Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Sunset


__ADS_3

Setelah mengungkap kan bagaimana perasaanku selama ini pada Raihan, hati ku merasa plong, beban berat yang ku pikul terasa berkurang. Tinggal semuanya aku serahkan pada Tuhan, karena dia yang mengatur hidup semua umat nya termasuk hidup ku maupun urusan jodohku. Jika tuhan memperkenankan kami berjodoh aku sangat bersyukur namun jika tidak aku pun harus menerimanya dengan ikhlas.


Raihan menggenggam erat tanganku dan sesekali mengecupinya. Senyum pun terus mengembang di bibirnya sepertinya dia bahagia sekali.


"Terima kasih ya sayang sudah membalas perasanku. Andai saja aku tahu kalau mba menyukaiku sejak dulu mungkin aku sudah menikahi mu mba meskipun aku belum punya KTP he he."


Aku tersenyum lebar mendengar kalimat lucu yang dia ucapkan dan aku merasa cukup terhibur.


"Tapi, meskipun aku belum punya KTP, aku yakin kalau aku pasti mampu menafkahi mba secara lahir dan bathin." Sambung nya, penuh percaya diri.


Lagi, aku tersenyum lebar mendengar nya.


"Jadi, sekarang kita sudah resmi menjadi pasangan kekasih ya mba?"


"Mau mu?"Aku balik bertanya.


"Kalau aku mau nya bukan pasangan kekasih mba melainkan....pasangan suami istri, he he."


Senyum mengembang di bibirku. Apa yang menjadi keinginan nya merupakan keinginanku pula."Inshaallah Rai, semoga tuhan menjodohkan kita."


"Amin."Raihan mengangkat tinggi tangannya.


Setelah itu, Raihan mengalihkan pandanganya pada suatu tempat."Mau melihat sunset tidak?"Tanya nya dan aku mengangguk. Aku yang tak pernah melihat sunset di atas gedung cukup penasaran. Kemudian Raihan membalik kan tubuhku, nampak matahari sudah menampakan sinar merahnya namun masih nangkring di atas.


"Tunggu sekitar sepuluh menit lagi sayang, sunset akan muncul."Ucap Raihan sembari mengelus pundak ku.


"Apa mba mau istirahat saja di kamar, pasti mba lelah kan?"tawar Raihan, ketika kami sedang menunggu sunset yang mulai nampak di ufuk barat yang terlihat di atas ketinggian lantai tiga puluh lima tepatnya di atas balkon apartemen milik Raihan. Selain sunset, lampu lampu kota Jakarta pun mulai nampak menyala menerangi kota menjelang gelap. Aku jadi penasaran bagaimana suasana kota Jakarta pada malam hari jika melihatnya dari atas gedung yang menjulang tinggi.


Dulu, Andre pernah mengatakan Jakarta akan terlihat cantik pada malam hari di atas gedung saat dia membawa aku pertama kali ke Jakarta. Saat itu dia pernah membawa aku ke apartemennya namun pemandangan di apartemennya tidak seindah pemandangan di apartemen Raihan saat ini, selain menampilkan pemandangan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan berjejer rapih, di sini pun nampak sunset yang terlihat indah. Tiba tiba saja aku teringat Andre, kemana dia? sudah delapan hari tidak lagi melihat batang hidungnya. Tapi meskipun tidak melihatnya, aku tidak merasa kehilangan nya sama sekali.


"Tunggu dulu Rai, aku masih ingin melihat sunset sampai terlihat sempurna."Tolak ku dengan pelan.


Raihan tersenyum lalu mengelus belakang kepalaku dengan lembut." Ya sudah aku tinggal ke dalam dulu ya sayang?"


Aku mengangguk, mengijinkan dia untuk meninggalkan aku sendirian di atas balkon.


