
"Kenal kan Nuri, ini bibi Sukma, orang yang sudah merawat ku sejak dari bayi selain Oma,"kata dokter Bayu, memperkenalkan wanita yang ku perkirakan berusia di atas lima puluh tahun.
Aku memberikan senyuman lalu menyodorkan tanganku menyalaminya, namun ketika aku hendak mencium tangannya dia menariknya.
"Tidak usah non, maaf,"ucap nya. Aku melirik dokter bayu begitu pula dengannya."Bi Sukma memang seperti itu orangnya Nuri, selalu merendah diri. Padahal bi Sukma sendiri sudah ku anggap sebagai ibu ku sendiri setelah mama dan Oma,"kata dokter Bayu, menjelaskan dan memberi tahu siapa bibi Sukma.
"Den, apa tidak sebaiknya ngobrol nya di dalam saja, sudah larut malam,"saran bibi Sukma, menyela obrolan kami.
"Ah ya Bi, ayok Nuri kita masuk. Malam ini kita tidur dulu disini besok baru mencari Zain." Aku mengangguk dan mengekor di belakangnya. Tiba di dalam, lagi lagi aku menatap kagum isi rumah besar milik keluarga dokter Bayu. Ini pertama kalinya aku memasuki rumah besar dan cukup mewah bagiku jadi wajar saja jika aku terkesan kampungan melihatnya.
"Bi, mba Ayu apa sudah tidur?" tanya dokter Bayu pada bibi Sukma di sela sela berjalan.
"Seperti nya sudah Den, memang ada apa ya Den?"Bibi Sukma balik bertanya.
"Aku mau minta tolong untuk menyiapkan kamar tamu untuk tidur Nuri malam ini."
"Ooh, kalau begitu biar bibi saja yang menyiapkan nya den."
"Apa tidak merepotkan bibi?"
"Tidak sama sekali den, ya sudah bibi siapkan sekarang supaya non Nuri bisa langsung istirahat,"pamit bibi Sukma.
Aku tersenyum."Terima kasih banyak Bi."
"Sama sama non." Setelah kepergian bibi Sukma, dokter Bayu menyuruh ku untuk duduk di sebuah sofa besar dan terlihat mewah di mataku, aku menurutinya.
"Sebenarnya berapa orang yang tinggal di rumah dokter Bayu ini? terlihat sepi sekali,"tanya ku basa basi, karena aku sendiri bingung mau bertanya apa.
Dia nampak tersenyum."Banyak Nuri, ada Oma, bibi Sukma, mba ayu, mang Udin. Pak Imron, Tapi sepertinya mereka semua sudah pada tidur."
"Apa mereka semua keluarga dokter Bayu?"
"Mereka semua yang membantu Oma di rumah ini tapi bisa dikatakan keluarga juga karena mereka sudah cukup lama bekerja dengan Oma." Aku manggut manggut mendengar penjelasannya.
"Maaf den Bayu, non Nuri, kamarnya sudah bibi siap kan,"lapor bibi Sukma, tiba tiba datang di tengah obrolan kami.
Kami menoleh ke arah nya."Oh ya Bi, terima kasih,"ucap dokter Bayu lalu melirik ke arahku."Sekarang kamu istirahat ya Nuri, biar bibi yang mengantar kamu ke sana," sambungnya dan aku mengangguk pelan.
__ADS_1
Kemudian aku mengikuti bibi Sukma menuju kamar yang sudah dia siapkan untuk ku tempati malam ini. Setelah mutar mutar tiba lah di sebuah pintu lalu bibi Sukma membuka pintu itu."Mari non Nuri, silahkan masuk."Bibi Sukma mempersilahkan aku masuk lebih dulu.
"Terima kasih Bi." Setelah berucap, aku memasuki kamar itu. Setelah berada di dalam kamar aku menatap kagum melihatnya, sebuah kamar dengan ukuran luas tiga kali lipat dari luas kamar ku itu terlihat mewah dimana ku.
"Non Nuri, silahkan istirahat ya, bibi keluar dulu dan kalau mau ke kamar mandi di sana letaknya," tunjuk bibi Sukma pada sebuah pintu yang terletak di pojokan dan aku mengikuti arah telunjuknya." Bibi sudah menaruh handuk bersih serta peralatan mandi yang baru di sana,"sambungnya.
"Terima kasih ya Bi, sudah merepotkan bibi."
"Sama sekali tidak merepotkan non, ya sudah bibi pamit dulu ya!"aku mengangguk, lalu bibi Sukma ke luar dari kamar.
Aku merebahkan tubuh lelah ku di kasur besar dan empuk, sambil menatap langit langit aku memikirkan Zain, aku rindu sekali padanya. Sedang apa dia di sana? apa dia dalam keadaan baik baik saja. Seketika aku teringat pula pada Raihan, berkali kali aku telah mengabaikan telpon darinya hanya karena tidak ingin diketahui oleh dokter Bayu.Jika dokter Bayu tau Raihan sering menghubungiku bukan kah tidak ada yang tidak mungkin dia akan memberi tau adiknya dan aku tidak ingin Raihan dan Nura bertengkar.
Ku rogoh ponsel yang ku simpan di dalam tas, hampir sepanjang hari aku tidak menyentuh ponsel karena pikiran ku terpusat pada Zain. Ku tatap ponsel itu, nampak puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan chat dari Raihan yang beruntun. Aku menelpon balik namun ponsel Raihan dalam keadaan tidak dapat di hubungi. Aku berinisiatif memberi kabar lewat pesan saja dan berharap setelah ponselnya menyala dia bisa membacanya.
"Aku minta maaf sudah mengabaikan telpon dan pesan mu Rai. Aku sedang kalut karena Zain hilang sejak dari pagi. Tapi seseorang memberi tau bahwa Zain di bawa oleh mas Surya ke Jakarta dan sekarang aku sedang menyusulnya."
