Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Godaan Raihan


__ADS_3

Raihan memberhentikan mobilnya tepat di depan rumahnya. Zain masih tertidur di pangkuanku sehingga aku kesusahan untuk keluar dari mobil. Tanpa di mintai tolong Raihan mengambil Zain dari pangkuanku lalu menggendongnya dan aku pun keluar dari mobil.


"Kita tidurkan Zain ke kamar dulu mba."


Aku mengangguk lalu mengekor di belakang Raihan memasuki rumahnya. Kami berjalan beriringan menuju ke lantai atas dimana letak kamar Raihan. Setelah tiba di kamar Raihan meletak kan Zain di kasur empuknya lalu menyelimutinya.


"Mba istirahat saja dulu. Pasti mba lelah kan? aku keluar dulu ya mba." Raihan hendak berjalan ke luar kamar namun tanpa sadar aku memegang lengannya seolah olah tidak ingin di tinggalkan oleh Raihan.


Raihan tersenyum manis melihat tangannya di pegang erat olehku dan aku baru tersadar bahwa aku sedang memegang tangan Raihan. Aku segera melepaskan tangannya lalu menunduk rasanya malu sekali pada pria muda dan tampan di hadapanku.


"Aku tidak akan pergi meninggalkan mba kok, aku hanya mau kebawah sebentar," ucap Raihan seolah olah mengerti isi hatiku.


"Rai....!"


"Iya mba!"


"Apa..apa aku boleh menumpang di rumahmu sampai suamiku pergi dari rumahku?"


Raihan mengerutkan dahinya lalu menatapku yang sedang menunduk sambil tanganku me re mas buku buku jariku. Aku takut sekali Raihan menolak keinginanku karena aku tidak tau harus bersembunyi dimana kalau bukan di rumah Raihan. Jujur saja aku tidak sedang ingin bertemu dengan mas Surya karena aku masih kesal serta kecewa sekali padanya. Raihan memegang serta mengangkat daguku hingga wajahku terangkat tepat di depan wajahnya hingga kami saling bertatapan. Jantungku mulai berdegup kencang tak karuan. Aku bingung kenapa jantungku selalu seperti ini jika di tatap lekat oleh pria yang usianya enam tahun lebih muda dariku.


"Mba boleh tinggal di rumah ini kapan saja mba mau, lagi pula aku justru senang mba ada di sini dekat denganku."


"Rai..aku..aku hanya...!"


Raihan mengecup bibirku dengan lembut sebelum aku meneruskan ucapan ku. Aku terhanyut oleh ciuman lembut Raihan hingga aku tidak menolaknya melainkan membalasnya. Entah mengapa aku tidak menolak perbuatan Raihan. Mungkin karena selama ini aku merasa kurang kasih sayang dari suamiku. Mas Surya tidak pernah bersikap lembut padaku. Ketika hendak mencium ku dia kerap kali kasar begitu pula ketika meminta haknya sebagai suami mas Surya tidak pernah memperlakukan aku dengan lembut sehingga aku tidak pernah merasa nyaman ketika dia menggauli tubuhku. Kami berciuman cukup lama hingga aku tersadar bahwa perbuatan ku adalah sebuah kesalahan dan dosa. Aku adalah wanita yang masih memiliki seorang suami. Ketika Rai masih menikmati bibirku aku mendorong pelan dada bidang Raihan sehingga Raihan mundur ke belakang.


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku dan aku beristighfar berkali kali karena aku sudah melakukan sebuah dosa. Aku bingung dengan perasaanku pada Raihan. Apa aku merasa nyaman dekat dengannya karena sikap lembut Raihan padaku serta pada anak ku membuatku mulai tumbuh rasa cinta padanya? aku menepis perasaan itu. Tidak mungkin aku mencintai Raihan yang sudah ku anggap sebagai adik ku sendiri. Aku ini hanya manusia kesepian dan kurang kasih sayang dari keluargaku serta dari suamiku sendiri.


"Maaf mba, maaf...aku..aku bukan bermaksud kurang ngajar sama mba tapi aku...!


Aku menggelengkan kepalaku sebagai isyarat Raihan tidak perlu meneruskan ucapannya. Aku berlari kecil ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Raihan dan aku menangis di dalamnya. Aku tidak tau menangis karena apa? apa karena aku menyesal telah berciuman dengan Raihan dan seolah olah mengkhianati suamiku atau karena kenyataan hidup yang aku jalani, di benci orang tua serta tidak di cintai oleh suamiku? Entahlah, yang pasti saat ini aku hanya ingin menangis menumpahkan isi hatiku.


Cukup lama aku di kamar mandi hingga tangis ku mereda. Aku membasuh mukaku menghilangkan jejak jejak air mata di wajahku. Setelah merasa tenang aku kembali ke kamar Raihan dan aku tidak melihat keberadaannya hanya ada Zain yang sedang tidur lelap.


