Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Bang Supri pingsan


__ADS_3

Ibu terperangah lalu melotot ke arahku sepertinya dia tidak suka aku mengungkit masalah rumah yang kami tempati ini. Apalagi aku sedikit mengancamnya kalau aku hengkang dari rumah ini dia harus mengembalikan uangku yang berjumlah seratus lima puluh juta. Begitu pula dengan bang Supri, dia terpaku di tempat dan mulutnya langsung terkunci rapat. Mungkin mereka pikir aku tidak berani mengungkit masalah rumah karena selama ini aku diam saja.


Sebenarnya aku tidak ingin mengungkitnya. Namun, aku sangat kesal pada ucapan bang Supri seenak jidatnya mengatakan bahwa aku adalah beban orang tua dan benalu di rumah ibu. Ku akui, selama aku memiliki anak, aku memang tidak pernah memberikan ibu uang secara langsung karena aku tidak memiliki penghasilan sementara nafkah dari suamiku jangankan untuk memberikan pada orang tua, untuk diriku sendiri saja jauh dari kata cukup.


Tapi, meskipun aku tidak memberikan uang pada ibu, aku memberikan tenagaku sebagai pengganti uang. Mencuci serta menyetrika bajunya, memasak untuk dia makan, menjadi kaki tangannya ketika dia menyuruh nyuruh. Selain itu, aku membuat kerupuk untuk di jual dan hasilnya aku berikan semua padanya.


"Oya, bang Supri bilang tadi akan mengembalikan semua uang ibu yang telah kamu pinjam kan bang? kalau gitu kembalikan juga uangku dua puluh juta yang kamu pinjam. Katanya buat modal usaha ternyata hanya kentut doang. Aku harap Abang tidak lupa dengan hutang Abang yang banyak itu ke orang yang Abang sebut tidak berguna dan benalu ini."


Bang Supri tersentak kaget karena aku menagih hutang padanya secara tiba tiba. Selama empat tahun ini aku tidak pernah mengungkit tentang hutang itu pada bang supri dan aku yakin dia pasti mengira kalau aku sudah lupa sama uang dua puluh juta tersebut. Aku sengaja menyindirnya supaya dia sadar bahwa orang yang dia anggap benalu dan tidak berguna ini ternyata pernah berjasa di hidupnya.


Sebenarnya hutang bang Supri itu banyak sekali padaku kalau di hitung. Sebelum dia meminjam uang dua puluh juta sekitar empat tahun yang lalu, dia juga pernah meminjam uang untuk menyogok agar bisa kerja di pabrik gula sebanyak sepuluh juta sekitar lima tahun yang lalu. Selain itu, dia juga pernah meminjam uang empat puluh juta sekitar tujuh tahun yang lalu ketika dia akan menikah karena istrinya meminta mahar yan besar ke bang Supri. Belum lagi uang uang lainnya dengan nominal ratusan ribu hingga jutaan yang pernah dia pinjam padaku. Tapi ya sudahlah, aku mengikhlaskan uang uang ku yang pernah dia pinjam dulu. Uang dua puluh juta pun sebenarnya aku tidak berniat menagih. Aku hanya ingin menggertak nya saja agar dia tidak lagi menyebutku sebagai benalu dan tidak berguna.


"Sudah sudah, kalian itu seperti an ji ng dan kucing saja berantem terus. Sudah sana Nur, kamu goreng lagi itu kerupuknya dan kamu Supri cepat pulang sana." Titah ibu pada kami lalu mendorong kecil tubuh bang supri menuju arah pintu ke luar rumah. Karena tubuhnya di dorong ibu, terpaksa dia menyeret kakinya namun mata nyalang bang Supri tidak lepas mengarah ke arahku. Aku tau dia marah sekali padaku karena aku sudah mengalahkannya dengan telak sekaligus menohok.


Aku berani melawan pada dua kakakku tapi aku tidak berani melawan ibuku karena dia wanita yang telah melahirkan ku. Aku harus menghormatinya dan aku harus menjunjung tinggi dirinya meskipun sikapnya buruk terhadapku. Sementara pada dua kakakku meskipun mereka saudara kandung tapi jika mereka berbuat kurang ngajar terhadapku, aku akan melawannya.


Aku mendengar deru motor butut bang Supri meraung raung di luar rumah sangat bising sekali dan aku yakin para tetanggaku pasti merasa terusik oleh suara motor butut bang Supri. Aku tau dia sedang menumpahkan kekesalannya padaku dan dia lampiaskan pada motor bututnya.


