Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
kekasaran bang Supri


__ADS_3

"Kamu yang membelikan mobilan ini untuk Zain, Raihan?" tanya ku. Ku tatap mukanya dengan serius. Jujur saja ada sedikit kesal karena Raihan membelikan mobilan mahal tanpa memberi tahu aku terlebih dulu. Sementara orang yang aku tanyakan malah senyum senyum saja.


"Raihan, kamu ngapain berdiri di pintu? sudah tau tubuhmu besar."


"He..he!" Raihan segera menyingkir dari pintu memberi jalan untuk Bu haji lewat.


"Nur, sudah selesai masaknya ya?" tanya Bu haji sambil matanya melirik pada makanan yang sudah tertata rapi.


"Alhamdulilah sudah Bu!"


"kalau begitu tinggal kita masukin kotak ya?"


Aku mengangguk.


"Bu, biar Raihan saja yang bantuin mba Nuri. Ibu jagain Zain saja."


"Apa kamu yakin kamu bisa?"


"Kecil!"


"Ya sudah kalau begitu." Bu Haji pergi dari hadapan kami dan tinggal lah aku dan Raihan.


Raihan membantuku memasukan makanan ke dalam kotak. Selama kami bekerja aku tidak banyak bicara tapi Raihan lah yang banyak bertanya. pertanyaan Raihan ada yang bisa aku jawab ada juga yang tidak. Satu jam kemudian, semua sudah selesai. Aku tersenyum senang begitu pula dengan Raihan.


Hari sudah menjelang sore. Setelah semuanya bersih dan tidak ada peralatan yang kotor aku ijin hendak pulang. Aku menghampiri Zain yang sedang main bersama Raihan.


"Nak, kita pulang yuk sudah sore!"


Zain mengangguk lalu menghampiriku.


"Lho, kok main tinggal om begitu saja? sini dulu!"


Zain balik lagi ke arah Raihan nurut sekali dia. Setelah dekat dengan Raihan, Raihan menciumi pipi Zain dengan gemas. Zain memiliki wajah yang tampan wajahnya sama sekali tidak mirip dengan papanya malah cenderung mirip denganku. Setelah itu Zain gantian yang menciumi pipi Raihan kiri dan kanan. Aku hanya memperhatikan saja.


"Macih uncle lehan!"


"Cama cama Zain tampan."


"Nur, ini lho di bawa pulang !" ucap Bu haji tiba tiba menghampiriku.

__ADS_1


"Apa ini Bu?"


"Sisa makanan."


"Kok, dibawa Bu haji, kan untuk di sini."


"Saya sudah menyisakan."


"Nih, dibawa!" Bu haji menyodorkan kantong kresek itu ke arahku.


"Terima kasih banyak Bu haji. Kalau begitu saya mau pulang dulu."


"Iya Nur, saya yang harusnya banyak terima kasih kamu bersedia bantuan saya."


"Assalamualaikum, mari Bu haji, Raihan."


"Apa mau saya antar mba?"


"oh, tidak perlu terima kasih." Aku segera keluar dari dalam rumah Bu haji dan pulang ke rumahku.


Lima belas menit kemudian, aku sudah tiba di dalam rumah. Ku letak kan makanan di atas meja dan mengambil beberapa piring untuk menuangkan isinya. Satu persatu aku tuangkan ke dalam piring dan tak ku sangka ku dapati sebuah amplop di dalam plastik berisi makanan yang ku bawa. Aku mengambil amplop itu lalu langsung masuk ke dalam kamarku. ku hitung jumlahnya ada lima ratus ribu. sebenarnya ada rasa tidak enak hati karena aku niatnya ingin membantu bukan di gaji. Tapi ya sudah lah mungkin memang sudah rizkinya si Zain.


"Nak, sudah sore kita mandi dulu yuk? nanti kita lanjut lagi."


"Iya mama!"


Aku menggendong Zain lalu pergi ke kamar mandi. Namun ketika tiba di dapur ku dapati dua orang rakus makan sedang makan dengan lahap memakan makanan yang ada di atas meja. Aku hanya menggelengkan kepalaku saja melihat mereka makan. Lalu aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai memandikan Zain aku keluar dari kamar mandi. Ku lihat Ibu sedang sibuk membungkusi semua makanan yang ada di piring


"Lho, Bu, itu mau dibawa kemana?" tanyaku.


"Mau di bawa si Supri untuk Yati."


"Tidak bisa gitu dong Bu, aku susah payah membawa makanan itu kemari bukan untuk menantu kesayangan ibu tapi untuk kita makan disini Bu. Tarok lagi Bu."


"Kamu kok pelit banget sih Nur, makanan segini banyaknya."


"Iya, tapi kenapa ibu bungkusin semuanya. Aku sama Zain aja belum makan lho Bu."


