Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Wanita pemilik tahi lalat


__ADS_3

Kami kembali ke Jakarta malam ini juga setelah berpamitan dan mengucapkan banyak terima kasih pada mang Udin dan keluarga nya. Meskipun ceritanya bukan di dapat dari sumber asli melainkan perantara, aku tetap bersyukur dan berterima kasih setidak nya aku tau sedikit kronologi masa lalu ku bagaimana aku bisa terpisah dari keluargaku.


Siapa kira-kira wanita berhati iblis yang telah tega membunuh ibuku dan hendak melenyapkan aku? apa ibu ku punya musuh semasa hidupnya? Sepanjang jalan aku hanya memikirkan dua hal tersebut.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya ibuku ketika beliau di lenyap kan nyawanya secara paksa oleh orang-orang biadab yang tidak memiliki otak, hati dan perasaan. Apalagi pelakunya adalah seorang wanita dan dalangnya pun seorang wanita pula.


Pantas saja wanita yang kami temui sebelumnya sedang mengalami kesulitan menemui ajalnya. Dosa nya begitu besar telah sengaja melenyapkan nyawa orang yang tidak memiliki kesalahan apa apa padanya. Dia memang pantas mendapat siksa dunia seberat itu dan aku sendiri rasanya sulit memaafkannya.


Di tengah termenung, airmata ku mengalir kembali. Raihan yang sedang mengemudi menyadari perubahan raut wajahku langsung mengusap usap kepalaku dan menghapus air mataku dengan sebelah tangan kirinya. Namun, bukannya airmata ku berhenti mengalir justru malah semakin deras.


"Sabar ya sayang, sabar. Cepat atau lambat kita pasti akan menemukan wanita yang sudah jahat sama almarhum mama dan kamu," kata Raihan menenangkan aku. Aku mengangguk angguk di tengah terisak karena bibirku rasanya sulit untuk berucap walaupun hanya satu patah kata saja.


Aku menoleh ke belakang, aku pikir kak bayu tengah tertidur karena tidak mendengar suaranya tapi ternyata dia sedang melamun pandanganya di arahkan ke kaca mobil. Aku tau apa yang dia rasakan sama halnya dengan apa yang aku rasakan yaitu hancur mengetahui bahwa orang tua kami di bunuh oleh orang yang mungkin saat ini masih berkeliaran bebas di luar sana.


Tidak terasa mobil yang kami tumpangi sudah berada di rumah Oma. Raihan memutuskan untuk menginap lagi di rumah Oma karena dia tidak ingin meninggal aku yang sedang kacau.


"Nuri!" kak Bayu memanggilku ketika Raihan akan menuntunku masuk ke dalam rumah.


"Kenapa kakak ipar?" Raihan bertanya.


"Aku harap kalian jangan cerita dulu ke Oma atas apa yang sudah kita ketahui karena aku tidak ingin penyakit jantung Oma kambuh."


Aku dan Raihan saling pandang." Oma punya riwayat jantung?"Tanyaku kemudian.


Kak Bayu mengangguk."Oleh karena itu, kita jangan memberitahu dulu. Tapi nanti kalau wanita iblis itu sudah kita temukan dan di beri hukuman baru kita ceritakan perlahan."


Aku dan Raihan mengangguk menyetujui usulan kak Bayu.


Keesokan hari dan di pagi hari. Kami duduk mengelilingi meja persegi menikmati sarapan pagi.


Di tengah dentingan sendok saling bersahut sahutan Oma bertanya,"kemarin kalian kemana saja hingga pulang larut malam?"

__ADS_1


"Emmm, anu Oma. Habis dari rumah sakit kami mencari dokter dan perawat yang menangani mama saat melahirkan." Kak Bayu yang menjawab pertanyaan Oma dengan tenang.


Oma terdiam dan menatap penuh harapan pada kak Bayu." Terus apa yang kalian dapatkan?"


"Dokter itu sudah meninggal. satu orang perawat sakit parah dan satu perawat lagi sudah pikun."


"Jadi kalian tidak mendapatkan apa apa?"


Kak Bayu menggeleng.


Oma menghela nafas lalu bersender."Siapa kira-kira orang yang sudah tega membohongiku atas kematian cucu ku? bodoh sekali aku. Kenapa dulu tidak curiga sedikit pun."


"Oma, sudah lah jangan di pikirkan. Bayu yakin suatu saat nanti kita pasti akan menemukan siapa orangnya."


"Tapi kasihan Nuri, Bayu. Rasanya tidak adil buat dia karena selama ini Oma menganggapnya tidak ada di dunia. Hidupnya di luar sana menderita tanpa kasih sayang Oma dan papamu." Oma berbicara sembari mengelus elus pucuk kepalaku dengan sayang. Aku yang sedang makan pun jadi terdiam dan menunduk serta mengeluarkan air mata. Tapi yang membuat aku sedih kali ini adalah bukan karena aku hidup menderita di luar sana melainkan tentang kematian ibuku yang selama ini di anggap sebuah kematian wajar yang mana seorang ibu telah berjuang melahirkan anak nya. Andai saja Oma tau yang sebenarnya mungkin..oh ya, aku hampir saja lupa bahwa Oma memiliki riwayat penyakit jantung.


"Oh, ya Bayu. Apa papamu sudah kembali dari luar negeri?"


