Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Bertemu Ipah Saripah


__ADS_3

Ku pandangi barang belanjaan ku yang teronggok setelah mengeluarkan semua isi kantong belanjaan. Dua buah dress panjang yang cukup cantik, lima setel baju Zain yang lucu serta peralatan make up. Namun kemudian aku menepuk jidatku. Bagaimana bisa aku melupakan kado untuk anak adik ipar ku? tidak mungkin aku datang dengan tangan kosong meskipun Elis memintaku untuk tidak perlu membawa kado.


Aku mondar mandir seperti setrikaan memikirkan kado untuk anak Elis. Tidak mungkin aku kembali ke pasar karena waktunya sangat mepet. Dalam keadaan bingung, tak sengaja pandangan ku mengarah pada tumpukan mainan Zain. Seketika aku teringat kalau Zain masih memiliki dua mobilan remote yang telah di belikan oleh Raihan dan Zain belum pernah memainkannya karena Zain sendiri belum mengerti menggunakan remote.


Aku berharap Raihan tidak marah jika pemberiannya aku berikan lagi pada orang lain karena aku tidak punya pilihan lain lagi. Aku segera memasuki kamarku lalu mengambil dua mainan yang masih terbungkus rapih di atas lemari baju dan aku membungkus salah satunya dengan kertas kado.


Aku memakaikan Zain pakaian bermodel baju kodok berbahan levis. Zain terlihat tampan dan lucu menggemaskan dengan pipinya yang sedikit tembem. Setelah Zain selesai, aku mendandani diriku sendiri. Memakai dress panjang cantik berwarna marun serta jilbab senada namun memiliki motif. Setelah itu aku bersolek mempercantik wajahku. Ku putar putar tubuhku di depan cermin memperhatikan penampilan ku sendiri. Aku yang biasa memakai baju serta daster lusuh dan bertampang kucel saat ini berubah menjadi wanita anggun dan cantik. Setelah itu, aku memakai sebuah sepatu yang memiliki ketinggian lima senti saja, sepatu yang ku beli saat belum menikah.


"Memang uang bisa mengubah seorang wanita menjadi cantik," gumam ku dalam hati.


Aku menoleh ke arah Zain yang sedang memainkan mobilan nya lalu memanggilnya.


"Ayok sayang kita berangkat!"ajak ku padanya.


Zain tersenyum senang karena akan di ajak jalan jalan lagi olehku. Dia berdiri kemudian mendekatiku dan aku meraih tangannya. Kami keluar rumah menemui tukang ojek yang sudah aku booking sebelumnya untuk mengantar kan aku ke rumah mertuaku yang berbeda kampung. Jarak tempuh rumah ku dengan mertua hanya satu jam mengunakan sepeda motor.


Satu jam kemudian kami tiba di kampung orang tua suamiku. Aku meminta mamang ojek untuk menurunkan kami di tempat yang sedikit jauh dari rumah mertua dan memintanya untuk menungguku hingga aku selesai. Dia menurut karena memang sudah aku booking sebelumnya.


Aku berjalan pelan sambil menuntun Zain serta memegang kado ukuran sedang berbentuk kotak. Dari kejauhan terlihat rumah mertua dengan tenda di depannya dan ramainya anak anak serta orang dewasa. Ternyata kedatangan kami bertepatan dengan acaranya yang hendak di mulai.


Kedatangan ku dan Zain menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di acara karena kami datang paling akhir. Aku tersenyum ke arah mereka dan berjalan ke depan mendekati dimana keluarga mertuaku berkumpul.

__ADS_1


Elis melihatku lalu menyambut ku dengan hangat. Kemudian dia menggendong Zain dan menciuminya sambil berkata," kamu sudah besar dan semakin tampan saja Zain."


Aku melirik ke arah wanita yang sering kali meng-upload foto selfi nya di Facebook. Jujur, baru kali ini aku melihat aslinya ternyata berbeda dengan foto fotonya di Facebook. Dia mengalihkan pandangannya dari tatapanku.


Setelah puas menciumi Zain, kemudian Elis menoleh ke arahku yang sedang berdiri di sampingnya lalu memegang lenganku dan berucap," Mba Nuri cantik dan anggun banget sih!" puji Elis padaku dengan pandangan menelisik dari ujung kaki hingga wajah. Aku hanya tersenyum saja menanggapinya.


Elis membawaku lebih mendekati keluarganya. Nampak ibu serta ayah mertua yang berekspresi datar, nampak pula kedua sodara Elis yang terlihat angkuh serta mantan istri mas Surya dengan wajah sinis nya dan ke dua anaknya yang terlihat kurus.


Aku memberikan senyuman termanis ku pada mereka lalu menyalaminya satu persatu.