Setelah kepergian Raihan, netra mataku tertuju pada matahari yang mulai terbenam di ufuk barat. Hari mulai gelap, aku kembali teringat pada Zain anak ku, bagaimana dia makan, bagaimana dia berganti pakaian dan bagaimana dia tidur malam ini. Anak ku yang malang, kenapa kamu harus merasakan hal buruk ini nak? air mataku kembali menetes. Tak selang lama, suara adzan Maghrib terdengar berkumandang di masjid yang paling terkenal di Jakarta. Kebetulan apartemen Raihan letak nya berdekatan dengan masjid tersebut. Aku berpikir lebih baik melaksanakan sholat terlebih dahulu, karena selain merupakan kewajiban sholat juga dapat menenangkan hati dan pikiranku.

__ADS_1


"Mba, kita sholat berjamaah ya?"ajak Raihan ketika aku akan memasuki kamar namun mengurungkan nya.


"Rai, tapi.."


"Mukena? sudah aku sediakan dan di simpan di dalam lemari mba." Sebelum aku melanjutkan kalimat ku Raihan lebih dulu menyebut peralatan ibadah yang aku butuhkan seolah olah dia mengerti apa yang akan aku bicarakan. Aku pun tersenyum senang dan mengucapkan terima kasihku padanya.


Kami melaksanakan sholat maghrib berjamaah, Raihan sebagai imam ku dan aku sebagai makmum nya. Kami seperti pasangan suami istri yang sedang melaksanakan ibadah bersama namun nyatanya bukan. Kami bukan lah pasangan suami istri namun besar harapan ku semoga suatu hari nanti status kami berganti benar benar menjadi pasangan suami istri.


Di tengah berdoa, air mata ku menetes kembali. Aku teringat pada Zain, bagaimana dia tidur malam ini? anak ku masih terlalu kecil dan belum mengerti apa apa.


Isakan tangis ku yang berisik mengusik Raihan yang sedang khusuk berdzikir. Dia menghentikan dzikir nya lalu memiringkan tubuhnya melihat ku.


"Mba menangis lagi?"Kemudian dia mendekat lalu merengkuh tubuh ku. Aku menumpahkan air mataku dalam pelukannya.


"Aku rindu Zain Rai, aku rindu anak ku."Ucap ku di sela sela terisak dan dalam pelukan Raihan.


"Iya, sayang aku mengerti. Aku juga rindu sekali sama Zain. Kita harus sabar dan berdoa terus agar Zain segera di temukan mba."Dengan lembut dan sabar, Raihan menasehati ku yang kembali kurang waras.


Cukup lama aku menangis hingga air mataku mulai mengering dengan sendirinya. Raihan pun melepaskan pelukannya dari tubuhku yang masih terbalut oleh mukena setelah dirasa aku tak lagi menangis. Aku tau mungkin tanpa sengaja atau tidak sengaja kami sudah melakukan dosa kecil yaitu bersentuhan dengan bukan muhrim. Tapi sekali lagi aku katakan bahwa kami bukanlah manusia suci yang tak luput dari kata dosa.


Raihan lebih dulu keluar dari kamar dan aku akan menyusul setelah membereskan peralatan ibadah terlebih dahulu.


Setelah berada tak jauh dari dapur minimalis yang terlihat modern dan cantik, nampak Raihan menggunakan celemek sedang sibuk di sana.


"Ehem, mau masak apa Rai?"tanya ku, di saat mendekatinya dan berdiri di sampingnya.


Raihan melirik."Eh, ada mba, aku jadi terkejut."


"Masa sih, padahal aku tidak mengejutkan kamu lho!"


"Iya, aku terkejut tiba tiba saja ada bidadari di sampingku." Raihan mulai menggombal. Aku memajukan bibirku, namun pandanganku memperhatikan gerakan tangan nya yang terlihat cekatan.


Aku menawarkan diriku untuk membantunya memasak namun Raihan menolak dengan alasan tak ingin membuatku kelelahan. Dia malah meminta aku untuk menunggunya saja atau beristirahat di kamar. Aku pun menurut lalu berjalan ke arah sofa panjang dan menyetel TV slim yang berukuran sangat besar seperti layar bioskop.


Samar samar terdengar suara seseorang berulang kali menyebut nama mba. Selain itu, aku juga merasakan belaian halus di pipi kananku. Perlahan ku buka kelopak mataku nampak wajah tampan Raihan sedang tersenyum manis sekali pada ku. Aku langsung terduduk.