Ketika aku sedang memasuk kan kerupuk ke plastik berukuran kecil untuk di jual di setiap warung, aku mendengar suara keributan di luar rumahku. Aku diam sejenak menajamkan pendengaran ku. Benar saja, suara orang orang yang sedang berseteru. Aku penasaran pada keributan itu lalu aku pun bangkit berjalan dan menyembulkan kepalaku di pintu samping rumah yang aku buka sedikit. Ku lihat ada pak yanto sedang menunjuk nunjuk ke arah ibu serta bang Supri.


"Kenapa pak Yanto marah sekali sama ibu dan bang Supri?"gumam ku lirih.

__ADS_1


Aku menonton perseteruan mereka dari balik pintu karena aku tidak ingin ikut campur toh bukan urusanku pikir ku.


"Kalian sekeluarga memang stres. Tidak ibu tidak anak sama saja, sama sama stres." Ucap pak Yanto dengan sengit.


"Apa kamu bilang kami stres? kamu itu yang gila baru datang marah marah tidak jelas." Balas bang Supri tak kalah sengit.


"Gimana aku tidak marah. kamu yang duluan cari masalah. siapa coba yang tidak merasa terusik sama suara motor rombeng mu ini?"


Aku baru mengerti perseteruan mereka di sebabkan oleh ulah bang Supri yang menggerung kan motornya tadi. Memang bang Supri suka sekali membuat masalah dengan orang lain.


Di saat aku sedang asik menonton pertunjukan gratis, daster lusuh bagian belakang di bawah lutut ku seperti ada yang menarik narik lalu aku menoleh ke bawah dan ternyata Zain yang menariknya.


"Zen mau minyum cucu mama," celoteh Zain.


"yaudah yuk, mama buatkan susu buat Zain."


Aku menuntun Zain masuk ke dalam lalu menutup pintu dengan rapat. Setelah itu, aku segera membuatkan susu untuk Zain. Ku duduk kan dia di atas kursi lalu Zain mulai meminum susunya. Di tengah aku sedang menunggu Zain minum susu, ibu berteriak memanggil namaku berulang kali. Namun, aku abaikan saja karena ku pikir paling ibu akan mengomeli ku.


"Uda mama,"ucap Zain sambil menyodorkan gelas kosong ke arahku.


"Anak pintar,"ucap ku sambil mengambil gelas di tangan mungil Zain lalu mengelap bibirnya yang belepotan oleh susu.

__ADS_1


"Nuri..Nurii...!"teriak ibu sambil membuka pintu depan.


Aku tersentak kaget karena suara lantangnya terdengar seperti geledek, tidak seperti tadi yang hanya terdengar samar samar saja. Aku segera menggendong Zain lalu segera menghampiri ibu yang sedang berdiri di ambang pintu teras depan.


"Kamu itu budeg atau apa sih di panggil dari tadi sampai suara ku serak tidak mau nyaut." Ibu memakiku dengan mata melotot seperti hendak keluar semua bola matanya.


"Aku tidak dengar Bu, tadi aku sedang fokus bungkusin kerupuk biar cepat kelar," Alasan ku. Biarlah aku bohong kali ini karena aku sedang kesal pada anak kesayangannya, bang Supri.


"Cepat ambilkan aku minyak angin sekarang." Titah ibu dengan bibirnya yang terlihat bergetar.


Aku langsung mengikuti perintah ibu. Aku berjalan cepat untuk mengambil minyak angin meskipun aku sedang merasa heran untuk apa minyak angin? siapa yang masuk angin? pikirku."


Aku kembali lagi pada ibuku namun ibu sudah tak nampak lagi di ambang pintu. Aku keluar rumah dan nampak ibu sedang menepuk nepuk pipi bang Supri yang sedang tidur terlentang dan memejamkan matanya.


Aku mengerutkan dahi ku. Aku heran kenapa kakak tempramental ku ini bisa pingsan? bukannya tadi dia sedang adu mulut dengan pak Yanto?pikir ku.


"Ini Bu minyaknya." Aku memberikan minyak angin yang ku bawa pada ibu dan ibu segera membalurkan minyak itu di hidungnya bang Supri.


"Kenapa bang Supri bisa pingsan Bu?"tanya ku pada ibu yang sedang berusaha menyadarkan bang Supri. Ibu diam saja tidak ingin menanggapi pertanyaan ku.


"Awas saja kamu Yanto sudah bikin anak ku pingsan kayak gini."gumam ibu lirih namun masih terdengar jelas di kedua telingaku.

__ADS_1


Dari gumaman ibu aku jadi mengerti ternyata bang Supri pingsan karena berseteru dengan pak Yanto tadi. Aku heran, mulutnya saja yang besar tapi ternyata tenaganya kecil. Melawan pak Yanto yang kurus saja sampai pingsan.


__ADS_2