Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kedatangan Ibu


__ADS_3

Keesokan hari.


Pagi hari aku dan bang Supri mendatangi pohon mangga itu kembali untuk menurunkan pak Yanto sembari membawa tangga yang cukup panjang dan berat. Sementara Zain ku titip kan pada Sumi yang lebih awal datang ke rumah ku. Tiba di pohon mangga itu nampak pak Yanto masih menggantung entah dalam keadaan pingsan atau tidur. Kasihan sekali melihatnya.


"Bang cepat turunkan itu pak Yanto kasihan." titah ku pada bang Supri yang masih belum bergerak melainkan memperhatikannya saja dari bawah.


"Bentar Nur, nafas dulu." Wajar saja jika bang Supri nampak ngos ngosan karena dia membawa tangga panjang itu sendiri tanpa bantuan ku.Tapi jangan salah, bukan aku tidak ingin membantunya melainkan dia sendiri yang menolaknya.


"Woey, pak Yanto bangun!" Teriakan bang Supri yang cukup keras tidak membuat pak Yanto menyahut. Bang Supri memanggil ulang namun dia masih saja tidak menyahut.


"Dia itu sebenarnya tidur apa pingsan ya! kalau pingsan kayaknya sulit aku nurunin nya Nur."


"Terus kita harus gimana bang. Ini menyangkut nyawa orang lho."


"Kita harus nyari bantuan, Nur."


"Tapi kemana bang? rumah kita kan tetangganya cuma pak Yanto."


Ketika kami sedang memikirkan cara untuk menurunkan pak Yanto, dari jarak tidak terlalu jauh dan masih di area kebun terlihat seorang pria dan aku mengenalnya sebagai pemilik kebun sekaligus pemilik pohon mangga besar itu.


"Bang, itu ada pemilik kebun ini!" tunjuk ku pada pria yang akan menebang dahan yang terlalu menjuntai ke bawah.


"Kebetulan sekali, cepat panggil, Nur."

__ADS_1


"Pak zainal!" Aku berteriak memanggilnya. Dua kali panggilan dia baru mendengar teriakan ku lalu berjalan mendekat.


"Lho, Nur, ngapain ada di kebun saya pagi pagi." Tanya pak zainal ketika sudah berada di dekat kami.


"Itu pak!" tunjuk ku ke atas. Pak zainal mengikuti arah telunjuk ku. Seketika matanya membelalak." Itu, itu siapa yang bunuh diri, Nur." Ucapnya dengan muka terkejut.


"Bukan bunuh diri pak, itu pak Yanto dan entah bagaimana ceritanya dia tersangkut di atas pohon mangga di kebun ini. Saya mau minta tolong sama pak zainal tolong bantu bang Supri untuk menurunkan beliau pak."


"Oh, ya sudah ayok kita turunkan."


Setelah itu, pak zainal serta bang Supri mulai memanjat pohon. Setelah bersusah payah akhirnya pak Yanto bisa di turunkan dari atas pohon mangga. Bang Supri mengecek detak jantung dan nafasnya masih terdengar normal dan bersyukurnya pak Yanto hanya pingsan saja. Kemudian aku menyuruh mereka untuk membawanya ke rumahnya saja sementara aku kembali ke rumah karena ibu ibu yang mau bekerja sepertinya sudah berdatangan.


Aku kembali pulang ke rumah. Namun setelah tiba di rumah aku di kejutkan oleh kedatangan seorang ibu yang sudah lama sekali pergi tanpa kabar. Seorang ibu yang lari dari tanggung jawab utang utangnya. Seorang ibu yang aku rindukan selama hampir satu tahun.


Ibu menoleh ke arahku dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Dia nampak kurus dan keriput serta kulitnya terlihat hitam dan dekil seperti tidak terawat. Aku cukup terkejut melihat perubahan fisiknya. Dulu, sebelum dia pergi tubuh ibu nampak semok dan putih karena ibu tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun kecuali makan, tidur, arisan dan jalan jalan. Lantas apa yang terjadi di sana sehingga ibu nampak berbeda.


"Aku rindu ibu!" setelah berucap di iringi mataku yang sudah berkaca kaca aku langsung memeluk tubuh kurusnya. Aku menangis sembari memeluknya tapi ibu tidak merespon pelukan ku. Dia tetap dingin seperti dulu sebelum pergi. Bahkan tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.


"Sebenarnya ibu pergi kemana? kenapa lama sekali? kenapa ibu tidak memberi kabar pada kami, Bu?" Sembari memeluknya aku memberikan pertanyaan beruntun namun tidak ada satu pun pertanyaan ku yang di jawabnya. Dia tetap diam membisu serta tubuh yang kaku.


Setelah itu, aku melepas kan diri karena ibu tidak kunjung membalas pelukan ku. Dalam benak ku bertanya. Kenapa ibu masih saja bersikap dingin dan acuh padaku padahal kami tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama. Apa ibu tidak merindukan ku seperti aku merindukannya? aku menyeka air mataku. Aku pikir percuma aku menangisinya karena dia tidak pernah mengerti bagaimana perasaanku.


"Ibu..." tiba tiba bang Supri datang dan menyapa ibu.

__ADS_1


"Su...Supri!" Ucap ibu dengan sorot mata yang berbinar binar.


Cara pandangnya melihat bang Supri sangat berbeda dengan cara pandang ketika dia melihatku. Ibu nampak bahagia melihat anak kesayangannya ada di hadapan nya bahkan dia juga membalas pelukan bang Supri. Aku merasa iri sekali melihat perlakuan ibu pada Abang ku nomer dua itu.


"Kenapa kamu ada di rumah ini Sup? dimana istrimu Yati ? ibu rindu sekali padanya." Ucap ibu. Aku yang baru saja meletak kan teh di hadapannya hanya tersenyum kecut karena Ibu lebih ingin tau kabar menantunya dari pada aku yang notabenenya anak kandungnya. Dia tidak pernah ingin menanyakan keadaanku selama dia pergi meskipun hanya sekedar basa basi.


"Kami sudah bercerai Bu." Jawab bang Supri.


"Apa? kenapa bercerai? kalian itu kan pasangan yang serasi kenapa harus bercerai? kamu tau kan sup kalau ibu.."


"Sudah Bu, tolong jangan muji muji si Yati di depanku lagi. Ibu tidak tau kan bagaimana keadaan kami semenjak ibu pergi? Aku sakit tumor otak Bu dan di saat aku sakit si Yati malah sering tidur dengan laki laki lain. Dia pengkhianat Bu. Saat aku sakit untung ada adik ku yang sayang dan peduli sama aku. Nuri yang merawat ku, dia juga yang membayar pengobatan ku hingga aku sembuh. Bahkan sekarang dia juga yang ngasih aku tempat tinggal dan pekerjaan saat aku di keluarkan dari pekerjaanku."


Setelah bang Supri bercerita panjang lebar, ibu melirik ke arahku dengan tatapan yang sangat sulit ku artikan. Namun tak lama dia mengalihkan kembalinya pandanganya pada bang Supri.


"Lantas anak mu bagaimana, Sup?"Ibu bertanya kembali.


"Dia bukan anak kandungku. Si Yati sudah hamil oleh pria lain sebelum ku nikahi."


"Apa? jangan ngarang kamu Sup." Ibu belum percaya tentang status anak bang Supri.


"Aku sudah melakukan tes DNA Bu. Dan sudah membuktikan hasil nya kalau Rendi bukan anak ku. Si Yati sudah membohongi kita selama ini Bu.


Ibu nampak terdiam, aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2