Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pernikahan ( End )


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Aku mematut diri di depan cermin yang besar. Ku tatap diriku sendiri dan aku merasa pantulan cermin itu bukan lah diri ku melainkan orang lain. Wanita yang ada di cermin itu benar-benar sangat cantik dan elegan sekali.


"Mashaallah, cucu Oma sangat cantik dan anggun sekali."


Aku menoleh ke arah dimana Oma sedang berdiri dan menatap kagum padaku lalu aku memberikan senyuman padanya. Selain Oma, Bi Sukma pun turut serta mengekor di belakang nya.


Bi Sukma menutup pintu kamar perlahan lalu mereka melangkah menghampiriku." Apakah sudah siap sayang?" Tanya Oma sembari meraih tanganku.


Aku tersenyum lalu mengangguk.


"Non Nuri cantiknya kebangetan. Tujuh bidadari yang ada di negeri dongeng saja kalah cantik nya sama si non. Bibi yakin, den Raihan semakin klepek-klepek saja sama si non karena saking cantiknya."


Aku tersenyum lebar mendengar pujian serta godaan bi Sukma begitu pula dengan Oma.


"Ya sudah yuk, kita keluar sekarang. Di luar orang-orang sudah tidak sabar menunggu mu apalagi Raihan."


Kemudian Oma memegang lenganku dan menuntun pelan. Sementara bi Sukma membantu memegang ekor gaun ku yang menjuntai panjang.


Di tengah melangkah, gerak langkahku terhenti. Tiba tiba aku menjadi sangat gugup dan jantungku berdetak tak karuan.


"Kenapa sayang?Tanya Oma menatap bingung padaku.


"Oma, Nuri nervous banget."


Oma menyunggingkan senyum hangat lalu berkata," tarik nafas dulu pelan-pelan."


Aku pun mengikuti saran Oma untuk menghirup nafas panjang lalu mengeluarkan nya perlahan. Hal ini sebenarnya sering kali ku lakukan untuk menetralisir perasaan ketika aku dalam keadaan gugup. Tapi entah mengapa, hari ini aku merasa ingin bermanja pada Oma sebelum status ku berubah kembali menjadi seorang istri. Ya, hari ini adalah hari pernikahan ku bersama Raihan hermawan gemilang. Dimana hari ini merupakan hari special yang sudah kami nanti nantikan sejak sekian lama terkhusus untuk Raihan. Tapi bukan berarti aku tidak menginginkan pernikahan ini hanya saja Raihan yang lebih dulu menyadari perasaanya padaku dan menginginkan pernikahan ini terjadi.


Kami melangkah pelan menuju ballroom dimana wedding venue pernikahan itu di adakan. Ketika aku baru saja menginjakkan kakiku di venue itu, wajahku tercengang melihat suasana di sana. Selain tempatnya yang nampak benar-benar begitu megah, aku juga melihat kurang lebih seribu tamu undangan telah hadir. Seribu tamu undangan itu merupakan teman atau relasi Raihan, papa, Oma serta Bu haji. Bu haji sendiri selain mengundang sanak saudara nya juga mengundang orang hampir satu kampung dan tak tanggung menyewakan lima bus sebagai mode transfortasi mereka datang ke resepsi pernikahan kami.


