Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Bu Rida berulah


__ADS_3

Hari ini aku berencana akan membuat kerupuk lagi karena stok kerupuk kering sudah habis bahkan bahan mentahnya pun ikut habis pula. Terpaksa aku harus belanja terlebih dulu ke warung untuk membeli bahan mentah kerupuk. Aku melirik ke arah Zain yang tengah asik bermain mobil mobilan kemudian memanggilnya," Zain, sini nak!" Zain menoleh lalu berjalan ke arahku setelah melepaskan mainannya.


"Kita ke warung yuk! Zain mau ikut?" Sambil tersenyum Zain mengangguk menyetujui ajakan ku. Zain memang selalu senang jika di ajak jalan jalan meskipun hanya ke warung sambil jalan kaki. Aku menciumi seluruh wajah tampannya dengan gemas lalu menggendongnya.


Ku langkahkan kedua kakiku menyusuri jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan hilir mudik ke arah warung yang ku tuju sambil menggendong Zain. Dari seberang jalan, aku menoleh ke arah rumah bercat putih dan berlantai dua nampak pintu gerbangnya masih tertutup rapat. Namun tak lama pintu gerbang di buka oleh sosok gadis muda yang ku kenal. Dia menyadari keberadaan ku sedang berdiri mematung di seberang jalan lalu tersenyum sinis ke arahku. Setelah itu, dia mengalihkan pandangan angkuhnya ke arah lain seolah olah menganggap aku adalah musuhnya. Sementara aku hanya memasang wajah biasa saja melihat tingkahnya.


Tak selang lama, seorang ibu paruh baya menghampiri Risa di ambang pintu gerbang. Mereka berbicara lalu berpelukan seperti terlihat akrab sekali. Bu haji baru menyadari keberadaan ku setelah melepaskan pelukannya dari Risa lalu memandang datar kearah ku. Aku memberikan senyuman canggung ke arahnya kemudian melangkah pergi membawa sebuah pertanyaan di benak ku yaitu kenapa pagi pagi Risa berada di rumah Raihan apa dia menginap? Aku jadi teringat ucapan Raihan bahwa Risa tipe wanita yang nekat, bisa saja dia menunggu Raihan pulang hingga dia menginap.


Jujur, ada rasa ketidaksukaan ku melihat Risa menginap di rumah Raihan. Apakah semalam Raihan menghabiskan malamnya bersama Risa? aku bertanya dalam benak ku. Kemudian aku menggoyangkan kepalaku agar aku sadar dan tidak boleh lagi memikirkan urusan Raihan.


Tiba di warung, terlihat cukup ramai pembeli karena hari masih pagi. Terlihat pula beberapa ibu ibu yang ku kenal serta seorang ibu yang beberapa waktu ini memusuhiku hanya karena seorang Raihan sedang memilih sayuran sambil mengobrol. Kemudian aku menyapa mereka disertai senyuman hangat.


"Selamat pagi ibu ibu!" sambil berjalan memasuki warung sayuran serta sembako yang cukup besar.


Mereka menoleh ke arahku termasuk bu Rida namun dia segera memalingkan pandangan wajah sinis nya setelah melihat siapa yang sedang menyapa mereka.


"Eh...Nuri! mau belanja Nur?" tanya Bu Siti, Dia berdiri dengan jarak dua meter dari Bu Rida.


"Iya Bu!" Jawabku, dengan senyuman yang tak lepas dari bibirku.


"Kebetulan kita bertemu di sini, saya mau ngasih tau kalau kerupuk kamu sudah habis sejak hari itu juga Nur!" sambungnya, Bu Siti melaporkan tentang kerupuk yang telah aku kirim ke warungnya dua hari yang lalu. Aku tercengang mendengar bahwa kerupuk ku sudah habis padahal baru dua hari. Aku benar benar tidak menyangka ternyata kerupuk buatan ku laris manis di warung. Senyum pun mengembang di bibirku dan tak henti hentinya aku mengucapkan rasa syukur di dalam hati.


"Alhamdulilah Bu Siti, terima kasih banyak atas pemberitahuan nya ya Bu?"

__ADS_1


"Iya Nur, kalau bisa hari ini kirim lagi ya Nur, terus jumlah nya di tambahin lagi ya jadi dua kali lipat." Bu Siti memintaku untuk mengirim kerupuk lagi dengan jumlah yang lebih banyak ke warungnya sembari tangannya memegang lenganku. Namun, aku tidak bisa menyanggupinya karena stok kerupuk mentah sudah habis tak tersisa.


"Tapi, maaf Bu Siti, kalau untuk hari ini saya tidak bisa mengirim karena kehabisan stok mentahnya. Soalnya kemarin saya membuatnya hanya sedikit sebagai percobaan saja."


"Oala gitu ya Nur, padahal sudah banyak yang minta di warung saya." Bu Siti berucap dengan nada kecewa.


"Memang kerupuk mu itu enak banget lho Nur." Seorang wanita paruh baya tiba tiba ikut berpendapat di tengah obrolanku dan Bu Siti. Kemudian aku dan Bu Siti mengalihkan pandangan ke arahnya yang sedang berdiri di samping Bu Rida. Aku pun tersenyum padanya.


