
Kedatangan Bu haji membuatku menjadi bingung antara mempersilahkannya masuk atau di luar saja. Sebab, jika masuk ke dalam rumah, aku takut Bu haji akan melihat Raihan dan berpikir yang macam macam tentang kami. Namun jika di biarkan di luar rasanya kurang sopan.
"Si...silahkan masuk Bu haji." Akhirnya aku menyuruhnya masuk saja karena aku pun tak tega melihat dia berdiri saja di luar.
Bu haji mengangguk kan kepalanya sedikit lalu berjalan memasuki rumahku. Pandangannya mengitari isi rumahku karena ini kali pertama dia mengunjungi rumah ku.
"Silahkan duduk Bu haji!" aku mempersilahkan nya duduk di sofa ruang tamu dan dia pun duduk di atas sofa.
"Ibu mu kemana Nur?" tanya Bu haji yang tiba tiba buka suara lalu menanyakan keberadaan ibu.
"Ibu sedang pergi Bu haji," jawabku. Ibu memang sedang pergi namun tepatnya sedang kabur entah kabur kemana dia.
"Sebentar ya Bu, saya buatkan minum dulu." Aku hendak beranjak dari hadapan Bu haji namun dia mencegahku.
"Tidak usah Nur, saya hanya sebentar disini. Saya hanya ingin berbicara dengan kamu."
Aku mengurungkan niatku lalu duduk berhadapan dengan Bu haji. Sesaat kami terdiam dan aku sendiri menunggu Bu haji yang memulai pembicaraan karena dia sendiri yang ingin berbicara denganku.
"Kemarin malam saya baru saja pulang dari Bogor sekaligus mendengar berita yang tidak enak di dengar telinga saya."
Aku masih menyimak saja dan tidak ingin menimpali Bu haji berbicara.
"Kamu mau tau Nur berita apa yang saya dapatkan di kampung ini setelah kembalinya saya dari Bogor?"
Aku masih diam dan menunduk saja.
"Berita tentang kamu telah berselingkuh dengan anak saya, Raihan."
Aku me re mas buku buku jariku, sebuah kebiasaan ketika aku merasa cemas. Dugaan ku benar bahwa Bu haji akan membicarakan masalah gosip yang beredar di kampung ini.
"Apa kah itu benar Nur?"
Aku mendongak kan wajahku melihat pada Bu haji yang sedang menatapku serius. Aku menggelengkan kepalaku.
"Saya....saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Raihan Bu, itu hanya gosip. Kami hanya berteman tidak lebih."
__ADS_1
"Nur, kamu adalah wanita yang sudah memiliki suami dan anak. Sementara Raihan masih lajang dan terlalu muda. Terlepas benar atau tidak nya kalian memiliki hubungan itu sangat merugikan sekali untuk saya dan juga Raihan. Bagaimana jika suamimu tau bahwa istri nya dekat dengan pria lajang? dia pasti akan marah pada Raihan Nur, dan menganggap Raihan pebinor. Saya tidak ingin Raihan di cap sebagai pebinor oleh orang orang. Raihan itu anak baik baik. Selama ini dia tidak pernah mendapatkan gosip murahan seperti ini. Jadi saya mohon sama kamu Nur, tolong jauhi Raihan. Tolong jangan rusak citra baiknya di mata orang kampung Nur, dia masih terlalu muda, masa depannya masih panjang. Bagaimana jika dia di pandang buruk oleh orang dan saya tidak ingin itu terjadi pada anak kebanggan saya. Sekali lagi saya mohon sama kamu nur, tolong jauhi Raihan."
Saliva ku rasanya tercekat di tenggorokan mendapat permohonan dari Bu haji. Permohonan agar aku menjauhi Raihan anaknya. Mungkin benar apa yang di katakan Bu haji, tak seharusnya aku dekat dengan Raihan yang masih terlalu muda dan baik. Aku tidak harus merusak image baik Raihan di depan orang orang. Aku salah, karena tanpa sadar aku telah menjadikan Raihan sebagai sandaran hidupku yang kurang beruntung ini.
