Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kado berlian


__ADS_3

Aku menatap kepergian mobil Raihan dari rumahku dengan perasaan nano nano. Sedih, senang, cemas serta gelisah bercampur jadi satu.


Setelah mobil Raihan menghilang dari pandangan mataku yang mulai mengantuk, aku bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Namun ketika aku merebahkan tubuhku di atas kasur, mataku yang mulanya sudah lima watt tidak dapat di pejamkan. Ku pandangi langit langit kamar dengan pikiran menerawang kemana mana. Aku memikirkan keintiman ku dengan Raihan tanpa status, perasaan Nura serta perasaan Andre jika suatu hari nanti mereka tau tentang kedekatan kami.


Perjalanan kehidupan memang tak selalu berjalan mulus. Dulu, aku di pusingkan dengan masalah ekonomi yang sangat sulit, dan sekarang setelah masalah ekonomi lumayan meningkat, aku di pusingkan dengan masalah percintaan yang cukup rumit. Ingin rasanya aku hidup tenang dan damai tanpa di pusingkan oleh kedua masalah tersebut.


Aku melirik ke arah Zain yang sedang tidur lelap, ku pandangi wajahnya, dalam hati aku bersyukur karena Zain tidak mirip dengan mas Surya karena jika mirip mungkin aku tidak dapat melupakan sosok mas Surya. Bukan karena cinta, tapi karena penderitaan ku selama menjadi istrinya. Nafkah lahir yang tak adil, nafkah bathin yang menyiksa fisik ku, sikap kasarnya dan ketidak pedulian nya padaku serta pada darah dagingnya sendiri.


Di tengah lamunanku tiba tiba aku teringat pada kado pemberian Raihan yang belum sempat di buka. Aku segera bangun dan meraih tas yang menggantung di sebuah paku kemudian merogoh beludru yang ku simpan di dalam tas itu.


Aku menatap binar sebuah beludru berwarna merah berbentuk kotak dan sedikit pipih di tanganku. Aku penasaran dan tak sabar untuk membukanya dan dalam hati aku bertanya kira kira Raihan membelikan aku emas berupa gelang, kalung atau cincin? kemudian aku pun membukanya perlahan. Setelah terbuka mataku membelalak melihatnya. Bukan emas berupa kalung, cincin atau gelang melainkan sebuah kalung yang sangat cantik berliontin sebuah batu permata yang terlihat berkilau.


Dengan rasa tak sabar aku mengambil kalung itu dan memandanginya dengan lekat.


"Cantik sekali," gumam ku. Aku benar benar terkagum, karena ini merupakan untuk pertama kalinya melihat kalung yang begitu indah di depan mataku sendiri.


Kemudian netra mataku melirik pada sebuah nota di dalam beludru yang ku letak kan di atas meja kemudian aku mengambilnya. setelah membaca nota tersebut mataku membelalak kembali. Ternyata liontin kalung itu berupa berlian, pantas saja cantik dan berkilau. Tak sampai di situ, aku penasaran dengan harganya karena di nota itu tidak mencantumkan harga melainkan hanya tipenya saja maka aku berinisiatif untuk mengecek nya di sebuah website.


Aku mengambil ponsel yang ku simpan di dalam laci dan dengan rasa tidak sabar aku berselancar di internet dan membuka sebuah website daftar harga berlian bulan ini. Dengan teliti aku mencari harga berlian dengan tipe yang tertera di nota itu. Dalam hitungan menit aku menemukannya.


"GIA 3 karat G VS1 : 1,240.000.000." Aku mengeja nominal harga berlian itu dan lagi lagi aku membelalak kan mataku serta menutup mulut ku yang menganga setelah mengetahui harga kalung berliontin berlian yang ada di tanganku.

__ADS_1


"Ya Allah Rai, kamu memberi aku kado berlian berharga satu milyar dua ratus juta lebih!"


Aku tergugu, air mataku mulai mengalir. Kenapa aku menangis? mestinya aku bersorak gembira karena mendapat kado sebuah kalung berlian. Aku menangis karena terharu telah di cintai oleh seorang Raihan yang mencintaiku apa adanya tanpa melihat kekuranganku dan dengan suka rela memberikan perhiasan berlian bernilai milyaran. Sungguh aku tidak pernah bermimpi atau berkhayal untuk memilikinya namun melalui Raihan aku menjadi memilikinya.


Aku berdiri di depan cermin lemari, ku pandangi tubuh serta wajahku di cermin


itu. Kemudian aku memakaikan kalung berlian itu di leherku, terlihat cocok sekali menggantung di leherku yang berkulit putih. Aku tersenyum memandangnya karena ini untuk pertama kalinya aku memakai perhiasan berupa berlian. Jangankan berlian, kalung emas pun hanya pernah sekali memakainya saat aku belum menikah dan masih bekerja tapi itu pun tak lama karena ibu memintaku untuk menjualnya.


Aku memandangi leherku sambil tersenyum, namun tak lama senyuman itu memudar mengingat kalung yang ku pakai adalah kalung yang sangat mahal. Aku berpikir apakah Bu haji rela jika mengetahui anaknya telah memberikan berlian ini padaku? meskipun aku tau bahwa Raihan membeli kalung ini menggunakan uangnya sendiri. Kemudian aku melepaskan kalung itu dari leherku dan meletak kan nya di dalam beludru. Setelah itu, aku menyimpannya di tempat yang aman.


