
Keesokan hari.
Raihan belum kembali ke Jakarta melainkan masih di rumah sakit bersama ku, padahal sudah berkali kali aku katakan padanya agar dia fokus saja pada pekerjaan nya namun dia kekeh ingin tetap menemaniku di rumah sakit.
Ketika kami baru saja selesai sarapan bubur yang telah di beli oleh Raihan, seorang perawat memintaku untuk menemui seorang dokter di ruangannya.
"Mba, aku ikut ya?" Raihan menawarkan diri untuk ikut bersamaku menemui seorang dokter.
Aku mengangguk. Kemudian aku menitipkan Zain serta bang Supri pada suster yang telah memberitahu ku selama kami menemui dokter dan suster itu menyanggupinya. Setelah itu, kami berjalan beriringan menuju ruang dokter.
Setelah bertatap muka dengan seorang dokter laki laki, dokter itu memberitahu penyakit yang sedang di derita oleh bang Supri. Aku membesarkan pupil mataku dan menutup mulutku yang menganga mendengar dokter mengatakan bahwa bang Supri mengidap penyakit tumor otak stadium awal dan harus segera melakukan operasi.
"Beruntung sekali penyakit pasien terdeteksi sekarang. Sebab, jika sudah memasuki stadium akhir kemungkinan untuk sembuh sangat kecil."Sang dokter menjelaskan penyakit bang Supri.
"Jadi besar kemungkinan kakak saya akan sembuh kan dok?"tanya ku dengan harap harap cemas.
"Jika melihat kasus penyakit tumor otak stadium awal yang sudah di tangani banyak berhasil dan sembuh. Namun untuk penyembuhannya sendiri tidak cukup hanya dengan operasi melainkan harus melakukan serangkaian pengobatan salah satunya yaitu kemoterapi karena bisa dikatakan tumor otak yang di derita oleh kakak mba sama halnya dengan tumor ganas atau kanker stadium awal.
"Kemoterapi!"ucap ku.
"Iya mba, pasien harus melakukan kemoterapi agar sel sel kanker tidak menyebar dan mati."
Aku terdiam, lagi lagi aku memikirkan masalah biaya operasi yang pastinya akan memakan biaya puluhan juta dan mungkin ratusan juta, selain itu, bang Supri juga harus melakukan kemoterapi, aku berpikir apa aku akan sanggup membiayai pengobatan bang Supri? sementara penghasilanku pun tidak akan mencukupi.
Di tengah lamunan ku, Raihan menggenggam erat tangan ku seolah olah menguatkan dan mensuport ku.
"Kami setuju dok, lakukan saja yang terbaik untuk kesembuhan kakak kami," kata Raihan.
Aku tercengang mendengar keputusan yang Raihan katakan, Aku baru menyadari disaat aku sedang melamun tadi mungkin dokter itu meminta persetujuan dariku dan aku tidak menyadarinya karena sibuk dengan pikiranku sendiri.
Dua puluh menit berlalu kami selesai berbicara hingga kami mohon pamit untuk kembali ke kamar bang Supri.
Selama berjalan menuju kamar rawat bang Supri, Raihan tidak melepaskan genggaman tangannya dan aku pun membiarkannya saja karena pikiranku sendiri sedang kalut memikirkan biaya pengobatan bang Supri.
Tiba di depan pintu ruangan aku menghentikan langkahku dan terdiam. Disaat itu pula Raihan menenangkan kecemasanku."Mba tidak usah memikirkan masalah biaya, aku yang akan membiayai pengobatan bang Supri hingga dia sembuh."
Aku tercengang, ku tatap dalam sorot mata beningnya, aku menemukan ketulusan di sana, Raihan tulus membantuku.
__ADS_1
"Aku..aku terlalu banyak merepotkan mu Rai, aku sangat berhutang budi sama kamu, dan aku juga tidak tau bagaimana cara membalasnya."
