Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Mengungkit Janji Pernikahan


__ADS_3

Andre menatap padaku dan bang Supri dengan tatapan yang tidak dapat aku artikan. Ada sedikit rasa malu karena aku telah membicarakan nya dibelakang.


"Pantas saja telingaku mendengung ternyata aku menjadi bahan gosip disini," kata Andre, kedua tangannya masih bertumpu di atas dada bidangnya.


Aku tersenyum nyengir kemudian menggaruk kepala ku yang tidak gatal. Sementara bang Supri tersenyum mesem saja melihat aku yang salah tingkah. Di tengah merasa malu aku mencoba bersikap tenang dan santai.


"Jangan Berlebihan Dre, kami tidak sedang bergosip tapi kami sedang membicarakan kenyataan nya,"ucap ku.


Andre tersenyum miring kemudian mendekat dan berdiri di samping ku yang sedang duduk di lantai lalu berdecak," Ck, apa bedanya macan?"


Sejenak aku mendongak tinggi melihat pada wajahnya kemudian menurunkan kembali pandanganku."Beda dong Dre, kalau bergosip itu membicarakan seseorang tanpa fakta melainkan hanya sebatas isu yang belum pasti kebenarannya lalu di bicarakan oleh beberapa orang tertentu hingga menyebar luas. Kalau kami tidak membicarakan sebuah isu melainkan membicarakan sebuah fakta tentang mu." Aku bicara dengan jujur karena memang demikian sikap Andre ketika sedang berkunjung ke rumahku.


"Ishh, calon istriku ini pandai sekali bicara," kata Andre, tangannya menguel gemas pucuk kepalaku namun aku segera menyingkirkan tangannya dari kepalaku.


Aku mendongak kembali."Kamu tidak sopan sekali Dre!" kata ku dengan sedikit ketus, karena perbuatannya membuat jilbabku sedikit melorot. Bang Supri hanya tersenyum saja melihat keakraban kami.


"Habisnya kamu menggemaskan sekali Nuri."


"Ya, tapi tidak harus merusak jilbab ku bukan?"sahut ku, sembari membenarkan letak jilbab yang ku pakai.


"Kalau kalian berdebat terus kapan kelar membuat kerupuknya?"tiba tiba bang Supri menengahi perdebatan kecil kami.


Aku melirik kesal ke arah Andre, dia melihat wajah kesal ku lalu ngeloyor pergi dari dapur." Kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian," katanya, sembari melangkah meninggalkan kami. Aku menghela nafas lega sebelum melanjutkan lagi pekerjaanku.


"Kenapa Andre menyebut kamu calon istrinya Nur? apa kamu mau menikah dengannya?" tanya bang Supri di sela sela kami bekerja.


Sejenak aku menghentikan pergerakan tanganku." Menurut Abang di antara Raihan dan Andre mana yang terbaik?"aku balik bertanya. Sekaligus meminta pendapat dari bang Supri atas kebingunganku.


"Kalau menurut Abang dua duanya baik sih tapi Abang lebih setuju kamu berjodoh dengan Raihan."


"Alasan nya?"


"Apa ya, Abang merasa Raihan itu tulus sekali sama kamu Nuri, meskipun usianya jauh lebih muda dari kamu tapi sikap nya jauh lebih dewasa dari....Andre kalau Abang lihat."


Aku menghela nafas berat.


"Kalau Abang boleh tau siapa di antara mereka yang kamu cintai Nuri?"


"Aku..aku bingung bang."


"Bingung?"


Aku mengangguk pelan." Tapi hati ku lebih cenderung ke Raihan."

__ADS_1


"Nah, ya sudah kamu pilih Raihan saja Nuri kalau kamu memang mencintainya."


"Tidak semudah itu bang, karena akan banyak hati yang tersakiti jika aku menikah dengan Raihan."


"Maksudmu?"


"Raihan....dia sudah punya kekasih bang."


Bang Supri terlihat terkejut."Kok bisa sudah punya kekasih mendekati kamu Nuri?"


Aku menghela nafas berat."Ceritanya panjang bang, kalau di ceritakan tidak akan cukup satu atau dua bab,"aku terkekeh kemudian melanjutkan kembali pekerjaanku.


"Ah, kamu itu nuri, padahal abang penasaran sama ceritanya."


"Lain kali saja aku ceritakan. Sekarang kita fokus saja sama kerjaan kita soalnya matahari sudah mulai meninggi.


Bang Supri mengangguk, kemudian kami mulai fokus membuat kerupuk hingga tak terasa empat jam berlalu akhirnya pembuatan kerupuk hari ini selesai.


"Alhamdulilah," ucap ku merasa lega, begitu pula dengan bang Supri terlihat senyum mengembang di bibirnya.


Setelah selesai menjemur tiga puluh lima penampi berisi kerupuk, kami bergegas masuk ke dalam rumah. Bang Supri berjalan ke arah kamar mandi mungkin dia mau mandi setelah berjibaku membuat kerupuk. Begitu pula denganku, tubuhku terasa lengket sekali di tambah cuaca panas. Aku berencana akan mandi juga namun sembari menunggu bang Supri selesai mandi aku menemui Andre terlebih dulu.


Terlihat Andre sedang sibuk dengan ponselnya. Kemudian dia menoleh ke arahku setelah menyadari keberadaan ku.


"Sudah," jawab ku singkat, Kemudian duduk di sofa berhadapan dengannya.


Setelah aku duduk Andre menutup hidungnya seolah olah aku ini bau." Kenapa kamu menutup hidung mu itu Dre?"


"Bau..."ucap nya.


"Bau,"ucap ku mengulang. Kemudian aku mengangkat sedikit lenganku lalu mengendus.


