
Tiga lapis selimut tebal dan pelukan erat Raihan sedikit menghangatkan tubuhku. Meskipun hanya sedikit setidaknya aku tidak terlalu kedinginan seperti semula. Apa yang Raihan lakukan saat ini sama persis seperti apa yang pernah dia lakukan dulu saat aku sedang menggigil kedinginan di rumahnya.
Aku tau Raihan sedang dalam keadaan kepanasan. Sangat terasa dari kaosnya yang merembes basah hingga bajuku pun ikut basah. Meskipun aku berkeringat tapi air keringat ku tidak separah air keringat Raihan saat ini.
Bagi tubuh yang sehat dan normal, bagaimana tidak kepanasan jika tidur di ruang tertutup tanpa AC lalu berselimut tebal tiga lapis pula.
"Apa sudah hangat sayang?" Tanya Raihan di tengah memeluk ku.
"Se..sedikit." Aku berusaha berucap meskipun bibirku masih gemetar.
"Besok pagi kita ke rumah sakit ya! aku takut ada penyakit yang serius dan harus di tangani seorang dokter hebat bukan dokter gadungan seperti pria tadi." Raihan nampak kesal. Bagaimana tidak kesal obat obatnya tidak mempan sama sekali. Kalau aku demam biasa minum obat warung saja sudah sembuh apalagi obat dari apotek. Tapi ini, padahal obat itu berasal dari dokter sendiri dan dia yang mendeteksi penyakitku tapi sama sekali tidak ada efek nya.
Meskipun keringat mengucur di tubuhnya Raihan tetap memeluk ku memberi kehangatan pada ku hingga aku dapat terlelap meskipun kurang nyenyak dalam kondisi tubuh seperti itu. Hingga aku tak lagi merasa menggigil melainkan berganti dengan suhu tubuh panas kembali. Aku bergerak gerak agar Raihan terbangun dan melepaskan pelukannya karena suhu tubuhku tidak lagi dingin melainkan sangat panas.
"Kenapa sayang?" Tanya Raihan saat dia terbangun.
"Pa..panas."
Raihan segera bangun dan membuka selimut yang menutupi tubuh kami lalu menyalakan AC agar ruangan dingin kembali. Setelah itu, dia menyibakkan tirai jendela dan seketika itu pula silauan sinar matahari menembus hingga wajahku melalui jendela kaca itu.
"Sudah pagi sayang, kita ke rumah sakit sekarang." Kata Raihan, kemudian menutup tirai itu kembali.
"Mama!" Zain yang sedang tidur di bawah mengunakan kasur bulu tiba tiba ikut terbangun dan duduk.
"Hei, anak papa sudah bangun juga. Kita mandi sekarang ya. Kita akan membawa mama ke rumah sakit." Kemudian Raihan mengangkat tubuh Zain dan membawanya ke kamar mandi.
Selain mengurus Zain dari mandi hingga sarapannya Raihan juga mengurusku. Dengan sabar dan tanpa mengeluh dia mengurus aku yang bolak balik ke kamar mandi karena terkena diare. Selain diare aku pun muntah berulang kali. Kondisiku semakin melemah saja. Selain demam panas, aku juga terkena diare hingga muntah sampai tubuh ku semakin lemas tidak berdaya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang sayang, kondisimu semakin mengkhawatirkan sekali." Ucap Raihan sembari mengoleskan minyak angin di perutku. Dalam keadaan kondisi seperti ini aku tidak protes atau marah ketika Raihan membubuhkan minyak angin di salah satu bagian tubuhku yang sedikit sensitif.
"Zain, papa gendong mama, Zain jalan ya!" kata Raihan pada Zain.
Zain mendongak melihat wajah Raihan tinggi."Iya papa."
Sambil menggendong ku Raihan menuntun Zain keluar dari apartemen menuju lif yang akan membawa tubuh kami hingga basemen.
