Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Raihan merawat Nuri


__ADS_3

Setelah menggantikan selimut Raihan pergi keluar kamar sambil membawa selimut yang kotor. Jujur aku merasa tidak enak hati padanya dan seharusnya aku tidak ikut dengan Raihan ke rumahnya tadi jadi aku tidak membebaninya seperti ini. Tak lama kemudian Raihan kembali lagi ke dalam kamar sambil menggendong Zain.


"Mama..!" Zain menyapaku sambil tersenyum. Raihan meletak kan Zain di atas kasur tepat di sampingku. Aku hendak duduk namun tubuhku rasanya lemas sekali sehingga aku kesulitan untuk mendudukkan pinggulku.


"Mba tiduran saja," titah Raihan.


"Makasih banyak ya Rai, makasih sudah merawat ku serta mengasuh Zain!"


"Tidak perlu berterima kasih mba, saya ikhlas melakukannya. Kita ke rumah sakit saja ya mba?"


"Tidak perlu Rai, aku hanya butuh istirahat saja. Mudah mudahan segera pulih."


"Mba yakin tidak ingin ke dokter? aku khawatir sama mba."


Aku mengangguk lalu tersenyum pada pria muda yang sudah tulus merawat ku dan Zain. Raihan menghela nafas berat. Sepertinya dia ingin sekali aku berobat ke dokter namun aku tidak mau karena selain tidak memiliki uang aku tidak ingin membebani Raihan membiayai pengobatan ku.


Zain merebahkan tubuh mungilnya di sampingku lalu memeluk ku. Zain seperti yang mengerti kondisiku. Dia tidak pernah merengek manja padaku. Aku menciumi pipinya dan membuatnya kegelian.


"Maaf ya sayang hari ini mama tidak bisa menemani Zain main?"


Zain mengangguk lalu memeluk ku kembali.


"Zain mainnya sama uncle Raihan saja ya? yuk, kita main di luar biar mama bisa istirahat." Raihan merentangkan kedua tangannya dan Zain berdiri lalu menghambur ke pelukan Raihan.


"Mba, kami di luar ya? Mba istirahat saja."


Aku mengangguk lemas.


Sepanjang hari aku hanya menghabiskan waktu ku berbaring di atas ranjang tidur. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain berbaring karena tubuhku benar benar lemas. Jika ingin ke kamar mandi pun harus di bantu oleh Raihan. Raihan seperti seorang suami siaga merawat ku serta mengasuh anak ku sepanjang hari tanpa mengeluh. Terlihat tulus sekali dia pada kami. Aku tidak tau jika tidak ada Raihan di saat aku tak berdaya seperti ini siapa yang akan merawat ku serta mengasuh Zain? Seperti yang sudah sudah jika aku sakit aku harus mengobati diriku sendiri, merawat diriku sendiri dan mencari ini itu sendiri tanpa ada yang mau membantuku baik ibuku maupun suamiku.


Pintu kamar terbuka dan nampak sebuah senyuman manis muncul dari balik pintu. Raihan masuk ke kamar sambil menggendong Zain serta membawa satu mangkok entah apa isinya. Kemudian dia meletak kan Zain di atas ranjang tepat di sampingku.


"Mba makan dulu ya? aku buatkan bubur untuk mba!"


Aku tersenyum mendengar pengakuan Raihan bahwa dirinya telah membuatkan bubur untuk ku. Perhatian sekali dia sampai repot repot membuatkan ku bubur padahal aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya tapi kenapa dia selalu baik dan peduli padaku.


Raihan meniup bubur yang masih mengepul di dalam mangkok berharap agar buburnya cepat hangat. Cukup lama dia melakukan itu hingga bubur mulai menghangat. Sedikit demi sedikit dia menyuapiku hingga tak terasa sudah enam suapan masuk ke dalam perutku. Sebenarnya mulutku terasa pahit sekali dan makan apapun tidak enak rasanya. Tetapi berhubung Raihan telah bersusah payah membuatkan bubur untuk ku, aku harus menghargainya dan memakannya agar Raihan merasa senang.


Ketika Raihan menyuapiku yang ke tujuh kalinya, aku muntah kembali dan mengenai selimut yang baru di ganti olehnya. Dengan sabar dia membersihkan bekas muntahan ku tanpa ada rasa jijik.


"Rai....maafkan aku!" ucapku dengan cemas karena lagi lagi aku muntah.


"Tidak apa apa mba!" jawab Raihan lalu tersenyum hangat seolah olah menenangkan ku.

