
Raihan memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran restauran. Nampak berbagai merk mobil berjejer rapih di parkiran tersebut.
"Ayok sayang, kita turun. Sini biar aku yang gendong Zain." Raihan mengambil Zain dari pangkuanku.
"Terima kasih, Rai."
"Sama-sama sayang. Ayok turun." Aku pun menuruti perintah Raihan. Namun sebelum turun aku memasang masker ku kembali karena di luar pasti banyak debu dan akan membuatku bersin bersin lagi.
Sembari menggendong Zain, Raihan menautkan lengannya pada lenganku lalu menuntun pelan memasuki restauran itu.
Setelah tiba di dalam restauran nampak meja masih banyak yang kosong dan Raihan menyarankan kami duduk di meja kosong yang terletak di pojokan.
Kami berjalan ke arah pojok melewati beberapa meja yang sudah terisi oleh pengunjung.
"Raihan!" Sapa seseorang ketika kami melintas. Raihan menghentikan gerakan langkahnya begitu pula dengan aku. Lalu Raihan menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Bagas!" Raihan balik menyapa. Aku mengikuti arah pandangan nya dan terlihat seorang pria paruh baya namun nampak tampan dan gagah sedang duduk dan tersenyum ke arah kami tepatnya pada Raihan.
Aku merasa familiar dengan wajah pria itu lalu berusaha mengingatnya.
Dia berdiri lalu melangkah mendekati kami. Setelah berdiri di hadapan kami Raihan menyalaminya dengan tak'jim. Dengan jarak yang lebih dekat wajahnya semakin jelas dan aku teringat bahwa aku pernah bertabrakan dengannya saat berada di mall beberapa waktu yang lalu dan pria itu tak lain adalah orang tua Nura.
"Tidak menyangka kita bisa bertemu di sini, Rai." Kata pria itu.
"Iya pak, Pak Bagas dengan siapa ke sini?"
"Sendiri. Tapi sedang menunggu istri saya Sebentar lagi akan datang."
"Oh."
"Kamu sendiri dengan siapa? terus ini anak siapa?" Tanya nya sembari menatap Zain.
"Ini..anak saya pak."
"Anak!" Pak Bagas nampak terkejut.
Raihan tidak merespon keterkejutan pak Bagas melainkan memutar bahunya." Sayang kenalkan ini papanya Nura sekaligus pemilik saham empat puluh persen di R&N Group." Ucap Raihan padaku. Aku yang berdiri di belakang nya maju sedikit menampakan wajahku yang tertutup oleh masker.
Pak Bagas diam sembari memperhatikan penampilanku dari bawah hingga atas. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan tentangku.
"Kenalkan pak Bagas, ini calon istri saya." Ucap Raihan memperkenal kan aku pada nya.
Pak Bagas nampak tercengang melihatku. Mungkin dia terkejut mendengar Raihan mengaku bahwa aku calon istrinya. Padahal Raihan dekat dengan anaknya Nura.
"Calon istri?" Ulang pak Bagas.
"Benar pak, calon istri saya."
Aku mengulurkan tanganku ingin bersalaman dengannya tapi pak Bagas tidak langsung menyambut uluran tanganku melainkan diam saja menatap ku dengan pikirannya. Tangan ku cukup lama melayang hingga aku merasa pegal karena pak Bagas tidak kunjung menyambutnya. Namun siapa sangka ketika aku hendak menurunkan tanganku kembali pak Bagas membalas uluran tangan ku.
Ketika pak Bagas menyentuh tanganku aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dari dirinya ke dalam tubuhku. Sorot matanya pun seperti sebuah medan magnet membuat aku tak ingin berpaling dari sorot mata tua itu. Entah mengapa menatap sorot mata pak Bagas tiba tiba aku merasa rindu pada sosok figur seorang ayah. Aku rindu ayahku, ayahku yang sudah meninggal sejak aku masih kecil.
"Saya Bagas rekan bisnis Raihan."Ucapan pak bagas membuyarkan kediamanku.
"Sa...saya Nuri, pak!"
"Nuri!" ulang pak Bagas. Dia nampak terbengong.
"Iya pak, Nama saya...Nuri Aisha."
"Nuri Aisha!" Ulang pak Bagas dan nampak semakin bengong."
"Benar pak."
"Si..siapa yang memberi nama itu?"
"Orang tua saya. Memang kenapa pak?"
"Ah, tidak. Namamu cantik sekali."
__ADS_1
Aku tersenyum di balik masker yang sedang ku gunakan.
"Terus sebenarnya ini anak siapa tampan dan menggemaskan sekali?" Tanya pak Bagas sembari mencubit kecil pipi Zain.
"Apa pak Bagas tidak melihat kemiripan kami?" Raihan balik bertanya.
"Jangan ngaku ngaku Rai, kamu masih sangat muda mana mungkin sudah memiliki seorang anak."
Raihan tertawa kecil.
"Dia anak saya pak, namanya Zain." Aku mengaku tanpa ingin menutupi dari pak Bagas.
"Oh, benarkah?"
