
Akhirnya kami tiba di rumahku. Ku lirik sana sini mencari sepatu mas Surya namun tidak aku temukan. Dan tanpa aku sadari Raihan memperhatikan gerak gerik ku yang sedang mencari sesuatu.
"Mba mencari apa?"
"Oh, tidak Rai. Sini Zain nya biar ku gendong." Aku hendak mengambil alih Zain dari tangan Raihan namun Raihan melarangnya.
"Biar aku yang meletak kan Zain di tempat tidurnya mba, aku takut dia terbangun kalau mba ambil paksa dari tanganku."
"Ya...ya sudah kalau begitu." Aku buru buru membukakan pintu untuk Raihan dan Raihan masuk ke dalam rumahku.
"Dimana kamar Zain mba?"
Aku segera membuka pintu kamar tidurku. Jujur saja sebenarnya aku malu pada Raihan memperlihatkan kamarku yang terlihat acak acakan berbeda sekali dengan kamarnya yang sangat rapih dan wangi. Raihan meletak kan tubuh Zain di atas kasur tanpa ranjang berukuran 40cm. Aku sengaja tidak menggunakan ranjang kasur karena aku takut Zain terjatuh.
"Terima kasih ya sudah mengantar kami pulang?" ucapku setelah kami berada di teras dan Raihan akan pulang.
"Sama sama mba. Oya dimana suami mba aku kok tidak melihatnya?"
"Kurang tau Rai, mungkin dia masih dalam perjalanan pulang."
Terlihat Raihan manggut manggut kecil.
"Oya, mba Nuri besok jualan kan?"
"Memang kenapa Rai?"
"Aku mau pesan seratus lima puluh biji mba."
"Hah, banyak banget Rai, buat apa?"
"Besok aku ada acara di kampusku mba. Sebenarnya tadi mau bicara sama mba Nuri tapi mba nya tidur. Bagaimana mba? apa mba bisa?"
"Owh, bisa, saya bisa kok Rai..!" aku tersenyum senang. Bagaimana tidak senang Raihan memesan gorengan dengan jumlah yang cukup banyak dan aku tak perlu payah berjualan keliling besok pagi.
"Ya sudah kalau begitu aku pamit ya mba !"
"Iya Rai, hati hati..!"
__ADS_1
Tak selang lama dan aku baru saja menutup pintu mas Surya datang entah dari mana. Ku buka kembali pintu rumahku dan ku dapati tubuh mas Surya dalam keadaan basah.
"Kamu hujan hujanan mas?"
"Kalau tidak hujan hujanan aku tidak bisa pulang Nur!"
"Memangnya kamu tidak menggunakan jas hujan mas?"
"Mana ku tau kalau mau hujan jadi aku tidak bawa. Ambil kan aku baju kering Nur," titah mas Surya.
"Ya mas."
Aku segera ke kamar mengambil baju ganti serta handuk untuk mas Surya. Setelah kembali ke ruang tamu mas Surya sedang mengeluarkan isi kantong celananya dan meletakkan nya di atas meja. Ku lihat ada dompet, ponsel serta amplop tergeletak di meja.
"Ini handuk dan bajunya mas!" Aku menyodorkan handuk serta kaos bersih pada mas Surya dan dia menerimanya.
"Sebenarnya kamu darimana seharian mas?"
"Kamu ini kayak wartawan saja Nur nanya terus, bikinkan aku kopi kek jangan hanya nanya saja," ucap mas Surya sambil mengganti bajunya yang basah.
Tanpa bertanya lagi aku bergegas ke dapur dan membuatkan kopi hitam untuk mas Surya. Setelah itu, aku kembali lagi ke ruang tamu dan meletak kan satu cangkir kopi di atas meja ruang tamu tepat di hadapannya. Pandangan ku tertuju pada sebuah amplop yang tergeletak dan aku penasaran lalu menanyakannya.
Mas Surya melirik amplop itu sejenak namun tak lama pandangannya berpindah pada layar ponselnya.
"Itu uang dari orang tuaku," jawab mas Surya santai.
Aku tersenyum dalam hati aku berharap orang tua mas Surya memberikan uang itu untuk Zain dan menitipkannya pada mas Surya.
"Untuk Danu dan Dana anak ku," sambung mas Surya.
Saliva ku terasa tercekat di tenggorokan. Senyum yang mengembangkan pun memudar perlahan.
"Owh..!" aku hanya bisa jawab oh tanpa banyak berkomentar lagi. Dari awal mestinya aku sadar dan tidak perlu menanyakan amplop dari siapa dan untuk siapa agar aku tidak merasakan sakit hati. Mertuaku yang tak pernah menganggap aku menantunya serta Zain sebagai cucunya. Entah kesalahan apa yang kami perbuat sehingga mereka membenciku serta anak ku.
Aku duduk sebentar di seberang sofa menemani mas Surya minum kopi namun sepertinya mas Surya tidak butuh di temani karena tangannya dan matanya sibuk pada ponsel mewahnya. Aku merasa jenuh serta mengantuk karena Jam sudah menunjukan setengah tiga dini hari dan tanpa permisi lagi aku pergi dari hadapan mas Surya.
