Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Di sangka Raihan ternyata Andre


__ADS_3

Setelah melapor pada pihak berwajib dan memberitahu dimana keberadaan para begal itu, kami langsung meluncur ke TKP. Tiba di sana mereka sudah sadar dan sedang menjadi tontonan orang orang. Aku sendiri tidak tau dari mana orang orang bisa tau keberadaan dua begal itu karena posisi mereka berada di semak-semak yang berjarak lima ratus meter dari jalan kerikil.


"Oala kamu to yang meringkuk dua begal ini Nur!" Ucap seorang wanita di antara kerumunan penonton dua begal itu.


Aku melirik ke arah sumber suara itu lalu menyipitkan mataku melihatnya dan ternyata orang itu adalah orang yang sangat aku kenal yaitu Bu Minah pemilik satu satunya warung bubur di kampung ku.


"Bu Minah, kok ibu ada di sini?"Sapa ku.


Dia melangkah mendekatiku."Iya Nur, setelah mendengar dua begal ini terikat di sini aku langsung kemari soalnya dua Minggu yang lalu anak ku kena begal pas lewat jalan sini tapi syukur nya anak ku tidak mati hanya luka luka saja."Ujar Bu Minah.


Aku cukup terkejut mendengar cerita Bu Minah bahwa anaknya salah satu korban begal ulah dua pria bajingan ini. Aku yang sudah lama tidak membeli bubur di warungnya tidak tahu menahu kabar tesebut.


"Ya ampun Bu, untung anak ibu tidak apa apa ya!"


"Iya Nur, makannya aku kemari ingin memastikan saja apa mereka benar benar tertangkap dan syukur syukur motor anak ku belum mereka jual."


"Mba Nuri!" Tiba tiba seorang polisi mendekati dan menyapaku sehingga mengalihkan perhatianku dari Bu Minah. Nampak pula dua polisi lainnya membawa dua begal itu ke mobil mereka.


"Iya pak."Aku menyahutinya.


"Saya ucapkan terima kasih banyak ya, mba Nuri sudah membantu kami menangkap dua orang begal yang sudah meresahkan masyarakat akhir akhir ini."


"Sama sama pak."


"Emm.."


"Kalau bisa motor motor yang mereka curi kembali kan pada korbannya pak, termasuk anak saya." Bu Minah tiba tiba menyela sehingga polisi itu mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ucapannya.


"Oh, kalau itu kami harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ya Bu."


"Iya pak, iya saya tunggu ya pak."


"Baik Bu, kalau begitu kami permisi dulu ya Bu, mba Nuri."


"Baik pak, silahkan."


Kemudian polisi itu pergi dari hadapan kami membawa dua begal itu untuk di tahan.


"Hebat kamu Nuri, selain jago bikin kerupuk ternyata kamu juga jago silat bisa melawan dua begal serem itu."Ucap Bu Minah setelah polisi itu menjauh dari kami.


Aku tertawa kecil mendengar pujian Bu Minah."Bu Minah bisa saja. Hanya kebetulan saja Bu." Aku tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya biarlah cukup aku saja yang tau.


Setelah berbincang cukup lebar aku mohon pamit padanya karena selain waktu sudah menjelang sore sepertinya orang orang di rumahku pun pasti sedang menunggu kepulangan ku termasuk Zain anak ku.

__ADS_1


Tiba di rumah, nampak Sumi sedang menjaga Zain di teras rumah sementara bang Supri tidak nampak keberadaanya. Baru saja aku turun dari motor Zain menghambur memeluk ku.


"Mama dali mana?" Tanya Zain sembari memeluk sebelah kaki ku dan aku segera mengangkat tubuhnya lalu menggendongnya.


Ku ciumi semua permukaan wajahnya tanpa sisa dan perbuatan ku membuatnya tertawa geli.


"Mama habis dari pasar belanja bahan kerupuk sayang. Maafin mama ya sudah ninggalin Zain terlalu lama."


Zain mengangguk lalu menempelkan sebelah pipinya ke pipiku.


"Nuri, kenapa pulang dari pasar penampilan mu berubah jadi acak acakan dan kotor gini Nur? kayak habis berantem saja."Tanya Sumi sambil memperhatikan penampilan ku. Aku yang baru sadar jika penampilanku kotor serta acak acakan pun ikut memperhatikan penampilanku sendiri melalui kaca jendela rumah.


"Iya Sum, aku memang habis berantem."Ucap ku sembari bercermin di jendela yang hanya memantulkan bayangan saja.


"Apa? kamu habis berantem, kenapa dan dengan siapa Nur biar Abang hajar dia." Bang Supri tiba tiba datang. Nampak di tangannya sedang memegang golok entah bekas apa golok itu. Membuat aku jadi teringat pada dua begal yang membawa cerulit tadi.


"Ishh bang, itu golok nya turunin dulu kenapa serem amat. Lagian kenapa sih bawa bawa golok segala.


"Haha, sorry Nur, aku habis nyabut singkong buat nanti malam teman ngopi." Kemudian dia memasuk kan golok itu ke dalam sangkarnya yang tergeletak begitu saja di pojokan teras.


"Kamu habis berantem gimana Nur?"Tanya Sumi yang nampak penasaran sekali untuk mendengar ceritaku.


"Tadi aku di hadang oleh dua orang bekal di jalan alternatif Sum."


"Apa?" Ucap Sumi dan bang Supri serempak.


"Ha ha ha." Bang Supri tiba tiba tertawa keras. Aku dan sumi saling pandang melihat respon bang Supri. Aku sedikit kesal padanya bukan nya iba tapi malah mentertawakan aku.


"Abang kok tertawa aku dapat musibah."


"Ha ha, maaf Nur, bukan maksud aku menertawakan kamu tapi aku membayangkan anu nya si begal yang tersengat lebah segede apa sekarang."


