
Aku masih diam mematung di tempat dimana aku berdiri. Namun, di saat aku terhanyut oleh pikiranku sendiri Bu haji menyapaku lebih dulu."Sedang sibuk menjemur kerupuk Nur?" sembari memberikan senyum tipis padaku.
Sapaan dari wanita yang telah melahirkan Raihan membuatku terperangah kemudian melangkah pelan mendekatinya dengan wajah sedikit ku tunduk kan lalu menyapanya balik," Bu haji, a apa..sudah lama berada di sini?"aku menjadi gugup bertatap muka dengannya.
"Lumayan," jawabnya singkat.
"Kenapa Bu haji tidak memanggil saya langsung agar ibu tidak terlalu lama menunggu saya?"
"Karena kamu sedang sibuk dan saya tidak ingin mengganggu mu."
"Saya tidak terlalu sibuk kok Bu!" sanggah ku. Sebenarnya aku memang sibuk menjemur agar kerupuknya segera terjemur lalu kering namun aku tidak enak hati membiarkan orang tua berlama lama menunggu ku apalagi sambil berdiri.
"Oh begitu, ehm, Nuri...sebenarnya kedatangan saya ke sini ingin berbicara dengan mu apa kamu ada waktu?"
"Bo...boleh Bu haji mari masuk ke rumah saya dulu Bu!" aku menggiring Bu haji untuk memasuki rumahku lewat teras rumah kemudian aku membukakan pintu untuknya. Setelah itu, dia memasuki rumah ku lalu mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru.
"Rumah mu sepi Nur, dimana ibumu?" tanya nya dengan pandangan masih mengedar.
"Ibu saya sedang berada di Cirebon Bu haji." Sebenarnya aku ragu mengatakan jika ibuku sedang berada di Cirebon, karena aku sendiri tidak tau pasti. Saat itu dia kabur dari rumah gara gara di tagih hutang oleh rentenir. Entah karena dia takut padaku atau takut pada rentenir itu tiba tiba dia pergi tanpa sepengetahuanku hingga sampai saat ini belum kembali. Meskipun aku kesal padanya tetap saja aku khawatir. oleh karena itu, aku mencari tau dimana keberadaanya. Dari mulut ke mulut akhirnya aku mengetahui keberadaan ibu meskipun belum tau pasti karena aku sendiri belum mengeceknya secara langsung.
"Oh..!"
"Silahkan duduk dulu Bu, sebentar ya saya buat kan teh dulu." Aku hendak beranjak namun Bu haji memegang lenganku dan berkata,"tidak usah repot repot Nur, saya hanya ingin berbicara denganmu," kemudian melepaskan pegangan tangannya dari lenganku.
Aku mengangguk dan mempersilahkannya untuk duduk terlebih dahulu. Bu haji menurut kemudian duduk di atas sofa ruang tamu. Kami duduk saling berhadapan dan masih saling diam dengan pikiran masing masing. Aku sendiri menunggu Bu haji yang berbicara lebih dulu karena dia sendiri yang ingin berbicara denganku.
"Nuri..!" panggil Bu haji dengan suara lirih dan tiba tiba memecahkan kebisuan diantara kami.
Aku mendongak dan menyahut," ya Bu haji."
"Kedatangan saya kemari untuk membicarakan masalah Raihan," ucap nya. Dugaan ku benar kalau kedatangan Bu haji ke rumahku pasti akan membicarakan masalah Raihan. Aku masih diam dan menyimak terlebih dahulu.
"Tadi malam....Raihan pergi dari rumah," sambung nya. Kening ku mengkerut dan benak ku mulai bertanya tanya apa iya Raihan pergi dari rumah?kenapa? tapi mulutku memilih untuk bungkam dan tak ingin bertanya pada Bu haji apa yang membuat Raihan pergi dari rumahnya.
