
Sudah dua Minggu bang Supri tinggal di rumahku dan aku merawatnya dengan baik dan dengan kasih sayang sebagai seorang adik pada kakaknya. Dan selama itu pula istrinya atau mertuanya tidak pernah sekali pun menjenguk bang supri. Padahal aku sudah sangat sering mendatangi rumah haji Umar serta memberitahu tentang kondisi bang Supri padanya namun dia tidak pernah datang. Setiap aku datang ke rumah haji Umar pun aku tidak pernah bertemu dengan mba Yati, haji Umar selalu beralasan mba Yati sedang bekerja dan ketika aku menanyakan dimana mba Yati kerja haji Umar tidak pernah memberi tahu dengan alasan dia lupa nama tempatnya.
"Kenapa si Yati tidak pernah datang kesini, apa kamu tidak memberi tahu kan dia Nuri?"tuduh bang Supri padaku ketika aku baru selesai memberikan obat untuknya. Pertanyaan ini merupakan untuk yang kesekian kalinya dia tanyakan padaku.
Dengan sabar aku menjawab,"Bang, jangan di kira aku tidak pernah memberi tahu istri serta mertuamu, aku sudah sangat sering datang ke sana tapi istrimu tidak pernah ada di rumah dan mertuamu aku tidak tau kenapa dia tidak pernah datang menjenguk mu."
"Yati tidak pernah ada di rumah? lantas kemana dia?"
"Kata mertuamu dia kerja tapi saat aku tanyakan kerja dimana biar aku datangi ke tempat kerjanya dia bilang lupa nama tempat kerja nya, aku merasa seperti ada yang di tutupi sama mertua mu bang."
"Kerja, kerja apa dia?"
Aku mengedik kan bahu sebagai isyarat bahwa aku pun tidak tau dia kerja apa."Istri yang baik tidak akan membiarkan suaminya sakit apa lagi meninggalkannya. Sudah bang, lebih baik kamu fokus dulu sama kesembuhan mu kalau sudah sembuh terserah kamu mau bagaimana sama istri mu yang tidak bertanggung jawab seperti si Suryati itu," kata ku dengan kesal. Setelah berbicara aku langsung bangkit hendak menaruh obat di tempat semula. Ingin rasanya aku memberitahu tentang aku bertemu dengan mba Yati sedang jalan dengan laki laki lain tapi mengingat kondisi bang Supri yang belum sembuh total maka ku tahan saja karena aku takut dia down lagi.
"Nuri.."bang Supri memanggilku. Aku menghentikan langkahku dan menoleh.
"Ada apa bang?"
"Aku..aku..mau ucap kan banyak terima kasih sama kamu Nur, kamu sudah mau menolongku dan merawat ku. Aku...aku juga minta maaf karena sedari kecil hingga sekarang aku tidak pernah baik sama kamu selalu jahatin kamu tapi kamu tidak pernah dendam dan benci sama aku justru kamu menolongku."
Kata maaf itu yang aku tunggu dan aku inginkan keluar dari mulut bang Supri, bang Supra maupun ibu. Dan hari ini bang Supri meminta maaf padaku setelah sekian lama aku menunggunya. Aku terima maaf nya mudah mudahan dia tulus meminta maaf bukan sekedar karena aku menolongnya saat ini tapi benar benar minta maaf atas kesalahan seorang kakak terhadap adiknya selama ini. Bang Supri sudah meminta maaf dan sekarang aku menunggu kata maaf keluar dari mulut bang Supra serta ibu.
Pagi ini aku berencana akan ke pasar untuk membeli pakaian ganti bang Supri karena dia hanya memiliki beberapa setel pakaian saja.
"Nuri.."panggil Bang Supri.
"Kenapa bang? sahut ku, sembari membenarkan gendongan Zain karena Zain akan ikut bersamaku.
"Zain tidak usah di bawa nanti kamu kerepotan di sana. Biar dia sama aku saja di rumah." Bang Supri menawarkan diri untuk menjaga Zain.
Aku diam merasa ragu untuk menitipkan Zain pada bang Supri terlebih dia sedang sakit.
"Kamu tidak usah khawatir Nuri aku tidak akan mencelakai Zain, dia kan keponakanku."
