
Setelah berada di kantor polisi kami langsung melaporkan masalah penculikan Zain pada pihak berwajib. Setelah memberikan keterangan bagaimana mulanya Zain menghilang sampai saat ini belum di temukan, pihak berwajib mengatakan bahwa mas Surya di nyatakan bersalah karena telah membawa Zain pergi tanpa sepengetahuan aku meskipun mas Surya ayah biologis Zain. Selain itu, dia juga lalai menjaganya.
Dan pihak berwajib mengatakan akan menahan mas Surya sementara waktu sampai si penculik itu tertangkap untuk memastikan mas Surya benar terlibat atau tidak. Mas Surya sendiri menolak, dia merasa tidak bersalah dan tidak ingin di tahan meskipun sudah dinyatakan bersalah sampai dia memohon padaku namun aku tidak menggubrisnya. Biarkan saja dia merasakan tidur di penjara karena salahnya sendiri sudah membawa anak ku pergi seperti seorang penculik anak dan sekarang anak ku menghilang.
"Nur, Nuri tolong lepaskan aku Nur, aku ini ayah nya Zain mana mungkin aku tega menyakiti anak ku sendiri,"teriak mas Surya saat dia sedang di bawa paksa oleh dua orang petugas. Aku tidak menghiraukan permohonannya melihat ke arah nya pun tidak. Muak sekali melihat mukanya.
Setelah selesai memberikan keterangan pada pihak berwajib dan atas kekuasaan yang Raihan miliki mereka berjanji akan langsung bertindak tanpa harus bertele tele terlebih dahulu kami pun keluar dari gedung itu dan berjalan beriringan menuju parkir mobil
"Nuri, selama menunggu Zain di temukan kamu tinggal di rumah ku saja. Oma sudah...."
"Maaf dokter, biarkan mba Nuri ikut denganku."Raihan menyela ucapan dokter Bayu, raut wajahnya nampak datar.
"Tapi..."
"Mba Nuri butuh ketenangan dan saya yang akan menenangkan nya." Ucapan Raihan membuat dokter Bayu terdiam dan dahi nya mengernyit. Aku tau dia pasti bertanya tanya tentang hubungan pertemanan kami yang terlihat sangat intim dan sikap posesif Raihan terhadap ku.
"Ayok mba,"ajak Raihan. Aku yang sedang dalam keadaan pikiran kacau menurut saja dan tidak mempedulikan siapa yang membawaku.
Raihan menggiring tubuhku menuju mobilnya yang terparkir berdampingan dengan mobil dokter Bayu. Sebelum memasuki mobil yang telah di bukakan olehnya aku terdiam seperti ada yang tertinggal kemudian menoleh ke belakang. Dokter Bayu masih berdiri dan menatap kami dengan pikirannya sendiri.
"Dokter, terima kasih banyak sudah membantu saya mencari Zain sampai sejauh ini dan tolong katakan pada Oma ucapan maaf saya kalau saya tidak bisa kembali lagi ke rumahnya. Mungkin di lain waktu." Setelah berucap aku segera masuk tanpa mendengar respon dari pria itu terlebih dahulu.
Raihan melajukan mobilnya meninggalkan kantor polisi dan dokter Bayu yang masih saja melihat ke arah mobil kami hingga di kejauhan. Sebenarnya aku tidak enak hati padanya karena awalnya aku pergi dengannya dan sekarang malah pergi dengan Raihan dan meninggalkan nya begitu saja.
"Apa semalam mba tidur di rumah dokter Bayu?"tanya raihan di sela sela mengemudi sekaligus memecah kebisuan diantara kami.
Aku meliriknya dan mengangguk jujur tanpa di tutupi.
"Berarti mba sudah bertemu dengan keluarganya?"
Aku mengangguk."Bertemu dengan Omanya serta dua orang ART saja,"jawabku kemudian.
"Orang tuanya tidak?"
Aku menggeleng dan menjawab."Dokter Bayu hanya tinggal bersama Omanya sejak masih bayi ketika mamanya meninggal dan papanya menikah lagi."
"Mamanya meninggal dan ayahnya menikah lagi, jadi Nura..."
"Iya, kekasihmu yang cantik itu anak dari istri kedua papanya dokter Bayu,"ucap ku dengan sedikit ketus. Tiba tiba saja aku menjadi kesal sekaligus cemburu nama kekasihnya di sebut di depan ku.
__ADS_1
Raihan mendengus dan protes."Bisa tidak sih untuk tidak menyebut Nura kekasihku?"
"Tapi kenyataannya demikian kan Rai?andai saja Raihan tahu aku pun tidak suka dia menyebut namanya di depan ku.
"Tapi aku tidak pernah merasa demikian, aku hanya menganggap Nura tak lebih dari teman."
"Tapi bagaimana dengan nya Rai? apa dia menganggap sama sepertimu?"
"Itu sih terserah dia, yang ngajak jadian kan dia. Lagi pula aku tidak pernah ngedate dengannya, tidak pernah pegangan tangan, tidak pernah pelukan, apalagi ciuman. Lantas bagaimana mau di sebut pacaran."