Entah sudah berapa menit aku tertidur di samping Zain dan aku merasa ada sebuah tangan yang sedang meraba raba punggung ku. Aku terbangun karena merasa terusik dengan keberadaan tangan mas Surya yang terus menerus menggerayang.
__ADS_1
"Ada apa mas?"aku bertanya dengan mata sedikit tertutup karena saking mengantuk.
"Aku pengen Nur, layani aku Nur?"titah mas Surya sambil terus mengelus tubuhku.
"Maaf mas, aku tidak kuat ngantuk sekali nanti saja ya?"aku menarik selimut menutupi tubuhku namun mas Surya merebut selimutku lalu membuangnya ke lantai.
"Kamu berani menolak keinginanku Nur?" bentak mas Surya.
Aku bangun dan duduk di kasur. "Tolong kecilkan suaranya mas, kamu mengusik tidur Zain."
"Bodo amat, aku tidak peduli. Zain..Zain dan Zain terus yang kamu pikirkan. Kamu itu tidak pernah memikirkan kemauanku. Kau anggap aku ini apa Nur? kenapa kamu selalu menolak ketika aku ingin Nur? Apa kamu punya selingkuhan? iya kan ?
Aku tidak terima atas tuduhan yang mas Surya lontarkan padaku. Aku bangun dan hendak keluar kamar karena aku tidak ingin Zain ikut terbangun karena mendengar pertengkaran kami.
"Mau kemana kamu? benar kan kau selingkuh? tuduh mas Surya lagi.
Aku mengurungkan niatku membuka pintu lalu berbalik menatap kearah mas Surya yang sedang menatapku dengan sinis serta amarah.
"Kamu menuduhku selingkuh mas? atas dasar apa kamu menuduhku selingkuh? apa kamu punya bukti?"
"Halah mana ada maling ngaku."
"Terserah apa tuduhan mu mas, aku tidak peduli. tidak perlu aku membela diri dihadapan mu...percuma !"
"Plaakk...!" sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku memegang pipiku yang di telah di tampar oleh tangan mas Surya. Perih dan sakit sekali rasanya.
"Sok sekali kamu Nur, berasa tidak butuh aku padahal tanpa aku kamu tidak bisa makan dan hidup. Apa sih yang bisa kamu lakukan? bisa nya hanya minta duit dan duit. Berbeda sekali dengan mantanku Ipah, sudah pintar, mandiri dan pinter nyari duit, pergaulannya luas, temannya banyak. Sementara kamu? Kuper, jelek bodoh lagi. Oh ya pantas lah kau seperti itu karena pendidikan mu saja hanya tamatan SMA beda level sama si Ipah yang sarjana."
Aku memegang dadaku yang terasa sesak sekali mendengar hinaan dari mulut suamiku sendiri. Selain menghinaku mas Surya membandingkan aku dengan mantan istrinya yang menurutnya sempurna. Air mataku luluh mengaliri pipi ku yang masih terasa perih bekas tamparan tangan mas Surya.
"Tega sekali kamu menghinaku serta membandingkan aku dengan mantanmu mas?apa salahku sama kamu apa mas? Selama ini aku sudah cukup sabar menghadapi sikap mu yang seenaknya terhadapku. Kamu beri aku nafkah yang jauh dari kata cukup pun aku terima dan aku tak pernah mengungkitnya. kamu tuduh aku selingkuh sementara kamu sendiri berhubungan dengan mantan istrimu yang sudah bukan lagi pasangan halal mu. bahkan kau memberikan uangmu di atas batas kewajaran. Apa itu namanya mas apa?"
"Wajarlah aku kasih dia duit banyak karena dia ibu dari anak anak ku."
"Owh, lantas kau anggap aku ini apa? babu? aku ini ibu dari anak mu juga mas, apa kau lupa itu?"
"Karena kamu itu istri durhaka dan pembangkang wajar saja kalau aku kasih kamu duit sedikit."
__ADS_1
"Kau bilang aku pembangkang mas? dimana letak membangkangnya? apa yang kamu suruh selalu ku turuti, kamu mau makan apa aku masaki meskipun sebenarnya aku tidak memiliki uang. Aku cuci kan baju mu yang sekarung tanpa mengeluh padamu. Dan satu hal lagi apa selama menikah aku pernah minta uang sama kamu mas? pernah minta di belikan ini itu sama kamu? kamu menjatahi ku uang lima ratus ribu sebagai nafkah mu padaku tiap bulan. Nominal yang sangat jauh dari gaji yang kau terima tiap bulan. Aku ikhlas nerima itu semua mas...tapi kamu kenapa menyebutku istri pembangkang?"
"Mama....mama..!" Zain menangis histeris. Sambil menangis aku meraih tubuh anak ku lalu membawanya keluar dari kamar. Ku tutup pintu kamar dengan keras meninggalkan mas Surya yang masih marah padaku.