
Beberapa kali aku memanggilnya namun Sumi tidak menghiraukan panggilan ku dia justru terus saja melangkahkan kaki nya menuju mobil itu. Rasa penasaran yang cukup besar membuat nya tidak memiliki rasa takut jika perbuatannya nanti akan di ketahui dan akan membuat dua orang yang sedang berbuat mesum itu marah padanya.
Ku perhatikan dari jarak tidak terlalu jauh gerak gerik Sumi mendekati mobil itu. Dia berjalan mengendap endap persis seperti seorang pencuri yang hendak mencuri mobil yang terlihat masih bergoyang. Sementara aku yang menunggunya di pinggir jalan hanya geleng-geleng kepala saja melihatnya.
Sumi sudah berada di samping mobil itu lalu pandangannya di arahkan pada jendela mobil yang nampaknya terbuka setengah. Ku perhatikan ekskresi wajah Sumi seperti sedang terkejut melihat sesuatu di dalam mobil itu. Kedua matanya membesar dan mulutnya menganga namun dia segera menutup mulutnya yang menganga itu dengan tangannya.
Dia diam di tempat dan pandangannya tidak beralih dari jendela mobil. Entah apa yang sedang dilakukan Risa dan pria tua itu hingga Sumi betah sekali berlama lama melihatnya. Selang beberapa menit dia merogoh ponselnya lalu mengarahkan kamera ke arah jendela mobil. Setelah itu dia menyimpan ponselnya kembali.
Setelah ponselnya di simpan nampak Sumi mengedarkan pandangannya ke segala arah seperti sedang mencari sesuatu. Tak lama kemudian pandangannya mengarah pada satu pusat yaitu kandang sapi yang sudah tak berpenghuni lalu berjalan ke arah kandang sapi tersebut.
Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan di kandang sapi itu. Namun terlihat Sumi memasuki kandang sapi itu tanpa ada rasa jijik.
Tak lama kemudian Sumi keluar dari kandang sapi itu membawa sebuah ember cukup besar yang nampak sudah berlumut. Apa yang akan Sumi lakukan dengan ember itu?pikirku. Sumi kembali ke mobil yang masih saja bergoyang. Sempat terlintas di pikiran ku sehebat apa pria itu hingga mobil itu terus saja bergoyang tanpa henti. Namun aku langsung menepis pemikiran jorok itu.
Aku terkejut sekali melihat Sumi menyiram air berwarna hitam pekat ke dalam mobil itu. Setelah menyiram dia membuang ember nya lalu berlari kencang ke arahku.
Ku perhatikan mobil itu berhenti bergoyang dan berganti dengan teriakan serta umpatan kasar yang terdengar cukup keras hingga sampai di telingaku.
"Cabut Nur!" Ucap Sumi dengan nafas ngos ngosan ketika dia sudah sampai di tempat aku menunggunya.
Kemudian dia segera menyalakan motor."Ayok Nur, cepat naik."
Aku yang masih diam terpaku serta pandangan masih mengarah pada mobil itu pun tidak ingin membuang waktu lagi lalu segera naik ke atas motor.
"Hua ha ha ha!" Sumi tertawa terbahak bahak di tengah melaju."Aku puas sekali Nuri, Hua ha ha ha!" Sumi terbahak bahak lagi seolah olah apa yang sudah dia lakukan merupakan kepuasaan tersendiri.
"Kamu tau tidak Nur, apa yang aku lihat tadi? Si Risa sedang anjrug anjrug kan di atas tubuh si kakek peyot itu dalam keadaan telanjang bulat Nur! Amit amit dah jijik sekali aku lihatnya."
"Sudah tau jijik kenapa di lihatin terus bukannya langsung pergi dari situ."
__ADS_1
"Habis gimana sudah kepalang lihat jadi terusin saja lihat pertunjukan por no nya he he. Lagi pula aneh Nur, masa mereka tidak sadar kalau ada orang yang sedang menonton padahal jendelanya terbuka."
"Tapi kenapa harus di siram sama air kotor Sum!"
"Biarin saja Nur, biar tau rasa. Salah sendiri kawin kok di sembarang tempat kayak binatang saja. Apa si kakek tua itu orang kere sampai kawin di dalam mobil dekat kandang sapi pula. Atau jangan-jangan mereka sudah kebelet kali ya!"
"Apa kamu tadi merekamnya Sum?"
"Iya dong, buat jaga jaga."
"Buat jaga jaga apa buat koleksian kamu Sum?"
"Ish sembarangan, lagian tidak bakal nafsu lihatnya habis mainnya sama kakek kakek yang sudah tidak bertenaga. Masa si Risa terus yang beraksi dan anjrug anjrugan sampai mobil nya goyang. Eh, tapi di pikir pikir si Risa tenaga nya super juga ya sampai menggemparkan mobil gitu."