"Tidak bau kok," setelah mengendus. karena aku merasa tubuhku memang tidak bau hanya terasa lengket saja.


Andre tertawa terbahak bahak menertawakan tingkah konyol ku dan aku baru sadar jika dia hanya mengerjai ku saja. Aku menatap kesal ke arahnya sepertinya dia puas sekali telah mengerjai ku sampai tertawa seperti itu.


"Maaf Nuri aku hanya becanda saja," kata Andre setelah melihat wajah kesal ku.


"Meskipun kamu tidak mandi satu bulan aku rasa kamu tetap wangi Nuri," gombalnya kemudian.


Aku hanya mencebik kan bibirku saja dan tidak menanggapi gombalannya. Lagi pula mana ada orang tidak mandi satu bulan tetap wangi, ada ada saja dia. Kemudian aku bangun dan beranjak pergi hendak mandi karena ku pikir bang Supri sudah selesai mandi.


Setelah selesai mandi dan ketika aku hendak masuk ke kamarku, samar samar aku mendengar Andre sedang berbicara dengan seseorang di teras. Bukan suara bang Supri karena bang Supri sendiri sedang berada di dapur.

__ADS_1


Aku segera membenarkan penampilanku terlebih dahulu di kamar sebelum aku menemui dua orang yang sepertinya sedang berdebat.


Dari ruang tamu dalam keadaan pintu terbuka aku melihat Andre sedang berdiri membelakangi sambil berkacak pinggang menutupi tubuh seseorang di hadapannya. Karena tubuh andre yang besar menutupi hampir semua tubuh orang yang berada di hadapannya hingga aku tidak dapat melihat sosok orang itu dengan jelas.


"Siapa yang sedang bertamu Dre?tanyaku di ruang tamu sambil berjalan ke arah ambang pintu.


Andre menoleh ke belakang, sementara orang itu memiringkan kepalanya ke samping melihat ke arah ku. Aku tercengang melihat muka orang itu yang tak lain adalah mas Surya. Tubuh mas Surya terbilang kurus dan tinggi tubuhnya pun sama denganku jadi wajar saja jika tubuh Andre yang besar dan tinggi itu menutupi hampir semua bagian tubuhnya.


Aku mendekati mereka dan berdiri di samping Andre.


"Dia maksa mau masuk Nuri makannya aku halangi,"lapor Andre padaku.


Aku menatap kesal ke arah mas Surya, lagi lagi dia datang dan bersikap tidak sopan.


"Aku masih punya hak di rumah ini Nuri," kata mas Surya dengan percaya dirinya dia berkata demikian.


"Hak, hak apa kamu di rumah ini? apa kamu yang membangun rumah ini? apa ada barang barang berharga yang kamu beli dan tertinggal di sini?" kamu lupa ya sebelum kita nikah rumah ini sudah aku bangun dengan hasil jerih payahku sendiri,"ucap ku, aku mulai semakin kesal padanya.


"Tapi anak ku kan tinggal di rumah ini Nur, Jadi aku berhak untuk masuk ke rumah ini."


"Anak mu memang tinggal di rumah ini tapi bukan berarti kamu seenaknya saja memasuki rumahku. Ingat lho kita sudah menjadi orang lain dan kamu mestinya sopan kalau berkunjung ke rumah orang."


Mas Surya terlihat mendengus kemudian berkata kembali."Aku yang mantan mu saja tidak di bolehkan masuk, tapi pria ini yang bukan siapa siapa kamu dengan seenak nya keluar masuk rumah mu."


"Siapa bilang aku orang lain? apa kamu tidak tau kalau aku ini calon suaminya Nuri."Andre ikut berbicara setelah namanya dibawa bawa oleh mas Surya.


Mas Surya terlihat semakin kesal tangannya pun ikut mengepal. Dengan dada yang naik turun dia beranjak pergi dari rumah ku.


Aku bernafas lega setelah kepergian mas Surya." Jangan sembarangan bicara, siapa juga calon istrimu," kata ku dengan kesal.


Andre tertawa renyah."Aku serius Nuri dan siapa yang sedang bercanda, aku akan menikahi mu secepatnya setelah masa Iddah mu selesai. Tinggal menunggu satu bulan lagi bukan."


"Dre..."


"Tidak ada penolakan Nuri, aku tidak suka di tolak. Kamu tau kan kalau aku mencintaimu dari kecil? lantas apa yang kamu ragukan dariku?aku hanya ingin menikahi mu dan melindungi mu dari mantan brengsek mu itu Nuri, aku akan memberikan kebahagiaan untuk mu dan Zain." Andre tidak memberi aku kesempatan bicara. Aku bingung pada sikapnya, dia memaksa seperti itu tanpa bertanya terlebih dulu apakah aku mencintai nya atau tidak, apa aku bersedia menjadi istrinya atau tidak. Mungkin menurutnya mau tak mau, suka tidak suka aku harus menjadi istrinya titik.


Aku tidak menghiraukan perkataannya melainkan meninggalkan nya begitu saja namun Andre mengekor di belakangku.


"Nuri...."panggil Andre sembari meraih tanganku.


"Ada apa lagi sih Dre?" Aku mau masak lapar belum makan." Ku tarik tanganku dari genggaman Andre dan berjalan menuju dapur.


"Kita sudah terikat janji kan Nuri, kita akan menikah setelah dewasa. Dan aku akan memenuhi janji itu untuk menikahi mu,"teriak Andre.

__ADS_1


Aku menghentikan langkah ku. Aku bingung harus menjawabnya bagaimana. Kami memang sudah berjanji, tapi hatiku sudah berubah tak lagi seperti dulu yang mencintainya. Cinta ku sekarang untuk Raihan tapi aku ragu pada Raihan mengingat dia yang sudah memiliki kekasih.


__ADS_2