Setelah pesan itu terkirim tiba tiba ponselnya mati kehabisan daya. Aku kebingungan karena lupa membawa charge dan aku pikir besok saja meminjam pada dokter Bayu mengingat malam yang sudah semakin larut. Selain itu aku juga tidak tau dimana letak kamarnya.
Aku terjaga entah pukul berapa saat ini. Selain ponsel ku mati di kamar besar yang ku tempati tidak ada jam dinding atau jam weker sehingga aku tidak dapat mengetahui pukul berapa aku terbangun. Aku bingung apa yang harus aku lakukan di kamar besar ini. Mau mandi tapi aku takut jika saat ini masih pukul dini hari, mau bertanya tapi bertanya pada siapa?ingin mendengar suara adzan saja seperti nya tidak akan terdengar di kamar yang ku tempati ini.
Di tengah kebingunganku, tiba tiba terdengar ketukan pintu. Senyum mengembang di bibirku,Kebetulan sekali pikirku. Aku bisa bertanya pada orang yang sedang mengetuk pintu itu. Dengan semangat aku berjalan ke arah pintu itu dan setelah di buka ternyata dokter Bayu sedang berdiri di hadapanku dengan penampilan kasual, memakai celana pendek dan kaos oblong putih, nampak tampan sekali. Dia menyipitkan kedua matanya melihat ku dan mungkin masih terlihat acak acakan.
"Gimana mau mandi dok, aku bingung sekarang sedang pukul berapa? ponsel ku mati dan di dalam juga tidak ada jam,"ucap ku dengan muka sedikit ku tekuk.
Dokter Bayu tertawa kecil."Meskipun tidak mandi dan bau tapi kamu masih tetap cantik kok," goda nya. Aku memajukan bibir bawahnya.
" Ya sudah sekarang mandi dulu gih, aku tunggu kamu di meja makan."
"Meja makan!" ucap ku dengan dahi mengkerut.
"Iya aku tunggu di meja makan untuk sarapan,"jelas dokter Bayu.
"Sarapan, memang sekarang sudah pukul berapa dok?"
"Setengah delapan."
Pupil mataku membesar, ternyata aku bukan terbangun di jam dini hari melainkan kesiangan. Tubuh yang cukup lelah di tambah kasur yang sangat empuk dan nyaman mendukung tidur ku hingga aku terlelap dan melewatkan jam biasa dimana aku selalu terbangun pada waktu subuh.
__ADS_1
Aku bergegas menutup pintu tanpa menghiraukan dokter Bayu yang masih berdiri di depan pintu. Aku malu sekali padanya telah bangun kesiangan. Setelah itu, aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku ter lebih dahulu.
Ketika aku sedang merapikan penampilanku setelah selesai mandi pintu terdengar di ketuk kembali dan ku yakini itu adalah dokter Bayu yang masih menunggu ku di depan pintu. Namun setelah di buka ternyata bukan dokter Bayu melainkan bibi Sukma.
"Selamat pagi non Nuri?"sapa bibi Sukma, senyum tersungging di bibirnya dan aku pun membalas senyumannya.
"Selamat pagi bibi Sukma."
"Saya di minta oleh den Bayu untuk menjemput non Nuri kalau sudah siap."
"Iya bi, saya sudah siap." Kemudian kami berjalan beriringan setelah menutup pintu terlebih dahulu menuju meja makan.
Ketika kami sedang berjalan tiba tiba seseorang memanggil bibi Sukma dari arah belakang.
"Sukma....kamu sama siapa itu?"tanya orang itu, terdengar suara seorang wanita dewasa bahkan suaranya sudah seperti suara wanita lanjut usia. Dan aku meyakini orang itu adalah Oma dokter Bayu yang sering di sebutnya.
Bibi Sukma berbalik, aku pun ikut berbalik namun dengan wajah yang ku tundukan. Aku tidak berani serta malu melihat ke arah nya karena aku orang asing di rumah besar nya.
"Oma.."ucap bibi Sukma.
"Kamu sedang sama siapa?"tanya ulang wanita itu sembari berjalan ke arah kami.
"Oh, ini.."
"Dia teman Bayu Oma, maaf baru memberi tahu Oma karena semalam Oma sudah tidur dan Bayu tidak ingin mengganggu Oma."Tiba tiba dokter bayu datang dan menjelaskan pada wanita itu.
"Oh, kamu sudah pulang Bayu, Oma pikir kamu tidak pulang hari ini."
"Iya Oma, ada sedikit masalah yang harus di selesaikan. Oya Nuri, kenal kan ini Oma ku." Dokter Bayu mengenalkan Omanya padaku.
Aku yang sedang menunduk saja dan me re mas buku buku jariku suatu kebiasaan ketika sedang di rundung kecemasan perlahan mengangkat wajahku, kemudian menatap wanita lanjut usia namun masih nampak bugar dan cantik itu dan memberikan senyuman padanya. Wanita lanjut usia itu tidak membalas senyumanku melainkan menatap ku dengan wajah terkejut dan tanpa mengedipkan matanya melihatku.
"Ka..kamu..."
"Sa..saya Nuri Oma,"ucap ku dengan gugup kemudian meraih tangan nya dan mencium tangan yang sudah nampak keriput itu dengan tak Jim.
Tangan Oma tidak bergerak, tidak menepis, tidak pula membalas uluran tanganku namun terasa bergetar. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Setelah menyalami nya aku melepaskan tangan keriput itu kembali.
__ADS_1
Kemudian Oma mendekat, menatap lekat wajahku. Tangannya terangkat lalu membelai pipiku dan berucap," Hanum...."