"Saya tau, sudah tiga hari ini...Raihan datang ke sini kan?" tanya Bu haji kemudian. Aku Sedikit terkejut mendapat pertanyaan itu. Bukan kah Raihan bilang bahwa ibunya tidak pernah mengetahui setiap dia mengunjungi rumahku? namun nyatanya ibunya mengetahuinya. Mau tak mau aku harus menjawabnya dengan jujur karena aku sendiri tidak ingin membohongi orang tua.
__ADS_1
Dengan sikap setenang mungkin aku menjawabnya,"benar Bu, Raihan sudah tiga hari berkunjung kemari dan membantu usaha saya. Sebenarnya bukan hanya satu atau dua kali saya melarangnya datang namun Raihan tetap saja datang dan membantu saya."
"oh, begitu? terima kasih kamu sudah menjawabnya dengan jujur. Saya pikir kamu akan menyangkalnya," ucap Bu haji lalu tersenyum tipis.
Aku hanya menundukkan pandanganku sambil me re mas buku buku jariku, sebuah kebiasaan jika dalam ke adaan cemas atau gugup.
"Kamu tau Nur, saya sudah sering melarangnya untuk bertemu denganmu namun Raihan masih saja membandel dan menemui mu secara diam diam."
Aku mendongak, menatap serius pada Bu haji kemudian bertanya,"lantas apa yang harus saya lakukan agar Raihan menjauhi saya Bu?"
Bu haji menggoyangkan kepalanya dan berkata,"tidak ada Nur, di sini anak saya yang bermasalah karena dia sendiri yang mendekatimu. Saya pikir perasaannya sama kamu sudah memudar seiring berjalannya waktu. Namun ternyata dia masih saja mencintai dan mengharapkan kamu Nur. Kamu tau, dulu betapa frustasinya dia ketika tau kamu menikah sampai dia mau melakukan bunuh diri jika saya tidak segera mengecek nya di kamar?"
Sambil menundukkan wajah, air mataku menetes. Sebegitu cintanya kah Raihan padaku sehingga dia nekat mau bunuh diri hanya karena aku menikah? andai saja dulu kamu mengungkapkan perasaanmu padaku, mungkin ceritanya tak akan seperti ini Rai.
"Tolong jawab yang jujur Nur..!" Bu haji menatap serius ke arahku dan aku mendongak kan wajahku dengan linangan air mata yang terus menerus mengalir ke dasar pipiku.
"Apa kamu mencintai Raihan?"sambungnya. Sorot mata tuanya menatap dalam kedua mataku yang berair seolah olah mencari kejujuran atas perasaanku melalui mataku. Begitu pula denganku menatap wajah yang sudah terdapat banyak kerutan di setiap garis wajahnya. Dari raut wajahnya aku bisa merasakan kesedihan, kekecewaan serta ke khawatiran seorang ibu pada anaknya.
Lidahku terasa kelu untuk mengucapkan kata kata. Namun, hatiku ingin rasanya mengatakan kejujuran tentang bagaimana perasaanku pada anaknya selama ini. Akan tetapi, akal sehatku masih berfikir logis bahwa aku memiliki seorang suami dan tidak etis jika mengungkapkan isi hatiku pada seorang ibu yang sudah melahirkannya dengan susah payah. Selain itu, aku juga takut kejujuran ku akan melukai perasaannya.
Raut wajah Bu haji berubah dari serius menjadi tenang. Mungkin dia merasa lega karena aku telah mengatakan bahwa aku tidak mencintai anaknya.
"Maafkan saya Nur, Saya tidak pernah membenci kamu. Mungkin saya yang salah karena saya tidak bisa mendidik Raihan dengan baik sehingga dia...dia telah mengganggu serta menggoda wanita yang sudah bersuami. Andai....andai kamu bukan wanita yang memiliki seorang suami, andai statusmu wanita single..mungkin saya tidak melarang Raihan untuk mendekatimu bahkan menikahi mu Nur. Sebagai seorang ibu, saya hanya ingin melihat hidup anak nya bahagia dengan wanita pilihannya dan di cintai nya. Namun, Raihan salah, karena dia telah mencintai dan memilih wanita yang sudah memiliki seorang suami. Saya tidak ingin Raihan terjerumus ke dalam sebuah kesalahan serta dosa besar. Oleh karena itu, saya melarang keras dia mendekati kamu dan Itu sebenarnya alasan saya kenapa saya melarang kalian dekat."
