Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pelukan pertama Bu haji


__ADS_3

"Nuri...!"panggil Andre yang sedang duduk sembari menyenderkan punggungnya serta bersedekap dada.


"Hem." Aku menyahutinya kemudian meliriknya."Kenapa Dre?" tanya ku kemudian.


"Apa kamu pernah ke Jakarta?"tanya Andre, wajahnya terlihat serius.


Sejenak aku terdiam namun pandanganku tak lepas dari wajahnya dan dalam hati aku bertanya, apakah Andre benar benar bertanya atau hanya sekedar meledek ku saja.


"Kenapa menatapku seperti itu? apa kamu sudah terpesona sama ketampanan ku?" kata Andre dengan sok narsisnya.


Aku tersenyum kecut lalu berkata," Jangan kan kota Jakarta, kota kabupaten saja bisa di hitung dengan jari."Apa yang aku katakan adalah benar, seumur hidupku, aku belum pernah menginjak kan kaki ku di kota besar tersebut, padahal jarak daerah ku ke kota Jakarta hanya empat jam saja. Sejak menikah dengan mas Surya, dia pun tidak pernah mengajak aku ke sana meskipun dia sendiri tinggal serta bekerja di Jakarta.


"Jangan sok kepedean deh, siapa juga yang terpesona sama situ,"ucap ku menambahkan.


Andre tertawa lebar, kemudian dia bertanya ulang."Benar kah kamu belum pernah ke Jakarta?" sepertinya dia belum percaya.


Aku mengangguk pasti.


"Tapi bukannya mantan suamimu kerja dan tinggal di Jakarta?"


"Kamu membahas mas Surya?" tiba tiba mood ku jadi hilang mendengar nama mas Surya telah di sebutnya.


"Oh, sorry...sorry, aku lupa." Andre tersenyum nyengir sementara aku memalingkan wajah kesal ku.


"Kamu mau tidak minggu depan ikut denganku ke Jakarta?" tanya Andre dengan wajah serius.


Aku menoleh kembali dan mengernyitkan dahi mendapat tawaran dari Andre untuk ikut bersama nya ke Jakarta. Sebenarnya aku ingin sekali berkunjung ke Jakarta, sekedar ingin tau bagaimana rasanya hidup di kota metropolitan. Namun pikiran negatif terlintas di otak ku, apa tidak bahaya jika ikut dengannya? sebab, budaya Andre itu sudah setengah pribumi dan setengah barat. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan di sana apalagi Jakarta kota besar dan aku tidak tau seluk beluk kota tersebut.


"Mikirnya lama amat Nuri!"


Aku sedikit terkejut kemudian berucap," Oh, ehmm...sepertinya tidak mau."


Andre menarik nafas pendek, dia terlihat kecewa lalu bertanya," kenapa? padahal tadinya aku ingin mengenalkan kamu pada sepupuku yang tinggal di sana."


"Sepupu!" ucap ku mengulang.


"He'em, dia tadi mengundangku untuk menghadiri acara syukuran cabang baru Showroom mobil miliknya."


"Oh, apa orang yang tadi berbicara dengan mu lewat telpon?"aku merasa semakin tertarik membahasnya.


"Kamu menguping?"


"Sedikit."


"Ha ha ha...kamu jujur sekali jadi wanita Nuri."


"Tidak ada gunanya jadi seorang pembohong."


"That's right so... apa yang kamu ketahui lagi?"


"Tidak ada, aku hanya tau kamu sedang berbicara dengan seseorang saja."


"Bukannya tadi kamu bilang telah menguping?"


"Aku tidak bisa mendengar lawan bicaramu bagaimana bisa menguping dan mengetahui apa yang sedang kalian obrolkan."


"Ha ha ha Kamu menggemaskan sekali Nuri."


Aku hanya mencebik kan bibirku saja, aku rasa tidak ada yang lucu di pembahasan kami namun kenapa Andre berulang kali tertawa lebar seolah olah aku ini penghiburnya.