Aku tersenyum dengan senyuman yang ku paksakan karena memang pada dasarnya aku yang hidupnya miris ini sangat jarang sekali bisa tersenyum. Didzolimi oleh suami, di perah oleh ibu serta di musuhi oleh kedua kakakku. Tidak ada tempatku untuk bersandar, mengadu keluh kesah ku selain pada Raihan dan sekarang ibunya meminta ku untuk menjauhinya.
"Bu haji, saya mohon maaf jika pertemanan saya dan Raihan telah menjadi gosip di kampung ini dan membuat Bu haji merasa tidak nyaman serta rugi. Saya sadar, tidak seharusnya saya berteman dengan orang baik seperti Raihan yang selalu menolong saya dan anak saya. Dan saya bersedia untuk melakukan apa yang Bu haji mau untuk menjauhi Raihan." Meskipun sebenarnya berat menjauhi Raihan namun harus ku lakukan karena aku tidak ingin melukai hati Bu haji karena keegoisan ku.
"Baik, saya pegang omongan mu Nur, saya tidak ingin lagi mendengar atau melihat kamu sedang bersama Raihan nur."
Aku mengangguk pasti.
Bu haji kembali pulang ke rumahnya. Aku kembali masuk ke dalam setelah mengantar Bu haji sampai teras. Aku masuk ke ruang TV namun tidak menemukan keberadaan Raihan hanya ada Zain yang sedang tidur di atas karpet.
Ku panggil namanya tapi tidak ada sahutan. Aku mencarinya di dalam kamar namun tidak ku temukan. Kemana Raihan perginya? pikir ku. Namun ketika aku hendak membuka pintu untuk ke luar kamar. Sosok tubuh tinggi tegap menempel di punggungku. Raihan memeluk ku dari belakang. Aku tersentak kaget atas perlakuannya.
"Rai..tolong lepaskan, jangan seperti ini?" Raihan tidak melepaskan pelukannya melainkan mengerat kan nya.
"Rai...!"
"Apa maksudmu mba, bilang pada ibuku kalau mba mau menjauhiku? tidak bisa mba, cukup sudah empat tahun aku kehilangan mu. Mba tidak tau bagaimana rasanya jadi aku kan? Aku sangat mencintai mu mba, aku sangat sayang sama mba. Mba tidak boleh menjauhiku, apa mba mau melihat aku mati?"
"Rai..kamu bicara apa sih? ini atas permintaan ibu mu Rai. Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan mu. Tolong jangan bersikap seperti anak kecil."
Raihan membalik kan tubuhku sehingga pandangan kami saling bertatapan. Raihan menatapku dengan kecewa, sementara aku menatapnya dengan perasaan gugup.
"Apa yang mba bilang tadi? sikap ku seperti anak kecil hem?"
Aku bungkam, aku tau aku sudah salah bicara telah mengatakan dia anak kecil karena Raihan sendiri tidak ingin di sebut anak kecil.
"Rai...a..aku minta maaf, bukan maksudku....empp!" Sebelum aku meneruskan ucapan ku, dia ******* bibirku dengan sedikit kasar. Aku sulit melepaskan bibirku dari lumatannya karena satu tangannya mendorong belakang kepalaku dan satu lagi memegang kedua tanganku. Raihan terus saja ******* bibirku tanpa ampun sampai dia merebahkan tubuhku di atas kasur lalu menindih tubuhku.
Aku tidak bisa bergerak di bawah Kungkungan nya karena tubuhnya yang besar. Raihan melepas kan sejenak bibirnya dari bibirku. Bersamaan dengan deru nafasnya yang memburu Raihan berucap,"Mba bilang aku anak kecil? aku akan buktikan sekarang mba, kalau aku bukan anak kecil tapi aku pria dewasa yang mampu memuaskan mba," ujar Raihan sambil tersenyum menyeringai. Aku takut sekali, aku taku Raihan khilaf lalu melakukan hal yang berlebihan.
Raihan melepaskan hijab yang sedang ku pakai serta gelungan rambut sehingga rambutku tergerai.