Raihan menurunkan jok mobil agar aku bisa duduk lebih nyaman. Sementara Zain di pangku olehnya sembari menyetir. Sebenarnya aku tidak enak hati padanya yang nampak kerepotan sekali mengurus kami berdua. Untuk kesekian kalinya kami merepotkan nya padahal aku belum menjadi istrinya. Tapi apalah aku tanpanya jangan kan untuk mengurus Zain merawat diriku sendiri saja saat ini aku tidak mampu.
Raihan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan ibu kota. Beruntungnya pagi ini jalanan lancar karena hari libur jika hari kerja tentu saja pagi hari jalanan Jakarta penuh dengan hilir mudik orang orang yang akan berangkat kerja meskipun jalanan Jakarta tidak pernah ada sepinya tapi jika hari libur masih sedikit renggang.
Zain duduk tenang di pangkuan Raihan. Dia tidak mengganggu Raihan yang sedang mengemudi seperti yang mengerti jika calon papa sambungnya itu harus konsentrasi menyetir.
Hingga tiba di depan rumah sakit Raihan buru buru turun sembari menggendong Zain memanggil perawat untuk membantu ku turun dari mobil. Kemudian dua perawat datang sambil membawa kursi roda. Setelah aku berada di kursi roda mereka mendorong ku hingga ruang UGD yang nampak ramai oleh pasien. Tidak lama kemudian dua orang perawat itu memasangkan jarum infus di tanganku.
Raihan mendekatiku tanpa membawa Zain." Zain mana?" Tanyaku dengan sangat pelan hingga Raihan mendekatkan telinganya pada mulutku.
Raihan tersenyum." Kamu tenang saja. Zain aman sedang di jaga oleh seorang perawat di ruangan."Kemudian dia mengelus elus pucuk kepalaku.
Selang beberapa menit seorang dokter wanita memeriksa ku dan setelah melakukan serangkaian pemeriksaan brankar yang ku tiduri di dorong menuju ruang rawat inap.
Aku di pindahkan ke ranjang pasien yang empuk di ruang VIP itu. Aku pun melihat Zain sedang duduk anteng di atas sofa bersama seorang suster.
"Sebenarnya apa penyakit calon istri saya sus?"Tanya Raihan pada dua suster yang sedang memasangkan jarum infus.
"Masih dalam proses pemeriksaan mas, nanti kalau hasilnya sudah keluar kemungkinan dokter yang akan menjelaskan nya." Jawab salah satu dari mereka.
Meskipun mataku terpejam tapi telinga ku masih berfungsi dengan sangat baik. Aku dapat mendengar obrolan orang orang di sekeliling ku.
"Rai, bagaimana keadaan Nuri?" Tiba tiba aku mendengar suara yang sudah tak asing lagi di telingaku.
"Belum ada penjelasan pak, mungkin sebentar lagi. Terima kasih sudah menjenguk calon istri saya."
"Oh, ya, saya semalaman tidak bisa tidur perasaan saya tidak enak. Saya ingat sama kondisi Nuri terus."
"Kok bisa seperti itu ya pak?"
"Saya sendiri kurang tau, Rai."
Hening..
Kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekati ranjang tidurku.
Hening...
"Hanum.." Ucap pria yang suara nya sudah tidak asing lagi. Suara pria paruh baya yang baru tadi malam aku mengenalnya sebagai pak Bagas papanya Nura.
"Hanum, apa maksud pak Bagas sebut Nuri Hanum?" Tanya Raihan sepertinya dia penasaran.
__ADS_1
"Oh, maaf Rai, wajah Nuri mengingatkan saya pada istri pertama saya bernama Hanum."
Hening..
"Kenapa wajahnya begitu mirip dengan mendiang istri saya."
"Sudah berapa lama istri pak Bagas meninggal?"
"Sangat lama Rai, istri saya meninggal setelah melahirkan anak kedua saya seorang bayi perempuan."
"Apa bayi perempuan itu adalah Nura?"
"Bukan, anak saya ikut dengan ibunya setelah satu hari kepergiannya."
"Maksud pak Bagas?"