"Ada apa ribut ribut?" bang Supri datang sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Harusnya bang Supri itu tau diri datang datang kok merampas makanan."


"Apa maksudmu merampas makanan hah?" Bentak bang Supri sambil maju ke arah ku. Aku tidak takut dan masih berdiri di tempat.


"Siapa yang merampas?" Bentaknya lagi dengan suara lebih Lantang. Tak lama kemudian dia mencekik leherku. Zain menangis histeris. Sementara Ibu diam dan melihat saja tidak ingin memisahkan kami. Sakit sekali rasanya di cekik bang Supri hingga aku kesulitan bernafas. Tak ada pilihan lain ku tendang bawah perutnya dengan keras. Bang Supri melepaskan tangannya dari leherku. Dia berteriak meraung sambil memegang bawah perutnya. Aku segera masuk ke dalam kamarku lalu menguncinya. Tiba di dalam aku menangis sambil memegang leherku yang sudah memerah.


"Kenapa aku harus terlahir dari rahim seorang wanita bernama Bu Retno? dan kenapa aku memiliki sodara yang yang kejam?"


Aku tidak akan keluar kamar sebelum bang Supri pulang dari rumahku. Aku masih takut bertemu dengannya. Takut dia akan menyakitiku lagi.


Malam ini aku tidur saja dengan Zain di dalam kamarku dan belum berani keluar dari kamar karena aku belum mendengar motor butut bang Supri keluar dari halaman rumahku. Aku putuskan tidur saja malam ini bersama Zain.


Suara Adzan subuh berkumandang. Aku terbangun lalu aku membuka pintu kamarku perlahan. Aku lirik sana sini tidak ada bang Supri. Apa dia sudah pulang? aku bergegas mandi lalu mengambil air wudhu. Setelah melaksanakan sholat aku tidur kembali. Aku sedang tidak ingin melaksanakan aktifitas apa pun di rumah ini biarlah pikirku. Dan hari ini rasanya aku mau libur jualan dulu. Aku tidur di samping Zain memeluknya erat lalu tertidur.


Jam menunjukan pukul delapan pagi. Aku bangun lalu keluar kamar. Ku lihat sepi namun motor bang Supri masih ada di halaman rumahku. Motornya ada tapi orangnya tidak ada. Namun tak lama ada Jono, adik iparnya bang Supri datang ke rumahku.


"Aku mau ambil motornya bang Supri mba."


"Lho, memang bang Supri nya kemana?"


"Habis di urut anu nya. Katanya tadi malam habis di tendang sama mba Nuri ya?"


"Oh, ha..ha..ha.."Aku tertawa terbahak bahak. Rasanya puas sekali mendengarnya. Tak ku sangka kaki ramping ku ini memiliki kekuatan juga untuk mengalahkan burung kebanggaan bang Supri.


"Semoga saja Im po ten ya Jon!"


"Lho, mba, kakak sendiri kok di sumpahi!"


"Aku tidak menyumpahi hanya bilang semoga. Lagi pula sakitan mana sama leher yang di cekik hingga tidak bisa nafas. Beberapa detik saja nyawaku melayang. Untung aku masih punya kaki untuk melawan."


"Hah, serius mba?"


"Serius lah Jon. Sudah sana pulang bawa saja motor bututnya dari sini." Aku langsung menutup pintu.


Aku berjalan ke arah dapur dan tiba di dapur ku buka tudung saji dan alhamdulilah makanannya tidak jadi di bawa pergi oleh bang Supri. Aku menghangatkan kembali semua makanan yang ada untuk makan kami hari ini. Pada saat aku sedang menghangatkan makanan terdengar pintu di ketuk. Aku bergegas menghampiri pintu dan setelah di buka aku sedikit tersenyum karena suamiku yang datang.


"Mas Surya...!" Ku raih tangannya lalu menciumnya dengan tak'jim.


"Aku bawa pakaian kotor tuh di motor!" Kemudian mas Surya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Aku tersenyum kecut melihat pakaian kotor sebanyak satu karung di atas motor. Sebuah kebiasaan suamiku jika pulang ke rumah pasti hanya membawa oleh oleh pakaian kotor yang di suguhkan untukku. Tak pernah sekalipun mas Surya membelikan makanan atau apa sekedar oleh oleh untuk Zain. Tak perlu memikirkan aku tapi pikirkan Zain. Lagi pula aku heran apa sebegitu sibuknya dia di kantor hingga untuk mencuci baju saja tidak bisa di lalu kan? padahal suamiku termasuk karyawan yang beruntung karena mendapatkan mes yang cukup besar dan bagus dan bahkan hanya di tempati oleh dirinya sendiri. Dulu aku pernah bilang ingin ikut tinggal bersamanya tapi dia melarang. Dia bilang bos nya melarang mas Surya membawa keluarganya meskipun aku tak percaya sepenuhnya tapi aku memilih untuk diam saja.


__ADS_2