
Aku mulai sibuk di dapur membuat adonan gorengan. Adonan bakwan dan adonan tahu isi yang akan aku jual keliling nanti dengan harapan semoga kedua gorengan ini laku dan mendapatkan keuntungan karena ini merupakan harapan satu satunya untuk mendapatkan uang. Aku membuat dua macam gorengan ini seenak mungkin agar para pembeli menyukainya.
Satu jam kemudian, semua adonan gorengan sudah habis di goreng. Ku tatap dua nampan gorengan yang menggunung tinggi di atasnya lalu senyum pun mengembang di bibirku.
"Ya Allah semoga kedua gorengan ini laku dan laris karena ini satu satunya harapanku untuk mendapatkan rizki darimu."
Aku menyisakan delapan gorengan di atas piring untuk makan ibu serta makan ku selepas berdagang nanti. Ku lihat pintu kamar ibuku masih tertutup dan aku yakin ibu pasti bangun siang lagi seperti biasa.
Setelah itu, aku bergegas mandi dan mengganti daster lusuh ku dengan pakaian yang lebih layak di pakai. Ku lihat Zain masih tidur dengan pulas namun aku memaksanya untuk bangun subuh karena dia akan ku bawa berdagang keliling bersamaku. Aku tidak ingin meninggalkan Zain di rumah siapa yang akan menjaganya nanti? aku tidak ingin menaruh harapan pada ibu untuk menjaga anak ku karena aku tau bahwa ibu tidak menyukai Zain.
Tepat pukul enam pagi, ku gendong Zain di belakang punggungku menggunakan jarik karena aku tidak ingin Zain berjalan kaki. Selain jalannya yang lamban aku tidak ingin anak ku merasa kelelahan karena ikut mencari uang denganku. Ku letak kan di atas kepalaku penampi berisi gorengan yang sudah ku tata rapih di atasnya.
"Bismillah...semoga dagangan kita laris ya nak? maafin mama ya nak, mama udah ganggu bobo Zain untuk ikut dengan mama nyari uang."
"iya mama."
Aku tersenyum mendengar jawaban anak ku yang sedang ku gendong di belakang punggungku.
Setelah itu, aku mulai melangkah kan kakiku keluar dari rumah menyusuri jalanan serta rumah rumah.
"gorengan hangat....gorengan hangat..!"teriak ku sambil berjalan kaki.
"Nur....Nurii..!" teriak Sumi ketika aku melintasi rumahnya.
Aku menoleh lalu menghampirinya." Kamu mau beli gorengan ku Sum?"
Sumi tidak menjawab pertanyaan ku melainkan memandangiku dengan tatapan heran. Mungkin dia heran kenapa aku jualan gorengan keliling di pagi buta sambil menggendong anak pula.
"Kok kamu jualan gorengan Nur?" tanyanya. Benar saja dugaan ku, Sumi pasti akan bertanya.
"Iya Sum, aku tidak punya kegiatan di rumah jadi cari kesibukan saja. Berdiam diri justru membuat ku tambah sakit badan Sum." Aku berbohong pada Sumi sambil senyum yang ku paksakan. Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya tentang nafkah suami yang jauh dari kata cukup serta perlakuan ibuku yang tak pernah adil padaku.
"Apa kamu mau membeli gorengan ku? masih anget lho."
"Iya boleh deh, kebetulan aku belum masak apa apa."
Aku tersenyum senang karena Sumi adalah pembeli pertamaku. Tak hentinya aku mengucap kan rasa syukur dalam hati. Kemudian aku menurunkan penampi di atas kepalaku lalu meletakkannya di lantai teras rumah Sumi.
"Berapa harga satuannya?" tanya Sumi. Pandanganya tak lepas dari tumpukan gorengan yang ada di atas penampi.
"Hanya seribu Sum, murah kan?"
"Ya sudah aku beli dua puluh ribu Nur, soalnya keluargaku banyak. Sebentar ya aku ambil piring dulu."
__ADS_1
"Alhamdulilah, siap Sum."
Dengan semangat ku letak kan gorengan satu persatu ke atas piring yang sumi berikan sebagai wadah gorengan yang dia beli sambil ku hitung.
"Ini Sum, ada bonusnya satu ya," ucapku sambil memberikan satu piring gorengan ke arahnya.
"Wah, makasih lho Nur."
"Sama sama Sumi, terima kasih juga karena sudah membeli gorengan ku ya Sum."
"Sip deh, semoga laris dagangannya Nur."
"Amin, amin.....terima kasih lho Sumi doanya. Oya kamu kapan balik lagi ke kota Sum?"
"Minggu depan Nur."
"Oh, aku pikir kamu tidak akan ke kota lagi Sum."
