
Spontan aku berdiri setelah melihat siapa pria yang sedang berdiri tegak di sampingku."Mas Surya!" di tengah keterkejutan ku, aku menyapanya.
Mas Surya melangkah maju mendekatiku dan hendak meraih tanganku namun sebelum tangannya menyentuh tangan ku, aku menepis kasar dan berkata,"jangan pernah lagi kamu sentuh aku mas, aku tidak ingin di sentuh oleh suami pengkhianat seperti mu."
"Nuri, aku terpaksa menikahi Ipah, aku hanya butuh uangnya. Tolong ngertiin aku sayang." Mas Surya memelas dan hendak meraih tangan ku kembali namun aku segera menjauhkan tanganku. Aku menggeleng kan kepala ku sebagai isyarat aku sudah tidak ingin lagi mempercayai setiap kata kata yang keluar dari mulutnya.
"Tega sekali kamu mas disaat aku mulai mencintaimu kamu mengkhianati ku. Apa kalian masih saling cinta? lantas kenapa kamu menikahi ku?"
"Nuri, aku tidak memiliki perasaan apa apa lagi pada Ipah. Sudah aku katakan padamu aku tidak punya pilihan lain. Tolong mengerti Nuri." Mas Surya masih menyangkalnya.
"Kamu menyuruhku untuk mengerti kamu, tapi apa kamu mengerti perasaan aku mas?hanya wanita bodoh yang mau di madu, sedang aku...aku bukan wanita bodoh yang mau saja di madu oleh mu. Aku hanya minta satu padamu mas, tolong ceraikan aku sekarang juga."
"Tidak Nuri, aku tidak bisa menceraikan mu, aku masih cinta sama kamu sayang."
"Mas, kamu ada disini rupanya!" Seorang wanita berpostur tubuh semok serta wajah penuh make up tiba tiba menghampiri kami kemudian meraih tangan mas Surya lalu memandang sinis ke arah ku. Siapa lagi kalau bukan Ipah Saripah mantan istri dan sekarang telah menjadi istri ke dua mas surya. Mas surya tercengang, dia terlihat cemas di datangi oleh istri keduanya.
"Anak anak kita sedang menunggu kita di sana mas!" tunjuk nya pada suatu tempat sembari bergelayut manja di tangan mas Surya.
Aku menatap geram pada Ipah, mungkin ini yang dia maksud akan membuat aku menangis tujuh hari tujuh malam, dia telah berhasil merebut suamiku. Tidak, aku tidak akan menangis di hadapan mereka.
"Dasar pelakor, selamat ya pelakor sudah berhasil merebut suami orang,"ucap ku sembari tersenyum sinis.
"Dih, mas, dia menyebutku pelakor. Katakan padanya mas kalau kita masih saling cinta," adu nya pada mas Surya dengan suara terdengar manja membuat aku merasa mual mendengarnya. Mas Surya terlihat salah tingkah, dia seperti enggan mengatakannya.
"Ayok mas, katakan padanya yang jujur dari lubuk hatimu kalau kamu masih mencintai ku dan kamu terpaksa menikahi wanita ja la ng ini." Ipah membujuk mas Surya lagi dengan suara yang semakin manja. Ingin rasanya aku memuntahi wajahnya yang penuh dengan make up.
__ADS_1
"Iya, apa yang di katakan Ipah benar, aku masih mencintai Ipah dan terpaksa menikahimu." Mas Surya menuruti apa yang di suruh oleh Ipah, namun anehnya mas Surya tidak mau menatap kearah wajahku dia mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Oh, begitu, kalian memang pasangan yang serasi ya! yang satu pelakor dan yang satu pengkhianat," Ucap ku, kalimat terakhir sengaja ku lantang kan sehingga membuat beberapa pasang mata mengarah pada kami.
Perkataan ku yang sedikit keras membuat mas Surya terlihat kesal mungkin dia malu perdebatan kami menjadi tontonan orang orang. Kemudian dia berkata sinis." Kurang ngajar sekali kamu Nuri menyebutku pengkhianat, mestinya kamu introspeksi diri kenapa aku menikah lagi karena kamu itu istri yang tidak berguna dan tidak dapat di andalkan serta tidak bisa mencari uang. Maunya hanya duit duit dan duit, tapi giliran suamimu susah dan butuh duit kamu tidak mau membantuku."
Aku menggoyangkan kepalaku, hinaannya keluar lagi, padahal baru beberapa menit dia mengatakan kalau dia masih mencintaiku dan terpaksa menikahi Ipah karena uangnya. Jujur, aku tidak mengerti dengan sikapnya yang seperti memiliki kepribadian ganda.
"Ya sudah kalau begitu, kamu ceraikan saja istri mu yang bodoh dan tidak berguna ini, untuk apa di pertahankan kalau tidak dapat di andalkan."Aku menantangnya dan permintaanku membuat mas Surya bungkam.
"Sudah mas, ceraikan saja dia, lagi pula buat apa melihara istri yang tidak bisa cari duit dan tidak berguna seperti dia." Ipah mempengaruhi mas Surya namun dia masih diam dan seperti kebingungan. Kemudian Ipah membisiki sesuatu yang tidak terdengar olehku di telinga mas Surya dan seketika wajah nya berubah menjadi tegang.
"Ayok mas, ceraikan dia sekarang dan aku sebagai saksinya," titah Ipah terdengar memaksa. Mas Surya masih dalam kebingungan.