"Rai.."ucap ku, dalam keadaan setengah sadar.

__ADS_1


"Mba ketiduran." Kata Raihan lalu duduk di samping ku.


Ya, aku ketiduran ketika sedang menonton TV dan menunggu Raihan selesai memasak dan aku tidak tahu entah sudah berapa lama aku tertidur di atas sofa.


"Jam berapa sekarang Rai?"


"Setengah sembilan dan sudah dua jam aku menunggu mba bangun. He he."


"Hah!" aku bengong melihat Raihan.


"Maaf ya aku bangunin mba. Kita makan dulu yuk, nanti setelah makan mba lanjut tidur lagi."


Belum sempat aku membalas ucapannya Raihan lebih dulu membangun kan aku dari duduk lalu menuntun ku menuju meja makan. Setelah itu, dia mendudukkan aku di kursi. Di atas meja nampak bermacam macam menu dan terlihat enak serta menggiurkan lidah ku. Aku tidak menyangka selain baik, sangat muda, tampan, mapan, pintar, penyayang anak kecil, ternyata Raihan juga jago masak. Satu kata untuk nya sebagai seorang laki laki sekaligus pria idaman yaitu"perfect."


Kami makan dalam diam dan hanya terdengar dentingan sendok serta suara kecapan lidah saja. Masakan Raihan benar-benar enak sekali sehingga aku yang hanya bisa masak ala makanan kampung menjadi insecure padanya.


Pukul sepuluh malam, aku tak dapat lagi memejamkan mataku setelah dua jam tertidur setelah maghrib. Aku merasa jenuh berada di dalam kamar lalu aku pun keluar. Raihan tak nampak keberadaannya aku pikir mungkin dia sedang berada di dalam kamarnya.


Aku membuka pintu kaca menuju balkon dan setelah berada di atas balkon aku memandang takjub. Benar kata Andre bahwa Jakarta sangat cantik jika malam hari oleh kelap kelip lampu yang menerangi.


Di tengah aku menikmati pemandangan kota Jakarta yang terlihat cantik sekali, tiba tiba dua buah tangan melingkar di perutku, sebuah dagu bertengger di bahu kiri ku. Dari pelukan yang tak asing lagi serta wangi nafas mint, aku tahu bahwa orang yang sedang memeluk ku dari belakang saat ini, tak lain adalah Raihan, pria yang sudah ku akui sebagai kekasihku bahkan calon suamiku.


Aku membiarkannya memeluk ku karena aku memang butuh pelukan untuk menguatkan perasanku yang rapuh di tengah kehilangan anak ku.


"Aku mencari mba ke kamar tapi tidak ada. Ternyata bidadari ku ada di sini." Ucap Raihan.


"Aku bete di kamar Rai, lagi pula aku belum mengantuk lagi."


"Apa mba suka melihat pemandangan kota?"


Aku mengangguk pelan.


"Kalau begitu kita menikah nya besok saja supaya kita bisa tinggal sama sama di sini dan mba bisa menikmati pemandangan kota tiap malam."


"Menikah besok? apa semudah itu? lagi pula masa Iddah ku masih dua mingguan lagi Rai dan ibuku belum pulang. Aku tidak mungkin menikah tanpa restu serta sepengetahuan ibu apalagi ibu belum tau kalau aku sudah bercerai dengan mas Surya." Aku tidak menolak ajakan Raihan untuk menikah besok tapi aku hanya menjelaskan bahwa aku masih memiliki masa Iddah dan ibu ku yang belum kembali pulang. Karena walau bagaimana pun restu orang tua sangat aku harapkan meskipun selama ini ibu tidak pernah menyayangiku.


Raihan membalik kan tubuhku sehingga kami saling berhadapan dan saling tatap di bawah cahaya yang remang.

__ADS_1


"Aku..aku akan menunggu mba sampai kapan pun mba." Setelah berucap, dia melabuhkan ciuman di atas bibirku dan aku membalas ciumannya yang terasa lembut dan manis sekali. Sekali lagi, setan telah berhasil menggoda dua anak manusia yang saling mencintai dan lemah iman.


__ADS_2