"Kamu tau, aku kagum sekali pada sepupuku itu. Dia masih sangat muda tapi sudah menjadi pengusaha sukses," kata Andre kemudian.


"Bukannya kamu pengusaha juga ya Dre?"


"ya, tapi usahaku tidak sebesar usahanya. Apalah aku ini hanya memiliki usaha kafe serta dua rumah makan Padang saja, sementara sepupuku dia memiliki tiga cabang showroom mobil yang cukup besar. Selain itu dia juga menjalani usaha perkebunan sawit dan karet serta toko online produk elektronik dia yang juga sangat maju. Padahal usianya baru dua puluh satu tahun."


"Hah!"Aku membelalak kan mataku, rasanya tak percaya ada seorang pengusaha sukses berusia sangat muda. Aku jadi tertarik mendengar cerita Andre tentang sepupunya dan entah kenapa dorongan ingin mengetahui sosok sepupu Andre pun terlintas, bagaimana rupanya dan siapa tahu dia bisa menjadi sumber inspirasi untuk ku menjadi seorang pengusaha sukses juga.

__ADS_1


"Dre..!"


"Kenapa Nuri?


"Aku mau deh ikut kamu ke Jakarta."


"Kamu serius? kenapa berubah pikiran?"


"Karena aku ingin tau kota Jakarta he he!" Aku berbohong dan rasanya malu saja jika bicara jujur kalau aku hanya penasaran pada sepupunya itu.


"Aku akan mengajak kamu serta Zain keliling kota Jakarta sampai ke pelosok pelosok nya nanti."


"Benar kah? tanya ku dengan basa basi.


"he'em, serius dong."


Cukup lama kami mengobrol hingga terdengar suara adzan maghrib berkumandang, aku melirik pada Andre yang sedang sibuk main ponsel kemudian aku bertanya," kamu tidak sholat maghrib terlebih dahulu Dre?"Andre menoleh ke arahku dan berkata," Oh, tidak Nuri, aku sedang membicarakan hal penting dengan temanku." kemudian pandangannya dia arahkan pada ponselnya kembali.


Aku hanya menggeleng kepala dan tidak ingin memaksanya untuk melaksanakan sholat karena ibadah itu harus dengan keikhlasan hati bukan karena di paksa atau keterpaksaan. Lagi pula Andre bukan anak anak lagi melainkan sudah dewasa yang semestinya sudah bisa berpikir sendiri.


Aku beranjak dari sofa menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu dan setelah itu melaksanakan sholat maghrib sendiri. Sebenarnya aku ingin sekali sholat berjamaah tapi sayangya tidak ada imamnya. Seketika aku teringat pada Raihan, andai saja Andre adalah Raihan. Tidak, aku segera menepis pemikiran itu agar tidak mengingatnya lagi.


"Sudah malam Dre, sebaiknya kamu pulang," titah ku sembari berjalan ke arahnya. Andre yang masih memainkan ponselnya mendongak dan berkata," kamu mengusirku Nuri?"


Aku mengangguk jujur. Andre berdecak." kenapa kamu tidak pernah ada basa basi nya Nuri? to the point sekali."


"Karena aku tidak suka basa basi."


Andre tertawa lebar kemudian berkata dengan nada memelas." Tapi...aku harus pulang kemana Ri, masa kamu tega sekali sudah malam begini menyuruhku pulang ke jakarta."


"Bukannya kamu punya sodara di kampung ini ya?"


"Iya, tapi Tante ku sedang menginap di rumah sodaran nya yang lain."


"Kalau begitu kamu menginap di hotel saja." Aku menyarankan.


"Ada." jawabku singkat.


"Dimana?"


"Di kabupaten."


"Astaga Nuri.....!"ucap nya sembari menepuk jidatnya.


"Sama saja jauh," sambung nya kemudian.