Ku hapus air mataku dengan lenganku. Apa yang di katakan oleh Bu haji benar bahwa kedekatan ku dan Raihan merupakan sebuah kesalahan meskipun status kami hanya berteman tapi Raihan memperlakukan aku lebih dari sekedar teman. Aku pikir Bu haji tidak menyukaiku karena status sosial. Aku yang hanya wanita miskin dekat dengan Raihan seorang pria muda yang sempurna. Namun ternyata bukan demikian alasannya melainkan statusku yang sudah memiliki seorang suami.
Sambil menatapnya dan dengan suara parau, aku berucap," Maafkan saya Bu, saya...!"
Bu haji menggelengkan kepalanya." Bukan salah kamu nur, kamu tidak perlu minta maaf. Tapi Raihan sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa kamu wanita yang sudah memiliki suami." Bu haji menyela sebelum aku meneruskan ucapan ku.
"Oleh karena itu, saya menjodohkan dia dengan anak ustad Amir agar dia bisa melupakanmu Nuri," sambung nya lagi. pernyataannya membuat Saliva ku terasa tercekat di tenggorokan. Aku merasa hatiku tak terima jika Bu haji menjodohkan Raihan dengan Risa. Namun, aku bisa apa? aku bukan siapa siapa.
"Saya harap kamu mendukung Raihan untuk bertunangan dengan Risa, Nuri. Saya yakin Raihan pasti mendengar dan menuruti apa yang kamu katakan padanya," ucap nya lagi. Perkataan Bu haji nyaris membuat detak jantungku berhenti. Apa aku sanggup mendukung Raihan bertunangan dengan Risa? aku menundukkan wajahku kembali. Sambil menahan mata yang sudah mulai mengembun aku mengangguk dan berucap,"inshaallah Bu haji."
Terdengar Bu haji menghela nafas lega lalu menyunggingkan senyum."terima kasih ya Nur." Aku mengangguk dan tersenyum dengan senyuman yang ku paksakan.
__ADS_1
Bu haji pamit pulang ke rumahnya setelah tidak ada lagi pembahasan yang harus di bicarakan oleh kami. Aku menatap kepergiannya dengan perasaan entah berantah dan sulit ku ungkapkan dengan kata kata sampai dia menghilang dari pandanganku.
Dalam hati aku bertanya tanya kemana Raihan perginya? kenapa dia pergi dari rumahnya? sebab, Bu haji sendiri tidak memberitahu apa alasan Raihan pergi dari rumahnya dan aku sendiri tidak menanyakan hal tersebut.
"Mama, Zen mau minyum cucu!" tiba tiba Zain muncul menyusul aku yang masih termenung di teras rumah. Permintaannya membuyarkan lamunanku dan saat itu pula aku teringat bahwa susu Zain sudah habis. Kesibukan ku memproduksi kerupuk serta di tambah kedatangan Bu haji ke rumah ku membuat aku melupakan kebutuhan pokok anak ku.
Sambil berjongkok serta dalam perasaan bersalah aku berkata,"Nak, maafin mama ya, mama lupa kalau susu Zain sudah habis. Gimana kalau kita beli dulu di market Zain mau tidak?"
"Mau mama," jawab Zain sembari tersenyum nyengir membuatku gemas sekali melihatnya. Ku ciumi wajahnya dengan gemas dan perbuatan ku membuatnya kegelian serta tertawa lepas. Aku bersyukur memiliki anak seperti Zain di hidupku karena dia merupakan pelipur lara ku ketika aku sedang bersedih.