"Pak Bagas sedang on the way Oma." Raihan yang menjawab pertanyaan Oma.


"Dekat banget Oma. Tapi tidak hanya dekat dengan saya melainkan dekat dengan Nuri dan Zain."


Nampak Oma dan kak Bayu terbengong melihat Raihan." Apa kamu serius, Rai? bagaimana bisa?"


"Bisa saja Oma, apa lagi mereka memiliki ikatan bathin dan darah yang kental. Pertama kali bertemu langsung akrab."


"Pak Bagas juga sering menceritakan tentang bagaimana perasaanya sama almarhumah ibu Hanum Oma. Pak Bagas bilang dia sangat menyayangi nya dan sangat kehilangannya dan juga menyayangi Oma serta kak Bayu. Pak Bagas sangat baik Oma, dia juga pernah ikut merawat Nuri di rumah sakit. Dia juga pernah cerita kalau dia sangat sedih ketika Oma menjauhkan dia dari kak Bayu." Aku ikut menyela di tengah obrolan mereka. Aku teringat cerita pak Bagas kalau oma tidak menyukainya. Semoga apa yang aku sampaikan pada Oma, membuat Oma tidak lagi membenci pak Bagas.


Oma terdiam seperti berpikir.


"Setelah pak Bagas tiba kami akan langsung melakukan tes DNA, Oma," kata Raihan.

__ADS_1


Oma menggeleng cepat." Tidak perlu lakukan itu Rai, tanpa itu pun Oma sangat yakin Nuri adalah cucu Oma, anak Bagas."


"Bukan begitu maksud saya, Oma. Beberapa hari lagi kami akan menikah. Tapi mestinya sih besok nikahnya hehe. Apa boleh buat harus di undur waktunya sedikit."


Aku tersenyum begitu pula dengan oma.


"Terus?"


"Nuri butuh seorang wali ketika kami menikah nanti. Kami butuh pak Bagas beserta tes DNA itu agar pernikahan kami benar benar sah di mata hukum agama dan hukum negara. Takut nya ada orang yang tidak percaya kalau Nuri anak pak Bagas jadi kita tinggal menunjukan bukti itu saja."


"Ya sudah kalau memang itu tujuan nya lakukan saja."


Siang ini Raihan mengajak aku jalan jalan tanpa membawa Zain. Dia bilang agar aku tidak berlarut sedih setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.


Raihan membawa aku kesebuah mall elit. Kemudian dia membawa aku ke toko sebuah perhiasaan yang nampak mewah.


"Rai, kenapa kamu membawa aku kemari? aku tidak perlu perhiasaan. Berlian pemberian kamu saja belum aku pakai."


Dia tersenyum." Kita butuh cincin couple untuk pernikahan kita sayang."


"Maksud mu untuk mahar?"


"Bukan, kalau mahar sudah aku siapkan." Kemudian Raihan menarik pelan lenganku memasuki toko perhiasaan itu.


Setelah berada di dalam toko yang cukup besar, seorang pramuniaga menghampiri kami lalu menanyakan tujuan kami. Raihan pun menjelaskan pada wanita itu bahwa kami mau mencari cincin couple. Kemudian wanita itu membawa kami mendekati sebuah estalase khusus cincin couple.


Di saat kami sedang memilih cincin tiba tiba Raihan ijin ke toilet dan aku pun mengijinkan nya.


Di saat aku sedang menunduk memperhatikan cincin yang terpajang, seorang wanita datang lalu duduk di bangku sebelah kiriku. Dalam keadaan menunduk ekor mataku melirik pada wanita yang sedang berbicara dengan seorang pria di sampingnya. Percakapan nya pun terdengar cukup mesra dan saling berpegangan tangan. Ketika wanita itu meluruskan wajahnya ke depan, nampak sebelah wajah kanannya. Entah mengapa aku merasa sudah tidak asing lagi melihat wajah nya itu. Aku terus memperhatikan mereka melalui ekor mataku, wanita itu menawarkan perhiasaan pada si pria yang aku yakini adalah pacarnya jika mendengar dari gaya bahasa yang mereka gunakan.


Ku perhatikan separuh wajahnya yang nampak mengkilat seperti memakai bedak Kelly jadul. Namun semakin aku memperhatikan nya semakin aku melihat sebuah bulatan berwarna hitam yang tertimbun oleh bedak tebalnya dan nampak sedikit meluntur di bagian bibir atas sebelah kanan. Seketika itu pula aku teringat pada Mak Ninih tentang ciri ciri wanita yang telah membunuh ibuku.

__ADS_1


Timbul keinginanku untuk melihat dengan jelas wajah wanita itu. Aku membelitkan ujung jilbabku yang menjuntai pada bagian hidung ke bawah agar wajah ku tertutup separuh terlebih dahulu. Setelah itu, aku sengaja menyiku lengannya agar wanita itu melihat ke arahku.


Dan apa yang aku lakukan padanya benar saja. Dia melihat ke arahku dengan muka marah lalu membentak dengan kata kata kasar. Yang membuat aku tercengang melihatnya adalah bukan karena aku mendapat bentakan nya melainkan aku mengenali wajah pemilik tahi lalat yang bersembunyi di balik bedak tebalnya itu.


__ADS_2