__ADS_1


Raihan keluar kamar sambil membawa selimut yang kotor. Tak lama kemudian dia kembali dan memberiku selimut yang baru.


"Mba istirahat ya, aku mau memandikan Zain dulu."


Aku mengangguk lalu Raihan membawa Zain ke kamar mandi untuk di mandikan. Selang beberapa menit Raihan kembali sambil menggendong Zain yang sudah dimandikan. Raihan mendudukkan Zain di atas sofa lalu memakaikan baju baru yang entah kapan dia membelinya dan aku hanya memperhatikan saja.


"Apa mba mau mandi?" tanya Raihan setelah selesai memakaikan baju Zain.


"Bagaimana caranya aku mandi Rai?"


Raihan terdiam seperti ikut memikirkan bagaimana caranya aku bisa mandi namun kemudian dia berkata," Ya sudah mba tidak usah mandi saja ya sore ini?"


Aku mengangguk lemas.


"Zain, uncle mau mandi dulu ya? Zain jagain mama dulu selama uncle mandi okey?" Raihan bicara pada Zain namun ekor matanya melirik ke arahku yang sedang memperhatikannya.


"Oke uncle..!"


"Anak pintar!" ucap Raihan lalu menjewel hidung mancung Zain.


Raihan sedang mandi di kamar mandi sementara Zain sedang memainkan mobilan nya yang entah kapan Raihan membelinya. Ketika aku sedang memperhatikan Zain sambil berbaring Raihan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di bawah pinggang dan di atas lutut serta rambut yang basah. Aku sedikit terperangah melihat penampilan Raihan karena ini bukan lah hal yang pertama ku lihat namun sudah yang ke tiga kalinya. Raihan berjalan ke arah lemari pakaiannya dan tanpa ada rasa malu dia memakai kaos serta celana pendek di hadapanku. Raihan menoleh ke arahku lalu aku segera mengalihkan pandanganku aku tidak ingin ke pergok Raihan telah memperhatikannya namun ternyata Raihan sudah mengetahuinya terlebih dahulu lalu dia pun tersenyum jahil.


Pukul delapan malam Raihan membawa kasur bulu cukup tebal ke dalam kamarnya lalu meletakkan nya di bawah ranjang. Aku memperhatikannya saja sambil berbaring.


Ketika Raihan baru selesai menggelar kasur, Zain menghampiri Raihan sambil membawa mobilan di tangannya.


"Uncle mau bobo!" ucap Zain. Zain terlihat berkali kali menguap sepertinya dia sudah sangat mengantuk.


"Zain mau bobo? sini uncle keloni!" Raihan meraih tubuh mungil Zain lalu menidurkannya di atas kasur bulu di bawahku. Raihan menidurkannya sambil mengusap usap atas kepalanya. Aku hanya memperhatikan cara Raihan menidurkan Zain dengan lembut hingga Zain tertidur di pelukannya. Jika di perhatian Raihan cekatan sekali mengurus anak kecil padahal dia sendiri tidak memiliki adik bahkan bertemu dengan ke dua keponakannya saja sangat jarang. Raihan melirik ke arahku lalu tersenyum manis aku pun membalas senyumannya.


"Sudah tidur Rai?"


"Sudah mba, mba Nuri kenapa belum tidur? apa mau ku keloni seperti Zain?" goda Raihan dan aku hanya tersenyum lemah saja padanya karena aku tak memiliki tenaga untuk banyak bicara.


Pukul sepuluh malam aku belum saja bisa memejamkan mataku. Meskipun tubuhku benar benar lemah tak berdaya tapi mataku masih kuat untuk terbuka. Ku lihat Raihan sedang berkutat di meja belajarnya menatap pada sebuah layar laptop. Ku perhatikan layar laptopnya yang jaraknya tidak terlalu jauh hingga aku bisa melihatnya. Apa yang di kerjakan Raihan bukan lah sebuah tugas kampus melainkan sebuah pekerjaan.


Tak selang lama Raihan menutup layar laptopnya dan dia menguap. Aku memejamkan mataku pura pura tidur karena aku tidak ingin Raihan mengomel karena melihatku belum tidur. Raihan menghampiri ku lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih pucuk kepalaku lalu mengusapnya dengan lembut. setelah itu, wajahnya di dekatkan pada wajahku hingga aku bisa merasakan nafas hangatnya.


"Aku sayang banget sama kamu mba, sayang banget," ucapnya lalu mengecup keningku dengan lembut dan cukup lama.