Seperti biasa, aku selalu berjalan kaki jika hendak ke minimarket karena tidak memilki kendaraan apa pun. Sedangkan ojek di kampung ku sangat jarang sekali karena hampir semua penduduk kampung memiliki kendaraan pribadi. Oleh sebab itu, jasa tukang ojek sangat jarang di minati.
Ketika sampai di pertengahan jalan, kaki ku terkilir karena aku berjalan sedikit cepat. Terpaksa aku menghentikan langkahku lalu menyisi di pinggir jalan.
"Sebentar ya nak, Zain turun dulu kaki mama terkilir." Kemudian aku menurunkan Zain lalu memijit kecil sebelah kaki yang terkilir. Beruntungnya hanya terkilir kecil jadi cukup dengan pijatan saja sudah kembali normal.
"Ayok nak, mama gendong lagi." Sambil merentangkan kedua tanganku. Namun sebelum Zain ku gendong sebuah mobil Avanza silver berhenti tepat di sampingku. Masih dalam posisi berjongkok aku menoleh ke arah mobil yang berhenti. Beberapa detik kemudian, kaca mobil terbuka dan nampak seorang pria paruh baya memakai kopiah berwarna putih tersenyum ke arahku. Aku membungkuk kan sedikit punggung ku sebagai isyarat pemberian hormat pada sosok terpandang di kampung.
"Mau kemana dek? kenapa berjalan kaki?" tanya pria paruh baya itu dengan ramah.
"Saya mau ke minimarket pak ustad."
"Wah, kebetulan sekali dek, saya juga mau ke minimarket. Bagaimana kalau adek ikut dengan mobil saya saja ke sana nya?" ajaknya padaku.
"Terima kasih pak ustad, tapi maaf saya tidak bisa ikut dengan mobil pak ustad." Bukan tanpa alasan aku menolak di ajak oleh ustad Amir meskipun niatnya hanya menolongku. Dia orang terpandang di kampung ku, seorang ustad yang sering mengisi acara acara pengajian ibu ibu. Aku tidak ingin ada fitnah, apalagi dia suami Bu Rida, wanita yang kerap kali merendah kan serta memfitnah ku. Aku tidak ingin berurusan dengannya, cukup sudah berurusan tentang Raihan saja.
"Apa kamu tidak takut kalau ada orang jahat? jalanan sini sepi lho, apa lagi kamu wanita."
Ekor mataku mengedar ke sekeliling dan jalanan memang terlihat sepi karena jalan yang ku lalui ini merupakan jalan alternatif bukan jalan umum yang di lalui banyak kendaraan. Aku sendiri memilih jalan ini dengan alasan agar cepat sampai di tempat tujuanku.
Apa yang telah dikatakan oleh ustad Amir membuat aku sedikit takut. Bagaimana jika ada orang jahat tiba tiba menghadang ku sementara jalanan sepi? Aku tak ingin ambil resiko apalagi aku membawa Zain. Tak ingin berfikir panjang lagi aku menyetujui ajakan ustad Amir. Ketika aku hendak membuka pintu mobil bagian tengah, ustad Amir melarang ku dan menyuruh ku untuk duduk di depan saja. Dengan perasaan ragu aku mengikuti perintahnya.
Aku tak banyak bicara pada ustad Amir melainkan ustad Amir sendiri yang banyak bertanya seputar tentang kehidupanku.
"Saya tidak menyangka anak perempuan nya Bu Retno sudah sebesar dan secantik ini bahkan sudah punya anak ganteng pula." Ustad Amir memujiku namun aku tidak menanggapinya melainkan hanya tersenyum tipis saja. Sepanjang jalan banyak hal yang dia ceritakan bahkan hal yang tak penting saja dia ceritakan sehingga membuat ku menjadi merasa jenuh mendengarnya. Selain itu, beberapa kali aku memergokinya sedang memandangi ku melalui ekor matanya.
__ADS_1