Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Ledekan bang Supri


__ADS_3

Baru saja selesai makan serta makanan belum masuk ke dalam perut melainkan masih di tenggorokan suara adzan Maghrib berkumandang. Bersamaan dengan itu, aku teringat jika belum mengantar makanan untuk Sumi di rumah sakit.


"Astaghfiruallah hal adzim,"ucap ku, aku merasa cemas.


Raihan yang baru selesai menyuapi Zain melirik dan bertanya,"kenapa mba?"


"Aku lupa belum mengantarkan makanan untuk Sumi di rumah sakit." Raihan sebelumnya sudah aku beritahu perihal yang sedang di alami oleh Sumi temanku.


Raihan tersenyum." Ya ampun mba, kirain ada apa sampai cemas gitu."


"Gimana tidak cemas Rai, ini sudah magrib aku belum mengantar nya makanan gimana kalau dia kelaparan dan menunggu makanan dariku?"


"Mba mencemaskan orang lain takut kelaparan tapi apa ada orang lain yang mencemaskan mba saat mba dan Zain sering kelaparan?"


Deg


Tiba tiba jantung ku terasa berhenti berdetak, bagaimana Raihan bisa tau kalau aku sering kelaparan dulu? padahal aku tidak pernah cerita pada siapa siapa termasuk dirinya. Aku menatap lekat wajahnya begitu pula dengan nya.


"Dari mana kamu tau hal itu Rai?"tanya ku dengan rasa penasaran.


"Tidak perlu tau aku tau darimana mba, yang penting untuk sekarang dan seterusnya aku tidak akan membiarkan bidadari ku ini kelaparan lagi."


Netra mataku mulai berkaca kaca, aku sedih mengingat masa begitu sulit dan aku terharu atas apa yang baru saja Raihan katakan. Namun, aku segera mengalihkan pandanganku dari wajahnya dan menahan air mataku agar tidak tumpah.


"Kalau mau menangis, menangis saja mba, tapi jangan disini soalnya aku tidak bisa memeluk mba, karena kalau berpelukan di depan anak anak itu tidak baik kan mba?" Raihan mulai menggodaku. Aku tau dia sengaja bicara demikian agar aku tidak menangis.


Aku yang tadinya hendak menangis berubah menjadi tersenyum lebar mendengar nya, kemudian dengan gemas ku cubit perut sixpack yang terbungkus oleh kaos warna abu abu.


"Aduuhh, sakit mba, di cium saja kenapa biar enak, jangan di cubit sakit."


"Rai..."aku membesarkan pupil mataku. Sedikit kesal karena dia menggodaku lagi di depan anak anak.


Sambil tersenyum lebar dia melihat ke arah Ria dan Rio yang sedang memperhatikan kami.


"Kalian tidak mengerti kan apa yang uncle katakan tadi sama kak Nuri?"


"Mengerti unclee...." jawab Rio dan Ria serempak sembari tertawa kecil.


Aku mendengus kesal.


"Dikira mereka Zain sama fatan apa ya yang belum mengerti apa apa?"Aku ngedumel sembari membersihkan bekas makan kami dan Raihan tertawa renyah.


Setelah itu, aku bolak balik ke dapur membawa sampah bekas makan kami dan di bantu oleh Raihan. Di saat itu pula bang Supri keluar kamarnya sambil mengucek matanya.


"Baru bangun bang?"tanya Raihan ketika berpapasan dengannya.


"Aku ketiduran Rai, itu apa yang kalian bawa?"


"Sampah," jawab Raihan singkat.


"Sampah bekas apa?"


"Makan."Aku yang menjawab.


"Jadi kalian habis makan makan? kenapa tidak bangunin Abang Nur?"


"Sengaja."


"Lho, kok sengaja sih, Abang belum makan dari siang lho Nur."


"Iya bang, sengaja. Kata mba Nuri tidak tega kalau di bangunin."Raihan melanjutkan.

__ADS_1


"Yah Nuri, berarti malam ini Abang puasa dong," kata bang Supri, wajahnya menekuk.


Aku dan Raihan saling pandang kemudian tertawa bersamaan. Kemudian melanjutkan langkah ku menuju dapur begitu pula dengan Raihan mengekor di belakang ku.


"Mba..."panggil Raihan saat aku sedang cuci tangan di wastafel.


"Kenapa Rai?"


"Apa malam ini mba mau ke rumah sakit?"


"Iya, habis sholat Maghrib. Kasihan Sumi kalau tidak di antar makanan."


"Calon istriku ini tulus sekali sih orangnya, aku semakin cinta saja."Raihan menggoda ku lagi kemudian mencubit kecil pipiku.


