Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pembelaan Andre


__ADS_3

Sejenak aku dan Andre terpaku di tempat kami berdiri mendengar sindiran sinis Bu Rida. Namun beberapa detik kemudian Andre menimpalinya,"Ck, pakaiannya saja yang tertutup rapat tapi mulutnya terbuka lebar dan bau busuk."


Sedetik kemudian raut muka Bu Rida memerah menahan kekesalannya pada ucapan pedas Andre. Aku segera menarik lengan Andre agar tidak terjadi keributan di tempat umum.


Pada saat keluar dan berjalan ke arah parkir mobil, ku dapati dua orang laki laki tua serta seorang gadis tengah berdiri bersedekap dada di samping mobil mereka sambil memandang sinis ke arah kami terutama yang wanita. Kebetulan mobil Andre berdampingan dengan mobil mereka dan menyisakan jarak hanya tiga meter saja.


Andre berjalan ke arah bagasi untuk menyimpan barang belanjaan sementara aku berjalan ke arah pintu mobil dimana Risa serta ustad Amir berdiri. Sambil berjalan ke arah pintu, aku memberikan senyuman tipis pada mereka dan ketika hendak membuka pintu mobil, terdengar Risa menyindirku.


"Dasar perempuan murahan, sudah punya laki masih saja jalan dengan pria lain. Kasihan laki nya di selingkuhi sama istri yang tidak tau diri."


Aku berbalik dan hendak menimpalinya namun andre lebih dulu menimpalinya. Sambil berjalan ke arahku dia berkata,"siapa yang anda maksud perempuan murahan dan selingkuh?"pandangannya mengarah pada dua orang yang tengah berdiri di hadapan ku. Andre berdiri di sampingku lalu menumpukan kedua tangannya di atas dada bidangnya dan menatap tajam ke arah mereka.


"Asal kamu tau saja kak, jangan mau sama pe la cur ini, sudah banyak laki laki yang menjadi korban nya, bisa saja kakak akan menjadi korban berikutnya." Risa semakin berani saja, berani mengatai ku di depan Andre serta bapak nya yang diam diam menyukai ku. Ustad Amir terlihat menggoyangkan lengan Risa mungkin dia tidak enak hati padaku. Aku menahan emosiku agar tidak meledak karena aku tidak ingin membuat keributan di tempat umum.


"Oh, apakah begitu?" tanya Andre dengan santai dan melirik ke arah ku.


Risa mengangguk."Benar kak, dia itu ja la ng di tempat tinggal ku, sering merayu laki laki kaya demi uang. Maklum dia itu orang paling miskin di kampung ku kak," kata Risa dengan senyum sinis yang tersungging di bibir merahnya.


Lagi lagi dia menghinaku dan lebih parahnya lagi menuduhku merayu laki laki kaya. Siapa laki laki kaya yang aku rayu? apa bapaknya? justru ustad Amir sendiri yang merayu ku. Apa mungkin dia pikir aku merayu Raihan? Apa dia tidak tau bahwa Raihan lah yang selalu mendekatiku. Andai saja aku ini tidak tau adab mungkin sudah ku robek mulut lebarnya.


"Apa anda pikir saya percaya dengan omong kosong serta mulut busuk mu itu ja la ng kecil?" kata Andre dengan pedas. Andre terlihat santai namun lidahnya bisa mengeluarkan kata kata yang mampu membuat lawan bicaranya bungkam seketika. Dalam hitungan detik, raut muka Risa berubah dari tersenyum sinis menjadi muka kesal serta marah.


"Aku mengenal siapa dan bagaimana Nuri dari kecil, apa kau pikir bisa menghasut ku dengan omong kosong mu itu?"sambungnya lagi.


Seulas senyum tersungging di bibirku, aku senang Andre membela ku dan tidak terpengaruh oleh kata kata Risa. Tak harus payah aku berdebat dengan Risa, sudah ada Andre yang membelaku.


Selang beberapa saat, Bu Rida datang dan mendekati ustad Amir serta Risa sambil membawa dua kantong belanjaan kemudian menoleh ke arah ku dengan muka angkuhnya.


"Oh, jadi kalian satu keluarga? pantas saja buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan anda pak tua," tunjuk Andre pada ustad Amir dan membuat dia tersentak kaget.


"Kalau saya lihat dari kopiah yang anda gunakan, sepertinya anda orang tua yang paham agama. Mestinya anda didik istri serta anak anda untuk bersikap baik serta tidak melontarkan kata kata kotor, memfitnah serta menghina orang lain. Jangan hanya di didik cara berpakaian nya yang islami saja tapi lidahnya pun harus di didik di sesuaikan dengan pakaian yang mereka pakai, memalukan sekali."sambung Andre kemudian dengan panjang lebar.


Ustad Amir terlihat salah tingkah terlihat dari gestur tubuhnya yang banyak bergerak. Sementara Bu Rida menatap nyalang ke arah Andre sepertinya dia tidak terima kemudian membentak,"heh, siapa kamu sok menasehati kami, seperti kamu orang benar saja. Lihat dirimu sendiri sudah tau itu ja la ng punya laki tapi kamu pacari."