"Kemarin saya membelinya di warung Bu Mimin. Awal nya nyobain satu eh malah ke tagihan sampai habis berbungkus bungkus. Saat saya tanyain kerupuk dari mana? Bu Mimin bilang kerupuk kiriman Nuri." Sambungnya lagi. Aku tidak mengenal ibu ini tapi dia mengenal dan mengetahui namaku. Aku sendiri tidak mengenal semua orang kampung Kenanga yang berjumlah lebih dari empat ratus kepala keluarga, hanya orang orang yang lebih dekat saja rumahnya.


"Halah Bu Iyem ini berlebihan sekali, dimana mana yang namanya kerupuk itu rasanya sama saja rasa kerupuk. Kalau menurut saya sih rasanya biasa saja sama seperti rasa kerupuk yang di jual di pasaran bahkan tidak enak sama sekali dan bau tengik. Terus ibu ibu tau tidak, setelah saya makan kerupuk itu saya muntah muntah lho."Bu Rida tiba tiba menimpali ujaran Bu Iyem dengan nada merendahkan dan terselip fitnahan.Terlihat sekali dia tidak suka mendengar pujian untuk rasa kerupuk yang aku buat.


"Masa sih Bu bau tengik, perasaan tidak deh, malah wangi banget, dan saya memakannya hingga berbungkus bungkus tidak muntah tuh Bu," jawab Bu Iyem, dia mengatakan pendapatnya.


"Benar Bu iyem, kerupuk Nuri yang sekarang ini enak banget lho. Mungkin Bu Rida membeli kerupuk sisa lama kalinya?Tapi belinya di mana Bu? soalnya Nuri tidak mengirim kerupuk lama ke warung warung lagi hampir dua bulan ini dan Nuri mengirim kembali baru dua hari yang lalu."


"Kalian itu jangan percaya begitu saja sama muka kalem! belum tentu hatinya kalem juga. Siapa tau ada jampe jampe di kerupuk yang dia buat untuk menarik minat pembeli. Apa lagi orang susah, apa pun pasti akan di lakukan termasuk pergi ke dukun." Bu Rida berucap sambil tersenyum sinis.


Bu Siti dan Bu Iyem saling pandang. Mungkin pemikiran mereka sama seperti aku yang tidak menyangka istri seorang ustad bertutur kata buruk seperti tak berakhlak. Sifat dan sikapnya tidak sesuai dengan status sebagai istri seorang ustad terpandang di kampung Kenanga.


Aku menarik nafas dalam lalu mengeluarkan nya. Sebisa mungkin ku tahan emosiku agar tidak membuat keributan di tempat umum meskipun sebenarnya ingin sekali merobek mulut busuk nya.


"Masa sih Bu Rida muntah muntah habis makan kerupuk buatan saya? mungkin Bu Rida masuk angin kali makannya bisa muntah muntah begitu. Soalnya kerupuk buatan saya itu seratus persen higinies serta sehat dan saya berani jamin siapa pun yang memakannya tidak akan muntah muntah kecuali orang yang memiliki sifat dengki dan iri pada saya." ucap ku dengan santai namun menekan. Sebab, aku sangat geram sekali pada wanita ular yang satu ini.

__ADS_1


Bu Rida langsung melirik ke arahku dengan muka angkuhnya lalu berkata,"apa kamu pikir aku iri sama kamu Nur? cih, apa yang harus aku iri kan dari kamu? orang kaya bukan, orang miskin iya. cantik juga masih cantikan anak saya. Pendidikan mu juga rendah lantas apa yang aku iri kan dari kamu Nuriii...ngaca dooong!" Kedua bola matanya dia besarkan ke arahku. Ingin rasanya jariku mencolok kedua matanya itu.


"Nur, Bu Rida, saya sudah selesai nih milihnya tinggal bayar. Saya duluan ya?" Bu Siti tiba tiba menyudahi lalu pamit dan mendekati pemiliki warung. Seperti nya dia tidak ingin ikut campur.


"Saya juga sudah selesai nih!" Bu Iyem mengekor di belakang Bu Siti.


Aku sendiri belum beranjak dari tempat dimana aku berdiri. Ku lirik Bu Rida yang sedang memandang sinis dengan mata di besarkan ke arahku. Sambil tersenyum dan santai meskipun sebenarnya kesal dan geram aku berucap dengan sedikit menyindir serta mengancam," Sangat di sayangkan ya, Istri seorang ustad dan terpandang dengan berpenampilan syari nya namun sayang lidah tak bertulang nya sering kali membuat fitnah. apa ibu ustad ini tidak malu sama penampilan ibu yang syari ini? Jangan ibu pikir saya takut sama ibu atau sama keluarga ibu yang katanya terpandang. Dengar ya Bu, sekali lagi ibu membuat fitnah dan mematikan usaha saya, saya tidak akan segan segan melaporkan ibu ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik. Sangat mudah bagi saya untuk menjebloskan ibu ke penjara karena saya memiliki bukti yang kuat." Ku tatap dia dengan sorot mata tajam lalu aku tersenyum menyeringai padanya. Sengaja ku lakukan karena aku sangat geram sekali.


