Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Mati lampu


__ADS_3

Aku dan Raihan memasuki kamarku dengan bantuan cahaya lilin. Nampak Zain sedang duduk sambil menangis. kasihan sekali melihatnya, pasti dia sangat ketakutan. Aku langsung memeluk Zain yang masih menangis.


"Tidak apa apa sayang, Zain jangan takut. Ada mama dan uncle Raihan di sini."Aku menenangkannya sembari mengelus elus punggungnya. Sudah beberapa menit aku menenangkan Zain namun dia tidak mau berhenti menangis. Seperti nya Zain benar benar ketakutan karena selain gelap suara petir di langit saling bersahut sahutan.


Raihan meletak kan lilin di atas lantai kemudian berkata," coba sini mba, biar aku yang menenangkan nya." Raihan menawarkan diri, tangannya terulur hendak mengambil Zain dari pangkuanku. Aku diam sesaat namun setelah itu aku membiarkan Raihan mengambil Zain dari pangkuanku.


Raihan menimang Zain sambil berdiri dan mengelus elus punggungnya. Aku hanya memperhatikannya saja. Dalam hati aku mengagumi cara Raihan menenangkan seorang balita. Raihan terlihat seperti seorang papa yang sedang menimang balitanya agar cepat tertidur.


Lima menit kemudian isakan tangis Zain tidak terdengar lagi melainkan berganti dengan dengkuran halus nafasnya.


"Sepertinya Zain sudah tidur lagi mba," lapor Raihan.


"Tidurkan di kasur lagi saja Rai," titah ku sambil membenarkan letak bantal untuk Zain.


"Oh, ya." Kemudian Raihan meletak kan Zain di atas kasur secara perlahan. Setelah itu Raihan terdengar menghela nafas lega.


"Kenapa mati lampunya lama sekali sih? mana lilin nya hanya satu, bagaimana kalau lilin nya habis terus lampu belum menyala? kasihan Zain harus tidur gelap gelapan." Aku mengumpat kesal, entah kesal pada siapa.


Raihan yang sedang duduk di sampingku di tepi ranjang memegang lenganku lalu berkata,"sabar ya sayang, meskipun Zain tidurnya gelap gelapan tapi ada papa mamanya yang menemaninya disini."


Aku mengalihkan pandangan menyamping dimana letak wajah Raihan berada dan di saat itu pula Raihan mendaratkan ciumannya di bibirku. Awalnya aku diam, namun semakin Raihan ******* nya dengan lembut semakin aku berhasrat lalu aku membalas ciumannya. Lama kami saling pagut, mengecap dan bertukar saliva hingga tangan Raihan mulai bergerilya di area gunung kembar ku lalu me re mas nya dengan gemas. Aku terhanyut dan semakin berhasrat saja hingga terus melayani ciuman Raihan yang masih menggebu gebu. Ditengah hasrat kami memuncak tiba tiba lampu menyala. Aku segera mendorong tubuh Raihan hingga dia terdorong ke belakang. Kemudian aku berlari ke luar kamar lalu berjalan cepat ke arah dapur.


Di dapur aku berjalan mondar mandir sambil menggigit ujung jariku. Aku panik, aku berpikir kenapa aku tidak bisa menahan nafsuku ketika bersama Raihan? beda lagi ketika aku dekat dengan mas Surya atau Andre.


Raihan menyusul ke dapur, dia bengong saja melihat tingkah ku yang sedang mondar mandir.


" Mba.."sapa Raihan di ambang pintu akses menuju dapur.


Aku menoleh ke arahnya dan menghentikan pergerakan tubuhku.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu pulang sekarang Rai."


"Mba menyuruh aku pulang dalam keadaan hujan dan petir di luar?"


"Aku...aku tidak mau kamu ada di sini malam ini," ucap ku dengan cemas, aku me re mas buku buku jariku.


"Kenapa mba? apa mba takut aku berbuat lebih sama mba? mba tidak usah khawatir aku tidak akan melakukannya kalau bukan mba duluan yang minta,"kata raihan, kedua tangannya terlipat di atas dadanya.


"Rai, jangan becanda. Aku sedang serius, aku ingin kamu pulang sekarang Rai."


" Mba.."


"Aku takut kita tidak bisa menahan hawa nafsu Rai."


Raihan tertawa lebar, mungkin menurutnya ucapan ku sebuah candaan padahal aku sedang tidak becanda.


