Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Perubahan sikap Raihan


__ADS_3

Sudah satu minggu ibu pergi dari rumah gara gara di tagih hutang oleh rentenir dan dia kabur lewat jendela. Aku tidak tau dimana keberadaannya saat ini. Mau tak mau aku pun harus membayar kan hutang ibu sebanyak dua juta karena rentenir itu datang lagi ke rumahku dengan membawa dua preman berbadan penuh tato. Aku takut mereka mengobrak abrik rumahku jika aku tidak membayarnya dan dengan terpaksa aku memakai uang pemberian Raihan untuk membayar hutang ibu. Aku bersyukur sekali di tengah terhimpit masih ada rezeki melalui tangan Raihan.


Sudah satu minggu pula aku tidak pernah bertemu dengan Raihan. Mungkin dia sudah bisa menerima kenyataan dan sudah mulai melupakan aku. Biarlah, lebih baik seperti ini kami tidak pernah lagi saling bertemu meskipun sebenarnya aku merasa kehilangannya namun aku bisa apa untuk menentang keinginan Bu haji agar aku menjauhi anaknya.


Dan sudah satu minggu pula aku menjadi seorang pengangguran yang kerjanya hanya berbenah rumah dan mengasuh Zain meskipun sebenarnya aku membutuhkan pemasukan uang karena uang ku sudah mulai menipis. Aku tidak lagi berjualan gorengan keliling semenjak orang kampung menuduhku berselingkuh dengan Raihan.


Mestinya hari ini adalah tanggal mas Surya mengirim uang lima ratus ribu sebagai nafkahnya padaku karena hari ini tanggal muda dan mas Surya sudah gajian. Ku raih ponsel jadul ku yang tergeletak di dalam laci meja, ponsel yang sangat jarang sekali di gunakan. Aku melihat kotak pesan namun tidak ada pesan dari mas Surya dan tidak ada pemberitahuan dari m Banking.


Ternyata perkataannya benar kalau dia tidak akan memberi nafkah materi lagi padaku. Aku tersenyum kecut melihat layar ponselku. Jika memang tidak ingin memberikan nafkah materi lagi pada ku kenapa tidak sekalian saja dia menceraikan aku? Jangan mendzolimi ku seperti ini.


Ku tatap layar ponselku, rasanya lama sekali tidak membuka sosial media ku semenjak aku sudah menikah. Ada rasa rindu dan penasaran juga sama teman teman dunia maya ku.


Aku meraih Zain dan menggendongnya lalu keluar rumah hendak ke konter untuk membeli pulsa yang akan ku gunakan untuk internet. Kebetulan di kampung ku ada konter pulsa jadi aku tak perlu pergi jauh untuk mencarinya. Ketika aku sedang berjalan menyisi, aku melihat Raihan sedang berboncengan dengan Risa menggunakan motor sport nya. Terlihat Risa memegang pinggang Raihan dengan erat. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. kami berlawanan arah dan Raihan melihatku namun pandangannya segera dia alihkan lurus. Aku menelan saliva ku melihat perubahan sikap Raihan. Jangan kan menyapaku, melihat aku saja sepertinya dia enggan.


Apa Raihan benar benar sudah bisa melupakan ku dan sudah bisa membuka hatinya untuk wanita lain? mungkin lebih baik begitu meskipun sebenarnya rasanya berat sekali untuk menerima kenyataan. Jujur saja, aku mulai menyukainya dan aku tidak ingin kehilangannya. Namun aku mengingat peringatan Bu haji yang menyuruhku menjauhinya aku tidak bisa membantah. Selain itu, status ku juga memiliki suami meskipun suamiku selalu bersikap buruk padaku.


Setelah tiba di konter, tanpa ku sangka. Aku bertemu lagi dengan Raihan dan Risa yang sedang membeli pulsa juga. Raihan melirik ke arahku ketika aku baru saja tiba namun tak lama dia mengalihkan kembali pandangannya dengan wajah dingin.

__ADS_1


"Uncle lehan, uncle lehan," teriak Zain tiba tiba sambil tangannya terulur mengarah ke arah Raihan yang berdiri di sampingku dengan jarak dua meter. Raihan menoleh ke arah kami namun dia diam saja namun pandangannya menatap pada Zain yang sedang merengek padanya. Aku melihat sorot mata Raihan seperti ada kerinduan yang mendalam di sana.


Tiba tiba Risa bergelayut manja di tangan Raihan dan menatap sinis ke arahku seolah olah ingin menunjukan bahwa Raihan adalah miliknya.


"Kak, nanti habis dari sini antar aku ke toko buku ya? pinta Risa dengan manja dan tangannya masih bergelayut di lengan Raihan.


Raihan terlihat risih dengan tingkah Risa. Sehingga dia berucap dengan nada menolak," tanganmu jangan seperti ini Ris, tidak enak di lihat orang."


Raihan berbicara pada Risa sambil tangannya menyingkirkan tangan Risa dari lengannya dengan pelan namun pandangan dan tatapan mata nya tak lepas dariku. Risa memajukan bibirnya, sepertinya dia kesal atas perlakuan Raihan padanya. Aku menundukkan wajah ku, rasanya nyeri sekali melihat sosok yang kita sukai di sentuh oleh orang lain. Begini kah yang Raihan rasakan jika membayangkan aku di sentuh oleh mas Surya? Aku ingat betul ketika Raihan menindih ku dan berkata," bagaimana rasanya ketika wanita yang aku cintai tubuh nya penuh dengan kissmark? apa Raihan mengetahui penyebab aku sakit? dan apa Raihan melihat tubuhku yang penuh dengan kissmark karena ulah mas Surya? aku bertanya dalam benak ku.


