Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Nuri & Raihan


__ADS_3

Aku berusaha membuka kelopak mataku di saat merasakan sebuah belaian halus di pipi kanan ku. Setelah terbuka lebar dan penglihatan mulai menerang, pandangan pertama yang terlihat adalah wajah tampan Raihan sedang tersenyum menatapku dan membelai pipiku.


"Ra..Raihan..."aku segera menegak kan duduk ku ketika tersadar bahwa aku ketiduran di dalam mobil.


"Kita sudah sampai di rumah mba Nuri, maaf aku membangunkan mba,"ucap Raihan.


"Kenapa harus minta maaf Rai, justru aku berterima kasih karena kamu tidak membiarkan aku dan Zain tidur semalaman di dalam mobil."


Raihan tersenyum dan netra matanya tak berpaling dari wajahku. Di saat kami saling tatap dan disaat itu pula setan berbisik sehingga kami berciuman kembali dengan suka rela dan tanpa paksaan atau terpaksa. Cukup lama kami berciuman sampai aku merasa kehabisan nafas dan segera melepas pagutan.


"Aku sayang mba, sayang sekali," kata Raihan sembari tangannya mengelus pipiku dan aku menunduk kan wajah malu ku.


"Berapa lama lagi masa Iddah mba?" tangannya masih mengelus pipiku dan sorot matanya masih menatapku. Untuk kesekian kalinya dia bertanya tentang masa Iddah dan aku belum pernah menjawabnya.


Aku menegak kan wajahku menatap balik."Enam puluh tujuh hari lagi."Aku menjawab nya sesuai dengan perhitungan di saat hari dimana mas Surya menjatuhkan talak tiga padaku. Meskipun aku belum mendapat surat cerai dari pengadilan agama tapi di mata tuhan kami sudah sah bercerai dan aku berhak untuk dekat dengan laki laki mana pun tapi belum untuk menikah.


Raihan mendengus kemudian melepaskan tangannya dari pipiku lalu dia meluruskan duduknya kembali.


"Kenapa masih lama sekali padahal aku ingin segera menikahi mba bila perlu besok biar kita bisa tinggal bersama." Raihan terlihat kesal, aku tidak menanggapinya melainkan tersenyum saja.


"Rai..!"


"hem." Raihan melirik ke arah ku.


"Aku mau masuk ke dalam rumah dulu ya?"


Raihan tersenyum dan mengangguk."Aku juga harus kembali ke jakarta."


Aku mengernyitkan kening."Subuh ini?"


"Iya, soalnya hari ini adalah hari pertama kantor ku beroperasi mba."


"Oh." Aku terdiam dan entah mengapa rasanya aku tidak ingin Raihan pergi apalagi ke Jakarta dan sudah pasti akan bertemu dengan kekasihnya.


"Kenapa diam saja mba? apa mba tidak ingin aku pergi?"


Aku mengerutkan dahi ku kembali, dalam hati aku bertanya kenapa Raihan mengetahui isi hati serta pikiranku?apa dia memiliki indera ke enam.


Di saat masih terdiam, Raihan membawa kepalaku ke dalam dekapan dadanya dan berkata," mba jangan pernah berpikir negatif tentang aku di Jakarta ya? meskipun status ku menjalin hubungan dengan Nura tapi hati serta tubuhku ini hanya milik mba. Aku tidak pernah menyentuh Nura dan tidak akan pernah itu terjadi."


"Apa..apa itu tidak akan menyakiti Nura Rai?" Aku bertanya dengan jariku bermain main di dadanya.


Raihan menangkap tanganku." Mba nakal ya, sengaja membangunkan adik kecilku."


Aku segera melepaskan diri dari pelukannya dan menarik tanganku." Oh, maaf Rai, aku tidak sengaja." Aku merasa malu sekali, aku sendiri pun tak sadar kenapa aku seperti itu.


Raihan tertawa kecil kemudian berkata lagi,"tidak apa apa mba, aku kan sudah bilang hati dan tubuhku ini milik mba, jadi mba berhak atas diriku."