"Oh, jangan asal bicara anda wanita tua yang sok agamis. Apa anda memiliki bukti kalau kita menjalin hubungan yang seperti anda tuduhkan?" bentak Andre dengan suara bariton nya.


Bentakan Andre membuat nyali Bu Rida menciut, dia bungkam tidak lagi menyahuti perkataan Andre. Namun raut wajah nya menampakan kebenciannya begitu pula dengan Risa. Sementara ustad Amir hanya diam dan salah tingkah.


"Sekali lagi saya mendengar anda semua menghina serta memfitnah teman saya ini, saya tidak akan segan segan membawa kalian ke jalur hukum. Saya tidak main main dengan ucapan saya,"ancam Andre kemudian. Bu Rida serta ustad Amir terlihat tersentak kaget namun Risa wajahnya semakin memerah menahan kebencian yang mendalam terutama kebenciannya padaku.


Kemudian Andre membukakan pintu mobil untuk ku lalu aku masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi ke arah mereka. Setelah itu, Andre melajukan mobilnya menuju kampung ku.


"Terima kasih sudah membela ku, Dre!" Andre tidak menjawabnya melainkan hanya tersenyum tipis dan tatapannya fokus ke depan.


Hening....


"Sejak kapan perlakuan mereka seperti itu padamu Nuri?" tanya Andre tiba tiba, memulai pembicaraan.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Andre."Cukup lama." jawabku, kemudian meluruskan lagi pandanganku.


"Apa penyebab mereka tidak menyukaimu Nuri?" tanya nya lagi, Andre seperti wartawan saja memberikan pertanyaan berturut turut.


Aku menghela nafas, kemudian melirik lagi ke arahnya." Tidak tau." Aku menjawabnya dengan singkat karena tidak mungkin aku bercerita pada Andre penyebab mereka membenciku karena Raihan yang lebih menyukaiku dari pada wanita yang telah menghinaku tadi.


Andre menurunkan barang belanjaan setelah kami sudah tiba di rumah. Aku menunggunya sambil duduk di lantai teras rumah sembari memangku Zain.


"Nuri, ini belanjaannya mau disimpan dimana?" tanya Andre sembari menenteng empat kantong plastik.


Aku tidak langsung menjawab melainkan mengerutkan dahi. aku heran kenapa Andre membawa semua kantong belanjaannya padahal milik ku hanya satu kantong saja.


"Kenapa kamu membawa keluar semua belanjaannya Dre? punya ku kan hanya satu kantong." Aku bertanya balik sekaligus protes.


"Siapa bilang, ini semua punya Zain, tadi dia yang milih sendiri."


"Tidak mungkin, Zain mana ngerti Andre...!"


Andre menggaruk tengkuknya sembari tersenyum nyengir.


"Iya deh ngaku, aku sendiri yang membelikan untuk Zain."


Aku menghela nafas kasar, bukannya aku tidak bersyukur di beri banyak cemilan oleh Andre tapi cemilan yang dia beli bukan cemilan untuk anak seusia Zain melain cemilan untuk orang dewasa. Kenapa dia tidak bertanya terlebih dahulu jika hendak membelikan Zain makanan agar tidak salah mengambil. Tapi sudah lah aku menerimanya dengan senang hati, meskipun tidak bisa di makan oleh Zain tapi setidaknya masih ada aku yang akan memakannya, lumayan untuk stok cemilan satu bulan. Kemudian aku tersenyum padanya dan mengucapkan terima kasih.


Aku memasuki rumahku dan di ekori Andre dari belakang dengan empat kantong plastik yang tak lepas dari tangannya. Setelah itu, aku menurunkan Zain dari gendonganku dan mengambil alih kantong plastik yang ada di tangan Andre.


"Ehm, aku haus sekali,"ucap Andre sembari memegang kerongkongannya.


Aku tersenyum dan bertanya,"mau minum air panas, air hangat, air dingin?" tawar ku padanya dengan sedikit becanda.


"Air susu ibu, eh tidak, air putih dingin saja maksudku,"jawab nya sembari tersenyum mesem. Andre terlihat seperti salah tingkah.


Aku geleng - geleng kepala sembari tersenyum tipis melihat tingkahnya, Kemudian melanjutkan lagi langkahku menuju dapur.


Aku menuangkan air yang telah ku ambil dari dalam kulkas ke sebuah gelas kosong. Setelah selesai aku berbalik hendak membawanya untuk Andre namun aku menubruk tubuh seseorang yang sedang berdiri di belakangku dan menyebabkan gelas di tanganku terjatuh lalu pecah berserakan.


"Astaghfiruallah hal adzim!"


Hal tersebut cukup membuat ku kaget dan aku melihat ke arah wajah Andre yang terlihat merasa bersalah.


"Nuri....maaf aku tidak sengaja!" sesalnya, Andre baru saja datang menyusul ke dapur tanpa bersuara sehingga aku pun tidak mengetahui keberadaannya di belakang punggungku.