Tidak sedikit orang kampung yang merasa terkejut mendengar kabar pernikahan aku dan Raihan. Tidak pula sedikit orang kampung yang merasa terkejut mengetahui fakta tentang siapa Raihan dan aku sebenarnya. Selama ini, mereka menganggap Raihan hanyalah pemuda biasa yang sedang kuliah sembari bekerja part time di kota. Tidak ada yang tau bahwa dia adalah seorang pengusaha muda sukses karena Bu haji sendiri tidak pernah sesumbar pada orang-orang kampung. Begitu pula dengan ku, mereka terkejut setelah mengetahui bahwa aku adalah seorang puteri konglomerat. Seorang puteri atau cucu dari pemilik perusahaan besar Unity Corp yang cukup terkenal bahkan tidak sedikit masyarakat kampung yang mengetahui tentang perusahaan itu. Hampir semua orang kampung telah mengetahui bagaimana ceritanya seorang puteri konglomerat bisa berada di tengah-tengah keluarga Bu Retno yang toxic dan memiliki gengsi yang sangat besar untuk meminta maaf serta mengakui kesalahannya padaku. Hingga sampai mengalami struk parah pun Bu Retno enggan meminta maaf. Ya, ibu angkat ku itu terkena penyakit struk bahkan anggota tubuhnya sudah tidak lagi bisa di gerak kan. Hal itu terjadi karena selain rumah yang telah ku roboh kan, bang Supra telah menjual tanah itu dan kabur bersama keluarganya meninggalkan Bu Retno begitu saja. Namun naas nya, uang yang dalam bentuk cash dibawa kabur oleh bang Supra itu raib di atas kapal laut ketika mereka hendak kabur ke Batam.


Oma menuntunku melangkah pelan di atas red carpet di tengah para tamu undangan. Semua mata tertuju padaku. Semua kamera mengabadikan ku bahkan ada pula beberapa wartawan yang membidik ku. Papa dan Oma adalah orang penting yang memiliki nama di dunia bisnis jadi wajar saja jika mereka mengundang wartawan sekaligus untuk mengenalkan aku pada dunia bahwa anak atau cucu yang pernah di anggap meninggal oleh mereka ternyata masih hidup.


Selama berjalan di red carpet, aku merasa seperti seorang Puteri raja yang hendak duduk di singgasana atau seorang selebriti yang hendak mengikuti sebuah met gala.


Sepanjang menuju meja ijab qobul yang ada di depan sana, selama itu pula telingaku menangkap kalimat-kalimat pujian yang di lontarkan oleh para tamu undangan.


Di meja ijab qobul sana, nampak Raihan memandang ke arah ku tanpa mengedipkan matanya. Entah apa yang ada di pikirannya aku tidak tau. Selain Raihan, nampak pula papa serta Bu haji tersenyum ke arahku. Selain mereka, di kursi lain nampak kak Bayu sedang memangku Zain, bang Supri, Dino dan beberapa teman Raihan memakai pakaian seragam sebagai groomsman dan nampak pula Sumi serta beberapa gadis cantik yang ku ketahui sepupu Raihan sebagai bridesmaid. Raihan tidak seperti aku, dia memiliki saudara dan teman yang banyak. Sementara aku tidak memiliki saudara banyak dan teman ku hanya Sumi seorang.


Setelah aku berada di dekat meja ijab Qobul itu, Raihan masih tetap memandangku sampai papa menepuk bahu nya. Raihan sedikit terperanjat dan sikap nya itu membuat sebagian orang menertawakan nya.


"Sabar Rai, sabar!" goda kak Bayu. Raihan menunduk malu sembari tersenyum.


Aku di duduk kan di samping Raihan dalam keadaan gugup luar biasa. Aku tidak tau kenapa aku bisa se gugup ini. Padahal kami sudah sangat sering bersama bukan dua pasangan yang baru saja bertemu lalu di nikahkan.

__ADS_1


Satu persatu acara pun di mulai hingga pada acara inti yaitu ijab qobul.


"Bagaimana nak Raihan apakah sudah siap?" Tanya pak penghulu.


"Siap, saya sudah siap pak." Raihan menjawabnya dengan tegas.


Sementara aku yang mendengar kalimat jawaban Raihan menjadi semakin gugup. Padahal ini adalah bukan pernikahan ku yang pertama melain kan pernikahanku yang kedua kalinya. Dulu, saat pernikahan pertamaku perasanku biasa saja bahkan tidak merasakan gugup sama sekali. Apa mungkin karena sekarang aku menikah dengan seorang pria yang sangat aku cintai? oleh sebab itu aku menjadi gugup.