"Tapi kita bukan pasangan suami istri Rai bagaimana bisa aku berhak atas dirimu."


"Inshaallah segera, mba sabar ya?"ucapnya, kemudian tangannya mengelus pucuk kepalaku.


Aku tersenyum hambar, andai saja Raihan tidak memiliki seorang kekasih mungkin aku akan sangat senang mendengarnya tapi saat ini aku merasa aku tidak yakin atas apa yang Raihan katakan.


"Rai.."


"Iya sayang."

__ADS_1


"Aku mau bawa Zain masuk.


"Biar aku saja yang angkat, mba masuk duluan saja.


Aku mengangguk dan membuka pintu mobil lalu berjalan ke arah pintu. Raihan pun ikut keluar dari mobil kemudian mengangkat Zain yang sedang tidur di jok belakang.


Aku membukakan pintu kamar agar Raihan lebih mudah memasukinya. Setelah itu dia meletak kan Zain di atas kasur. Raihan mengelus pipi Zain lalu menciuminya dan berkata,"uncle pergi dulu ya sayang dan uncle janji akan sangat sering menjenguk Zain, dan uncle titip mama ya? Zain harus jagain mama untuk uncle okey tampan? kalau ada laki laki yang mendekati mama, Zain usir okey." Aku geleng - geleng kepala saja mendengar perkataan Raihan.


Setelah itu Raihan pamit akan kembali ke Jakarta. Aku mengantarnya keluar namun ketika hendak memegang gagang pintu, Raihan terdiam lalu berbalik mengarah padaku.


"Ada apa Rai? apa ada yang tertinggal?"


Raihan mengangguk.


"Apa? biar aku ambilkan."Aku bertanya dengan serius.


"Mba Nuri."


"Aku?"dengan telunjuk yang ku arahkan pada dada ku sendiri.


Raihan mengangguk,"rasanya aku berat sekali ninggalin mba."


Aku tersenyum kecil dan belum sempat aku membalas ucapannya dia lebih dulu me lu mat bibirku. Aku terkejut mendapat serangan dadakan namun aku tidak menampik bahwa aku pun menginginkan itu darinya. Aku membalas ciuman Raihan, kami saling pagut, mengecap dan bertukar saliva satu sama lain. Lagi lagi setan berhasil menggoda dua anak manusia yang saling cinta serta lemah iman seperti kami.


Lama kami saling pagut hingga aku mendorong tubuh Raihan karena aku merasa tangan Raihan mulai me re mas salah satu gunung kembar miliki ku. Aku tidak ingin kami khilaf lalu melakukannya terlalu jauh.


Setelah tubuh Raihan terdorong dan sedikit menjauh dariku, aku segera menghirup udara dalam dalam sementara Raihan tersenyum lebar melihatku.


"Tuh kan mba, setan sudah berhasil lagi menggoda kita." Raihan berceloteh di tengah tengah aku sedang mengumpulkan udara. Sebelum aku membalas celotehannya suara adzan subuh berkumandang.


"Yah, sudah subuh saja. Bagaimana ini mba, sepertinya aku harus mandi besar dulu. Apa boleh aku numpang mandi dan sholat di sini?"


Sembari menunggu Raihan selesai mandi, aku menyiapkan sajadah bersih serta mengambil sarung dan baju Koko baru yang masih terbungkus rapih dalam plastik. Sebenarnya sarung dan baju Koko itu aku membelinya untuk mas Surya ketika kami baru menikah namun ternyata mas Surya tidak ingin memakainya karena mas Surya sendiri tidak pernah melaksanakan sholat.


Beberapa menit kemudian raihan telah selesai mandi dan menghampiriku di ruang TV, Raihan terlihat segar sekali, rambutnya basah dan menguar wangi shampo yang sering aku pakai serta memakai handuk yang dia sangkut kan di pinggang kekarnya. Dalam hati aku bertanya kenapa Raihan keluar dalam keadaan hanya memakai handuk saja? apa dia sengaja menggodaku.