"Mba tidak perlu balas Budi karena aku tidak membutuh kan nya. Aku hanya ingin satu saja dari mba."
"Apa....apa Rai?"
"Cintai aku mba, cintai aku setulus hati mba."
Aku menelan saliva ku, sesederhana itu keinginan Raihan, dia tidak menginginkan yang macam macam dia hanya butuh cinta yang tulus dariku. Jika membicarakan masalah cinta, sepertinya tanpa ku sadari aku sudah mencintainya sejak dulu. Buktinya, semenjak kehadiran Raihan di hidupku aku bisa menghapus perasaan cintaku pada Andre yang sudah bertahun tahun lamanya tertanam di hatiku. Aku merasa nyaman dekat dengannya bahkan ketika aku menikah dengan mas Surya dan ketika pertama kali mas surya mengambil mahkota ku aku menyebut nama Raihan meskipun aku tidak menyadarinya namun aku yakin apa yang di katakan mas surya adalah benar bahwa aku menyebut namanya.
Kami memasuki kamar rawat bang Supri, nampak Zain sedang bersama suster. Aku melirik ke arah bang Supri dia menyenderkan tubuhnya sedikit tinggi. Pandangannya mengarah padaku dan Raihan.
"Nuri.."panggil bang Supri dengan suara lemahnya.
"Sebenarnya aku sakit apa? kenapa kepalaku selalu sakit?"Bang Supri menanyakan tentang penyakitnya.
Aku dan Raihan saling pandang, kemudian berjalan mendekati ranjang pasien.
Aku terdiam, Raihan menghela nafas dalam. "Abang mengidap tumor otak dan harus segera di operasi,"ucap Raihan, dia memberitahu.
Bang Supri tidak terlihat terkejut melainkan menatap kami dengan tatapan kosong entah apa yang dia pikirkan. Saat itu pula tiba tiba dia mengerang sambil memegang kepalanya mungkin rasa sakit nya kambuh lagi.
"Pasien harus siap siap karena akan segera melakukan tindakan operasi sebentar lagi mba, mas."kata salah satu suster itu.
Aku dan Raihan mengangguk.
Pukul dua siang bang Supri sudah di bawa ke ruang operasi dan dengan perasaan cemas aku dan Raihan menunggu nya di depan ruang operasi. Aku bolak balik dengan pikiran cemas, aku takut sekali jika operasinya mengalami kegagalan.
"Jangan cemas mba, berdoa saja." Raihan menenangkan dan mengingatkan.
Raihan benar, aku harus tenang dan berdoa bukan mondar mandir yang dapat membuat Raihan pusing melihatku. Kemudian aku pun duduk di sampingnya. Raihan meraih tanganku dan menggenggam erat.
Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya dokter keluar dari ruang operasi, aku segera menghampirinya dan bertanya. Dokter itu memberitahu bahwa operasinya berjalan dengan lancar dan aku bernafas lega lalu mengucapkan syukur.
Bang Supri dibawa kembali ke ruang rawat setelah operasinya selesai namun dia belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
"Sepertinya istri nya harus di beri tahu mba,"Raihan memberi saran sembari melihat ke arah bang Supri yang sedang terpejam.
__ADS_1
"Istrinya sulit di hubungi Rai. Aku sudah menelpon berkali kali dan sudah kirim pesan juga namun tidak ada balasan."
"Apa tidak kita susul saja ke rumahnya mba?"
"Apa tidak akan sia sia Rai, aku takut dia menolak."
"Menolak bagaimana mba, dia itu istrinya yang lebih berkewajiban menemani suaminya di sini. Aku kasihan sama kamu dan Zain sudah dua hari menemani orang sakit."
Aku menghela nafas panjang. Aku juga berpikir sama dengan Raihan, kasihan Zain masih balita harus menunggu orang sakit. Selain itu sebenarnya tidak baik membawa balita ke rumah sakit karena rumah sakit cenderung banyak virus.