"Kamu itu Sum, ngomongnya jadi ke arah jorok sih."
Ku cubit kecil pinggang Sumi soalnya aku gemas sekali mendengar cerita blak blakan nya tanpa ada rasa malu. Meskipun pengalaman itu pernah aku rasakan begitu pula dengan Sumi tetap saja aku malu sendiri mendengarnya.
"Apa mereka lihat kamu, Sum?"
"Si Risa lihat aku tapi si kakek nya tidak."
"Kamu itu Sum, kalau mereka dendam ke kamu terus membalas perbuatan mu gimana?"
"Ya ku balas lagi dong. Rasanya aku puas sekali bisa membalas rasa sakit hatiku ke wanita bermulut tajam itu melalui anaknya ha ha. Kalau dia hina aku lagi akan aku sebari video anaknya biar tau rasa."
Aku geleng-geleng kepala saja mendengar celotehan nya. Sebenci itu Sumi pada Bu Rida hingga anaknya akan di korban kan untuk membalas rasa sakit hatinya pada wanita yang sering kali menghina orang.
Tidak terasa kami sudah tiba di rumah. Nampak ibu ibu sedang istirahat dan menunggu kami di luar pabrik. Gara gara ulah Sumi aku jadi telat memberi makan mereka.
__ADS_1
"Sum, cepat itu nasi nya kasih dulu ke ibu ibu. Kasihan, mereka sudah kelaparan." Sumi yang sedang melihat ponselnya langsung mendongak.
"Siap boss." Kemudian Sumi berjalan ke arah pabrik sementara aku masuk ke dalam rumah untuk menidurkan Zain di kamar.
"Nur, Nuri!" panggil Sumi di depan pintu kamarku.
"Kenapa Sum?"Sahutku di dalam kamar sambil mengganti baju.
"Ini nasi Padang mu di tarok dimana?"
"Tolong simpan di meja makan saja Sum, nanggung aku sedang ganti baju."
"Ya sudah."
Setelah mengganti baju aku melirik pada ponselku yang tergeletak. Ponsel baru yang baru satu bulan ini ku pakai karena aku tidak lagi menggunakan ponsel mewah pemberian Raihan. Ponsel itu sudah aku masuk kan kembali ke dalam box dan kelak jika aku bertemu dengannya akan aku berikan padanya beserta barang nya yang lain.
Jika melihat barang barang pemberian Raihan aku jadi teringat kembali padanya. Oleh karena itu, aku tidak ingin memakai barang pemberian nya lagi termasuk motor mahal. Motor itu aku simpan dengan rapih dan aku sudah membeli motor yang baru.
Sebenarnya bohong jika aku mengatakan sudah bisa melupakan Raihan karena pada kenyataanya tidak bisa. Sesibuk apa pun aku tetap tidak bisa melupakannya. Tapi aku bisa apa? mungkin Raihan sudah tidak mau lagi padaku. Itu sebab nya dia tidak pernah lagi menemui ku dan menjelaskan tentang kejadian waktu di mall itu. Namun sekarang untuk urusan jodoh aku pasrahkan saja pada Tuhan. Dan semoga tuhan menjodohkan aku dengan sosok pria yang terbaik di antara yang terbaik meskipun bukan dengan Raihan.
Aku membuka ponsel yang setengah hari ini belum ku sentuh. Ada satu nomer tanpa nama menghubungiku berulang kali. Aku penasaran pada nomer itu dan aku pikir mungkin itu nomer nomer salah satu langganan Kerupuk ku yang ingin membicarakan masalah penting hingga dia berusaha menelpon ku berulang kali.
Tanpa berpikir panjang lagi aku pun langsung menghubungi balik. Telpon itu terhubung bahkan di angkat. Aku menyapanya dan menanyakan siapa orang itu namun tidak ada sahutan satu katapun. Berulang kali aku melakukanya hingga membuatku kesal sendiri.
"Dasar orang iseng. Menyebalkan sekali buang buang waktu ku saja." Umpat ku pada orang yang sedang mendengar suaraku di seberang sana dan entah siapa. Setelah itu aku langsung menutupnya dengan kesal.
Tidak banyak yang tau nomer baruku. Kontak nomer yang ada rata rata hanya nomer pemilik warung atau toko toko langganan Kerupuk ku. Selain mereka Sumi dan bang Supri dan selebihnya tidak ada yang tau.
Aku meletak kan ponsel itu kembali di atas meja rias lalu beranjak keluar kamar. Selain kesal pada si penelepon, perutku juga sudah terasa lapar. Namun ketika aku sudah berada di dapur dan berencana akan memakan nasi Padang yang baru saja ku beli betapa terkejut nya aku melihat ibu sedang memakan nasi padang milik ku di atas meja makan dengan lahap.
__ADS_1