Nampak Sumi ikut tertawa namun di tutupinya oleh tangannya. Melihat mereka tertawa membayangkan itu aku pun jadi ikut tertawa terbahak bahak.


Keesokan harinya dan di pagi hari ketika aku baru saja selesai menjemur pakaian, tiba tiba tiga orang wanita yang sudah tidak lagi muda datang ke rumah ku.


Dari jarak tidak terlalu jauh aku memperhatikan ketiga orang wanita itu di sambut oleh Sumi yang datang lebih awal.


Tak lama kemudian."Nuri!" Panggil Sumi, pandanganya mengarah padaku lalu aku pun menghampiri mereka."Kenapa Sum?" Tanya ku setelah berdiri berhadapan dengan mereka.


"Kemarin kamu minta nambah orang kan nah Ini tiga ibu ini mau bekerja disini."Sumi menjelaskan tujuan kedatangan tiga wanita itu.


"Oh, kalau gitu kamu langsung bawa saja ke sana dan langsung ajari."

__ADS_1


"Siap Bu bos." Kemudian Sumi membawa tiga ibu ibu itu ke tempat produksi kerupuk. Aku menatap punggung mereka sembari tersenyum. Aku bersyukur sekali sekarang sudah memiliki sepuluh karyawan yang membantu usaha kerupuk ku.


Di sore hari ketika aku baru selesai memandikan Zain dan sedang duduk di teras, aku di kejutkan oleh kedatangan Bu haji ke rumah ku.


"Assalamualaikum Nuri." Sapa Bu haji setelah turun dari motornya. Aku tidak langsung menjawab salam nya melainkan bengong saja melihat kedatanganya. Bu haji yang sudah lama tidak berkunjung ke rumah ku begitu pula sebaliknya tiba tiba dia datang sore ini.


"Nuri.." Panggilan Bu haji menyadarkan aku dari lamunan.


"Ah ya Bu, maaf maaf." Aku langsung menyalaminya dengan tak Jim.


"Bu haji apa kabar? lama kita tidak bertemu Bu."Sambung ku setelah salim dan mencium tangannya.


"Iya Nur, kita sudah lama tidak bertemu. Kabar saya baik nur, kamu sendiri bagaimana?"


"Alhamdulilah Bu, sehat juga."


Setelah saling sapa Bu haji memperhatikan bangunan yang ada di samping rumahku serta beberapa ibu ibu yang keluar masuk bangunan itu.


"Itu tempat apa Nur? dan mereka siapa?"tunjuk nya.


"Oh, itu tempat produksi kerupuk Bu dan ibu ibu itu yang membantu usaha saya." Aku menjelaskan padanya dan nampak Bu haji sedikit membesarkan matanya.


"Ya Allah Nur, tidak menyangka kamu sudah sesukses ini sekarang." puji nya sembari memegang pundak ku.


Aku tersenyum lebar mendengar pujiannya." Alhamdulilah bu, tapi kalau untuk di bilang sukses sepertinya belum sampai Bu, melainkan masih dalam tahap proses dan apa yang ibu ucapkan saya amin kan.Oya mari silahkan masuk dulu Bu."


Bu haji pun masuk ke dalam rumahku dan duduk di atas sofa setelah aku mempersilahkannya terlebih dahulu. Setelah itu, aku berjalan ke arah dapur untuk membuatkan minuman teh hangat untuknya.


"Zain sudah besar ya sekarang! makin ganteng saja. Tapi semakin besar kok semakin mirip sama uncle Raihan ya!"Ucap Bu haji. Zain yang sedang duduk manis di sampingku tersenyum padanya. Sementara aku hanya menelan saliva ku yang terasa pahit sekali. Membicarakan soal Raihan, aku tidak bisa menampik perasaanku jika aku sangat merindukannya. Tapi, nampaknya Raihan benar benar sudah tidak ingin lagi menemui ku.


Cukup lama kami mengobrol dan bertukar cerita. Aku yang lebih banyak menceritakan tentang usahaku sementara Bu haji menceritakan tentang kehidupannya dan masa lalunya.


"Emm, Nur, sebenarnya kedatangan saya kemari untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting sekali." Ucap Bu haji.


"Sesuatu! sesuatu apa Bu?"tanya ku sangat penasaran.


"Saya kemari sebenarnya memiliki niat untuk.....melamar kamu, Nur."


Seketika aku tercengang, dadaku berdebar kencang. Sekian lama tidak ada kabarnya sekarang Raihan melamar aku melalui ibunya tapi kenapa tidak langsung bersamanya? kenapa hanya ibunya saja yang datang."Kamu benar benar membuktikan ucapan mu Rai jika kamu akan melamar ku di saat aku sudah terbebas dari masa Iddah ku." Aku bermonolog.


"Maksud Bu haji melamar saya...."


"Iya Nuri, saya melamar kamu untuk.......Emm, keponakan saya Andre. Sekarang Andre masih berada di Amsterdam sedang mengurus bisnisnya di sana dan dia meminta saya untuk melamar kamu. Tapi, nanti akan diadakan acara lamaran resmi setelah dia pulang dari sana."

__ADS_1


Tiba tiba jantungku terasa berhenti berdetak setelah tau siapa orang yang meminang ku lewat bu haji. Aku pikir Raihan ternyata Andre. Kenapa bukan Raihan yang meminang ku, kenapa harus Andre. Raihan yang aku harapkan selama ini dan Raihan yang sering berkata akan menikahi ku setelah masa Iddah ku selesai tapi ternyata semua ucapannya itu hanya gombalan semata dan bohong.


"Ya Allah, apa jodohku sebenarnya adalah Andre bukan Raihan?"


__ADS_2