Aku ke luar kamar mencari keberadaan Raihan. Pandanganku mengitari ke sekeliling hingga aku mendapati Raihan yang sedang duduk di atas sofa ruang keluarga sambil menatap layar laptopnya. Aku berjalan pelan ke arah Raihan dan aku berdiri di belakangnya tanpa Raihan sadari keberadaan ku. Aku memperhatikan apa yang Raihan kerjakan di layar laptopnya. Sepertinya Raihan tidak sedang mengerjakan tugas kuliahnya melainkan mengerjakan sesuatu yang bersifat pekerjaan.


"Rai...!"


Raihan menoleh ke arah belakang dimana aku berdiri.


"Mba Nuri...!"


Aku berjalan mengitari sofa dan duduk di samping Raihan dengan jarak satu setengah meter. Raihan melirik ku yang sedang duduk serta me re mas buku buku jariku sebuah kebiasaan ku ketika aku merasa gugup atau cemas.


"Aku..aku minta maaf mba, aku sudah membuat mba menangis. Aku tidak bermaksud melecehkan mba, aku..!"


Aku menggelengkan kepala ku lalu tersenyum tipis. Aku tidak mungkin menyalahkan Raihan karena dia tidak memaksaku. Jika aku merasa di paksa oleh Raihan mungkin aku sudah menolaknya sebelum Raihan mencium ku lebih jauh tapi kenyataannya aku sendiri menyambutnya dengan suka rela seolah olah aku pun menginginkannya.


"Lupakan saja Rai, anggap saja tidak pernah terjadi."


Raihan memandangku sambil tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke layar laptop.


"Apa kamu sedang sibuk Rai, apa aku mengganggumu?"


"Oh, tidak, tidak sama sekali mba." Raihan segera mematikan layar laptopnya dan menutupnya. Lalu fokus melihat ke arahku.


"Apa ada yang mau mba bicarakan?"

__ADS_1


Aku menghela nafas berat.


"Tidak ada Rai, aku sebenarnya ingin pulang ke rumahku tapi aku takut masih ada mas Surya di rumah."


"Apa mba sedang ada masalah dengan suami mba?"


Aku menoleh ke arah Raihan yang sedang menatapku serius menunggu jawaban dariku. Apa sebaiknya aku cerita saja pada Raihan agar beban di hatiku sedikit berkurang? pikirku.


"Aku...sedang kesal pada mas Surya Rai."


"Kenapa?"


"Karena... mas Surya sering kali menghinaku dan sering membandingkan aku dengan mantan istrinya yang katanya seorang sarjana dan pandai mencari uang."


Raihan memiringkan duduknya menghadap ke arahku.


"Hinaan apa yang dia ucapkan untuk mba?" Raihan mulai mencecar pertanyaan seolah olah ingin tau bagaimana sikap mas Surya terhadapku dan hinaan apa saja yang sering mas Surya ucapkan.


Aku terdiam, apakah pantas dan tidak berdosa jika aku bercerita pada Raihan sementara ini merupakan masalah rumah tanggaku dan secara tak langsung aku menceritakan kejelekan suamiku pada orang lain.


"Rai..intinya aku sedang kesal saja sama mas Surya."


Rai manggut manggut kecil." Baik kalau mba tidak ingin cerita. Tapi aku akan selalu menunggu mba Nuri untuk bercerita."


Suara adzan maghrib pun terdengar berkumandang. Raihan mengajak ku untuk melaksanakan sholat berjamaah dan aku menyetujui ajakan Raihan. Raihan meminjamkan mukena milik ibunya pada ku dan aku memakainya. Kami sholat berjamaah di dalam kamar Raihan. Lagi lagi aku kagum pada Raihan. Raihan seorang pria yang sangat muda tapi bisa menjadi imam sholat. Dan lagi lagi aku membayangkan bahwa pria seperti Raihan inilah yang aku inginkan untuk menjadi suamiku selain perlakuannya yang lembut Raihan bisa menjadi imam sholat yang baik. Aku mengusap wajahku dan beristighfar. Aku tidak boleh membayangkan pria lain karena aku memiliki seorang suami.


"Mama..!" aku menoleh ke arah ranjang tidur, Zain sudah bangun dan mencari ku. Aku segera membuka mukena dan melipatnya lalu aku menghampiri Zain.


"Zain sudah bangun?"


"Zen lapal mama..!"


"Zain mau makan? kita ke dapur yuk?" ajak Raihan.


Raihan berjalan ke luar kamar sambil menggendong Zain dan aku mengekor di belakang. Setelah tiba di dapur Raihan mendudukkan Zain di sebuah kursi. Kemudian dia mengambil paper bag berisi makanan yang dibawa dari restouran tadi siang. Raihan membuka satu persatu kotak kotak makanan itu lalu di letak kan di atas piring. Setelah itu, dia membawa piring pring serta mangkok berisi makanan dan memasuk kan satu persatu ke dalam sebuah microwave. Raihan menghangatkan semua makanan yang ada. Aku hanya memperhatikan kesibukan Raihan sambil duduk di samping Zain.


