
Pak Yanto tidak terima aku menyebutnya orang tua yang tidak punya hati serta pikiran dan dia tidak ingin di salahkan melainkan sebaliknya menyalahkan Zain.
"Heh, Nuri, yang tidak punya pikiran itu ya anak kamu. Salah dia sendiri kenapa menangkapi anak anak ayam ku sampai ada yang pincang," kata pak Yanto, kedua tangannya masih bertengger di pinggang kurusnya.
"Menangkapi anak ayam!" ucap ku dengan kening yang berkerut. Dalam hati aku bertanya sejak kapan Zain suka menangkapi anak ayam pak Yanto. Memang, peliharaan pak Yanto itu sering kali berkeliaran di halaman rumahku tapi jika Zain menemuinya dia hanya akan memperhatikannya saja tidak pernah ingin menangkapnya.
"Lihat itu lihat," tunjuk pak Yanto. Aku mengikuti arah telunjuknya pada satu anak ayam yang masih sangat kecil tanpa induk dan terlihat jalannya pincang.
"Itu perbuatan anak mu, kecil kecil kok nakal," sentak pak yanto pada Zain yang sedang memeluk kakiku sembari memelototinya. Sementara Zain semakin mengeratkan pelukannya dia seperti ketakutan melihat pak Yanto. Aku sebal dan geram sekali melihat mukanya yang membuat anak ku ketakutan.
Aku mengusap kepala Zain agar dia tidak merasa takut dan berhenti menangis kemudian aku bertanya," apa Zain menangkapi anak ayam pak Yanto?" Zain mendongak tinggi melihat pada wajahku dengan uraian air matanya dia menggeleng dan berkata," nda mama nda." Kemudian aku mengusap lagi kepalanya. Aku lebih percaya kata Zain, karena balita seusianya tidak mungkin berbohong.
"Heh, jangan bohong kamu kecil kecil kok sudah pandai berbohong." Pak Yanto menyentak Zain kembali semakin membuat aku kesal saja melihatnya.
Ku balas sentakannya dengan membalik kan perkataannya."Yang sedang berbohong itu anak saya apa pak Yanto sendiri? Anak seusia anak saya tidak mungkin bicara bohong dan saya lebih percaya sama anak saya daripada sama pak Yanto."
"Oh, jadi kamu pikir aku berbohong? Aku tidak mau tau ya Nuri, pokoknya kamu harus ganti rugi dua ratus ribu," ucap nya dengan enteng.
"Hah," dahi ku mengernyit.
"Iya, ganti rugi karena anak mu sudah membuat anak ayam ku pincang."
"Ganti rugi, apa pak Yanto mau memeras saya, ayam masih bayi gitu di hargai dua ratus ribu."
"Itu ayam Bangkok, ayam mahal kalau sudah besar."
"Mahal kalau sudah besar pak, tapi kalau masih kecil belum ada harganya."
"Siapa bilang tidak ada harganya, kalau sudah besar kan mahal."
"Iya, tapi itu ayamnya belum jadi ayam bangkok pak, belum ada harganya.
"Enak saja kamu bilang tidak ada harganya, sudah ku bilang ayam itu ayam mahal kamu kok nyolot terus ngomongnya."
Aku merasa bicara dengan pak Yanto muter muter terus dan tidak nyambung. Kemudian aku menghela nafas dan geleng - geleng kepala, aku pikir berdebat dengan pak Yanto hanya akan membuang waktu ku saja karena aku sendiri mempunyai kegiatan yang jauh lebih penting ketimbang meladeninya. Aku harus menyelesaikan pembuatan kerupuk karena hari semakin siang dan aku butuh sinar matahari untuk pengeringannya.
Ku gendong Zain kemudian bergegas pergi sembari berjalan sedikit pincang meninggalkan pak Yanto.
"Heh, Nuri mau kemana kamu urusan kita belum selesai. Pokoknya aku tidak mau tau kamu harus mengganti uang dua ratus ribu." Pak Yanto berbicara sambil berteriak namun aku tidak menghiraukannya.
Tiba di rumah, aku langsung menurunkan Zain kemudian memeriksa kaki ku yang terluka. Nampak darahnya mulai mengering namun lukanya terlihat menganga. Kemudian aku segera mencari obat luka karena kalau di biarkan terlalu lama akan berakibat infeksi.
__ADS_1
Terlihat Zain sudah tidak lagi menangis dan dia sedang memainkan mainannya. Tak mau membuang waktu lagi aku segera beranjak ke dapur untuk melanjutkan membuat kerupuk.Bertepatan dengan suara adzan dzuhur berkumandang, kerupuk yang sedang ku produksi sudah selesai semuanya.
Aku menghela nafas lega."Alhamdulilah akhirnya kelar juga." Senyum mengembang di bibirku melihat jerih payah ku dari pagi hingga siang sudah tertata di atas tiga puluh penampi dan siap untuk di jemur.
Ketika aku sedang menjemur Kerupuk, aku di kejutkan oleh sapaan seseorang yang sudah tidak asing lagi di telinganya dan ketika berbalik benar saja dugaan ku Bu haji sedang tersenyum ke arah ku.
"Bu haji..." sapa ku dengan sedikit gugup. Dalam hati aku bertanya ada perlu apa Bu haji datang ke rumahku siang hari? apa dia akan menanyakan keberadaan Raihan mengingat semalam Raihan bersamaku dan tidak pulang terlebih dahulu ke rumah orang tuanya.
"Sedang sibuk ya Nuri?" tanya Bu haji sembari tersenyum.