"Dia meninggal dunia."
"Apa pak Bagas yakin anak bapak sudah meninggal?"
"Saya sendiri yang menguburkannya, Rai."
Hening..
"Emm, Rai, apa kamu tidak menghubungi keluarganya?"
"Sudah, saya sudah memberitahu kakaknya."
"Orang tuanya?"
"Ayah nya sudah meninggal sejak Nuri masih kecil dan ibu nya setau saya dia tidak peduli sama Nuri."
"Tidak peduli! kok bisa seorang ibu tidak peduli sama anak kandungnya sendiri?"
"Saya kurang tau pak. Tapi setau saya ibunya sudah tidak peduli sama Nuri sejak dari kecil. Yang peduli sama dia hanya almarhum ayahnya saja."
"Apa karena itu kamu ingin menikahi nya meskipun..maaf Rai, dia sudah memiliki seorang anak?"
"Saya mencintai nya tanpa melihat kekurangannya pak, bagi saya dia pantas di cintai karena bukan saja cantik wajahnya tapi juga cantik hatinya meskipun usia kami terpaut kurang lebih lima tahun."
"Sepertinya satu tahun di atas Nura."
"Dua puluh tujuh tahun?"
"Benar pak, kurang lebih segitu."
Hening..
"Selamat pagi!" Suara seorang wanita tiba tiba terdengar di telingaku.
"Selamat pagi dokter. Bagaimana apa sudah di ketahui penyakit calon istri saya, dok?"
"Kemunginan besar penyakit yang sedang di derita oleh pasien adalah demam tifoid atau biasa di sebut sebagai penyakit tipes, pak Raihan."
"Tipes!" ulang Raihan dan pak Bagas.
"Iya, dan selain tipes pasien juga mengalami anemia."
"Anemia!" ulang Raihan dan pak Bagas serempak.
"Benar pak. Oleh karena kita harus melakukan transfusi darah karena darahnya sangat rendah sekali."
"Lakukan saja dok secepat nya."
"Iya pak Raihan, tapi masalahnya untuk golongan darah pasien sedang kosong di rumah sakit ini. Benar kan sus? kamu sudah mengecek nya?"
"Benar dok, kami sudah cek dan kami juga sudah menghubungi pihak PMI dan bank darah namun mereka bilang di sana pun kebetulan sedang kosong."
"Memang nya apa golongan darah pasien dok?" Raihan bertanya.
"Golongan darah pasien O pak Raihan."
Hening..
"Kalau begitu ambil saja darah saya dok, kebetulan darah saya O."
"Apa pak Bagas benar benar mau mendonorkan darahnya untuk Nuri?"
__ADS_1
"Iya Rai, saya mau."
"Terima kasih pak, terima kasih."
Dalam keadaan mata terpejam aku merasa air mataku keluar dari sudut mataku lalu mengalir hangat ke pipi. Dan tak lama sebuah usapan lembut terasa di pipi ku. Aku tidak tau siapa yang sudah menghapus air mataku.
Aku melirik ke arah sofa nampak pak Bagas sedang bermain dengan Zain namun aku tidak menemukan keberadaan Raihan. Aku tidak tau sudah berapa lama pak Bagas menunggu ku karena aku tertidur dan benar benar tertidur bahkan telingaku pun tak dapat mendengar obrolan orang orang di sekitar.
Setelah mendapat transfusi darah aku merasa tubuhku tidak selemah yang pertama meskipun demamku masih naik turun.
Pak Bagas menyadari kalau aku terbangun dia pun mendekatiku." Kamu mencari Raihan?"
Aku mengangguk pelan.
"Raihan sedang keluar sebentar mencari makanan untuk Zain."
Aku menyunggingkan senyum tipis padanya.
"Apa kamu mau memakan buah apel biar saya kupas kan?" Pak Bagas sudah memegang sebuah apel siap untuk di kupas.