Raihan menyadari jika aku sedang memperhatikannya dan dengan senyuman nakalnya dia berkata,"jangan menatapku seperti itu mba, aku takut mba tergoda terus kalau mba tergoda aku pun bisa ikutan tergoda kalau sudah sama sama tergoda kita bisa apa?"


Aku memalingkan wajah malu ku dan tanpa menanggapi ledekan kan nya aku berjalan mendekatinya lalu memberikan sarung serta baju koko padanya.


"Ini sarung dan baju koko nya Rai, tidak mungkin kan kamu sholat hanya dengan memakai handuk." Tanganku terulur ke arahnya namun pandangan ku arah kan ke arah lain.


"Mba benar benar takut tergoda ya lihat tubuhku?"


"Cepetan ini di ambil, kalau tidak mau aku akan menyimpannya lagi." Aku mulai kesal dan mengancamnya karena Raihan terus saja meledek. Sambil tersenyum Raihan meraih apa yang aku berikan kemudian dia memakainya di depanku tanpa ada rasa malu. Aku bergegas ke dapur sebelum dia meledek ku kembali.


Beberapa menit kemudian, aku kembali lagi ke ruang TV, nampak Raihan masih duduk bersila di atas sajadah sepertinya dia belum melaksanakan sholat. Dia menoleh ke belakang setelah menyadari keberadaan ku kemudian berdiri lalu bertanya," kok mba belum siap siap?"


"Hah, siap siap!" ucap ku mengulang, sembari mengernyitkan dahi.


"Bukan nya kita mau sholat subuh berjamaah?" tanya nya, pantas saja dia tidak langsung sholat melainkan diam saja, ternyata dia sedang menungguku. Mungkin dia pikir aku mau sholat berjamaah dengannya.


Dengan perasaan malu aku berucap,"maaf Rai, aku tidak sedang sholat."


"Lho, kenapa mba?" Raihan bertanya lagi membuatku semakin malu untuk menjawabnya.


Dan dengan perasaan malu yang di tahan aku berterus terang." Aku sedang datang tamu bulanan Rai." wajah sedikit ku tunduk kan.

__ADS_1


"Tamu bulanan, maksudnya apa sih mba aku tidak mengerti." Aku jadi semakin bingung untuk menjelaskan nya pada Raihan yang sama sekali tidak paham.


"Aku sedang menstruasi Rai."Akhirnya aku berkata dengan jelas agar Raihan langsung mengerti dan tidak banyak tanya lagi, meskipun sebenarnya aku malu sekali.


Raihan tertawa lebar melihat ku yang mulai kesal padanya kemudian berucap," maaf sayang, maklum aku ini laki laki jadi tidak mengerti apa yang terjadi pada wanita setiap bulan. Mungkin aku harus banyak belajar lagi tentang apa saja kodrat seorang wanita selain melahirkan." Setelah berkata demikian, Raihan mulai menjalankan ibadah subuh. Sejenak aku memperhatikan Raihan yang tengah beribadah, rasanya adem sekali melihatnya dan seulas senyum tersungging di bibirku.


Sembari menunggu Raihan selesai beribadah aku membuatkan roti panggang untuk Raihan sebelum dia berangkat ke Jakarta karena aku tau pagi pagi tidak akan ada restauran yang buka paling hanya akan ada pedagang pedagang kecil saja. Aku takut dia tidak sempat sarapan mengingat hari ini hari pertama kantornya akan mulai beroperasi pasti akan sangat di sibuk kan.


Lima menit kemudian, roti panggang selai kacang dan strawberry yang aku panggang di atas teplon sudah selesai lalu aku menaruhnya di atas piring dan tidak lupa aku membuatkan susu hangat pula.


Aku berjalan ke ruang TV sembari membawa nampan, terlihat Raihan sedang melipat sajadah.


