
Setelah selesai melakukan transaksi pembayaran kami meninggalkan tempat private room restauran itu, namun sebelum keluar dari restauran pria yang bernama Bayu selaku manager restauran tersebut menghampiri kami dan mengucapkan terima kasih.
"Mba mau kemana lagi setelah dari sini?" tanya Raihan di sela sela kami berjalan menuju mobil yang sedang terparkir.
Aku diam, perut kenyang, pikiran senang mau apa lagi ya? tanya ku dalam hati. Kemudian aku bertanya balik,"memang sekarang masih pukul berapa Rai?"
"Masih sore mba."
"Sore? kening ku mengkerut.
"Eh, maksudku masih pukul sebelas."
"Pukul sebelas kok di bilang sore Rai!" Aku protes dan Raihan tertawa kecil.
"Pulang saja Rai, Zain sepertinya sudah mengantuk."
"Baik lah bidadari ku." Kemudian aku memasuki mobil setelah Raihan membukakan pintu mobil untuk ku.
"Terima kasih Rai!"ucap ku setelah duduk di jok samping pengemudi.
"Sama sama sayang,"balas Raihan. Aku mencebik kan sedikit bibirku mendengar kata gombalnya.
Setelah Raihan memasuki mobil tiba tiba dia terdiam. Aku melirik ke arahnya dan bertanya," kenapa Rai?"
"Mba mau tungguin aku sebentar tidak?"
"Memang mau kemana?"
"Kebelet pi pis!" kemudian tersenyum nyengir, begitu pula dengan aku yang ikut tersenyum mendengarnya.
Raihan terlihat masuk kembali ke dalam restauran sementara aku menunggu nya di dalam mobil. Ketika aku sedang menyenderkan punggungku di jok mobil sembari memangku Zain yang sudah tertidur tiba tiba suara ponsel bergetar. Aku terkejut dan segera menegak kan tubuh ku kembali. Ekor mataku mencari cari sumber getaran ponsel tersebut dan akhirnya aku menemukannya di bawah jaket Raihan di atas jok pengemudi, mungkin Raihan sengaja meninggalkan nya karena dia hendak ke toilet.
Karena penasaran Aku memberanikan diri membuka jaket itu dan terlihat sebuah ponsel mewah sedang terdapat panggilan video call dari Nura. Aku sedikit menggeser pinggul ku agar lebih dekat dan aku hanya memperhatikan nya saja karena aku sendiri tidak berani memegang barang berharga yang bukan milik ku. Selang beberapa detik ponsel itu diam dan nampak di layar sepuluh panggilan video call dari Nura yang tidak di angkat oleh Raihan. Beberapa menit kemudian sebuah notifikasi pesan chat masuk dan tanpa di buka pun sudah terlihat sebuah teks di layar ponsel yang ukuranya cukup besar kemudian aku membacanya.
"Kamu kemana sih sayang, kenapa sulit sekali di hubungi? apa kamu tidak tau kalau aku rindu sekali sama kamu?"
Deg..
Aku merasa detak jantungku berhenti berdetak setelah membaca pesan dari kekasih Raihan. Aku merasa seperti wanita jahat yang tega dan mau saja jalan dengan seorang pria yang sudah memiliki seorang kekasih tanpa memikirkan perasaan kekasihnya. Nura sedang merindukan Raihan di sana dan menantikan kehadiran nya namun orang yang tengah dia rindukan sedang bersamaku di sini menyenangkan hatiku.
Aku segera menutup ponsel itu dengan jaket seperti semula setelah melihat Raihan sedang berjalan ke arah pintu mobil. Setelah berada di dalam mobil Raihan tersenyum dan berucap,"maaf ya mba sudah menunggu lama." Aku hanya tersenyum hambar saja.
Raihan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan selama itu pula aku hanya duduk diam dan melihat ke arah samping.
__ADS_1
"Mba kenapa diam saja dari tadi?"
Aku mengalihkan pandangan ku ke arah Raihan, dia bertanya namun pandangannya fokus mengemudi.
"Memang aku kenapa Rai?"aku balik bertanya. Aku diam bukan berarti marah padanya karena Raihan tidak bersalah dan tidak ada yang salah di antara kami baik aku, Raihan maupun Nura.
"Jangan di pikirkan mba," kata Raihan. Aku mengernyitkan kening ku tidak mengerti dengan ucapannya.
"Maksud mu?"
"Jangan memikirkan tentang Nura, pikirkan tentang masa depan kita saja mba."
Aku semakin mengernyit kan dahi ku dan dalam hati aku bertanya kenapa Raihan bisa tau jika aku sedang memikirkan Nura? apa dia tahu kalau aku sudah melihat ponselnya? Aku mengalihkan kembali pandangan ku ke arah depan.
Ketika Raihan tengah fokus mengemudi dan aku sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba tiba mobil berhenti di tengah jalan. Aku melirik ke arah Raihan terdengar dia mengumpat kesal.