"Emm, pak Bagas, saya minta maaf saya tidak bisa memenuhi keinginan bapak dan Tante Meri untuk lebih dekat dengan Nura. Saya sudah memiliki wanita yang sangat saya cintai sejak dari lima tahun yang lalu. Dan wanita itu adalah dia, mama dari anak yang sedang saya gendong ini."
Pak Bagas terdiam mendengar kalimat permohonan maaf Raihan yang panjang.
"Dan inshaallah kami sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan."
"Jadi, selama ini kamu sudah memiliki pilihan, Rai?"
"Benar pak, saya sudah mencintainya sejak sebelum dia menikah. Dan saya mohon maaf tidak bisa memberikan perasaan lebih ke Nura. Saya hanya bisa menganggap Nura sebagai kakak saya tidak lebih."
Pak Bagas terdiam namun pandanganya mengarah padaku. Aku menunduk dengan perasan tidak enak hati padanya karena gara gara aku Raihan tidak menikahi anaknya.
"Iya Rai, tidak apa apa. Saya memaklumi kalau cinta itu tidak bisa di paksakan. Tapi meskipun kamu dan anak saya tidak berjodoh hubungan bisnis kita tetap terjalin kan." Ucap pak Bagas sembari tertawa kecil. Tapi nampaknya dia hanya becanda saja.
Aku merasa pak Bagas adalah orang baik, dia nampak legowo dan bijaksana serta tidak memaksakan kehendaknya. Tapi kenapa dokter bayu serta Oma nya tidak menyukai beliau. Bahkan Oma sering membicarakan kejelekan pak Bagas padaku.
Raihan tertawa dan aku mengangkat wajahku. Aku pikir pak Bagas akan memarahiku atau Raihan ternyata dia tidak mempermasalahkan perjodohan anaknya yang gagal dengan Raihan.
"Kalau begitu kami mau ke meja yang ada di pojok sana pak."Ucap Raihan sembari menunjuk tempat dimana kami akan duduk menggunakan dagunya.
"Oh ya, silahkan."
"Selamat malam mas, mba. Apa sudah ada yang ingin di pesan?" Tanya seorang waiter ketika kami sedang memilih makanan yang ada di buku menu. Saat itu pula tiba tiba aku merasakan mules.
"Rai, aku titip Zain mau ke toilet dulu."
"Terus kamu mau makan apa?"
"Terserah kamu saja Rai, tolong pilihkan."
"Ya sudah."
Aku segera melangkah ke arah dimana ada toilet umum yang ada di restauran itu. Setelah berada di sana nampak cukup banyak orang tengah mengantri karena di situ hanya terdapat dua toilet wanita dan toilet laki laki aku tidak tau.
Satu persatu orang orang pun keluar setelah memakai toilet itu dan tinggal lah aku. Di dalam toilet aku membuka masker ku karena takut merasa sesak karena berada di ruang sempit.
Baru beberapa menit aku menggunakan toilet itu sebuah gedoran di balik pintu cukup mengagetkan aku.
"Hei, cepetan dong lama banget sih." Teriak nya sembari terus menggedor pintu itu. perbuatannya membuat aku tidak merasa nyaman karena terus menerus di buru hingga aku menyudahinya.
Setelah aku merapikan switer warna putih susu dan hijab warna putih gading aku segera membuka pintu itu. Setelah terbuka nampak seorang wanita tengah berdiri menatapku dengan mata melotot dan mulut menganga seperti orang yang tengah terkejut melihat sesuatu. Aku tau siapa wanita itu yang tak lain adalah Tante Meri mamanya Nura istri pak Bagaskara. Aku sendiri menatap tajam ke arahnya karena benar benar kesal pada ulahnya.
Tante Meri melangkah mundur hingga menempel di dinding toilet. "Tidak, ti....tidak mungkin...kau ti...tidak mungkin masih hidup...ti...dak..kau..sudah mati." Ucap nya dengan terbata bata dan wajah ketakutan. Aku yang tadinya kesal berubah heran atas sikapnya kenapa dia selalu ketakutan ketika melihat ku.
Aku melangkah maju namun dia semakin ketakutan lalu berlari ke arah pintu.
Duugghh
"Aaaaa!" Tante Meri menjerit sembari memegang keningnya. Seperti nya keningnya menabrak tiang pintu. Aku mendekatinya hendak menolongnya namun dia menangkis lenganku lalu berlari terbirit birit menanggalkan sepatunya.
Aku menatap nya dengan perasaan heran dan penasaran. Ada apa dan kenapa dia seperti itu setiap kali melihat ku.
"Mba saya mendengar ada keributan. Ada apa ?"Tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet satunya.
"Orang aneh mba."
__ADS_1
"Orang aneh! maksud mba?"
"Iya, orang aneh. Bagaimana tidak aneh sudah dua kali melihat saya tapi bersikap seperti ketakutan. Kayak saya ini hantu saja."
"Oh, begitu mba. Tapi menurut saya, bisa saja dia melihat mba seperti melihat hantu seseorang yang pernah disakitinya. Seperti membunuh orang yang dia takuti itu atau memisahkan dari keluarganya dan semacam nya lah mba. Makannya dia merasa seperti di bayang bayangi oleh sosok orang yang pernah di sakitinya itu."
