
Aku menatap lekat sorot mata milik Raihan, ingin mencari tau apakah Raihan benar benar masih menyimpan rasa cintanya padaku atau perasaan itu sudah tergantikan oleh sosok yang baru dan lebih sempurna.
Aku menelan saliva ku terlebih dahulu kemudian aku paksakan lidahku untuk bertanya meskipun ragu dengan tatapan yang tak lepas dari sorot matanya."Rai...apa..kamu masih mencintaiku? masih menginginkan aku?"
Terlihat jakun Raihan naik turun, sepertinya dia sedang berusaha menelan saliva nya namun tak lama kemudian dia berucap,"aku....aku masih mencintaimu mba, perasaanku ke mba tetap sama seperti dulu tidak berubah."
Serasa terbang ke atas langit, hatiku bersorak gembira mendengar pengakuan jujur Raihan dan dengan percaya diri aku pun berkata," kalau kamu cinta aku......nikahi aku Rai...jadikan aku istrimu."
Tanpa ada rasa malu aku menantang Raihan menawarkan diriku untuk dinikahinya. Bukan karena sekarang aku tau bahwa dia adalah seorang bos pemilik perusahaan melainkan perasaanku yang tidak bisa lagi ku tutup tutupi. Terdengar picik memang, disaat dulu Raihan sering kali menyuruhku untuk menceraikan mas Surya dan menikah dengannya aku tetap pada pendirian ku untuk mempertahankan mas Surya meskipun bersikap buruk. Dan sekarang setelah Raihan memiliki seorang kekasih dengan percaya dirinya aku menawarkan diriku untuk dinikahinya.
Raihan terdiam, namun pandangan serta tatapan nya tak lepas dari wajahku. Beberapa saat kemudian, dia mengalihkan pandangannya dan berjalan sedikit menjauh serta membelakangi ku. Terdengar dia menghela nafas besar. "Maafkan aku mba, aku.....aku belum bisa menikahi mba."
Ku pandangi punggung tubuh tinggi tegap itu dengan tatapan nanar, kemudian aku berusaha menelan saliva ku yang terasa tercekat di tenggorokan. Aku tersenyum kecut mendengar penolakan Raihan atas tawaranku.
Satu bulir cairan bening lolos begitu saja dari sudut mataku namun aku segera menghapusnya sebelum Raihan melihatnya. Setelah itu aku menghela nafas dan berkata, "Ya, ya...aku mengerti Rai. Aku juga sadar kalau Raihan yang sekarang bukan lah Raihan yang dulu. Raihan yang ku kenal sekarang adalah seorang bos besar dan memiliki seorang kekasih yang sempurna." Lagi, air mata ku menetes kembali dan aku segera menghapusnya.
"Aku...aku rindu sosok Raihan yang dulu, Raihan yang sederhana, Raihan yang selalu ada di sampingku ketika aku mengalami kesulitan, Raihan yang selalu menguatkan aku ketika aku down. Tapi....sepertinya aku salah orang maaf ya..?"
Aku menghela nafas lagi kemudian beranjak namun ketika hendak membuka pintu, Raihan berseru."Raihan yang sekarang tetap Raihan yang dulu mba tidak akan berubah sampai kapan pun."Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Tolong beri aku waktu mba!"mohon Raihan padaku.
"Sampai kapan Rai?"
"Sampai...aku bisa melepaskan Nura."
Aku menggeleng, tidak tau lagi apa yang harus aku katakan padanya. Mestinya aku senang mendengar Raihan akan melepaskan Nura tapi kenapa rasanya sakit sekali mendengarnya. Kenapa aku merasa tidak setuju dengan apa yang akan Raihan lakukan pada kekasihnya. Mempermainkan perasaanya hanya karena ingin melupakan sosok masa lalunya. Tapi sekarang sosok masa lalunya itu datang dan memintanya kembali dan Raihan akan melepaskan kekasih nya demi aku, wanita macam apa aku ini jika itu terjadi. Tidak, aku bukan wanita yang tidak memiliki hati yang akan tega menyakiti perasaan wanita lain demi ego ku sendiri.
"Kalian pasangan yang serasi Rai, aku janji tidak akan merecoki hubungan kalian. Sudah saatnya kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri. Dan aku rasa Nura wanita yang baik jangan kamu sakiti hatinya."
"Mba....."
Aku segera menarik gagang pintu sebelum Raihan berkata. Kemudian berlari kecil mencari toilet meskipun aku tidak tau dimana letak toiletnya. Aku pikir aku harus membenahi wajahku terlebih dahulu sebelum menemui Andre karena aku tidak ingin mendapat pertanyaan dari pria cerewet itu.
Setelah semuanya terlihat seperti semula, aku berjalan ke tempat dimana acara itu di adakan. Setelah berada di tempat acara aku tidak lagi melihat orang orang berlalu lalang melainkan semua orang sudah duduk di kursinya masing. Banyaknya kepala membuat aku kebingungan mencari Andre dan Zain namun aku terus saja berjalan melewati meja meja bundar yang sudah terisi oleh para tamu undangan hingga sampai di posisi paling depan seseorang meraih tanganku.
"Kamu mencari ku sayang?"aku menunduk kan pandanganku melihat pada orang yang sedang memegang tanganku, ternyata orang itu adalah Andre, dia sedang duduk melingkari meja bundar bersama bu haji, Raihan dan Nura. Aku segera menarik tanganku dari genggaman Andre, rasanya malu sekali di perhatikan oleh Bu haji, Nura serta Raihan.