"Sudah selesai Rai? aku buatkan sarapan untuk mu takut kamu tidak sempat sarapan nanti."Aku berkata sembari jalan ke arah ruang tamu lalu meletakkan satu gelas susu dan dua pasang roti panggang di atas meja.


"Terima kasih ya sayang, perhatian sekali," ucap Raihan di belakangku. Kemudian aku menyingkir memberi jalan untuknya duduk di sofa.


Setelah duduk Raihan berceloteh."Gini enaknya kalau punya istri, suaminya mau berangkat kerja di buatkan sarapan jadi tidak payah lagi harus mencari atau membuatnya sendiri. Tapi kalau kita sudah menikah, kita sewa ART saja karena aku tidak mau istri ku yang cantik ini kecapean mengerjakan pekerjaan rumah. Mba Nuri cukup melayani ku di atas ranjang saja."


"Rai..."aku sedikit menyentak nya sembari membesarkan pupil mataku mendengar gurauannya yang membuat aku malu. Angan angan nya sudah terlalu jauh sekali. Raihan tersenyum lebar kemudian menyeruput teh hangat dan mulai memakan rotinya namun lirikan matanya ke arah ku yang sedang duduk berhadapan dengannya.


Secangkir teh dan dua pasang roti panggang sudah habis di makan oleh Raihan. Setelah itu dia menyenderkan punggungnya ke senderan sofa kemudian memegang perutnya dan berkata," Kalau aku sudah nikah nanti sepertinya perutku tidak akan sixpack lagi melainkan membuncit karena istriku akan selalu memberi makan banyak."


"Kalau merasa kebanyakan kenapa dimakan semuanya?" Aku membalasnya karena aku tau Raihan menyindirku.


"Ha ha, habis gimana kalau tidak di habiskan kasihan yang sudah membuatnya dengan susah payah."


Aku menghela nafas pendek."Kamu mau berangkat ke Jakarta jam berapa Rai?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.


Raihan melirik pada jam yang melingkar di tangan kirinya kemudian bergumam pelan."wow, sudah jam setengah enam rupanya." Kemudian dia melirik lagi ke arah ku.


"Aku mau pergi sekarang saja mba, bisa jam sembilan tiba di kantor, telat satu jam tidak apa apalah."


"Tapi kamu kan bos nya Rai, bukan nya kalau bos mah bebas ya?"aku menyindirnya dan Raihan tertawa renyah.


Kemudian Raihan bangkit dan pamit."Aku mau berangkat sekarang ya mba."Setelah pamit, dia berjalan ke arah pintu dan hendak memegang gagang pintu.


"Rai..!"aku memanggilnya dan Raihan menoleh ke arahku.


"Kenapa mba?"


"Apa kamu mau pulang ke rumah orang tuamu dulu?"


"Sepertinya tidak akan sempat mba. Aku mau langsung ke kantor saja."


"Langsung ke kantor, apa kamu tidak salah?"


Raihan mengernyitkan dahinya."Salah, apa nya yang salah mba?"


"Apa kamu mau ke kantor menggunakan sarung dan Koko?"


Raihan melihat pada tubuhnya sendiri." Astaga," gumam nya, dia terlihat sedikit malu lalu tersenyum nyengir. Aku pun ikut tersenyum melihat tingkah lucunya.


"Aku boleh tidak pinjam Koko dan sarung nya mba? soalnya baju tadi malam kotor." tanya Raihan kemudian.


"Apa kamu yakin akan ke kantor dengan penampilan seperti itu?" tanyaku memastikan, kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya.


"Mungkin aku akan mampir ke apartemen ku dulu sebelum ke kantor."

__ADS_1


"Ooh, kalau kamu mau pakai saja Rai."


"Terima kasih ya mba,"ucap nya sembari tersenyum. Aku mengangguk dan dalam keadaan lengah Raihan mengecup keningku dengan lembut kemudian berbisik di telingaku."I love you so much mba, You are my everything.


__ADS_2