Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kedatangan mas Surya


__ADS_3

Aku menurunkan karung berukuran besar di atas motor tanpa di bantu oleh mas Surya. Dalam hati aku berharap andai saja suatu saat nanti mas Surya membelikan baju baru untuk Zain sebanyak karung yang ku angkat ini betapa senangnya hatiku. Namun rasanya khayalanku terlalu tinggi untuk bisa terwujud karena mas Surya sendiri tidak terlalu sayang pada Zain bahkan mas Surya seperti menganggap Zain tidak ada di hidupnya.


"Heh, Nuri, dasar istri durhaka. Apa pantas membawa baju suamimu sendiri dengan cara di seret begitu?" Bentakan mas Surya yang tiba tiba saja cukup membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya.


Aku membalas bentakannya dengan santai sekaligus menyindir," aku ini wanita dan sudah pasti tenagaku adalah tenaga wanita. Jadi intinya, tenaga wanita sepertiku mana sanggup meletakan karung besar ini di atas kepalaku karena aku bukan superhero yang mampu membawa satu rumah atau satu gedung hanya dengan satu tangan saja."


Mas Surya terdiam. Aku melanjutkan lagi langkahku menuju dapur.


"Aku lapar. Bikinkan aku makanan Nuri...!"


"Tidak perlu teriak gitu mas, karena aku masih di dalam rumah."


Bagaimana sikapku pada mas Surya sama hal nya dengan bagaimana sikapku pada ibu yaitu tidak pernah menolak apa pun yang di suruh atau apa yang di inginkan oleh suamiku selagi tidak di luar batas kemampuanku meskipun dalam keadaan kesal sekalipun.


Ku letak kan karung di samping mesin cuci. Aku tersenyum memandang mesin cuci ku yang masih berdiri dengan kokoh dan aku bersyukur masih memilikinya. Tidak bisa ku bayangkan bagaimana jadinya jika mencuci pakaian kotor satu karung besar dengan menggunakan tanganku.


Setelah itu, aku bergegas mempersiapkan makanan untuk mas Surya makan. Untung saja aku sudah menghangatkan makanan jadi tidak perlu susah masak lagi.


Aku kembali ke hadapan suamiku yang masih sibuk memainkan ponsel mewahnya.


"A..apa kamu tidak ingin melihat Zain dulu di kamar mas?" tanyaku basa basi.


"Ah, anaknya masih bau," ucap mas Surya. Namun tatapannya tak lepas dari ponsel seharga lima belas juta yang dia beli enam bulan yang lalu. Benar benar gagah bukan ponsel suamiku? Saat pertama kali dia memamerkannya padaku, aku pernah bertanya padanya tentang ponsel mewah miliknya dan dia mengaku kalau dia dapat bonus pribadi karena kinerjanya yang bagus. Aku tau mas Surya tamatan sarjana sementara aku hanya tamatan SMA jadi aku percaya saja pada yang berpendidikan lebih tinggi dan aku tidak pernah lagi peduli.

__ADS_1


Dadaku berdegup kencang mendengar anak ku di sebut bau. Namun aku berusaha menahannya agar tidak terjadi pertengkaran.


"Anak ku mah baunya wangi beda lagi sama kamu yang Sudah tua bangkotan bau nya bau busuk bunga bangkai"


"Astaghfiruallah hal adzim....." Aku segera beristighfar." Makanan sudah tersedia silahkan jika mau makan sekarang." lanjut ku lagi.


Mas Surya baru menghentikan main ponselnya lalu berdiri dan mengekor di belakangku menuju dapur.


Aku melayani suami ku makan dengan baik. Ku ambilkan nasi serta lauk pauk ke atas piringnya. Aku pun sekalian ikut makan karena aku sendiri memang belum sempat makan. Dalam menikmati makan aku teringat pada Zain yang sedang main di dalam kamar dan belum mandi serta belum makan. Kasihan sekali anak ku belum di urus. Aku segera menyelesaikan makananku dan setelah habis aku segera mencuci tangan.


"Mau kemana kamu? apa kamu tidak lihat suami mu belum selesai makan?"


"Maaf mas, bukan maksudku tidak mau menemanimu makan tapi Zain belum di urus. Kasian dia belum makan mas."