"Bagaimana kabar ibu dan ayah?" tanya ku ketika aku bersalaman pada kedua mertua ku.


"Seperti yang kau lihat, kami sangat baik," jawab ibu mertua dengan wajah datar tanpa senyuman pada menantu yang sudah lama tidak di temui nya, sementara bapak mertua hanya diam saja.


Kemudian aku melanjutkan menyapa pada ke dua adik ipar ku yang sedang memperlihatkan muka angkuh mereka. Meskipun begitu aku tetap saja mengulurkan tanganku walaupun pada akhirnya mereka tidak menyambut uluran tanganku. Aku menurunkan kembali tanganku kemudian memberikan senyuman termanis pada kedua adik ipar yang tidak ingin bersentuhan tangan denganku.


"Hai, apa kabar kalian? semoga sehat juga seperti bapak dan ibu ya?" ucap ku. Aku tak peduli mereka mau merespon atau tidak yang penting aku sudah menyapanya.


Setelah itu, aku menoleh pada wanita yang sudah nampak tua namun tertutupi oleh bedak tebal serta gincu yang merah merekah. Jelas saja nampak tua karena usianya tidak jauh berbeda dengan mas Surya yaitu empat puluh tahun ke atas. Wanita yang belum pernah menemui ku di dunia nyata namun sudah berani mengatai ku di dunia maya. Sambil tersenyum aku berjalan anggun ke arahnya dan berdiri tepat di hadapannya tanpa ada rasa takut dan gugup. Untuk apa aku merasakan hal itu, toh, dia bukan orang penting dan hanya orang biasa sama sepertiku. Dan justru sebaliknya dia yang terlihat terkejut dan gugup melihatku. Mungkin dia tidak menyangka orang yang dia hina di sosmed sedang berdiri menjulang tinggi dan anggun di hadapannya.


"Apa kabar mba Ipah? mba cantik sekali hari ini? sapa ku, dengan senyuman yang tak lepas dari bibirku.

__ADS_1


Postur tubuhnya yang hanya di bawah dadaku sehingga dia harus mendongak tinggi melihat ke arah wajahku.


"Bagai mana mba, apa saya terlihat kucel dan dekil seperti yang mba katakan di Facebook?" sindir ku kemudian.


Dia bungkam dengan mulut terbuka sedikit dan tidak pula merespon sindiran ku. Namun tak lama dia memalingkan wajahnya.


"Wah, ternyata mba aslinya pendiam ya? tidak seperti di Facebook banyak omong," ucap ku lagi dengan suara ku tekankan.


Sambil tersenyum dan berjalan anggun serta menuntun Zain aku menghampiri anak adik ipar yang sedang berulang tahun lalu memberikan kado untuknya.


"Selamat ulang tahun ya adek manis, Semoga selalu sehat dan panjang umur serta makin sayang sama papa mamanya."


"Wah, terima kasih lho mba kado besarnya. Nano pasti senang banget di kasih kado sama tantenya. Padahal saya bilang tidak usah membawa kado mba."


"Tidak apa apa mba Elis, kebetulan Zain punya sedikit rezeki."


Elis membungkuk kan tubuhnya lalu menjewel hidung Zain sambil berkata,"Makasih ya anak ganteng kado nya!" Zain mengangguk dan tersenyum lebar.


Elis kembali menegak kak tubuhnya."Oya, mba sama Zain jangan dulu pulang ya? santai saja di sini. Mba tidak perlu sungkan, ini kan rumah kakek dan nenek Zain.


Aku mengangguk menyetujui permintaan Elis."iya mba Elis!"

__ADS_1


Selama acara berlangsung aku hanya memperhatikan Zain dari jarak cukup jauh yang sedang ikut bergabung dengan anak anak menyaksikan tiup lilin. Selama itu pula tak sedikit pasang mata yang memperhatikan ku secara diam diam. Ketika aku menoleh ke samping kiri aku memergoki Danu suami adik kedua suami ku sedang memandangku tanpa kedip. Dia tersenyum kepadaku, aku pun tersenyum canggung ke arahnya. Selain itu, ekor mataku menangkap sosok pria sedang berdiri di pojokan tengah memperhatikanku juga, yang ku ketahui sebagai suami adik pertama mas Surya. Namun, aku tidak menanggapinya dan pura pura tidak melihatnya.


Selain mereka, ada pula yang memandang ke arah ku dengan tatapan sinis, salah satunya adalah mantan istri suamiku. Namun ketika aku meliriknya, dia memalingkan wajah sinis nya dari pandanganku. Aku heran, apa salahku padanya sehingga dia tidak menyukaiku? padahal aku bukan seorang pelakor karena aku menikah dengan mas Surya setelah mereka berpisah lama.


__ADS_2