"Saya terima nikah dan kawin nya Nuri Aisha Bagaskara binti Bagaskara dengan mas kawin sebuah pabrik di bayar tunai."


Raut wajahku seketika tercengang mendengar ikrar ijab qobul yang Raihan ucapkan dengan lantang. Yang membuat aku tercengang adalah Raihan memberikan mahar sebuah pabrik untuk ku. Pabrik apa ? kenapa dia tidak memberi tahu aku sebelumnya? benak ku pun mulai bertanya tanya.


"Bagaimana para saksi apakah sah?"


"Saahhhhhh." Suara kata sah pun menggema di ruang ballroom tersebut.


Sebisa mungkin aku menahan agar air mataku tidak tumpah menahan rasa haru dan rasa bahagia yang tidak dapat ku ungkapkan dengan kata kata. Detik ini pula status ku sudah berubah bukan lagi seorang janda melainkan seorang istri dari Raihan Hermawan Gemilang, seorang pria yang sangat mencintaiku.


Raihan mengembangkan senyum lalu memasangkan cincin di jari manis ku begitu pula dengan aku memasangkan cincin di jari tangannya.


"I love you so much istriku." Kemudian dia melabuhkan sebuah kecupan di keningku dan sontak saja hal itu membuat orang-orang yang sedang menyaksikan pernikahan kami bersorak ria. Aku benar-benar malu sekali.


Nampak pancaran wajah kebahagiaan dari beberapa support sistem hidupku. Zain, papa, Oma, Bu haji, kak Bayu, bang Supri dan juga Sumi. Selain mereka, aku juga melihat pancaran kebahagiaan dari para tamu undangan yang hadir terutama para tamu yang mengenal ku dan mengetahui perjalanan hidupku dan orang-orang yang pernah baik padaku.


Setelah menjalani proses serangkaian acara, tibalah acara melempar sebuket bunga. Ketika bunga itu kami lempar ke arah pria dan wanita single yang sudah berkumpul dan bersiap menangkap, tiba tiba bunga itu di tangkap oleh seorang pria tinggi tegap dan tampan. Seorang pria yang pernah hadir di hidup ku, seorang pria yang pernah aku cintai. Ya, pria itu adalah Andre. Sekian lama pria itu tidak memunculkan wajahnya di hadapanku tapi kali ini dia hadir di pernikahanku.


Setelah berada di hadapan kami, Andre menyungging kan senyum lalu mengulurkan tangannya ke arah Raihan.


"Selamat little brother, kamu pemenangnya. Meskipun usia ku jauh di atas mu tapi tetap kamu lah pemenangnya di hati wanita yang luar biasa ini."


Jakun Raihan naik turun seperti sedang berusaha menelan salivanya. Aku semakin merapatkan tubuhku bahkan menyenderkan sebagian wajahku pada pundak Raihan tanpa ada rasa malu pada orang-orang yang sedang menonton kami.


Tak lama kemudian senyum mengembang di bibir Raihan lalu dia membalas uluran tangan Andre.


"Thanks big brother."


Andre tersenyum.


"Anyway, sebagai pertemuan terakhir ku....boleh kah aku mempersembahkan buket ini untuk istri mu?"


Raihan terdiam namun tak lama dia melirik ku." Silahkan saja karena aku yakin bunga itu tidak akan memberi pengaruh pada perasaan istriku," ucap nya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajahku. Aku tersenyum lalu membelai pipinya.


"Yah, kau benar. Seperti yang aku katakan tadi bahwa kamu lah pemenangnya."


Kemudian Andre memberikan buket bunga itu padaku. Sebelum aku menerima buket itu, aku melirik Raihan terlebih dahulu. Raihan tersenyum lalu mengangguk sebagai isyarat dia meminta aku untuk menerimanya. Andre melangkah pergi menjauhi pesta pernikahan kami setelah memberikan buket itu padaku.