"Rai.."aku berteriak terkejut, karena tiba tiba mati lampu lagi. Aku merasa PLN sedang mempermainkan aku dan raihan.


"Diam di tempat mba, biar aku yang mendekati mba," kata Raihan di tengah ke gelapan.


Kemudian Raihan mendekatiku, tangan Raihan meraih lenganku lalu membawa aku keluar dari dapur menuju kamar ku yang terlihat terang oleh lilin. Beruntung lilin tadi belum sempat ku matikan.


Kami berdiam diri di dalam kamar. Mati lampu hujan dan petir yang saling bersahut sahutan di atas langit cukup membuat suasana mencengkram.Terlihat Raihan merebahkan tubuhnya di samping Zain dan berucap," ngantuk banget mba," kemudian menguap. Wajar saja jika mengantuk karena malam semakin larut bahkan sepertinya hendak menjelang dini hari.


Sepuluh menit kemudian, aku melihat Raihan sudah tertidur di samping Zain. Aku yang sedang duduk di tepi ranjang hanya memperhatikannya saja. Sebenarnya mataku pun sudah lima watt tapi aku menahannya karena masih dalam keadaan mati lampu.


Lama dan semakin lama mataku benar benar sudah tidak kuat menahan rasa kantuk hingga tak terasa aku tertidur di tepi ranjang. Di tengah tidur aku merasa seperti melayang di atas awan entah sekedar mimpi atau kenyataan.


Silau sinar matahari menerpa wajahku, membuat aku mengejapkan netra mataku. Dengan penglihatan baru lima puluh persen aku melihat sinar matahari sudah menembus tirai jendela kaca kamarku. Itu artinya malam sudah berganti pagi dan sepertinya aku bangun kesiangan bahkan melewatkan ibadah subuh.

__ADS_1


Aku menyibak kan selimut yang menutupi tubuhku dan ketika aku hendak bangun aku merasa ada sesuatu yang menahan tubuhku sehingga aku kesulitan untuk bangun. pandangan aku arah kan ke area perut dan seketika aku membelalakkan mata ku menyadari ada sebuah tangan melingkar di perutku. Dalam hati aku bertanya tangan siapa yang ada di perutku? kemudian aku membalik kan tubuh ku, nampak wajah tampan Raihan sedang tidur pulas sembari melingkarkan tangannya di perutku. Lagi lagi aku membelalak kan mataku setelah menyadari sepanjang malam aku tidur di peluk oleh Raihan.


Gerakan tubuhku membuat Raihan terusik dan dia ikut terbangun. Aku segera menyingkirkan tangan Raihan dari perut ku lalu bangkit. Begitu pula dengan Raihan ikut bangkit dan duduk di atas kasur.


"Apa yang sudah kamu lakukan padaku Rai? tanya ku, dengan wajah kesal.


Raihan mengernyitkan dahinya dan bertanya," lakukan apa mba maksudnya?"


"Apa kamu menyentuh ku tadi malam saat aku terlelap?"


"Memang kenapa kalau aku menyentuh mba? walaupun mba hamil aku pasti akan bertanggung jawab."


"Kenapa kamu tega melakukan itu sama aku Rai?" tanyaku dengan suara tinggi dan mata mulai berkaca kaca.


Kemudian Raihan tertawa renyah, dia menertawakan ke marahan ku.


"Maaf mba, aku hanya becanda saja. Mana mungkin aku berani melakukan itu tanpa seijin mba sendiri,"Raihan menenangkan ku agar aku tidak menangis.


Aku menghapus air mataku yang mulai menetes. Aku takut Raihan sudah berbuat macam macam padaku. Tapi ternyata dia hanya mengerjaiku saja. Aku turun dari kasur kemudian bergegas membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi.


"Apa hari ini kamu tidak kerja Rai?"aku bertanya sambil meletak kan secangkir teh dan dua helai roti panggang di hadapannya.


"Mungkin siangan mba. Soalnya sudah terlanjur kesiangan."


"Kenapa kamu tidak bangunnya subuh saja Rai? sindir ku.


"Istri ku saja bangunnya kesiangan bagaimana suaminya mau bangun subuh."


Aku tidak membalas ucapan Raihan yang asal mengaku saja, selalu menyebutku istri atau calon istrinya padahal aku sendiri ragu apakah iya Raihan adalah jodohku dimasa depan?

__ADS_1


__ADS_2