Aku terdiam mendengar ucapan suamiku. Lalu aku meraba wajahku yang polos tanpa make up, rambut yang ku tutupi dengan jilbab rumahan serta melihat pada daster panjang yang sudah lusuh serta memiliki robekan sana sini namun sudah aku jahit pakai tanganku. Aku tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan mas Surya di meja makan.


"Cantik itu butuh modal mas. Aku butuh uang untuk membeli baju baju bagus seperti yang di pakai wanita wanita yang kau lihat di luar sana. Aku butuh skin care agar kulitku yang kusam kembali segar seperti dulu. Aku butuh alat make up agar wajahku yang polos dan kucel kumel ini bisa berubah cantik. Aku butuh modal mas. Jadi, jika kamu tidak memiliki uang untuk memodali ku agar aku berpenampilan cantik lebih baik kamu menerima saja penampilan istrimu yang kau beri nafkah tak lebih dari LIMA RATUS RIBU."


Aku mengambil Zain dari kamar lalu memandikannya. Setelah mandi ku dandani dia sewangi mungkin. Siapa tau nanti papanya mau memeluknya jika Zain sudah mandi dan wangi. Namun sayangnya, sewangi apa pun Zain, papanya masih tidak ingin memeluknya hanya mengusap sekilas rambutnya lalu kembali sibuk dengan ponselnya. Mataku berkaca kaca melihat anak ku yang menatap wajah papanya dengan wajah memelas seolah olah ingin di acak becanda. Tapi mas Surya malah asik saja pada ponselnya dan tak menganggap kehadiran Zain di sampingnya. Ku hampiri Zain lalu menggendongnya.


Ku dudukan Zain di atas kursi. Aku mulai mengeluarkan baju kotor dari karung satu persatu. Setiap baju atau celana berkantong aku periksa siapa tau ada uang atau kertas yang masih di butuhkan mas Surya. Semua benda temuan ku kumpulkan di sebuah plastik hitam lalu ku simpan rapih di tempat yang aman. karena rencananya sebelum ku berikan pada mas Surya, aku ingin tau terlebih dahulu kertas apa saja yang banyak sekali ku temukan di dalam kantong kantong baju serta celana.


Pukul sepuluh pagi ibu baru keluar dari kamarnya. Ku perhatikan dari jauh ibu menyapa mas Surya yang masih saja memainkan ponselnya. Ibu hendak mengulurkan tangannya namun mas Surya menolaknya dengan alasan bahwa ibu belum mandi dan bau. Ibu terlihat kesal dan berjalan ke arah.

__ADS_1


"Suami mu sombongnya selangit. Miskin saja belagu," umpatnya sambil berbisik. Dia takut umpatannya di dengar oleh mas Surya.


"Nuri.....!" mas Surya memanggilku di pintu saat aku sedang menyapu halaman rumah.


"Ada apa mas?"


"Nanti siang mau masak apa?"


"Belum tau mas, belum punya bahannya untuk di masak."


"Masak ikan gerong gulai saja, aku sudah lama ingin memakannya."


"Tapi ikan gerong harga nya mahal banget mas."


"Halah, beli saja satu untuk ku tidak usah banyak banyak. Kalau kalian pasti sudah bosan tiap hari memakannya."


Aku menelan saliva ku. Andai saja mas Surya tau apa yang kami makan tiap hari. Jangankan ikan mahal ikan murah saja tidak bisa membelinya.


Aku membeli ikan pesanan suamiku sebanyak satu kilo. Tidak mungkin jika hanya membeli satu untuknya karena di rumah ini banyak mulut yang harus di beri makan. Setelah membeli ikan aku langsung memasak dan Zain ku minta bermain di dapur saja sambil menemaniku.


Satu jam kemudian masakan sudah jadi. Ku aduk aduk gulai ikan di wajan mantap sekali rasanya. Sekali kali aku ingin merasakan yang namanya gulai ikan buatan ku sendiri.


"Terima kasih Bu haji, Raihan karena Rizki yang kalian kasih untukku, aku serta sekeluarga bisa makan ikan enak ini."

__ADS_1


__ADS_2