Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Setelah pembongkaran


__ADS_3

"Bodoh, bodoh, bodoh. Kenapa kalian begitu bodoh. Aku rasa kalian itu orang-orang pintar tapi kenapa kalian bisa di bodohi hingga tidak bisa membedakan mana bayi asli dan mana boneka." Dokter Bayu mengumpat marah. Aku tidak tau kemarahan nya di tunjukan pada siapa. Entah pada Oma atau ayahnya pak Bagas.


Oma terduduk di rumput dan menangis meraung." Ya tuhaaan! siapa, siapa orang yang sudah tega membohongiku selama puluhan tahun," teriak Oma di tengah tangisannya.


Aku menatap kasihan pada Oma yang menangis meraung. Aku juga bisa merasakan apa yang dia rasakan. Di bohongi puluhan tahun dan menganggap cucu nya telah meninggal selama ini.


"Saya yakin ini sebuah perencanaan seseorang yang sengaja ingin menyingkirkan keturunan atau istri dari pak Bagas." Pak polisi mulai menduga.


Pak polisi itu menoleh pada Oma." Apa saat ibu Hanum masih hidup dia memiliki seorang musuh Oma? teman atau rekan bisnis?"


Oma menggeleng. Anak ku orang baik baik. Mana mungkin punya musuh. lagi pula setelah anak ku memiliki anak dia tidak lagi berkecimpung di perusahaan melainkan suaminya.


"Apa menurut bapak, kematian mama saya juga merupakan sebuah perencanaan?"


"Saya belum bisa memastikan. Apa lagi ini kasusnya sudah sangat lama sekali rasanya sulit untuk mencari bukti. Tapi tim kami akan berusaha membantu semaksimal mungkin atas perkara ini."


"Terima kasih pak. Saya juga tidak akan tinggal diam pak. Saya akan tuntut rumah sakit dimana mama saya melahirkan."


"Jangan gegabah dokter Bayu. Kita tidak bisa menuntut rumah sakit itu begitu saja dengan hanya memberikan bukti berupa boneka ini. Harus ada bukti-bukti lain yang lebih kongkrit dan menguatkan jika hal ini ada hubungannya dengan pihak rumah sakit terkait. Saya setuju kata pak polisi tadi kalau hal ini semacam perencaan yang sengaja dilakukan oleh seseorang dan sengaja melakukan kebohongan atas kematian bayi ibu Hanum. Yang harus kita pikirkan di sini adalah orang tersebut bukan rumah sakit nya. Jadi yang harus kita selidiki lebih dulu adalah pelakunya. Jika pelaku itu terbukti ada kaitannya dengan rumah sakit baru kita tuntut rumah sakit itu." Raihan angkat bicara.


Sejenak dokter Bayu terdiam." Ya, kamu benar. Kita harus mencari siapa saja orang orang yang berkaitan."


"Mau kita apakan boneka ini pak?" Tanya pihak medis pada pak polisi.


"Tolong di bungkus bersama kain kafan nya. Saya akan membawanya sebagai barang bukti nanti."


"Baik pak."


Oma bangkit lalu menoleh padaku yang masih kaku di tempat dan di sertai air mata yang terus mengalir. Kemudian dia melangkah mendekatiku sembari terisak. Setelah mendekat, dia meraba wajahku dan mengusap airmata ku.


"Tanpa tes DNA pun Oma yakin kalau kamu adalah cucu Oma, cucu Oma, anak Hanum, anak satu satunya Oma. Maafkan kebodohan Oma ya nak! maafkan kebodohan dan kesalahan Oma. Gara-gara kebodohan Oma, cucu Oma hidup menderita di luar sana bertahun tahun lamanya."


Dalam tangis aku geleng-geleng kepala lalu memeluk erat tubuh tuanya.


"Hai, adik. Apa kamu tidak mau memeluk kakak mu ini?" Di tengah berpelukan dengan Oma, tiba tiba dokter Bayu sudah berdiri di sampingku dan merentangkan tangannya.


Aku terdiam dan menatap nya. Sebelum tau bagaimana hasil tes DNA nanti, jujur aku masih ragu. Aku ragu apakah dia benar-benar kakak ku? Kemudian aku melirik Raihan dan ternyata dia sedang memperhatikan kami lalu dia mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa dia memboleh kan aku berpelukan dengan dokter Bayu. Setelah itu, dengan mencoba menghilangkan rasa keraguan aku menghambur ke pelukan nya dan kami menangis bersama menumpahkan perasaan campur aduk yang ada di hati kami.

__ADS_1


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Rai? Aku tidak ingin membiarkan orang yang sudah memisahkan aku dengan adikku berkeliaran bebas," kata dokter Bayu ketika kami sudah berada di rumah Oma dan berkumpul.


"Kita mendatangi rumah sakit itu dan meminta data orang-orang yang menangani saat ibu Hanum melahirkan."


"Itu sudah lama sekali Rai, apa mungkin mereka masih menyimpan data tersebut?"