"Tapi setidaknya lebih dekat dari Jakarta kan?"


"Aku pikir di daerah sini."


"Ini kampung bukan kota mana ada hotel yang ada kontrakan."


"Kalau gitu aku ngontrak di sini saja, aku bayar permalam."


"Di sini dimana maksudmu?"


"Di rumah ini lah."


Aku mendengus kesal dan berkata,"rumah ku tidak di kontrakan. Kamu cari kontrakan lain saja.


"Kamu tega sekali Nuri, ini sudah malam dimana aku harus mencari kontrakan?"


"Terserah dimana saja asal tidak disini."


"Nuri ...!"


"Aku hanya tidak ingin terjadi fitnah diantara kita Dre kalau kamu tidur di rumahku. kamu tau kan, ini indonesia dan ini kampung bukan di luar negeri, negara bebas." Aku mencoba memberikan penjelasan pada Andre hingga dia mengerti."

__ADS_1


Andre terdengar menghela nafas berat lalu berkata,"kamu tau Nuri, sebenarnya aku itu berat sekali meninggalkan kalian."


"Jangan Lebay deh Dre, kamu masih bisa kesini di lain waktu."


"Ah ya, kalau gitu aku pulang saja ke Jakarta, saptu depan aku akan susul kamu untuk ikut bersamaku ke Jakarta." Aku mengangguk dan memberikan senyum tipis padanya.


Keesokan harinya....


Aku sedang berjalan ke arah warung tempat langganan ku melewati rumah Bu haji, nampak pintu gerbang rumahnya terbuka sedikit dan tak lama terlihat pula sosok Bu haji yang sedang menyembulkan tubuhnya di balik gerbang rumahnya.


"Nuri..!"sapa Bu haji. pandangannya mengarah padaku. Aku memberikan senyuman hangat pada wanita yang telah melahirkan sosok Raihan. Bu haji menyuruhku untuk mendekatinya dan aku pun menurutinya. Setelah di hadapannya, Bu haji memegang lenganku dan berkata," Nur, apa stok kerupuk di rumah mu masih ada? saya butuh banyak."


"Maksud Bu haji kerupuk yang sudah di goreng atau kerupuk mentah nya Bu?"


"Kalau ada kerupuk mentahnya Nuri, soalnya mau dibawa ke Jakarta mau mengadakan syukuran kecil kecilan."


"Oh, memang ibu butuh berapa banyak Bu?"


"Saya butuh lima puluh kilo Nuri."


Aku membelalak kan mataku mendengar banyak nya kerupuk yang Bu haji inginkan.


"Bagaimana Nuri apa ada? soalnya saya ingin sekali menambahkan kerupuk buatan mu sebagai tambahan menu nanti, soalnya kerupuk itu belum ada dimana mana hanya ada di sini."


"Bagaimana ya Bu, saya hanya memiliki stok tinggal dua puluh kilo lagi Bu dan itu pun untuk di edarkan di warung warung."


"Yah, gimana ya Nuri padahal saya ingin sekali menambahkan kerupuk mu sebagai tambahan menu."


Aku terdiam mencoba berpikir bagaimana baiknya. Tiba tiba terlintas di pikiranku untuk membuatnya lagi, masih ada sisa lima hari dan aku rasa bisa memproduksinya sebanyak lima puluh kilo. Selain itu aku juga berpikir mungkin ini saatnya aku mempromosikan kerupuk ku ke luar dari kampung ini.


"Bu haji, saya akan mencoba membuatnya lagi ya Bu? mudah mudahan dengan waktu yang mepet ini saya bisa memproduksi kerupuk sebanyak yang Bu haji pesan."


"Beneran nur? alhamdulilah kalau kamu menyanggupinya saya senang sekali."


Aku tersenyum dan kemudian mohon ijin untuk melanjutkan perjalananku menuju warung. Sepanjang jalan aku menyunggingkan senyum di bibirku, rasanya senang sekali ada pesanan kerupuk yang jumlahnya banyak dan yang membuat aku senang lagi adalah orang yang memesan Kerupuk ku itu adalah ibu dari pria yang selama ini ada pikiranku.