"Oh, kebetulan sudah tidak bu. Kenapa saya tidak melihat Bu haji datang ya?" aku balik bertanya karena aku memang tidak menyadari kedatangannya dan tidak melihat kendaraannya.
"Saya kesini jalan kaki Nuri," jawab Bu haji, seolah olah dia mengerti kebingunganku.
"Oh, pantas saja saya tidak mendengar. Kalau begitu mari Bu masuk dulu." Aku mengajak Bu haji untuk memasuki rumahku karena tidak mungkin aku membiarkannya berdiri di bawah terik matahari.
Bu haji memperhatikan jalan ku yang sedikit pincang kemudian dia bertanya," kakimu kenapa Nuri?" pandangan nya mengarah pada kakiku.
"Oh, ini tadi tidak sengaja menginjak gelas pecah."
"Lho, kok bisa."
"Iya, Bu, saya kurang hati hati." Aku menjawabnya intinya saja karena buat apa pula bercerita tentang tetanggaku yang menyebalkan itu.
"Ada sih Bu, tapi tidak banyak."
"Tidak apa apa, saya pesannya tidak banyak kok, hanya sepuluh kilo saja untuk oleh oleh anak serta cucu saya di Bogor."
"Oh, Bu haji mau ke Bogor? saya perhatian ibu sering ke Bogor ya?"
"Iya, anak saya serta suaminya minta di bawakan kerupuk buatan mu, mereka suka sekali sama kerupuk mu Nuri. Saya memang sering ke Bogor karena saya kesepian di sini. Raihan jarang pulang apalagi sekarang dia punya perusahaan yang sedang di kelola dan tentunya sibuk. Kemarin saja setelah mengantar saya pulang dia langsung pergi dan sore hari baru kembali. Setelah itu malamnya dia langsung pulang ke Jakarta.
Aku rasa sepertinya Bu haji tidak mengetahui kalau Raihan bersamaku hingga subuh dan tentang kalung berlian itu apa Bu haji juga tidak mengetahuinya? Tapi kenapa Raihan tidak ingin berterus terang pada ibunya kalau dia mau ke rumah ku. Setelah di berada di depan pintu aku menyuruh Bu haji masuk.
"Silahkan duduk dulu Bu, biar saya ambilkan kerupuknya," titah ku padanya setelah kami berada di ruang tamu.
"Saya ikut kamu ke dapur saja ya Nur, pinggul saya pegal duduk terus." Bu haji menolaknya serta beralasan.
"Oh begitu, ya sudah Bu mari." Aku dan Bu haji jalan beriringan menuju dapur.
"Nuri..!" panggil Bu haji ketika kami sudah berada di dapur dan aku sedang menimbang kerupuk.
__ADS_1
"Iya Bu!" aku mendongak melihat padanya.
"Saya tidak menyangka kalau kamu teman kecil Andre yang sering dia ceritakan sama saya."
Aku hanya tersenyum menyimaknya.
"Andre juga bilang kalau kalian sudah berjanji akan menikah setelah dewasa. Saya sebagai tantenya mendukung saja kalau itu benar, apalagi kalau saya sudah mengenal kamu cukup lama."
Aku menelan saliva ku dengan susah payah mendengar Bu haji mendukung aku bersama Andre. Apa dia tidak tau bahwa anak nya Raihan mencintaiku dan ingin menikahi ku? Aku mengerti mana mungkin Bu haji mendukung aku dengan Raihan mengingat Raihan sudah memiliki kekasih yang cantik dan kaya.
"Itu hanya omongan anak kecil saja Bu, lagi pula sekarang kami hanya berteman biasa tidak lebih."
"Iya sih Nuri, tapi Andre itu terlihat benar benar suka dan serius sama kamu lho Nuri. Dia juga bilang ke saya ingin segera melamar kamu.
Deg..
Terasa jantungku mau copot, Andre sudah membicarakan niatnya pada Bu haji bahwa dia ingin segera melamar ku.
"Kalau saya boleh tau, berapa lama lagi masa Iddah mu Nuri?"tanya Bu haji kemudian.
Aku terdiam, dalam hati aku bertanya apa Andre benar benar akan melamar ku setelah selesai masa Iddah ku? aku jadi cemas jika itu terjadi.
"Nuri!" panggil Bu haji.
"oh ya Bu, maaf.
"Kenapa termenung?"
"Tidak apa apa Bu maaf. Masa Iddah saya dua bulan lagi Bu." Aku menjawabnya dengan perasaan ragu.
"Oh," Bu haji manggut manggut.
Aku menatap kepergian Bu haji dengan pikiran mengingat pada ucapannya bahwa dia mendukung aku dan keponakannya untuk menikah. Di saat aku termenung di teras rumah sembari memperhatikan punggung Bu haji yang sudah mulai menjauh, tiba tiba pak Yanto sudah berada di belakang ku. Aku tau maksud kedatanganya tak jauh pasti soal uang.
"Mana duit dua ratus itu?" tanya pak Yanto tiba tiba.
Aku yang masih menatap kepergian Bu haji menoleh ke arahnya dan membalas." Pak Yanto mau memeras saya?"
"Kata siapa aku memeras mu? aku hanya menagih hak aku?" dia membela diri.
Aku tidak menimpalinya lagi melainkan hendak masuk namun dia mencegahnya dan bertanya dengan suara tinggi." kamu mau kemana Nuri? mau kabur lagi?"
__ADS_1
"Siapa bilang saya mau kabur orang ini rumah saya. Saya hanya mau mengambil ponsel untuk menghubungi polisi karena di rumah saya ini sedang terjadi pemerasan.