"Bukan nya ibu Hanum melahirkan di rumah sakit besar dan hingga sekarang masih berdiri kokoh dan tetap beroperasi? aku rasa mereka masih menyimpannya kecuali jika ada orang yang sengaja melenyapkan data itu."


"Yah, kau benar. Semoga data-data itu masih ada. Terus kapan kita akan ke sana?"


"Besok pagi saja Bayu. Hari sudah sore dan sebentar lagi menjelang malam. Biar kan Raihan dan adik mu istirahat dulu agar besok kalian tidak kelelahan." Tiba tiba Oma memberi saran.


Dokter Bayu dan Raihan pun mengangguk.


"Sukma, cicit ku mana?" Oma bertanya pada bibi Sukma yang baru saja datang sembari membawa nampan berisi empat cangkir teh dan cemilan.


"Tadi sama si Atun, Oma."


Tak selang lama nampak Art yang bernama Atun itu melintas membawa ranjang berisi pakaian.


"Lho itu si Atun," kata Oma.


"Den Zain mana? tadi kan saya titipin den Zain sama kamu sebelum saya ke dapur untuk membuat minuman."


Art itu nampak mengerutkan keningnya." Menitipkan den Zain sama saya? kapan mba Sukma? orang saya dari tadi sore nyetrika pakaian di ruang laundry dan ini baru kelar."


"Tidak mungkin, saya masih ingat banget kok. Orang jelas jelas saya titipi den Zain sama kamu dan kamu juga mengangguk."


"Tapi demi Allah mba Sukma saya sama sekali tidak bertemu dengan den Zain. Orang saya baru saja keluar dari ruang laundry."


"Sudah, sudah." Tiba-tiba Oma menengahi kedua Art itu.


"Sukma dimana kamu meninggalkan Zain?"


"Di ruang bermain Oma. Den Zain di temani main puzzle sama si Atun."


"Ya Allah mba, aku benar benar belum bertemu sama den Zain sore ini." Mba Atun menyangkal kembali. Tapi aku rasa Art itu tidak sedang bicara bohong.

__ADS_1


"Terus kalau bukan kamu lantas siapa wanita yang saya ajak bicara itu Atun? di rumah ini kan cuma ada aku dan kamu saja."


Di tengah perdebatan mereka aku jadi teringat pada sosok wanita yang sering kali menampak kan wujudnya di depan ku. Spontan aku langsung berdiri." Bibi, di ruangan mana Zain bermain? Tanya ku dengan suara keras dan mungkin pertanyaanku ini mengejutkan semua orang yang ada di situ.


"Di sana Non, di sana tunjuk bibi ke suatu arah."


Tanpa bertanya lagi aku berlari ke arah ruangan yang cukup jauh dan di ekori oleh mereka.


Setelah tiba di depan pintu yang di maksud oleh Bi Sukma, aku buru buru membuka pintu itu.


"Zain, Zain!" Aku berteriak sembari memasuki ruangan besar yang sepi dan hanya tergeletak mainan puzzle saja.


"Ya Allah den Zain kemana? saya benar benar menitipkan den sama si Atun," ucap Bi Sukma di tengah panik nya.


"Demi Allah saya sama sekali tidak bertemu dengan den Zain, Oma."


"Sudah, sudah. Sekarang cari cicitku di setiap sudut ruangan, halaman depan dan belakang." Oma berteriak hingga memekakkan telinga kami.


Raihan dan dokter Bayu langsung bergerak. Begitu pula dengan aku, bi Sukma dan Bu Atun serta Oma. Kami mencari di setiap sudut ruangan lantai bawah maupun lantai atas. Kolam renang dan taman belakang. Namun Zain tidak di temukan. Aku mulai panik, air mata ku langsung mengalir begitu saja.


Semua orang melaporkan pada Oma bahwa mereka tidak menemukan Zain. Aku langsung teringat tempat yang belum aku cari yaitu taman depan.


"Mau kemana sayang?" Tanya Raihan ketika melihat aku hendak melangkah.


"Kalian belum mencarinya ke taman depan kan?"


"Tapi kalau Zain ke taman depan pasti melewati kita Nuri."


Aku tidak mempedulikan ucapan dokter bayu melain melengos pergi. Namun aku tau mereka semua mengikuti ku. Setelah berada di teras, pandangan ku mengedar ke segala arah taman dan tak lama kemudian sorot mataku tertuju pada seorang balita yang sedang kami cari sedang tertawa riang bersama wanita yang mirip sekali dengan ku di sebuah bangku panjang dan di tengah Maghrib. Aku tercengang melihat mereka karena baru kali ini aku dapat melihat dengan jelas bagaiman rupa wanita itu.


"Zain..!" teriak ku lalu wanita itu menghilang dari pandangan ku.


Aku langsung berlari ke arah nya kemudian menggendong nya dan membawa Zain kembali ke teras.


"Ya ampun sayang, kenapa Zain keluar rumah tidak bilang dulu sama kami. Zain tau eyang sangat cemas?" kata Oma sembari mengelus pipi Zain.


"Zen main cama Oma, eyang."

__ADS_1


Kami saling pandang. Balita seusia Zain tidak mungkin berbohong.


__ADS_2