Jika Risa berani berbuat seperti itu, berarti Raihan dan Risa sudah menjadi pasangan kekasih. Ada rasa tidak suka melihatnya dan jujur aku cemburu namun aku segera menepisnya. Aku tidak boleh memiliki perasaan seperti itu. Biar kan Raihan bahagia karena selama ini tanpa di sadari aku sudah menyakiti perasaanya dengan menikah dengan mas Surya.


Sambil berjalan dan Zain masih terisak aku menitik kan air mata. Aku sedih melihat keadaan. Aku sedih melihat anak ku yang sudah kehilangan kasih sayang dari sosok Raihan. Dan aku juga cemburu melihat raihan sudah memiliki kekasih. Aku merasa benar benar akan kehilangan tempat bersandar ku, tempat mencurahkan keluh kesah hidup ku.


Tiba di rumah aku menurunkan Zain yang sudah tidak menangis lagi dari gendonganku di ruang tamu. Zain mencari mainannya sementara aku masuk ke dalam kamar lalu merubuhkan tubuh ku di daun pintu. Sambil mendekap kedua lutut ku, aku menangis menumpahkan isi hatiku. Cukup lama aku menangis hingga tertidur di atas lantai dan ketika terbangun ku dapati Zain sedang tertidur di karpet depan TV. Aku tersenyum melihat Zain yang tidur sendiri tanpa diriku. Pengertian sekali dia.


Siang berganti malam, Zain sudah tidur pulas Sementara aku masih memainkan ponselku yang jarang sekali ku gunakan. Aku mulai berselancar di sosial media miliki ku yang sudah tiga tahun ini aku abaikan. Beruntungnya, aku masih ingat dengan email serta sandinya.

__ADS_1


Aku menelusuri sosial mediaku yang bernama facebook. Ku lihat banyak sekali akun akun yang meminta pertemanan denganku termasuk akun mantan istri suamiku, Ipah Saripah. Entah apa alasannya meminta pertemanan denganku. Apa dia penasaran dengan wajah istri kedua mas Surya yang selama ini belum pernah menampakan batang hidungku dihadapan nya? atau sekedar mau pamer pamer saja padaku. Aku menerima pertemanannya, sengaja hanya ingin tau apa tujuannya.


Setelah itu, Ku buka inbox dan terlihat puluhan deretan pesan dari orang orang yang di kenal maupun dari orang yang tidak ku kenali. karena saking banyaknya pesan membuatku malas untuk membuka pesan pesan itu. Namun ketika aku hendak menutup pesan, mata ku tertuju pada sebuah nama yang sangat terlihat familiar. Karena penasaran lalu aku membuka pesan darinya.


"Apa kabar Nuri? apa kamu masih ingat denganku? kamu dimana sekarang? apa kamu sudah menikah?"


Aku cek tanggal pesan dari Andre arivu, teman SD ku dulu. Ternyata dia mengirim pesan sudah satu tahun yang lalu dan nampak Facebook nya sudah tidak aktif lagi. Dengan iseng aku membalasnya, karena tidak pasti juga pesanku akan di balasnya kembali jika melihat sosial medianya yang sudah tidak aktif lagi.


"Alhamdulilah kabar ku baik Dre dan bagaimana dengan diri mu serta istrimu? oya, aku masih stay di Indonesia kok."


Kemudian aku mengintip profil Facebook nya karena aku merasa penasaran tumben sekali Andre mengirimiku pesan. Tidak ada status yang dia dikirim di berandanya. Status status yang yang ada pun adalah status status tahun lalu. Jadi artinya dia sudah tidak aktif di Facebook sejak satu tahun yang lalu.


Tidak hanya Status yang ku perhatikan. Aku tidak menemukan foto foto istrinya di profil Andre. Begitu pula dengan foto foto pernikahan nya ikut raib. Dulu sebelum aku menikah dan belum mengenal Raihan aku pernah stalking facebooknya ketika aku baru tau nama facebook Andre dari salah seorang teman. Aku merasa kecewa sekali karena orang yang selama ini aku cari, orang yang pernah mengajak ku menikah setelah dewasa nanti pada saat kami masih SD ternyata sudah menikah dengan wanita lain. Dari situ aku sadar omongan anak kecil jangan di percaya. Setelah itu, aku tidak lagi membuka Facebook. karena aku merasa harapanku sudah pupus.


Setelah harapanku pupus pada andre, aku menerima pinangan mas Surya yang baru dua minggu ku kenal. Itu pun karena desakan ibu serta kakak pertama ku untuk segera menikah dengan mas surya. Entah apa alasan mereka yang tiba tiba menyuruhku segera menikah. Dan akhirnya aku mengalami pernikahan yang tak memiliki arah serta masa depan.


Sebelum aku mengakhiri bermain sosial media, aku meng-upload beberapa foto Zain yang lucu dan menggemaskan dan ku beri caption," you are everything...my son!"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, foto foto Zain yang ku upload mendapat like banyak serta komentar positif dari puluhan teman di dunia maya ku. banyak di antara mereka yang memuji ketampanan anak ku. Zain memang tampan dan mirip sekali dengan ku. Aku heran, biasanya anak laki laki itu lebih cenderung mirip dengan papanya namun Zain sama sekali tidak ada kemiripan dengan mas Surya.


__ADS_2