Aku terdiam mendengar kalimat pendapat yang telah di lontar kan oleh wanita yang baru saja ku kenal. Aku rasa pendapat nya masuk akal juga namun apa hubungannya denganku? karena aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga mereka.
"Ya sudah mba, saya duluan ya!"
"Iya mba, silahkan." Wanita itu keluar lebih dulu lalu aku mengambil sepasang high heel yang lagi lagi di tinggal si empunya. Ku perhatikan high heel yang nampak berkelas itu dan aku perkirakan harganya puluhan juta.
"Dasar orang kaya, buang buang duit saja." Kemudian aku membawa nya ke luar dari toilet karena ku pikir siapa tau Tante Meri sedang bersama dengan pak Bagaskara.
Dari jarak cukup jauh aku melihat Tante Meri sedang bicara dengan pak Bagaskara. Suaminya seperti menenangkan Tante Meri yang nampak panik. Aku pikir ini kesempatan aku memberikan high heel miliknya namun ketika aku baru berjalan beberapa langkah Tante Meri melepas tangan pak Bagaskara lalu beranjak pergi. Pak bagaskara nampak terbengong melihat kepergian istrinya.
Meskipun Tante Meri sudah pergi aku harus tetap mengembalikan sepatu mewahnya pada pak Bagaskara karena aku sendiri malas membawa kembali ke dalam toilet.
"Permisi pak Bagas." Sapa ku setelah aku berada di sampingnya tanpa membuka masker.
Dia melirik." Nu..Nuri!" ucap nya nampak sedikit terkejut.
"Maaf pak mengganggu."
"Oh, tidak sama sekali. Ada apa ya Nuri?"
"Ini pak, saya menemukan sepatu istri bapak di toilet." Aku menyodorkan sepasang sepatu itu pada nya tanpa menceritakan kronologi yang terjadi.
"Oh, dasar si Meri itu ada ada saja. Buang saja nak Nuri saya jijik melihatnya." Pak Bagas menolak sepatu serta nampak bergidik jijik melihat sepatu yang masih ku sodorkan ke arahnya.
"Jijik!"
"Iya, itu kan sepatu dari toilet."
"Tapi sayang pak kalau di buang. Saya rasa sepatu ini mahal dan bisa di jual ulang."
"Iya, istri saya memang selalu membeli barang barang bermerk dan mahal. Buang saja tidak apa apa. Koleksianya masih sangat banyak hingga memenuhi kamar. Paling juga nanti dia beli lagi."
"Buang buang uang saja pak. Dari pada beli sepatu harganya puluhan juta bahkan ratusan yang nantinya hanya akan di injak injak lebih baik uangnya di sedekahkan pada orang yang lebih membutuhkan biar hartanya membawa keberkahan di keluarga pak Bagas." Entah dapat keberanian dari mana tiba tiba mulut ku terasa gatal ingin menasehati nya. Pak Bagas tidak marah melainkan terbengong melihatku entah apa yang sedang dia pikirkan tentang ku.
"Kalau begitu saya permisi pak, saya akan membuang uang bapak ini." Setelah berucap aku meninggalkan pak Bagas yang masih bengong menatapku.
Aku melirik pada Raihan ternyata dia sedang memperhatikan ku. Aku tidak langsung menghampirinya melainkan melewatinya begitu saja. Aku tau dia keheranan melihat sikap ku namun biarkan saja nanti akan aku jelaskan setelah membuang sepatu mahal yang sedang ku pegang.
Aku kembali lagi ke toilet namun sebelum aku memasuki nya aku melihat seorang cleaning servis wanita di pojokan.
"Mba, mba!" Aku memanggilnya saat dia sedang sibuk mengepel lantai yang kotor.
Dia menoleh ke arah ku lalu menyahut." Mba panggil saya?"
Aku mengangguk. Mba cleaning servis pun menghampiriku." Ada apa ya mba?" Tanya nya setelah mendekat.
"Mba mau uang tidak?"
"Mau banget lah mba."
"Ini saya nemu sepatu di toilet tadi. Saya sih sudah memberikannya pada si pemiliknya tapi pemiliknya menyuruh saya membuang nya. Saya pikir daripada di buang mending saya kasih saja ke mba. Mba bisa memakainya atau menjual nya karena saya yakin sepatu ini harganya sangat mahal. ini mba ambil." Aku menyodorkan sepatu itu ke arah cleaning servis lalu dia mengambilnya dari tanganku.
Dia memperhatikan sepatu itu secara detail." Wah, benar mba. Ini sepatu mahal. Tapi kenapa tidak di ambil sama mba saja dan kenapa di kasih ke saya?"
"Ha ha. Saya tidak bisa pakai high heel mba, saya sudah terbiasa memakai sandal flat saja."
"Tapi kan bisa mba jual."
"Untuk mba saja lah. Saya tidak ada waktu untuk menjual nya. Mba mau tidak? kalau tidak mau akan saya berikan sama orang lain."
"Mau banget dong mba. Kebetulan sekali saya tidak punya uang samasekali. Makasih banyak ya mba!"
Mba cleaning servis itu tersenyum senang.
__ADS_1