"Bukan begitu bang, kamu kan sedang sakit apa bisa menjaga Zain?"aku meluruskan kesalahpahaman bang Supri.
__ADS_1
"Aku memang sedang sakit Nuri, tapi aku sudah merasa sehat apalagi hanya menjaga Zain yang anteng aku pasti bisa."
"Kamu yakin bang?"
Bang Supri mengangguk.
"Ya sudah kalau gitu, aku juga tidak lama kok."
Kemudian aku menurunkan Zain dari gendongan ku." Zain sama Wawa Supri dulu ya nak? mama pergi sebentar." Zain mengangguk.
Aku melajukan motorku menuju pasar dan tiba di pasar aku langsung mencari toko pakaian laki laki. Ketika aku sedang memilih beberapa kaos untuk bang Supri di sebuah toko cukup besar aku melihat mba Yati sedang bergelayut manja di tangan seorang pria yang berbeda dengan pria yang pernah aku lihat sebelumnya. Jika dulu mba Yati dengan seorang pria tua, saat ini dia sedang bersama seorang pria yang terlihat masih muda dan sepertinya usianya jauh berada di bawah mba Yati.
Aku memperhatikan gerak gerik mereka sembari bersembunyi di balik baju baju yang menggantung. Aku pikir ini kesempatan aku untuk memvideokan atau memfoto mereka sebagai bukti untuk menunjukan pada bang Supri jika istrinya berselingkuh dengan banyak pria. Namun sialnya ketika aku merogoh tas untuk mengambil ponsel ternyata ponselnya tidak ada sepertinya tertinggal di rumah.
Aku semakin mendekatkan diri pada dua orang yang sedang membelakangi dan memilih baju laki laki, sepertinya laki laki itu yang akan membeli baju bukan mba Yati.
Selain menajamkan penglihatan aku juga menajamkan pendengaran ku. Sambil bersembunyi di balik baju baju yang tergantung dengan jelas aku mendengar percakapan mereka.
"Kamu pilih saja baju baju yang kamu suka sayang!" kata mba Yati.
"Wah serius nih sayang aku boleh mengambil banyak baju?" kata si pria.
"Hah, nanti malam servis nya harus bikin klepek klepek," gumam ku dengan pelan mengulang ucapan mba Yati. Aku berpikir keras mencerna kalimat yang di ucapkan olehnya dan tiba tiba pupil mataku membesar dan mulutku menganga setelah mengerti apa maksudnya. Ternyata benar dugaan ku mba Yati menyelingkuhi bang Supri selama ini.
Aku sudah tidak dapat menahan emosiku lagi dan ketika mereka sudah selesai memilih baju dan hendak ke kasir, aku memunculkan diriku di hadapan mereka. Mba Yati terlihat terkejut melihatku lalu segera melepaskan tangannya dari lengan si pria yang ku kira wajahnya tampan bak Arjuna tenyata berantakan. Jika di bandingkan dengan bang Supri masih lebih baik bang Supri meskipun hitam tapi ada manis manis nya. Aku heran sama selera mba Yati kalau tidak aki aki ya berondong model kayak gini.
Mba Yati terlihat salah tingkah sementara si pria menatapku tanpa mengedipkan matanya dan entah dalam keadaan sadar atau tidak dia bergumam,"Gila cantik banget njirr." Sontak saja ucapan nya mendapat pelototan mata besar mba Yati. Aku tersenyum miring melihat dua orang yang berbeda ekspresi itu.
"Begini to kelakuan di belakang suaminya, suaminya lagi sakit dan sedang berjuang untuk sembuh istrinya malah e na e na sama banyak pria. Heran aku sama selera kamu mba, kalau tidak sama aki aki ya sama berondong modelan gini."
Mba Yati terlihat kesal sekali dan si pria mengatupkan mulutnya yang sempat menganga memandangku.
"Jangan ngomong sembarangan kamu Nuri," katanya, dengan tatapan nyalang nya.
Aku berdecak mengejek." Apa mba pikir aku tidak tau kelakuanmu di belakang bang Supri? Sok sokan belanjain berondong nya padahal duitnya hasil minta minta dengan cara berbohong pula."
__ADS_1
"Kamu..."sentak nya dengan mata melotot. Dia terlihat semakin marah.
"Apa..."aku menantangnya.