"Ayok dong mas, ingat apa yang aku bilang padamu, kamu pilih aku apa wanita ja la ng ini?" Ipah masih memaksa. Aku seperti mencium keanehan diantara mereka seperti ada sesuatu yang tidak aku ketahui jika melihat ekspresi wajah mas Surya.
Aku merasa jantung ku berhenti mendengar kata talak tiga dari mas Surya. Mas Surya lebih memilih mantan istrinya daripada aku yang dia anggap tidak berguna. Air mataku mengalir perlahan, mestinya aku senang karena pria yang selalu mendzolimi ku selama tiga tahun ini akhirnya menceraikan aku. Tapi, kenapa aku merasa sedih di ceraikan nya? Ku tepis pemikiran itu, Tidak, aku tidak sedih. Air mataku ini adalah air mata bahagia karena aku sudah terlepas dari pria tidak punya hati seperti mas Surya.
"Hanya pria bodoh yang membuang berlian demi batu kali."
Kami bertiga menoleh ke arah sumber suara, nampak Andre tengah berjalan ke arah kami dengan wajah datar, kemudian dia berdiri di sampingku lalu menumpukan kedua tangannya di atas dadanya.
Mas Surya menatap kesal ke arah Andre dan bertanya,"siapa kamu? jangan ikut campur urusan kami." Andre tidak menghiraukan pertanyaan mas Surya dia hanya memberikan senyum sinis nya. Sementara Ipah menatap Andre tanpa mengedipkan matanya, mulut nya pun terbuka lebar."Tampan sekali," dia bergumam entah secara sadar atau tidak, tepat di samping mas Surya hingga mas Surya melirik sekilas kearahnya. Aku tau bahwa Ipah sedang terpesona pada ketampanan Andre.
"Jadi pria banci ini suami mu Nuri? suami yang sudah menikah lagi dengan mantan istrinya yang seperti badut dan kalah jauh cantiknya dari kamu?" Aku menoleh ke arah Andre dengan air mata yang masih mengalir. Dalam hati aku bertanya dari mana Andre tau, apa dia mendengar perdebatan kami hingga mas Surya menceraikan aku.
__ADS_1
Ipah segera mengatupkan kembali mulutnya setelah mendengar Andre menghinanya, mukanya berubah kesal.
"Hapus air mata mu Nuri, untuk apa kamu menangisi suami mu yang tidak tau diri ini, eh..mantan suami mu maksud ku."Andre menyuruhku menghapus air mataku yang masih mengalir namun tatapan sinis nya mengarah pada mas Surya yang sedang menatap tak kalah sinis dari Andre.
"Air mataku ini bukan air mata tangisan untuk pria tidak punya hati seperti dia Dre, tapi air mata ku ini air mata terharu dan bahagia akhirnya aku bisa terlepas dari pria yang sudah mendzolimi ku selama tiga tahun ini." Kemudian aku menghapus air mataku dengan jari tanganku lalu tersenyum pada dua orang yang telah menyakitiku lahir dan bathin.
"Selamat untuk pernikahan kalian berdua dan semoga bahagia," sambung ku kemudian. Ini adalah ucapan ku yang terakhir untuk mereka karena aku tidak ingin lagi berurusan dengan kedua orang tersebut.
Mas Surya hanya diam namun sorot matanya terlihat berkaca kaca, entah dia menyesal atau apa aku tidak ingin peduli lagi.
"Dan masalah nafkah untuk Zain, kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak akan meminta apa apa dari mu termasuk nafkah untuk Zain sebagai darah daging mu. Karena aku yakin aku pasti mampu membesarkan Zain dengan penghasilanku yang sedikit lebih tinggi di atas gaji mu."Aku sengaja menyombong kan diri kalau aku pun memiliki penghasilan di atas gaji mas Surya agar mereka tidak lagi menganggap ku orang tidak berguna karena di anggap tidak memiliki penghasilan.
"Meskipun kamu anggap aku istri yang tidak berguna setidak nya aku berguna untuk anak ku Zain," sambung ku kemudian.
Mas Surya terbengong melihat ku, bibirnya bergerak seperti ingin mengucapkan sesuatu namun aku segera menggelengkan kepalaku sebagai isyarat aku tidak ingin membahas apa apa lagi dengannya.
Andre menggendong Zain kemudian menautkan tangannya pada telapak tanganku, sehingga aku terkejut di buatnya.
"Sekarang kamu bukan istri orang lagi kan Nuri, jadi aku bebas memegang tanganmu." Andre menggodaku di depan mas Surya dan Ipah. Aku melirik ke arah mereka, mas Surya terlihat marah dan Ipah memandang sinis ke arah kami namun aku tidak menghiraukannya.
"Ayok Zain, kita pindah tempat yang lebih adem, disini panas dan gerah." Kemudian kami beranjak pergi dan aku membiarkan Andre memegang lengan ku dan menuntunku.
"Nuri....Nuri !" teriak mas Surya ketika kami sudah menjauh dari mereka. Sambil berjalan aku menoleh ke arah belakang nampak mas Surya sepertinya ingin mengejar kami namun di cegah oleh Ipah.
"Sudah, jangan melihat ke belakang lagi, lebih baik fokus saja ke masa depan." Andre protes serta mengingatkan. Setelah dirasa cukup jauh dari jangkauan mas Surya dan Ipah aku segera menarik tanganku dari genggaman Andre.
__ADS_1
"Kenapa di lepas?"Andre protes.
"Gerah!" jawabanku membuat Andre tertawa lebar.