"Hah," wajahku melongo, Raihan tidak pernah ngedate.Tidak pernah melakukan yang biasanya dilakukan dua pasangan kekasih. Rasanya tidak percaya, tapi entahlah hanya Raihan dan kekasihnya saja yang tau tentang bagaimana hubungan mereka.
"Kenapa? apa tidak percaya?"
"Sulit di percaya."
"Ha ha, terserah mba mau percaya atau tidak yang jelas kekasih aku itu hanya satu yaitu wanita yang ada di sampingku saat ini, calon istriku dan calon ibu dari anak anak ku."
"Jadi Nura hanya sebagai..ah, kamu menyakitinya Rai."
"Lebih baik menyakitinya daripada menyakiti bidadari ku yang satu ini." Setelah berucap tangannya membelai pipiku dan perlakuan nya membuat aku terhanyut dan melupakan sosok Nura.
Dua puluh menit kemudian dan tak terasa mobil yang kami tumpangi sudah memasuki area parkir mobil di sebuah basemen.
"Ke rumah kita mba,"jawabnya sembari tersenyum.
"Rumah kita!"ucap ku mengulang, dahi ku pun mengernyit karena aku tidak paham pada apa yang di maksud olehnya.
"Iya sayang, ya sudah yuk turun."Kemudian Raihan memajukan tubuhnya hingga wajah kami hanya menyisakan tiga senti saja. Aku meringis sembari memejamkan mata dan sedikit memiringkan wajahku. Namun tak lama aku merasa sabuk pengaman di perutku terlepas lalu aku membuka kedua kelopak mataku dan benar saja ternyata Raihan membuka sabuk pengaman yang belum sempat ku buka bukan mau mencium ku.
"Apa mba mau ciuman dariku, hem?"goda Raihan. Aku salah tingkah, rasanya malu sekali telah salah sangka.
"Apaan sih Rai!"ucap ku dengan wajah ku tundukan menyembunyikan wajah merona ku.
"Ha ha, tadi mba merem merem gitu kenapa?"
"Rai.."
"Ha ha, sabar ya sayang nanti aku cium mba setelah tiba di rumah kita."
__ADS_1
"Rai.."ku cubiti perutnya dengan gemas, lagi lagi dia menggodaku dan membuat aku semakin malu saja.
"Ha ha, ampun mba mampu!"Raihan tertawa menahan geli hingga aku merasa puas lalu menghentikan cubitan. Aku merasa candaan Raihan mampu menghilang kan kesedihanku di tengah kehilangan Zain.
Setelah keluar dari mobil, Raihan menuntun ku menuju sebuah lif. Setelah berada di dalam lif ku perhatikan Raihan memencet tombol tiga puluh lima. Aku berpikir apa yang di maksud Raihan rumah kita adalah apartemen miliknya.
"Kenapa melihat ku seperti itu sayang?"pertanyaan nya menyadarkan aku dari lamunan.
Aku sedikit terkejut."Tidak."
"Apa mau aku cium? tapi sayangnya disini ada cctv."Raihan menggodaku kembali. Aku mendelik lalu menghadap miring. Raihan tersenyum saja melihatku.
Beberapa saat kemudian pintu lif terbuka, masuk seorang laki laki dewasa memakai seragam kerja seperti seorang OB. Lalu dia tersenyum pada Raihan dan menyapanya.
"Pak Raihan, baru pulang pak?"
"Iya pak Kamil."
Kemudian pria itu melirik ke arah ku dan bertanya." Pak Raihan dengan siapa ini?"
"Oh, ini calon istri saya pak."setelah berucap Raihan melirik padaku dan tersenyum.
"Oh, pak Raihan sudah punya calon istri to?"
"Iya pak, doakan saja mudah mudahan secepatnya."
"Iya pak Raihan saya doa kan. Lagi pula kalian itu pasangan yang serasi karena cantik dan tampan.
Aku dan Raihan tersenyum saja mendengar pujian bapak itu.
Ditengah Raihan dan pria itu berbincang, lif terbuka. Aku di tuntun Raihan keluar dari lif itu, sementara bapak kamil meneruskan perjalanannya entah menuju lantai berapa.
Raihan menggiring tubuhku hingga pada sebuah pintu. Kemudian dia membuka pintu itu mengunakan password key. Selain terlihat keren pintu apartemennya tidak mudah di masuki pencuri.
Setelah memasuki apartemen milik Raihan aku tercengang kagum melihatnya. Apartemen yang luasnya tiga kali lipat dari apartemen milik Andre itu terlihat mewah di mataku. Selain design nya yang terlihat modern juga furniture yang ada semuanya terlihat modern dan keren sekali.
Dalam keadaan masih menatap kagum pada apa yang ada di dalam apartemennya tiba tiba Raihan memeluk ku dari belakang lalu melabuhkan dagunya di pundak ku.
"Mba suka tidak apartemen ini?"tanyanya.
__ADS_1
"Ke..kenapa kamu bertanya padaku Rai?"aku balik bertanya dengan perasaan gugup di peluknya.
"Karena apartemen ini untuk hunian kita setelah menikah. Tapi kalau mba tidak ingin tinggal di apartemen ini kita bisa beli perumahan di kawasan elit."