"Rai... lebih baik sholat dulu deh, keburu habis waktunya." Aku mengalihkan pembahasan sekaligus mengingatkan nya.


"Ah, ya, kalau sudah bersama mba aku sering lupa sama waktu ha ha." Setelah menggombal dia beranjak ke kamar mandi. Aku melihat punggung Raihan lalu mengembangkan senyum. Meskipun aku merasa malu ketika Raihan menggodaku, jujur ku katakan bahwa aku menyukai setiap kali dia menggodaku apalagi ketika dia mengatakan aku adalah calon istrinya dan aku merasa nyaman sekali mendengarnya. Berbeda ketika Andre yang mengatakan demikian perasaanku biasa saja padahal Andre itu adalah cinta pertamaku dan aku pernah mencintainya selama belasan tahun. Namun, perasaan itu hilang begitu saja ketika aku mengenal sosok Raihan meskipun saat itu aku belum menyadari bahwa aku pun menyukainya.


Jika membicarakan masalah Andre, ingin rasanya aku berterus terang pada Raihan bahwa Andre juga menginginkan aku menjadi istrinya. Tapi aku takut mereka bertengkar hanya karena gara gara aku apalagi mereka saudara sepupu.


Memikirkan mereka cukup membuat aku pusing dan runyam. Lebih baik aku segera mengambil air wudhu siapa tau setelah sholat pikiran ku kembali tenang. Aku pun bergegas ke kamar mandi setelah Raihan keluar.


Ketika aku dan Raihan siap siap akan menjalankan sholat berjamaah, aku melihat bang Supri sedang duduk di pojokan.


"Sholat dulu bang," ajak ku pada bang Supri.


"Aku lapar Nur."


"Sholat dulu bang, percaya deh habis sholat rezeki datang," bujuk Raihan.


Bang Supri sendiri orang yang sangat jarang melaksanakan ibadah. Jangan kan bang Supri atau bang Supra, ibu ku sendiri saja sangat jarang melaksanakannya. Oleh karena itu, tidak heran jika anak anak nya demikian. Karena walau bagaimana pun peran orang tua yang baik itu sangat penting, karena setiap sikap baik atau buruknya itu akan di ikuti oleh anak anaknya.


Akhirnya Bang Supri menuruti ajakan kami untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah setelah di bujuk oleh Raihan.


Aku meletak kan dua makanan itu di hadapan bang Supri tanpa bicara, pupil mata bang Supri melebar melihatnya.


"Ini...ini semua untuk aku Nur?"


Aku mengangguk.


"Tuh kan apa saya bilang bang, setelah sholat rezeki akan datang," kata Raihan.


Bang Supri tersenyum lebar.


"Aku mau makan di dapur saja lah, malu di lihatin sama Raihan dan kamu Nur." kemudian bang Supri bangun dan beranjak pergi. Namun sampai di ambang pintu dapur dia berhenti lalu menoleh ke arah kami.


"Raihan...makasih ya makanannya! berkat kamu aku jadi bisa merasakan makan ayam KFC dan pizza,"sembari tersenyum lebar.


Raihan mengangguk dan menyungingkan senyum.


"Apa kita berangkat ke rumah sakit sekarang mba?" tanya Raihan setelah bang Supri ke dapur.


"Tunggu bang Supri makan dulu, biar dia yang jagain anak anak."


"Zain bawa saja mba, biar bang Supri tidak terlalu kerepotan menjaga anak anak."


Aku mengangguk.


Kemudian aku menghampiri bang Supri yang sedang makan di dapur. Melihat cara dia makan membuat aku geleng-geleng kepala saja, selain gerakannya yang cepat, sebelah kaki di naik kan ke atas kursi, sebuah kebiasaan jelek yang dia bawa dari dulu dan hingga saat ini masih saja begitu.


"Itu kaki turunin kenapa bang!"tegur ku.

__ADS_1


Bang Supri yang tidak menyadari keberadaan ku sejak tadi menoleh ke arahku kemudian buru buru menurunkan kakinya.


"He he lupa Nur."


Sebenarnya aku sudah sangat sering menegurnya tapi bang Supri sepertinya tidak bisa meninggalkan kebiasaan jeleknya itu. Sebab, lagi dan lagi dia seperti itu.


"Lupa lupa, lupa kok sampe puluhan kali."Aku mengomel.


"Kenapa sih mba, sepertinya ada keributan?" Raihan tiba tiba datang dan menghampiri kami.