Dalam keadaan terpejam, aku merasakan degup jantungku berpacu dengan cepat. Tapi aku berusaha menahan mataku agar tidak terbuka. Kemudian Raihan berdiri lalu duduk dibawah dan merebahkan tubuhnya di kasur bulu di bawah ranjang sambil memeluk Zain.


Aku baru bisa membuka mataku setelah Raihan tertidur. Ku pandangi wajah tampannya yang sedang dalam keadaan tidur. Tampan sekali dia meskipun dalam keadaan mata terpejam. Tak terasa aku menitik kan air mataku. Kenapa aku harus mendapatkan perlakuan lembut dari pria lain bukan dari suamiku sendiri? Andai saja mas Surya bersikap seperti Raihan tapi sayangnya sikap mas Surya sangat jauh berbeda dengan Raihan.

__ADS_1


Pukul satu malam. Aku merasa sekujur tubuhku menggigil. Aku mengeratkan selimutku tapi tetap saja masih terasa sangat dingin seperti berada di dalam freezer saja. Raihan terbangun, mungkin dia merasa terusik dengan racauanku.


"Kenapa mba?" tanya Raihan dengan wajah cemas.


"Dingin sekali Rai, aku tidak kuat," jawabku dengan bibir serta tubuh yang gemetar.


Raihan segera mematikan AC kamarnya. kemudian berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah selimut. Setelah itu, dia menyelimuti ku dengan dua lapisan.


"Bagaimana mba apa masih terasa dingin?"


"Sangat Rai, sangat dingin."


Raihan berjalan kembali ke arah lemari dan membukanya. Namun dia terlihat kecewa karena tidak lagi menemukan stok selimut di dalam lemarinya karena selimutnya semua kotor bekas ku muntahi.


Raihan berjalan ke sana kemari seperti setrikaan sambil berkacak pinggang. Sepertinya dia merasa panik serta bingung apa yang harus dia lakukan untuk menolongku yang menggigil.


"Aku tidak kuat lagi Rai, kalau aku mati aku titip Zain ya Rai?" racauku. Aku benar benar tidak kuat menahan rasa dingin di tubuhku.


Raihan tersentak mendengar racauan ku. Kemudian dia menghampiriku dan duduk di sampingku.


"Mba tidak boleh bicara seperti itu. Mba harus kuat. Mba tidak boleh meninggalkan aku tidak boleh."


"Tapi sampai kapan aku harus menahan rasa dingin ini Rai? aku sudah tidak kuat Rai."


Raihan terdiam sambil menatapku namun tak lama dia menyibak kan dua lapisan selimut di tubuhku lalu ikut masuk ke dalamnya.


"Maaf mba, maaf. Bukannya aku mau mencari kesempatan dalam kesempitan. Tapi aku tidak tau bagaimana caranya menolong mu mba."


Raihan memiringkan tubuhku ke samping hingga wajahku menyentuh dada bidangnya. Dalam keadaan tidur saling berhadapan Raihan memelukku dengan erat. Merekatkan tubuhku dengan tubuhnya hingga tidak menyisakan jarak barang se inci pun diantara tubuh kami. Aku tidak menolak apa yang sedang Raihan lakukan padaku. Aku tau dia hanya berniat menolongku dan untuk saat ini aku tidak memikirkan masalah dosa dan pengkhianatan karena aku hanya mencari kehangatan untuk melawan rasa dingin di tubuhku.


Aku tau Raihan kepanasan karena selain AC kamar di matikan kami berpelukan di bawah dua lapis selimut tebal. Aku tau karena aku merasakan keringat keluar dari lehernya hingga menetes di keningku.


"Rai, apa kamu kepanasan?" tanyaku dalam dekapan erat Raihan.


"Tidak apa apa mba, aku bisa menahannya yang penting mba tidak kedinginan lagi," jawab Raihan. Begitu baiknya dia padaku hingga mengorbankan tubuhnya yang kepanasan demi aku yang sedang kedinginan.


"Bagaimana mba? apa tubuhku ini bisa membantu menghangatkan mba?"


"Lumayan Rai!"


Raihan tersenyum lalu mengelus belakang kepalaku.


"Tidurlah mba, besok pagi kita ke dokter."

__ADS_1


Aku mengangguk kecil lalu aku pun berusaha memejamkan mataku karena tubuhku sendiri merasa sedikit hangat tidak lagi seperti tadi yang sangat dingin.


__ADS_2