
Keesokan harinya.
Ketika aku sedang berjibaku membuat kerupuk dengan bang Supri, terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Bang, coba tolong bukain pintu sepertinya ada tamu. Aku lagi nanggung nih," titah ku pada bang Supri karena aku sendiri sedang mengaduk adonan kerupuk.
"Iya Nur." Kemudian bang Supri bangkit lalu berjalan ke arah pintu keluar masuk rumahku.
Tak lama kemudian samar samar aku mendengar suara laki laki sedang berbicara dengan bang Supri. Meskipun telingaku mendengar percakapan dua orang di luar sana tapi tanganku sibuk membuat adonan bahan baku kerupuk.
Hening
Duarrr....
"Astaghfiruallah hal adzim," Sembari memegang dadaku aku beristighfar karena terkejut sekali.
Aku menatap kesal pada pria yang sudah beberapa Minggu ini tidak terlihat batang hidungnya. Dia tersenyum nyengir padaku lalu menggaruk tengkuknya. Aku kesal sekali karena gara gara dia adonan kerupuk yang bertekstur cair menjadi acak acakan kemana mana hingga pada wajahku.
Andre berjongkok dan dengan wajah sesalnya dia hendak mengelap wajahku yang terkena adonan kerupuk namun aku segera menangkisnya dengan pelan.
"Tidak perlu," tolak ku dengan ketus.
"Nuri, aku minta maaf. Aku tidak sengaja aku...aku pikir kamu sedang apa." Andre terlihat merasa bersalah sekali.
Aku tidak menghiraukan ocehannya melainkan mengelapi wajahku dengan tisu. Setelah itu aku bangkit dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan wajahku terlebih dahulu.
Setelah merasa wajah ku sudah bersih dari adonan kerupuk, aku kembali ke luar namun baru saja membuka pintu dan berjalan satu langkah sambil mengusap usap wajahku agar kering tanpa sengaja aku menubruk tubuh seseorang dan hampir saja terjatuh jika tidak di tahan oleh sosok tubuh itu.
Dalam posisi menahan tubuhku seketika pandangan kami bertemu. Dengan jarak yang sangat dekat andre menatap ku dengan lekat begitu pula denganku.
Beberapa detik kami saling tatap sampai aku tersadar dan segera melepaskan diri dari pelukan Andre.
"Kamu kenapa berdiri di depan pintu sih Dre?" tanya ku dengan kesal sembari pandangan ku alihkan ke arah lain karena aku tidak ingin menatap sorot matanya. Menurutku, sorot mata Andre seperti memiliki daya tarik berupa magnet sehingga ketika menatap netra matanya seolah olah ikut tertarik ke dalamnya.
Andre tidak menjawabnya melainkan tersenyum nyengir dan menggaruk tengkuknya.
Aku mendengus kesal kemudian beranjak dan kembali ke tempat pembuatan kerupuk. Terlihat bang Supri sedang sibuk sendiri. Aku mendekati nya namun dia melarang ku.
"Kamu temani saja dulu tamunya Nuri, biar Abang yang membuat kerupuknya.Tidak enak kan masa ada tamu di biarkan."
Aku menoleh ke arah Andre yang sedang berdiri sambil bersedekap dada dan melihat ke arah kami. Aku mengikuti perintah bang Supri kemudian berjalan melewati Andre begitu saja menuju ruang tamu. Andre tersenyum tipis lalu mengekor di belakangku.
Tiba di ruang tamu aku mempersilahkan Andre untuk duduk. Setelah dia duduk, aku menawari nya minuman dan Andre meminta di buatkan jus jeruk kesukaannya. Aku pun bangkit akan membuatkan minuman yang dia mau.
Nampaknya andre tidak terlalu menyukai kopi atau teh, sebab, jika sedang berkunjung ke rumahku dia lebih sering meminta aku untuk membuatkan nya minuman dari buah buahan bukan teh atau kopi. Begitu pula dengan Raihan, dia tidak pernah meminum kopi melainkan hanya meminum teh saja. Raihan juga tidak suka merokok, oleh karena itu, bibir tipisnya terlihat merah muda dan menggoda berbeda dengan bibir Andre terlihat sedikit kehitaman karena dia seorang perokok.