Selama beberapa hari ini aku berjibaku siang dan malam membuat kerupuk pesanan Bu haji. Dan bersyukurnya tiap hari di beri cuaca yang panas sehingga dalam setengah hari saja kerupuk kerupuk yang aku jemur langsung kering dan siap di goreng. Hari ini merupakan hari ke empat aku di sibuk kan dengan aktifitas membuat kerupuk. Ketika sedang tengah sibuk di dapur, suara ketukan pintu serta salam terdengar di kedua telingaku. Aku menghentikan sejenak aktifitas ku dan berjalan ke arah pintu teras depan untuk membukanya. Setelah di buka, nampak bu haji tersenyum ke arahku dan mengucap kan salam.


"Maaf Bu haji, kerupuknya masih kurang sepuluh kilo lagi." kata ku, karena aku mengira Bu haji datang ke rumahku untuk mengambil pesanan kerupuknya. Namun di luar dugaan ku, Bu haji datang ke rumahku bukan untuk mengambil pesanan nya melainkan hanya ingin melihat cara aku memproduksi kerupuk. Aku pun mempersilahkannya masuk.


"Saya yakin Nuri, usaha mu pasti bisa berkembang lebih maju lagi kedepannya tinggal cara kamu mempromosikannya saja karena kerupuk kamu ini memiliki kualitas. Selain rasanya enak juga cara membuatnya yang bersih dan selain itu bahan bahannya juga aman untuk di konsumsi." Bu haji langsung memberikan penilaian sekaligus dukungan untuk ku dan aku senang sekali mendengarnya.


"Untuk mempromosikannya sendiri juga banyak cara Nuri, sekarang kan sudah


jaman digital, kamu bisa memanfaatkan sosial media atau toko toko online lainya. Selain itu kamu juga bisa mempromosikannya secara face to face atau dor to dor. Kamu minta bantuan saja sama suamimu, apalagi suamimu sedang bekerja di kota besar Jakarta."


Seketika aku terdiam mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Bu haji, Suami? Bu haji belum tau kalau aku sudah menjadi seorang janda meskipun belum mengajukan surat perceraian.


"Nuri, kenapa?" tanya Bu haji dia terlihat bingung melihat aku terdiam.


Aku pikir apa aku beri tahu saja padanya kalau aku sudah bercerai, tapi apa tidak akan membuatnya bertambah tidak menyukaiku mengingat anak nya raihan takut mendekati ku kembali setelah tau aku sudah menjadi seorang janda.


"Kamu kenapa Nuri?" Bu haji bertanya ulang.


"Sebenarnya saya...sudah bercerai dengan suami saya,"kata ku, kemudian menunduk kan wajah ku. Aku pikir, meskipun Bu haji akan tidak menyukaiku lagi aku tidak mengapa, yang penting aku sudah berkata jujur dan tidak ingin ku tutupi.


"Bercerai?" ucap Bu haji, menatapku dengan wajah terkejutnya.


Aku mengangguk pelan.


"Tapi...kenapa Nuri, kenapa kalian bercerai?"


"Karena..mas Surya menikah lagi dengan mantan istrinya Bu, dan saya tidak mau di poligami."


"Ya Allah Nuri...!" Bu haji memeluk ku dan aku mulai meneteskan air mata dan semakin lama air mataku semakin deras mengalir.


Aku menangis di pelukan Bu haji, pelukan ini merupakan pelukan pertama Bu haji padaku. Entah mengapa aku merasa sangat nyaman sekali berada di pelukannya, pelukan seorang seorang ibu yang tidak pernah aku dapatkan dari ibu kandung ku sendiri di sepanjang usiaku hingga aku menjadi tumbuh besar.

__ADS_1


__ADS_2