"Kalau aku tidak kerja di kota, lantas siapa yang mau kasih makan anak ku serta orang tua ku Nur? kamu mah enak punya suami yang nafkahi kamu serta anakmu tiap bulan. Terus ibu mu punya usaha membuat kerupuk. Lah aku, siapa yang mau nafkahi aku serta keluargaku kalau bukan aku sendiri yang mencari uang."
Aku tersenyum getir. Andai saja Sumi tau bagaimana hidupku yang sebenarnya mungkin dia akan lebih mensyukuri hidupnya sendiri daripada memiliki nasib sepertiku. Meskipun tidak memiliki suami tapi setidaknya dia masih punya orang tua yang sayang padanya serta anak nya. Sementara aku?
"Ya sudah kalau begitu aku mau keliling lagi ya Sum."
Aku berdiri lagi dan meletak kan penampi dagangan ku di atas kepalaku lalu bergegas pergi.
Aku langkah kan kakiku kembali dengan semangat. Mencari orang orang yang mau membeli dagangan ku. Dari pintu rumah satu ke pintu rumah lainnya aku hampiri dan menawarkan dagangan ku. Ada yang membeli ada pula yang menolaknya.
"Nuri...Nuri....!"
Kulihat Bu Rina memanggilku di teras rumahnya. Bu Rina yang sering memberiku pakaian bekas. Aku segera menghampirinya.
"Bu Rina mau membeli gorengan?" tawar ku padanya sambil berdiri di hadapannya.
"Kamu jualan gorengan Nur?"
"Iya Bu...!"
"Kenapa dagangnya bawa Zain Nur? kenapa tidak di titipi sama ibu mu saja."
"Ibu lagi tidak enak badan Bu Rina, saya tidak tega menitipkan Zain padanya." Aku berbohong pada Bu Rina. Tidak mungkin aku bicara jujur tentang bagaimana sikap ibuku terhadap anak ku, Zain. Aku tidak ingin membuat image ibu jelek di mata orang orang kampung.
"Oh, begitu. Ya sudah saya mau lihat gorengan apa saja yang ada."
__ADS_1
Aku segera menurunkan penampi di atas kepala ku lalu ku letak kan di atas lantai teras.
"Hanya bakwan dan tahu isi Bu," ucap ku.
"Oh, tinggal ada lima belas biji lagi ya Nur."
"iya Bu."
"Ya sudah saya beli semua nya Nur."
Aku terperangah kaget sekaligus senang sekali mendengar Bu Rina mau membeli semua sisa dagangan ku.
"I iya Bu, Iya." Dengan cepat segera aku meletakan sisa gorengan itu di atas piring Bu Rina yang dia ambil sebelumnya.
"Terima kasih banyak Bu Rina," ucap ku lalu berdiri.
"Sama sama Nur. Apa besok kamu mau dagang lagi Nur?"
"Inshaallah Bu Rina."
"Kalau dagang lagi kamu mampir saja kemari nanti saya pasti membeli lagi."
"Iya Bu, saya akan mampir ke sini lagi. kalau begitu saya permisi dulu ya Bu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Aku melangkah pergi dengan senyum yang terus mengembang di bibirku. Tak henti hentinya aku ucap kan rasa syukur ku bahwa dagangan ku sudah laku habis terjual.
"Nak, dagangan kita sudah laku habis nak. terima kasih ya...Zain sudah mau temani mama dagang. Sekarang kita pulang yuk, Zain kan belum mandi dan belum makan."
"Iya mama."
Aku tersenyum mendengar jawaban balita ku yang menurut. Sepanjang dagang aku tidak pernah menurunkan Zain dari gendonganku. Aku tidak ingin anak ku merasakan capek biar aku saja yang capek.
Ku langkah kan kakiku dengan cepat agar segera tiba di rumah karena matahari sudah muncul dari ufuk timur dan nampak sedikit meninggi. Zain anak ku belum mandi dan belum makan.
Tiba di rumah terlihat masih sepi sepertinya ibu belum bangun tidur. Aku meletak kan penampi wadah gorengan di atas meja lalu mengambil sebuah piring. Aku mengumpulkan sisa sisa gorengan menjadi satu lalu ku masuk kan ke dalam piring karena aku tidak ingin membuang sisa sisa makanan.
Setelah itu, aku bergegas memandikan Zain terlebih dahulu sebelum menyuapinya.
Kruk kruk kruk
Perutku mulai keroncongan. Ku tatap jam dinding sudah menunjukan pukul setengah sembilan. Pantas saja karena aku belum sarapan begitu pula dengan Zain. Aku bergegas pergi ke dapur untuk mengambil nasi serta gorengan yang ku sisakan sebelum berjualan.
__ADS_1
Dengan sedikit cepat aku membuka tudung saji dan seketika mataku berkaca kaca karena gorengan yang ku sisakan delapan biji di atas piring sudah habis tak tersisa. Ibuku telah memakannya tanpa menyisakan untuk ku dan Zain. Tega sekali ibu pada kami.