Ketika di dapur aku melihat bang Supri sedang sibuk sendiri. Dia terlihat bersemangat sekali dan aku senang melihatnya. Semenjak ada bang Supri dan membantuku aku tidak terlalu capek meskipun tenaganya tidak maximal. Aku sendiri tidak membiarkan dia kerja terlalu capek mengingat kondisinya yang belum sembuh total.
Bang Supri menoleh ke arahku yang hendak mengambil blender."Apa tamu nya sudah pulang Nur?"
"Belum bang, ini aku mau buatkan jus jeruk."
__ADS_1
"Oh, memang dia siapa sih Nur?"
"Teman bang," jawab ku singkat, sembari mengupas kulit jeruk.
"Teman mu semuanya kok ganteng ganteng dan kaya kaya ya Nur, apa lagi Raihan, udah ganteng banget, kaya, baik dan murah hati lagi. Tapi kalau temanmu yang ini Abang belum tau bagaimana karakternya."
Aku tersenyum mendengar bang Supri memuji teman temanku."Bang, apa Abang tidak ingat sama wajah teman ku yang ini?"tanya ku mencoba mengingatkan.
"Ingat bagaimana sih Nur, bertemunya juga baru kali ini."
"Abang ingat tidak saat aku masih SD dan pulang sekolah sering di antar oleh anak laki laki naik sepeda?"
Bang Supri menghentikan pergerakan tangannya, pandangannya menerawang ke atas seperti sedang mengingat ingat dan tidak lama kemudian dia berseru.
"Oh iya, Abang baru ingat, anak kecil yang tampangnya kayak anak bule itu kan, yang sering nganterin dan main ke sini? memang kenapa dengan anak kecil itu?"
"Kayak bule gimana sih bang, orang dia asli orang Minang."
"Oh, asli Minang to, tapi kenapa mukanya kebulean ya? terus kenapa kamu suruh ngingetin anak kecil itu ke Abang?"
"Karena anak kecil itu ya dia."
"Dia...dia siapa maksudmu?"
"Ya itu, anak kecil itu ya pria yang sedang duduk di ruang tamu."
Bang Supri terlihat terkejut." Serius kamu Nuri?"
"Oala, sodara sepupu Raihan. Pantesan sebelas dua belas gantengnya sama Raihan."
"Udah dulu ya bang ngobrol nya aku sudah selesai nih." Kemudian aku bergegas menemui Andre di ruang tamu.
Tiba di ruang tamu Andre terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ehm..."
Gumaman ku menyadarkan Andre dari layar ponselnya kemudian dia menoleh ke arahku dan meletak kan ponselnya.
"Eh, si macan sudah kembali!" ucap Andre sembari tersenyum nyengir.
Aku mengernyitkan dahi." Macan?"
"Mama cantik he he." Godaannya membuat aku tersenyum tipis dan geleng kepala. Kemudian meletak kan satu gelas jus jeruk yang di pinta olehnya.
"Terima kasih macan," ucap Andre dan aku mengangguk.
Setelah mengucapkan terima kasih, Andre langsung meneguk jus jeruk yang aku suguhkan hingga menyisakan setengahnya.
"Segarrr," ucapnya sembari meletak kan gelas itu kembali di atas meja.
"Kamu haus Dre?"
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat Nuri, jusnya tinggal setengah he he."
"Kamu tau aku sudah kehausan sejak masih di Jakarta?" sambungnya kemudian.
Keningku mengkerut dalam hati aku bertanya sudah merasa haus dari Jakarta kenapa tidak membeli air minum di jalanan malah minta minum di rumahku? aneh sekali dia.
"Apa kamu tidak punya uang untuk membeli minuman di jalanan sampai kamu tahan dan malah meminta minum di rumah ku."Aku meledek nya dan hal itu sudah biasa.