"Kenapa berhenti Rai?"
"Sepertinya ban nya kempes mba, sebentar ya aku cek dulu." Raihan turun dari mobil dan berjalan ke arah belakang mobil. Cukup lama aku menunggu nya hingga aku memutuskan untuk menyusul nya ke luar. Malam semakin larut membuat hawa semakin dingin, sambil bersedekap dada menahan dingin aku berjalan mendekati Raihan yang sedang berdiri berkacak pinggang melihat pada ban yang kempes.
"Rai..!" sapa ku, Raihan menoleh ke arahku dan berkata," kenapa keluar mba, di luar hawanya dingin nanti mba bisa kena masuk angin.
Aku tidak menghiraukan kekhawatiran nya melainkan berjalan mendekatinya dan berdiri di sampingnya.
"Ban nya kempes mba dan sialnya aku lupa bawa ban serep."
"Terus, apa kita harus mencari bengkel? aku berkata sembari pandanganku mengitari ke sekeliling jalanan yang terlihat sepi. Di pinggir kanan dan kiri jalan hanya berupa perkebunan tidak ada rumah, toko atau warung. Sementara pengendara yang hilir mudik pun terlihat berkurang karena malam semakin larut bahkan mendekati dini hari.
"Mau mencari bengkel ke mana sayang tempatnya sepi begini. Kalau motor sih masih mending bisa di dorong."
"Terus apa kita akan tidur disini?"
"Kalau tidur di sini apa mba keberatan?"
Aku menggeleng.
"Serius mba? mba mau gitu tidur di dalam mobil dan di pinggir jalan?"
"Kalau tidak ada pilihan lain kenapa tidak."
Raihan tersenyum lalu mengelus pipiku dan berucap,"terima kasih ya mba sudah ngertiin aku."
"Kenapa harus berterima kasih Rai, kita pergi bersama pulang pun harus bersama. Kita senang bersama susah pun harus bersama pula."
__ADS_1
Raihan tersenyum lebar dan ketika aku lengah dia mencium keningku dan perbuatan nya cukup membuat aku terkejut.
"Istri seperti ini yang aku inginkan di masa depan, susah senang tetap bersama.Tetap mensuport pasangan ketika dalam keadaan senang maupun dalam keadaan sulit."
"Rai.."
"Hem, kenapa sayang, apa mau minta cium?"
"Rai.."aku mencubit pinggangnya, mencubit sudah menjadi kebiasaan ku ketika aku merasa gemas atau geregetan padanya. Raihan mengaduh kemudian menahan tanganku yang berada di pinggangnya lalu memeluk ku dengan erat.
"Rai, lepasin Rai. Ini di tempat umum malu tau di lihat orang."Aku mengomel sambil berusaha melepaskan tubuhku dari dekapan Raihan.
"Tidak ada yang lihat mba, tapi kalau pun ada biarkan saja."
"Tapi aku mau lihat Zain di dalam mobil Rai." Aku beralasan dan Raihan mempercayainya kemudian melepaskan ku dari pelukannya. Aku menghirup nafas lega lalu masuk ke dalam mobil.
Satu setengah jam berlalu, ketika aku dan Raihan sedang terjaga di dalam mobil, sebuah mobil pick up berhenti di depan mobil kami kemudian turun dua pria yang terlihat masih muda.
"Alhamdulilah bantuan datang."Raihan bergumam, pandangannya mengarah pada dua pria yang sedang menurunkan ban dari atas mobil.
"Memang siapa mereka Rai?" tanya ku penasaran.
"Mereka staf ku di showroom."
"Oh." Aku manggut manggut pelan.
"Sebentar ya mba, aku turun dulu."
Aku mengangguk, kemudian Raihan turun. Aku melihat pada Zain yang sedang tidur di jok belakang memastikan kalau dia sedang tidur aman. Setelah itu aku ikut turun dan menghampiri mereka yang sedang sibuk mengganti ban.
"Wah, siapa itu pak Raihan?" tanya salah satu staf ketika dia menyadari keberadaan ku yang sedang berdiri di belakang Raihan.
Raihan menoleh ke belakang kemudian tersenyum padaku. Setelah itu dia meraih tanganku dan menariknya agar aku berdiri berdampingan dengan nya.
"Kalian mau tau siapa bidadari cantik ini?" tanya Raihan pada mereka.
Mereka mengangguk bersamaan.
"Perkenalkan ini calon istriku," ucap Raihan kemudian dan dengan percaya diri. Aku bersikap santai saja karena Raihan sudah terbiasa mengaku demikian maka ku biarkan saja.
Mereka terlihat saling pandang mungkin mereka merasa tidak percaya pada apa yang Raihan ucapkan kemudian bertanya seperti memastikan.
"Apa pak bos serius?"
__ADS_1
"Apa aku terlihat sedang membohongi kalian?" mereka menggeleng kepala dengan cepat.