Menjelang malam dan pesta telah usai.

__ADS_1


Aku duduk berdampingan dengan Raihan sembari memperhatikan Zain yang sedang di ajak bersenda gurau oleh opa, Oma dan eyangnya.


"Malam ini Zain bobo sama Oma saja ya sayang?" Kata ibu mertuaku (Bu haji).


"Tidak bisa dong, malam ini Zain tidur bersama Opa ya?" kata papa.


"Enak saja. Aku ini eyang nya Zain, jadi Zain akan tidur bersamaku." Oma tidak mau kalah.


"Lah, Bagas juga opa nya Zain, mama."


"Saya juga Oma nya Zain, Eyang."


"Zain itu cicitku aku yang lebih berhak."


Aku dan Raihan saling pandang melihat para orang tua sedang merebutkan Zain. Dan di saat itu pula papa memanggil kami.


"Nuri, Raihan."


Kami menoleh pada papa bersamaan.


"Cepat lah kalian kasih kami cucu lagi. Agar kami tidak merebutkan si Zain."


"Sekalian buatnya yang banyak." Oma melanjutkan ucapan papa.


Aku dan Raihan saling pandang kembali. Raihan tersenyum nakal sementara aku menunduk malu. Tanpa bicara lagi, dia mengangkat tubuh ku. Sontak saja perbuatan nya membuat aku malu pada para orang tua kami. Aku pun menenggelamkan wajah ku pada dadanya.


Raihan membawa aku ke sebuah kamar pengantin yang cukup besar lalu meletak kan tubuh ku di atas ranjang king size. Ketika Raihan hendak mencium ku, aku mencegahnya.


"Kita Belum sholat isya, Rai."


Raihan tersenyum menggaruk dan tengkuknya.


"Rai!" ucap ku ketika kami baru selesai melaksanakan ibadah.


"Kenapa sayang?"


"Kenapa tadi menyebut pabrik sebagai mahar pernikahan kita?"


Raihan tersenyum dan meraih tanganku lalu menceritakan tentang mahar itu. Raihan mengatakan bahwa selama satu tahun ini dia di sibuk kan membuat sebuah proyek pabrik di atas lahan dua ribu meter persegi yang berlokasi di daerah ku namun bukan di kampung ku melainkan di pinggir jalan raya. Pabrik itu sengaja di buat untuk mengembangkan usaha kerupuk ku setelah kami menikah. Raihan juga menceritakan bahwa pabrik itu sudah beroperasi sejak seminggu lalu dan memperkerjakan sudah mencapai hampir lima ratus pekerja. Jumlah pekerja ini akan terus bertambah seiring berjalan nya produksi. Hal ini tentu saja di bantu oleh bang Supri dan Sumi sebagai kaki tangan Raihan saat ini. Aku menatap binar wajah Raihan. Suami ku ini luar biasa sekali. Dia selalu memberi kejutan demi kejutan untuk membahagiakan ku termasuk pabrik kerupuk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh ku.


Karena terlalu senang dan bahagia yang tidak dapat ku ungkap kan lewat kata-kata. Aku mencium Raihan lebih dulu, ternyata ciuman ku di sambut nafsu oleh nya dan di saat itu pula kami melakukan penyatuan dengan penuh rasa cinta, sayang serta nafsu sebagai pasangan yang sudah sah di mata tuhan.


Di pagi hari.


Aku mengecup kening suamiku yang masih tertidur lelap setelah tadi malam melakukan penyatuan berkali kali. Aku menatap syukur diberi jodoh seorang suami seperti Raihan. Suami yang akan selalu memberikan kebahagiaan padaku. Suami yang tidak akan pernah memberikan nafkah lima ratus ribu melainkan Nafkah lima ratus juta per bulan.


...*Sekian*...

__ADS_1


__ADS_2