"Ini si Nuri, cerewet banget Rai. Ngomel mulu, emang dasarnya emak emak kali ya, cerewet." Bang Supri meledek ku.


Raihan tertawa sembari melihat ke arahku, aku kesal sekali bang Supri meledek ku di depan Raihan dan membuat aku menjadi malu padanya. Ku hentak kan kaki kemudian bergegas ke pergi. Aku tau mereka menertawakan aku namun aku tidak mempedulikannya.


Terlihat anak anak sedang menonton kartun di TV namun aku tidak melihat keberadaan Zain di antara mereka.


"Ria, Zain kemana?"


Ria menoleh."dikamar kak."


Kemudian aku berjalan ke kamarku. Setelah membuka pintu terlihat Zain sedang terlentang, ternyata dia tertidur setelah maghrib.


"Zain tidur mba?" tanya Raihan ketika aku sedang membenarkan letak tidurnya.


Aku menoleh."Kamu bikin aku kaget saja Rai." Aku sedikit kesal, tiba tiba Raihan sudah berdiri di balik pintu membuat aku terkejut saja.


Raihan tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya.


"Jadi bagaimana ke rumah sakit nya mba, jadi pergi tidak?"


"Jadi dong Rai, kasihan teman ku kalau tidak di anterin makanan. Tapi bukannya besok kamu harus kerja ya Rai?"


"Aku mah bebas mba. Who's boss?"ucapnya, sembari bersedekap dada. Aku tersenyum tipis melihatnya.


Setelah selesai membenarkan posisi Zain agar lebih aman dan tidak terjatuh, aku dan Raihan keluar kamar namun di depan pintu ada bang supri sedang berdiri menghalangi jalan kami.


"Kalian habis ngapain berduaan di kamar?"tanya bang Supri dengan nada menyelidik.


Aku dan Raihan saling pandang, kemudian mengalihkan kembali pandangan kami ke arah bang Supri.


"Apaan sih bang, aku ngecek Zain di kamar, dia sedang tidur, minggir ah." Aku mendorong pelan tubuh bang Supri hingga bang Supri menyamping.


"Memang si Zain sudah tidur Jam segini?"


Aku mengangguk." Aku titip Zain ya bang, sama bocil bocil itu!" tunjuk ku pada anak anak yang sedang fokus menonton kartun.


"Ya sudah kalau gitu, hati hati kalian."


Aku dan Raihan mengangguk, kemudian kami berjalan ke luar rumah di ekori bang Supri. Setelah di teras Raihan memakai sepatunya terlebih dahulu sementara aku memakai sendal jepit sehari hari.


"Nuri, malu maluin si Raihan kamu Nur."


Aku menoleh ke arah bang Supri yang sedang berdiri di ambang pintu kemudian bertanya karena aku merasa heran kenapa bang Supri berkata demikian."Malu maluin gimana sih bang maksud nya?"


"Apa kamu tidak sadar sama penampilan mu?"


Aku mengernyitkan dahi ku kemudian mengecek penampilanku sendiri tapi aku merasa tidak ada yang salah dan semuanya terlihat baik baik saja. Lalu aku bertanya lagi."Memang kenapa dengan penampilanku bang, tidak ada yang salah kok."


"Salah Nur, salah. Mau ke kota kok pakai sandal jepit harga sepuluh ribu sama daster lima puluh ribuan." Ledek bang Supri. Kemudian aku melirik pada Raihan yang sedang tertawa namun dia tahan. Dengan perasaan kesal telah di ledek nya, aku mencopot sebelah sandalku dan akan melempar ke arah bang Supri, namun baru aku acungkan sendal itu Raihan lebih dulu menahan tanganku, mengambil sandalku lalu berjongkok dan memakaikan kembali di kakiku. Aku benar benar di perlakukan seperti seorang kekasih oleh Raihan.


Ku lirik bang supri, dia memperhatikan keromantisan Raihan dengan mulut menganga. Setelah itu Raihan berdiri dan berkata."Sudah ah, biarin saja. walau pun mba pakai daster dan sandal jepit di mataku mba tetap cantik." Kemudian Raihan membukakan pintu mobil untuk ku. Namun sebelum aku masuk, aku menjulurkan lidah ku ke arah bang Supri.

__ADS_1


"Wih, keren...sendal jepit sepuluh ribuan sama daster lima puluh ribuan masuk mobil harga dua milyar." Bang Supri meledek ku kembali membuat aku semakin kesal namun Raihan mendorong pelan tubuhku agar aku segera masuk ke dalam mobil. Setelah aku duduk di jok mobil Raihan menutupnya.


__ADS_2