__ADS_1
"Tolong lepaskan aku Rai, jangan seperti ini...aku minta ma....empp!" Raihan ******* bibirku kembali tanpa ampun. Setelah puas di bibirku dia pindah mengecupi jeruk leherku hingga membuat aku merasa terbuai oleh sentuhannya. Tanpa sadar aku men de sah lirih merasakan sentuhan yang Raihan berikan. Raihan menghentikan kecupannya sesaat lalu menatap lekat kedua mataku.
"Bagaimana mba, apa pemanasan ku ini mampu membangunkan hasrat mba?" Raihan menggoda sekaligus menyindir karena aku sempat mengeluarkan de sa han tanpa di sengaja.
"Aku mohon Rai, tolong sudahi Rai..aku..!"
"Mba tau bagaimana rasanya melihat wanita yang aku sayangi di tubuhnya penuh dengan kissmark? Aku bisa melakukan seperti yang pernah bahkan sering mas Surya lakukan di tubuh mba," Raihan berucap sambil tangannya menurunkan seleting baju di punggungku.
Lidahku terasa kaku, aku hanya bisa menggeleng pelan memohon pada Raihan untuk menghentikan aksinya. Namun, Raihan tidak ingin menghentikannya melainkan menarik bajuku hingga menampakan dua gunung kembar miliki ku yang terpampang di hadapannya. Raihan mulai memainkannya dengan lembut. Sesekali dia menggigit gigit kecil pucuknya. Aku memejamkan mataku dengan perasaaan yang campur aduk. Suka, sedih serta kecewa berbaur jadi satu. Dalam keadaan mata yang terpejam air mataku mengalir deras sehingga Raihan melihat wajah ku yang sudah penuh dengan air mata lalu menghentikan aksinya. Dia bangkit dari tubuhku lalu merosot kan tubuhnya ke atas lantai.
Ketika aku merasa tubuh Raihan sudah tidak ada lagi di atas tubuhku, aku segera membenarkan kembali baju ku dalam keadaan terisak. Rasanya aku ingin sekali memaki Raihan yang sudah memperlakukan aku terlalu jauh, tega menyentuh bagian tubuhku yang seharusnya hanya suamiku saja yang boleh menyentuhnya. Meskipun aku tau Raihan dalam ke adaan emosi.
Namun ketika aku duduk, ku dapati Raihan sedang menumpukan wajahnya di kedua lututnya dengan bahu bergetar, Raihan sedang menangis. Ini pertama kalinya aku melihat dia menangis. Ku urungkan niatku untuk memakinya dan sebaliknya aku merasa kasihan dan bersalah padanya. Apakah sebegitu cintanya Raihan padaku sehingga dia terlihat begitu frustasi?"
"Rai...!"ucap ku sambil memegang bahunya.
Raihan menghentikan tangisannya lalu mendongak kan wajahnya tanpa melihat ke arahku. Mungkin dia malu telah menangis di hadapan seorang wanita.
"Kenapa mencintaimu terlalu sakit mba?" ucap nya tiba tiba.
"Sakit sekali...!"sambungnya lagi.
"Rai maafkan aku...!"
"Tidak perlu minta maaf mba, aku yang salah. Aku yang seharusnya minta maaf karena aku terlalu mencintai mba sehingga aku tidak bisa mengendalikan emosiku.
"Rai..!"
"Maaf kan aku mba, aku sudah menyentuh bagian tubuh mba yang seharusnya hanya mas Surya saja yang berhak untuk menyentuh. Aku menyesal mba, tidak seharusnya aku seperti itu ke mba."
"Andai saja dulu kamu menyatakan perasaanmu padaku, mungkin ceritanya tidak seperti ini Rai." Aku bergumam sambil mengingat masa lalu.
Raihan menoleh ke arahku dan bertanya," Apa kalau dulu aku menyatakan perasaanku pada mba, apa mba mau menerima ku yang hanya anak SMA?"
"Setidaknya aku bertahan menunggumu sampai kamu siap untuk menikahi ku Rai."
__ADS_1
Raihan menghela nafas lalu menengadahkan wajahnya ke atas langit langit. Mungkin dia menyesali kenapa dulu tidak mengutarakan perasaannya padaku.