Andre tertawa terbahak kemudian menyangkalnya."Uang ku banyak Nuri, masalahnya tidak ada rasa minuman seperti minuman buatan mu di jalanan makannya aku tahan hingga kemari."
Aku mencebik kan bibirku mendengarkan gombalannya yang ku anggap tidak lucu dan tidak dapat membuat aku tertawa.
"Ri, kamu kemana saja beberapa waktu yang lalu aku bolak balik ke mari tapi tidak ada kamu."
"Kan sudah aku bilang kalau aku menemani kakak ku di rumah sakit."
"Kakak mu yang mana? dan sakit apa dia?"
"Yang di dapur, tumor otak."
"Oo," Andre manggut manggut.
Satu jam sudah aku dan Andre mengobrol, meskipun aku mengobrol dengan Andre tapi pikiranku selalu memikirkan bang Supri dan kerupuk. Sebenarnya aku ingin mengerjakan membuat kerupuk tapi aku tidak enak hati jika harus menyuruh Andre pulang apa lagi dia sudah datang jauh jauh.
"Apa kedatanganku mengganggu aktifitas mu Nuri" Andre bertanya seolah olah mengerti kecemasanku. Mungkin dia melihat gesture tubuhku yang banyak bergerak.
"Sebenarnya, kamu datang di saat waktu yang tidak tepat Dre, soalnya hari ini aku sedang membuat kerupuk," Aku berkata sejujurnya.
"Apa perlu aku membayar waktu berharga mu hari ini?"
Aku mengernyitkan dahi."Apa maksudmu?'
"Oh, maaf tidak. Aku salah bicara. Ya sudah kamu lanjutkan saja membuat kerupuk aku bisa menunggu mu di sofa ini sekalian aku mau numpang tidur."
Aku pikir setelah dia tau aku sibuk hari ini dia akan pamit pulang malah sebaliknya dia ijin mau numpang tidur di rumahku sambil menungguku. Aku pun tidak dapat menolaknya dan tidak mungkin pula aku mengusirnya dari rumahku.
Aku meninggalkan dan membiarkan Andre rebahan di sofa sambil menunggu aku selesai membuat kerupuk. Karena aku memang harus membuat kerupuk agar cepat selesai dan langsung di jemur mumpung terik mataharinya sedang bagus. Lagi pula stok kerupuk mentahnya tinggal sedikit lagi sementara permintaan order semakin banyak. Aku bersyukur meskipun tanpa di jual online kerupuk ku laku keras melalui mulut ke mulut orang orang tau tentang kerupuk ku dan memesannya padaku. jadi aku tidak hanya menjualnya di warung warung kampung ku saja melainkan di tiga kampung tetangga yang berdekatan dengan kampung ku. Omset bulan ini pun naik enam puluh persen.
"Apa teman mu sudah pulang Nuri?" tanya bang Supri ketika aku menghampirinya.
"Belum, dia mah kalau tidak di seret paksa tidak bakal mau pulang bang." Aku sedikit ngedumel mengingat Andre pria pemaksa lebih pemaksa dari Raihan.
"Terus dimana dia sekarang?"
"Nungguin di sofa."
"Kok, kamu tinggalin? Kasihan lho."
"Biarkan saja bang, dia bukan anak kecil. Abang tau, kalau sudah kedatangan pria pemaksa dan menemaninya mengobrol kapan selesai membuat kerupuknya? karena kalau mengobrol sama dia itu butuh waktu satu hari baru kelar."
"Ehm..."
__ADS_1
Aku dan bang Supri menoleh ke arah sumber suara, ternyata Andre sedang berdiri sambil bersedekap dada menatap kami dengan tatapan yang tidak dapat aku artikan. Aku jadi salah tingkah karena sudah ke pergok sedang membicarakan nya. Aku sendiri tidak tau sejak kapan Andre berdiri di situ dan mendengar obrolan aku dan bang Supri.