Aku menyibak kan sedikit tirai jendela kamarku, di luar sudah terlihat terang benderang kemudian ekor mataku melirik ke arah jam yang menempel di dinding, pantas saja sudah terang ternyata sudah pukul setengah tujuh. Aku bergegas keluar kamar untuk membersihkan tubuhku terlebih dahulu sebelum Zain terbangun.


Aku berharap hari ini tidak ada tamu yang datang ke rumahku karena aku akan memproduksi kerupuk, sebab, stok kerupuk kering sudah menipis. Sempat aku berpikir untuk mengembangkan usahaku ini namun tentu saja butuh modal yang tak sedikit sementara tabunganku pun rasanya belum cukup.


Aku melihat ke arah Zain yang sedang asik bermain mobilan. Sehari hari Zain hanya bermain di dalam rumah namun ketika aku tidak sedang sibuk aku membawanya bermain di halaman. Zain sendiri tidak memiliki teman dan tidak pernah bermain dengan anak tetangga, selain masih terlalu kecil rumah ku dan tetangga yang memiliki anak kecil letaknya berjauhan dan hanya ada satu tetangga yang lumayan dekat tapi mereka tidak memiliki anak kecil.


"Zain..!"panggil ku. Zain menoleh lalu menyahuti," iya mama."


"Mama mau kerja dulu ya di dapur! Zain main sendiri saja ya dan jangan kemana mana."


"Oce mama."Kemudian aku beranjak ke dapur.

__ADS_1


Aku mulai berjibaku memproduksi kerupuk sebanyak lima belas kilo tepung. Aku sengaja membuatnya dalam jumlah yang banyak agar memiliki stok yang banyak pula jadi dalam satu Minggu aku cukup tiga kali saja memproduksinya dan sisa harinya ku pergunakan untuk menggoreng serta membungkusi lalu mengedarkannya ke lima belas warung yang ada di kampung ku.


Sudah tiga jam lamanya aku sibuk sendiri hingga aku melupakan anak ku Zain. Di tengah tengah kesibukan ku, aku baru teringat bahwa aku tidak mendengar celotehan Zain di ruang TV. Aku menghentikan aktifitas ku terlebih dahulu kemudian beranjak dan setelah di ruang TV aku tidak menemukan keberadaan Zain.


Aku panik, aku berjalan ke sana kemari sambil memanggil manggil namanya namun tidak ada sahutan. Ketika aku mencarinya ke ruang tamu aku melihat pintu keluar masuk terbuka sedikit. Aku menepuk jidatku kenapa aku bisa lupa pintunya tidak di kunci sehingga Zain bisa keluar rumah.


Aku bergegas ke luar rumah mencari keberadaan Zain, pandanganku mengitari halaman rumah yang cukup lebar dan berteriak memanggil namanya namun tidak ada sahutan. Aku semakin panik, saking paniknya aku mencarinya ke bagian samping rumahku tanpa menggunakan alas kaki.


Setelah berada di samping rumah, samar - samar aku mendengar suara pria sedang memaki seseorang. Aku menajamkan penglihatan ku ke arah sumber suara itu dan seketika aku terkejut mendapati Zain sedang di maki oleh pak Yanto di samping rumahnya. Tak mau membuang waktu aku berjalan cepat ke arah rumah pak yanto melewati pekarangan yang ditumbuhi tanaman singkong dan semacamnya. Pekarangan dengan luas lima ratus meter itu merupakan pembatas antara rumahku dan rumah pak Yanto, tiga ratus meter milik ku dan dua ratus meter milik pak Yanto. Pak Yanto sendiri merupakan satu satunya tetangga yang paling dekat dengan rumahku.


Di tengah aku berjalan cepat dan tanpa menghiraukan kakiku yang tanpa alas, tiba tiba kaki ku menginjak sebuah pecahan gelas kaca, aku memekik kesakitan dan darah segar pun langsung mengucur. Aku segera mencabut pecahan gelas yang menempel di telapak kakiku.


Setelah itu, aku melanjutkan langkahku mendekati pak Yanto dan Zain tanpa menghiraukan darah mengalir dan dengan jalan yang tak normal. Semakin dekat semakin terlihat pak Yanto sedang menjewer telinga anak ku dan dia menangis histeris.


"Lepaskan anak saya pak, tolong lepaskan." Aku berteriak sambil berjalan dan menahan sakit di kakiku.


Setelah menyadari ke datangan ku pak Yanto segera melepaskan tangannya dari telinga Zain. Zain melihat ku kemudian dia berlari ke arahku lalu memeluk kakiku. Sambil menangis Zain berkata,"Zen akut mama akut."


Dadaku bergemuruh melihat anak ku yang menangis mengiba dan merasa ketakutan, Aku marah sekali. Kemudian aku menatap tajam ke arah pria berperawakan kurus itu yang telah tega menyakiti anak ku.


Pak Yanto yang hanya memakai kolor hitam di bawah lutut serta kaos dalam pun sama halnya dengan ku yaitu sedang menatap tajam ke arahku sembari berkacak pinggang.

__ADS_1


"Pak Yanto memang orang tua yang tidak punya hati dan pikiran, tega sekali menyakiti anak saya yang masih balita dan belum mengerti apa apa." Dengan perasaan kesal dan geram aku berkata demikian karena menurutku pak Yanto benar benar orang tua yang kelewatan batas.


__ADS_2