Kemudian Andre berdiri dan menggeser kan kursi tepat di sampingnya kemudian berkata," silahkan duduk bidadari ku." Aku membesarkan mataku sebagai bentuk protes padanya karena aku tidak suka pada ucapan berlebihan Andre meskipun dia hanya bermaksud becanda.
__ADS_1
"Ha ha ha mamamu menggemaskan sekali Zain, ayok sayang silahkan duduk. Tidak usah sungkan semua di sini keluargaku, toh, sebentar lagi juga kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini bukan kah begitu Tante?" Andre mempersilahkan aku duduk namun di akhir kalimatnya meminta pendapat Bu haji, aku benar benar di buat malu oleh ucapan ngaur nya.
"Oh, ya....ya Nuri silahkan duduk jangan sungkan,"kata Bu haji yang sedang duduk tepat di sampingku.
Sebelum aku mendaratkan pinggulku di atas kursi yang telah di sediakan oleh Andre, aku melirik ke arah Raihan yang sedang duduk di hadapanku berdampingan dengan Nura. Aku memberikan anggukan kecil dan tersenyum tipis pada mereka. Nura membalas senyumanku namun Raihan hanya berwajah datar saja.
Rasanya aku ingin sekali segera pulang apalagi melihat Raihan duduk berdampingan dengan Nura. Jika diperhatikan mereka memang cocok, sama sama masih muda, tampan dan cantik serta sama sama orang kaya. Sementara aku? aku hanya wanita yang sudah tidak lagi muda, seorang single mom, berasal dari keluarga miskin dan hidupku sudah keras dari kecil.
Tak lama kemudian suara seorang MC menggema di ruangan tersebut, mungkin acaranya hendak di mulai dan aku mulai memfokuskan mataku ke arah panggung kecil begitu pula dengan yang lainnya. Acara penyambutan dari beberapa orang pun saling bergilir berbicara di atas panggung hingga giliran nama Raihan di sebut oleh MC selaku pendiri sekaligus pemilik perusahaan. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Raihan dan ternyata dia sedang menatapku. Aku mengangguk pelan menyadarkannya agar dia segera naik ke atas panggung karena para tamu undangan sudah menunggunya namun ternyata Raihan tidak menghiraukan anggukan ku melainkan tetap menatapku dengan pikirannya.
"Jangan bilang kamu terpesona sama kecantikan calon istriku sampai kamu tidak mendengar MC memanggilmu Rai." kata Andre tiba tiba, ternyata tanpa ku duga Andre menyadari tatapan mata Raihan yang mengarah padaku.
"Ehm!"Raihan salah tingkah. Kemudian dia segera berdiri dan berjalan ke arah panggung. Tepukan meriah pun menggema di ruang besar tersebut. Tak sedikit pasang mata yang memandang kagum padanya terutama kaum hawa. Wajar saja, masih sangat muda, wajah tampan, postur tubuh tinggi tegap, pintar dan seorang pengusaha sukses dan siapa pun wanita itu pasti akan terpesona padanya.
Raihan menguraikan kata katanya di atas panggung dengan tegas dan lugas, terlihat sekali jika Raihan adalah orang pintar. Sepanjang dia bicara mataku tak sedikitpun ku alihkan darinya karena jujur ku katakan bahwa aku sangat mengaguminya. Selain terlihat pintar, dia terlihat dewasa dan sangat berwibawa dengan pakaian yang dia gunakan seperti seorang CEO di novel atau di film yang pernah aku baca atau aku lihat. Tepukan meriah menggema kembali, aku tersadar dari lamunanku dan ternyata pidato Raihan akan usai.
"Pak Raihan, di belakang saya banyak sekali orang yang bertanya tentang apa sih singkatan dari R&N Group nama perusahaan anda sendiri Pak Raihan, bisa kah anda memberi tau pada para hadirin semua yang ada disini agar mereka tidak bertanya tanya hingga sampai terbawa pulang bahkan terbawa mimpi saking penasarannya pak Raihan." Perkataan MC yang sedikit melucu itu mendapat sambutan gelak tawa dari hampir semua tamu undangan yang hadir.
Raihan terlihat tersenyum kemudian berbicara dengan sikap tenang."ehm...sebenarnya hanya sebuah singkatan nama saja dan.... nothing else."
__ADS_1
"Wah, saya rasa semakin penasaran saja semua hadirin pak Raihan, bisa kah pak Raihan memberitahu kami singkatan dari nama siapakah itu pak Raihan?"
Raihan terlihat terdiam namun kemudian dia bicara lagi." Singkatan dari nama saya sendiri dan nama.....seseorang yang terpatri di hati saya dengan harapan kami bisa menjalankan perusahaan ini bersama sama." Andre berbicara namun pandangannya mengarah pada meja kami. Aku tidak tau siapa yang sedang Raihan lihat aku atau Nura karena nama kami sama sama berawal dari huruf N. Namun aku merasa singkatan itu di tujukan pada Nura karena mengingat Nura yang menemani Raihan membangun usahanya seperti yang Nura katakan sebelumya. Selain itu, ekspresi wajah Nura yang terlihat berseri seri memandang Raihan pun menguatkan dugaan ku.