Bu Rida terlihat terkejut setelah mendengar serta melihat ekspresi wajah ku yang tiba tiba berubah dari santai hingga menusuk. Terlihat raut mukanya berubah menjadi tegang. Mungkin dia tidak menyangka aku berani mengancamnya dan menantangnya. Aku sendiri terlanjur kesal, dia sudah terang terangan menjelekkan kerupuk ku di hadapan orang lain bahkan di hadapanku sendiri. Selain itu dia beranggapan aku memakai jasa dukun agar kerupuk ku laris. Sewaktu waktu bisa saja dia menggiring isu negatif tentang aku lagi pada orang lain seperti yang sudah pernah dia lakukan meskipun isu yang berbeda. Aku tak masalah jika dia hanya sekedar menghinaku tapi tidak untuk mematikan mata pencaharian ku. Dengan kesal dia menghentak kan kakinya lalu beranjak pergi dari warung meninggalkan barang barang yang sudah di pilihnya.


Aku melangkah pergi meninggalkan warung setelah selesai berbelanja. Tangan kananku menggendong Zain dan tangan kiri ku membawa sekantong besar berisi tepung. Cukup berat jika di rasakan, apalagi sambil berjalan kaki dalam jarak yang cukup jauh. Namun, aku tak ingin mengeluh dan bermanja karena dari kecil dua sifat itu tak pernah ku pelihara di diriku hingga aku tumbuh besar.


Ketika melewati rumah Raihan, aku melirik rumah itu dalam keadaan pintu gerbang tertutup rapat, mungkin Risa sudah kembali ke rumahnya atau masih ada di dalam rumah raihan. Apa Raihan ada di dalam rumahnya bersama Risa?" lagi lagi aku memikirkan Raihan dan Risa. Aku menggoyangkan kepalaku kembali, menghilangkan pemikiran yang masih saja di pikirkan.


Tiba di rumah, aku segera menurunkan Zain serta meletakkan barang belanjaan ku. Aku harus segera membuat kerupuk karena pagi akan berganti siang dan aku butuh sinar matahari untuk mengeringkan kerupuk ku agar segera bisa di goreng lalu ku edarkan kembali ke setiap warung. Entah mengapa feeling ku mengatakan semua kerupuk yang aku titipkan di setiap warung sudah habis apa lagi tadi sempat di katakan oleh Bu Siti bahwa kerupuk ku habis di hari dimana aku mengirimnya.


"Zain main sendiri saja ya di ruang TV ! mama mau buat Kerupuk dulu,"titah ku pada Zain.


"oce mama!" jawab Zain, kemudian dia berjalan mengambil bermacam macam mainan yang ku simpan di sebuah wadah besar. Zain mulai menurunkan satu persatu mainannya sementara aku hanya memperhatikannya saja. Dalam hati aku bersyukur serta berterima kasih pada Raihan karena berkat dirinya Zain memiliki banyak koleksi mainan yang bagus bagus dan mahal. Tidak lagi seperti dulu yang hanya bermain dengan barang rongsokan yang aku temukan di sembarang tempat. Jika mengingat itu sedih sekali rasanya melihat Zain. Tiba tiba aku merasa kehilangan Raihan padahal baru tadi malam dia pulang dari rumahku. Aku menoleh ke arah pintu, entah mengapa aku mengharapkan dia datang padahal kemarin aku sudah memintanya untuk menjauhiku.


Aku menghela nafas panjang, aku harus semangat tanpa Raihan untuk hari ini dan untuk hari hari berikutnya. Kemudian ku langkahkan kakiku ke arah dapur, aku sadar bahwa aku harus segera membuat kerupuk sebelum matahari nampak semakin tinggi.


Di tengah sedang membuat kerupuk, otak ku teringat kembali pada Raihan. Entah mengapa di otak ku ini Raihan lagi dan Raihan terus yang ku ingat. Apa karena sudah tiga hari ini dia selalu berkunjung ke rumahku, menemaniku serta membantu ku membuat kerupuk sehingga berkesan? aku menggoyangkan kepalaku, aku tidak boleh mentergantungkan hidupku pada Raihan lagi.

__ADS_1


Butuh tiga jam untuk menyelesaikan membuat kerupuk. Tepat pukul sepuluh pagi menjelang siang aku sudah mulai menjemur semua kerupuk ku di atas bunga pagar yang ada di samping rumahku. Senyumku mengembang melihat jejeran penampi berisi kerupuk hasil jerih payah ku. Aku berharap suatu hari nanti usaha kecilku ini akan berubah menjadi usaha yang besar. Benar kata Raihan, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha dan bekerja keras serta berdoa pada sang pemberi rezeki.


Ketika aku sudah merasa puas memandangi usaha ku yang sedang di jemur atas bunga pagar, ekor mataku menangkap sesosok wanita paruh baya sedang berdiri dengan jarak beberapa meter kemudian aku menoleh pada sosok wanita itu lalu terbengong melihatnya. Sejak kapan dia berdiri di situ dan memperhatikan aku? gumam ku dalam hati.


__ADS_2