"Kembalikan uang ku satu juta, aku tidak sudi ngasih ke kakak ipar tukang bohong dan tukang selingkuh kayak kamu."
Terlihat dadanya naik turun kemudian dia mengayunkan tangannya hendak menamparku namun sebelum itu terjadi aku lebih dulu menangkis dan memelintirnya lalu ku dorong hingga dia terdorong beberapa langkah namun tidak sampai terjatuh.
"Jangan sekali kali kamu menyentuhku kalau tidak aku patahkan tanganmu,"ancam ku dengan suara lantang. Sehingga mengundang beberapa pengunjung menonton perdebatan kami.
"Sebenarnya adek ini siapa nya mba Yati?" tanya selingkuhan mba Yati. Memanggil ku dengan sebutan adek pula, jijik sekali aku mendengarnya.
"Oh, anda mau tau siapa saya? perkenalkan saya adik ipar wanita murahan itu, Suaminya sedang sakit dan sekarang sedang berjuang untuk sembuh dia malah enak enakan bergonta ganti pasangan."
Pria itu terlihat terkejut kemudian mengalihkan pandanganya ke arah mba Yati "Wah, beneran kamu sering gonta ganti pasangan? kenapa kamu bohong katanya cuma aku pacar kamu ternyata banyak, gimana kalau aku kena penyakit kelamin gara gara kamu mba? mana aku pernah make kamu tiga kaki." Pria itu berujar dengan kesal terlihat dari muka berantakannya.
Aku berdecak mengejek." Kamu sering menuduh aku ja lang yang selingkuh sama berondong ternyata kamu sendiri sudah tidur berkali kali sama berondong, menjijik kan sekali."
Mba Yati geleng geleng kepala, dia menyangkalnya sembari tangannya bergerak gerak."Tidak tidak dia bohong."
"Aku berbohong? apa perlu aku upload ke sosmed beberapa video mu yang sedang e na e na di kamar hotel?"Aku mengancam nya dengan berbohong padahal sebenarnya aku tidak memilikinya, meskipun aku berbohong aku yakin dia pernah tidur dengan laki laki lain di hotel selain dengan pria ini.
Ancaman ku membuat mba Yati tercengang dan gugup, dari gestur tubuhnya saja aku bisa menebak kalau apa yang aku katakan adalah benar.
Bisik berbisik pun terdengar ricuh di toko itu yang rata rata ikut mencaci maki mba Yati. Ledekan serta hinaan pun keluar dari mulut beberapa wanita untuk mba Yati. Mba Yati semakin tersudut dan aku puas melihatnya. Biarkan saja dia menerima sanksi sosial karena apa yang dia lakukan adalah salah besar. Suaminya sangat mencintainya dengan tulus, apa pun yang di minta selalu di turuti. Tapi sekarang dengan teganya dia bersenang senang di atas penderitaan suaminya yang lagi sakit.
Dengan dada yang naik turun serta tatapan nyalang ke arahku dia mengancam."Awas kamu brengsek, akan aku balas perbuatan mu."
"Silahkan, aku tunggu balasan mu."Aku menantangnya.
Kemudian dia menghentak kan kakinya hendak beranjak pergi namun ketika dia melewati ku, aku mencengkram tangannya lalu ku rampas tas nya.
"Heh, brengsek kamu Nuri, mau apa kamu mengambil tas ku?"katanya dengan marah, sambil melompat lompat berusaha mengambil tas yang aku acungkan ke atas. Karena ukuran tubuhnya pendek maka tas itu pun tidak dapat di raihnya.
"Aku hanya mau mengambil uangku sebanyak satu juta yang kau ambil dengan cara membohongiku karena aku tidak ridho memberikan nya pada kakak ipar yang tidak tau diri kayak kamu." Setelah berbicara aku menjauhkan sedikit tubuhku darinya kemudian segera mengambil dompetnya yang terlihat tebal, aku sempat berpikir dari mana dia punya banyak uang namun pikiran itu segera ku buang karena aku hanya ingin mengambil uangku.
__ADS_1
Setelah ku dapatkan uang itu, aku melempar tas itu kembali mengenai dadanya dan dia langsung mendekapnya.
Mba Yati menghentak kan kakinya dan dengan perasaan marah serta malu dia pergi meninggalkan toko dan di ekori oleh berondong nya.