Namun tiba tiba panas ku naik lagi dan aku memegang kepalaku yang terasa pusing sekali. Pak Bagas meletak kan apel itu kembali lalu memencet sebuah tombol.
"Saya sudah memanggil seorang perawat. Kamu sabar ya!"
Tak lama kemudian seorang perawat datang dan mendekati ranjang ku." Kenapa dengan pasien pak?" tanya perawat itu pada pak Bagas.
"Sepertinya panasnya naik lagi sus."
Mba suster mengambil sebuah botol ukuran kecil yang sudah tersedia di atas nakas lalu jarum infusan yang di gantung dan terhubung pada cairan infusan di alihkan pada botol kecil itu. Begitu lah, ketika suhu tubuhku meningkat mereka memberi paracetamol berbentuk cair dan di masuk kan melalui selang infus karena jika berbentuk pil akan aku muntah kan kembali.
Dalam hitungan menit panas ku turun lalu mba suster memasang cairan infusan kembali.
"Apa pereda panas itu tidak bisa bertahan lebih lama lagi sus."
"Hanya dalam jangka waktu empat jam saja pak dan bisa di berikan lagi setelah empat jam. Namun hanya bisa di berikan tiga kali sehari saja."
"Tapi bagaimana setelah tiga kali panasnya masih naik saja."
"Mungkin dengan cara manual pak seperti mengompresnya."
"Tapi kalau di kompres kan tetap saja panas mba."
"Ya habis bagaimana ya pak soalnya obat ini tidak boleh di berikan lebih dari dosis yang di anjurkan."
Di tengah obrolan Raihan dan suster tiba tiba Raihan masuk ke ruangan membawa beberapa kotak makanan.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak." Suster itupun pergi dari ruangan ku.
Raihan berjalan ke arah ku sembari tersenyum."Hei, kamu sudah bangun?"lalu duduk di samping ku dan mengelus pipiku.
Aku tersenyum lemah padanya.
"Tadi panasnya sempat naik lagi tapi suster sudah memberi pereda." Pak Bagas memberi tau sembari berdiri.
"Oh begitu, terima kasih banyak pak sudah menjaga Nuri dan Zain."
"Sama sama Rai."
"Oh ya pak Bagas pasti lapar dari siang belum makan. Ini saya beli makanan di restauran tadi." Raihan berdiri dan berjalan ke arah sofa lalu meletak kan beberapa kotak makanan di atas meja.
"Wah, saya jadi merepotkan kamu Rai." Ucap pak Bagas sembari jalan mendekati Raihan.
"Sama sekali tidak dong pak. Justru saya yang merepotkan. Seharusnya bapak berkumpul dengan keluarga bapak tapi malah membantu saya menjaga Nuri."
"Tidak apa apa Rai, istri saya sedang ke Singapura sama teman temanya. Dan Nura katanya sedang menginap di rumah temanya. Saya kesepian di rumah dan saya pikir mending di sini nemani Zain, iya kan nak?" ujar nya lalu mengelus pucuk kepala Zain yang sedang main mobilan kecil di atas sofa.
"Oh seperti itu. Ya sudah kalau begitu ayok kita makan dulu pak." Raihan membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Pak bagas ikut duduk di sofa dan aku hanya memperhatikan mereka dari atas ranjang ku.
Raihan menoleh ke arahku." Sayang, apa mau makanan yang aku bawa ini?"
Aku menggeleng pelan.
"Nanti makan bubur saja ya biar mudah di telan."
Aku mengangguk.
Nampak Raihan dan pak Bagas makan bersama di iringi obrolan. Mereka terlihat akrab sekali dan yang di obrolkan oleh mereka bukan saja soal bisnis melainkan tentang keluarga dan tentang persiapan kami menikah. Aku tidak tau apa alasan pak Bagas baik pada kami apalagi dia sampai mendonorkan darahnya untuk ku. Apa mungkin dia menghargai Raihan karena mereka merupakan teman bisnis? atau karena aku yang mirip dengan istri pertamanya? entah lah hanya dia yang tau.
__ADS_1