"Ya sudah Rai, nanti kita susul istrinya tapi tunggu bang Supri siuman dulu." Aku menyetujui saran raihan.
Kami memutuskan untuk menemui mba Yati ke rumahnya setelah bang Supri siuman dan aku menitipkannya pada seorang suster.
Setelah tiba di rumah orang tua mba Yati Raihan memarkirkan mobilnya di depan rumah bercat biru itu. Pintu rumahnya terlihat tertutup tapi toko kelontongnya terbuka dan aku yakin bapak nya ada di sana.
Baru saja aku dan Raihan keluar dari mobil terlihat haji Umar sudah memperhatikan kami di depan tokonya yang terlihat sepi. Kami berjalan ke arahnya dan setelah berada di depannya aku mengucapkan salam dan menyapanya. Pandangannya mengarah pada Raihan, dia menelisik penampilan Raihan dari ujung kuku sampai ujung rambut.
"Kalau kamu siapa nya Nuri?" tanya haji Umar dengan nada tidak suka.
"Saya....calon suami Nuri pak," jawab Raihan dengan santai. Pak Umar terlihat terkejut dan terlihat raut mukanya berubah kesal. Aku tidak mengerti kenapa dia tiba tiba tidak menyukai Raihan padahal Raihan tidak membuat kesalahan apa apa padanya.
"Saya kesini mau bertemu dengan mba Yati pak haji. Apa mba yati nya ada di rumah?" Aku bertanya langsung pada intinya saja karena aku sendiri tidak suka berbasa basi.
"Memang ada perlu apa mau bertemu dengan si Yati dek Nuri?"tanya haji Umar. Aku sedikit terkejut dengan sebutan panggilan yang tak biasa ku dengar darinya.
"Saya mau ngasih tau kalau mas supri sedang di rawat di rumah sakit dan baru saja menjalani operasi tumor otak. Dan saya harap mba Yati selaku istrinya datang dan merawat bang Supri di rumah sakit."
Pak Umar terlihat terkejut namun tak lama sikap nya biasa kembali."Saya tidak tau kemana si Yati perginya soalnya dari kemarin dia tidak pulang. Anaknya saja tidak ke urus bapak mama nya tidak ada,"kata haji Umar. Aku dan Raihan saling pandang kemudian meluruskan kembali pandangan kami.
"Terus dimana sekarang anaknya?"Aku bertanya karena dari pertama aku datang ke rumah ini tidak pernah melihat anaknya bang Supri. Bahkan bang Supri saja ketika di tanyain kemana anaknya dia hanya menggeleng.
"Tadi lagi main sama anak tetangga tapi tidak tau main kemana."
Kasihan sekali anaknya bang Supri, bapaknya lagi sakit, mamanya pergi entah kemana, sementara kakeknya pun sama kurang memperhatikan cucunya. Aku berpikir aku tidak akan menjadi orang tua seperti bang Supri dan mba Yati yang tidak memiliki rasa peduli pada anak, karena aku sendiri merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang dari orang tua dan aku berjanji pada diriku sendiri apa yang pernah aku alami tidak akan pernah terjadi pada anak anak ku kelak.
Setelah berbincang dengan haji Umar, kami memutuskan untuk kembali ke rumah sakit saja. Aku kecewa sekali atas ketidakberadaan mba Yati dirumahnya. Dalam hati aku bertanya kemana mba Yati perginya sampai dua hari tidak pulang ke rumahnya bahkan orang tuanya saja tidak tau keberadaannya.
__ADS_1
Raihan melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit. Sia sia rasanya sudah jauh jauh datang orang yang dicari tidak ada di rumahnya.
Aku menyenderkan punggungku dan menyampingkan pandanganku ke arah kaca, bersamaan dengan itu aku melihat sosok orang yang sedang aku cari sedang berdiri di pinggir jalan dengan seorang laki laki tua di samping mobil.