"Tidak apa apa Dre!" aku langsung berjongkok untuk memunguti pecahan gelas karena kalau tidak segera di punguti takut terinjak kaki Zain.


Andre ikut berjongkok sambil berkata," biar aku saja yang memungutinya Ri, karena aku yang menjatuhkannya."


"Tidak apa apa Dre, bukan hal sulit santai saja," tolak ku sembari tanganku sibuk mengambil satu persatu pecahan gelas.

__ADS_1


"Awww," aku memekik kaget serta sakit ketika aku sedang mengambil pecahan kaca tak sengaja satu anak jari ku terkena pecahannya dan menyebabkan luka serta keluar darah segar.


Andre terkejut mendengar pekikan ku kemudian melihat pada jari ku yang terluka serta darah berceceran. Dengan sigap dia menarik tanganku lalu me ng hi sap nya secara perlahan. Aku sendiri tersentak kaget atas apa yang Andre lakukan secara tiba tiba. Sembari me ng hi sap jari ku, sorot mata Andre menatap lekat wajah ku karena jarak kami yang sangat dekat. Aku pun ikut menatap balik wajahnya namun kemudian aku menunduk memalingkan wajahku, karena rasanya tak sanggup di tatap Andre seperti itu.


Kemudian dia melepaskan mulutnya dari jari ku lalu bertanya,"apa kamu memiliki obat luka?"


Aku mengangguk kemudian berjalan ke arah sebuah lemari hias tatakan TV dan mengambilnya di sana. Setelah itu, aku memberikannya pada Andre." Ini Dre!" Andre mengambilnya dari tanganku lalu meraih tanganku kembali dan mengobatinya.


Setelah selesai di obati aku membuka kulkas kembali untuk mengambil air minum namun Andre melarangnya dan aku pun menurut.


"Maafin aku ya Nuri, gara gara aku kamu jadi terluka." Untuk kedua kalinya Andre meminta maaf.


"It's okey, im fine. Hanya luka kecil tidak usah di pikirkan.


"Really? sejak kapan kamu bisa bicara bahasa Inggris Nuri?"goda Andre.


"Sejak berteman dengan orang yang sering traveling ke luar negeri,"jawabku sembari tersenyum. Andre tertawa lebar mendengar guyonan ku.


Tak terasa hari menjelang sore dan Andre pamit untuk pulang.


"Apa kamu akan kembali ke Jakarta langsung Dre? tanya ku pada Andre yang sedang membenarkan tali sepatunya.


Andre mendongak tinggi karena aku sedang berdiri tepat di hadapannya kemudian balik bertanya," kenapa?apa kamu tidak ingin aku pergi jauh dari kamu?"Andre menggoda ku.


Aku mendengus kesal dan menimpalinya," percaya diri sekali kamu Dre!" dengan wajah sedikit ku tekuk.


Andre tertawa lebar kemudian berkata,"iya aku langsung pulang ke Jakarta. Tapi jika next time aku main lagi ke sini kamu masih mau membuka pintu rumah mu untuk ku kan?"


Aku mengangguk." tentu saja Dre, pintu rumahku terbuka lebar, kamu boleh datang kapan saja."


"Tapi kalau pintu hatimu bagaimana? apa akan terbuka lebar juga untuk ku?"tanya nya dengan mimik wajah serius. Lagi lagi Andre menggodaku.


"Jangan terus menggodaku Dre, apa kamu tidak malu sama Zain?"aku bicara dengan sedikit kesal karena Andre masih saja menggodaku.


Pandangan Andre mengarah pada Zain yang berada dalam gendonganku lalu bertanya," Zain mau tidak kalau om jadi papa pengganti Zain?"


"Dree...!"sentak ku sembari mata ku besarkan. Andre tertawa melihat responku kemudian wajahnya di dekatkan ke arah telingaku dan berbisik.


"Aku serius Nuri, aku ingin jadi papa pengganti untuk Zain."


Setelah itu dia mencium pipi Zain dan sedikit mencubit gemas kemudian beranjak ke arah mobil nya yang sedang terparkir. Sementara aku hanya diam mematung setelah mendengar keinginan Andre, bahkan aku pun tidak menyadari jika Andre sudah berada di dalam mobilnya dan melaju pergi.


"Mama!" panggilan Zain membuyarkan lamunanku. Kemudian pandanganku mengarah ke segala arah mencari sosok andre namun tak lama aku tersadar bahwa Andre sudah pergi dari rumahku.


Menjelang malam hari, aku menatap Zain yang sedang tidur pulas dengan pikiran menerawang kemana mana. Aku memikirkan perkataan Andre tadi sore yang mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi papa pengganti untuk Zain. Perkataannya pun mengingatkan aku pada sosok Raihan yang pernah berkata demikian bahwa Raihan ingin menjadi papa pengganti untuk Zain.


"Kenapa mereka berdua menginginkan aku bercerai dengan mas Surya?"

__ADS_1


__ADS_2