Lima belas menit kemudian, Raihan sudah selesai menghangatkan semua makanan lalu meletak kan nya di atas meja makan. Kemudian Raihan mengambil tiga piring serta mengambil nasi dari penanak nasi. Entah kapan Raihan memasak nasi.


Raihan menyuapi Zain dengan sup salmon yang dia pesan dan sudah di hangatkan. Zain terlihat makan dengan begitu lahap.


"Rai aku saja yang menyuapi Zain."


"Mba makan saja, biar Zain aku yang suapi."


Lagi lagi Raihan menolak ku dan aku membiarkan saja. Aku tidak langsung makan melainkan menunggu Raihan selesai menyuapi Zain.


"Kenapa tidak makan mba?"


"Aku mau tunggu kamu saja makannya Rai!"


Raihan tersenyum manis ke arahku.Sebuah senyuman penuh arti. Setelah Zain merasa kenyang, aku dan Raihan mulai makan. Aku makan sambil menunduk sementara Raihan makan sambil melirik ku. Entah apa yang dia pandangi dari diriku yang biasa ini. Aku sedikit risih di pandangi Raihan namun lebih tepatnya aku gugup di tatap Raihan yang nyaris tanpa kedip.


"Makan yang banyak ya mba, biar montok." lagi lagi Raihan meledek ku kurus.


"Kamu meledek ku terus Rai!"


"He..he..!"

__ADS_1


Setelah selesai makan kami bersantai di ruang keluarga. Aku memperhatikan Zain dan Raihan yang sedang bermain puzzle di atas karpet tebal. Sering kali Raihan melirik ke arahku lalu tersenyum manis sekali. Aku selalu di buat terpana oleh senyuman Raihan yang sangat mempesona.


Pukul sepuluh malam Zain sudah merasa mengantuk dan minta tidur padaku. Raihan yang mendengar keinginan Zain langsung menawarkan diri untuk menemani Zain tidur. Zain pun mengangguk lalu Raihan menggendong Zain memasuki kamarnya. Aku masih menetap di atas sofa dan membiarkan Raihan menidurkan Zain karena itu keinginannya. Tak lama Raihan keluar dari kamar nya lalu duduk di sampingku dengan jarak yang dekat.


"Apa Zain sudah tidur?"


"Sudah mba."


Raihan menatapku sangat lekat sekali sampai harum nafasnya terendus di hidungku. Aku gugup sekali di tatap Raihan sedekat ini. Aku takut khilaf lagi seperti tadi yang mana Raihan mencium ku dan aku membalasnya.


"Rai..aku..!"


"Mba takut aku mencium mba Nuri lagi seperti tadi?"ucap Raihan dengan tatapan yang tak berpaling dari wajahku.


Aku mengedipkan mata ku, kenapa Raihan bisa tau isi hatiku? pikirku.


"Rai...!"


"Hem..!"


"Aku...aku ingin tidur."


"Ingin tidur bersamaku?" goda Raihan lalu aku mencubit perutnya dengan gemas.


"Aww, sakit mba!" pekik Raihan sambil memegang perutnya bekas cubitan ku.


"Soalnya kamu bicaranya ngaco sih Rai."


"He..he habisnya aku gemas sekali sama mamanya Zain."


Aku menekuk kan wajahku lalu Raihan menjewel hidungku.


"Jangan cemberut gitu dong mba nanti cantiknya bisa hilang lho."


"Aku serius ingin tidur Rai..!"


"Apa ingin aku tidurin mba?"


"Rai...!" aku langsung mencubiti hampir seluruh perut Raihan karena gemas padanya yang terus saja menggodaku sehingga Raihan merasa kegelian lalu dia memelukku dengan erat dan tiba tiba Raihan menggendongku ala bridal style. Aku tersentak kaget atas perlakuan Raihan. Aku takut sekali Raihan akan berbuat macam macam padaku.


"Rai..turun kan aku, kamu mau apa?"


"Katanya ingin di tidurin sama aku mba!"


"Rai..aku tidak mau seperti ini aku tidak mau tidur dengan kamu, kamu bukan suamiku Rai."


"Sssttt diam lah." Raihan membawa aku ke kamarnya dan di luar dugaan ku Raihan meletakan tubuhku di samping Zain yang sedang tidur pulas. Kemudian dia menyelimuti ku dengan selimut tebal miliknya. Aku malu sekali pada Raihan telah berfikir negatif padanya.


"Tidurlah mba..!" Raihan hendak pergi dari kamar namun aku memanggilnya. Raihan berbalik.


"Kenapa mba?"


"Kamu akan tidur dimana?"


"Apa mba mau aku tidur satu ranjang dengan kalian?"


"Rai...!"

__ADS_1


"Tidurlah mba, tidak usah mengkhawatirkan aku mau tidur dimana? di rumah ini masih banyak kamar kok." Raihan tersenyum padaku lalu keluar dari kamar.


__ADS_2