Aku sangat amat bersyukur tuhan telah mengutus Raihan sebagai pengganti sosok bapak ku, pelindung serta menyayangiku dengan sangat tulus tanpa melihat kekuranganku.


"Sekarang, kita pulang ke rumah ibu ku ya? agar pikiran mu tenang."


Aku mengangguk.


"Kemasi semua barang-barang berharga milik mu jangan ada yang tertinggal."


Aku terdiam.

__ADS_1


"Kenapa diam?"


"Ini rumah ku Rai, rumah yang ku bangun dengan jerih payah ku sendiri. Rasa nya aku tidak bisa ikhlas kalau rumah ini di isi oleh orang-orang yang sudah mendzolimi ku."


"Aku mengerti sayang, nanti saja kita pikir kan hal itu. Tapi untuk sekarang kamu jangan tinggal disini dulu okey! aku tidak mau si Abang laknat itu menyakiti fisik mu."


Akhirnya aku menuruti keinginan Raihan untuk pindah ke rumah bu haji subuh ini juga. Diam-diam, aku dan Raihan keluar dari rumah tanpa ada satu orang pun yang tau. Karena ibu serta anak dan mantunya tidak pernah bangun subuh apa lagi beribadah subuh.


Raihan memasukan barang-barang ku ke dalam mobil terlebih dahulu. Setelah itu, dia mengambil Zain yang masih tidur pulas.


"Ayok sayang, masuk," ucap Raihan sembari membuka kan pintu mobil untuk ku.


Aku mengangguk.


Tiba di rumah orang tua Raihan, nampak Bu haji sedang berdiri dan menatap cemas ke arah mobil kami. Padahal waktu masih subuh kenapa bu haji berada di luar dengan keadaan cuaca yang sangat dingin.


Aku melirik Raihan dan dia menyunggingkan senyum sembari mengelus belakang kepalaku.


"Dont worry, everything will be fine," ucap Raihan.


Aku tersenyum padanya.


"Nuri...." Bu haji langsung memeluk ku dengan erat dan mengusap usap punggung ku ketika aku baru saja menginjak kan kakiku di teras.


"Sabar ya, sayang," kata Bu haji.


Aku menetes kan air mata ku kembali di tengah pelukan nya. Aku terharu, di tengah kesedihan ku yang sangat dalam masih ada orang orang yang sayang dan peduli padaku seperti Raihan, bu haji dan bang Supri.

__ADS_1


__ADS_2