
Ketika aku sudah mendekati tempat yang ku tuju, aku melihat pria tua berperut buncit dan berkumis tebal sedang berdiri di tempat pembayaran. Namun ku lihat mimik mukanya terlihat cemas melihat sebuah kertas yang di sodorkan oleh staf administrasi. Ku yakini kertas itu pasti kertas tagihan pembayaran perawatan mba Yati. Aku penasaran aku pun lebih mendekatkan diri namun bersembunyi di balik tiang besar untuk menguping karena aku tidak ingin menampakan diri di depan pria itu.
"Mahal banget. Apa tidak bisa dikurangi harganya mba?" tawar pak Umar pada staf administrasi. Aku tersenyum miring mendengarnya. Apa dia pikir rumah sakit ini toko kelontong yang menjual perabotan rumah tangga dan bisa di tawar seperti toko kelontong miliknya?
"Maaf pak, tidak bisa. Itu sudah harga yang di tentukan oleh pihak rumah sakit,"kata staf yang berjenis kelamin wanita.
"Haduh, kemana aku harus mencari uang tambahannya,"gumam pak Umar namun masih dapat ku dengar dengan jelas.
"Kalau bapak tidak mampu kenapa tidak menggunakan kartu BPJS saja biar tidak di pungut biaya."
"Anak saya tidak punya BPJS mba."
"Kalau gitu kenapa tidak mengajukan SKTM ( surat keterangan tidak mampu ) saja sama pemprov supaya...."
"Apa kamu pikir saya ini orang miskin pakai surat begituan? saya ini bukan orang miskin saya orang kaya dan saya punya toko kelontong hanya saja saat ini saya tidak punya uang,"kata pak Umar memotong saran staf admin dengan nada membentak.
Aku geleng-geleng kepala saja mendengar ucapannya. Mengaku orang kaya tapi tidak punya uang. Dimana mana yang namanya orang kaya itu pasti memiliki banyak uang dan kalau tidak punya uang itu namanya bukan orang kaya.
"Terserah bapak mau orang kaya atau orang miskin yang jelas harga pembayarannya segitu dan tidak bisa di tawar. Kalau bapak tidak membayarnya dengan terpaksa pihak rumah sakit akan menahan pasien."Staf administrasi itu berujar dengan suara sedikit tinggi, mungkin dia kesal menghadapi orang yang mengaku kaya tapi tidak bisa membayar biaya perawatan. Jangan kan dia, aku saja kesal mendengarnya, sudah tidak bisa bayar mengaku orang kaya pula. Di saran kan untuk membuat surat keterangan tidak mampu malah tidak terima dan marah, terlihat sekali jika pak Umar memiliki gengsi yang tinggi sama halnya dengan mba Yati.
"Kamu berani mengancam saya hah?" bentak pak Umar sembari berkacak pinggang dan mata yang terlihat hendak keluar semua.
"Siapa yang mengancam bapak, memang itu sudah prosedur rumah sakit kalau bapak tidak percaya silahkan tanya kan langsung ke kepala rumah sakit sekalian."
Di tengah berdebat dua orang sekuriti menghampiri pak Umar, mungkin salah satu staf telah menghubungi mereka.
"Maaf pak, tolong jangan bikin keributan di rumah sakit," kata salah satu satpam itu.
"Heh, siapa yang bikin keributan di sini aku hanya tidak suka saja cara dia melayani ku." Pak Umar menyela.
"Pak satpam tolong bawa saja bapak ini soalnya keberadaanya menghambat kerjaan saya. Lihat itu masih banyak yang mengantri,"tunjuk mba staf pada bangku panjang dan ada beberapa orang yang duduk di sana.
"Mari pak ikut kami,"paksa dua satpam itu.
"Heh, apa apaan kalian, apa kalian pikir aku ini pencuri hah?" bentak pak Umar, dia tidak terima lengan nya mau di pegang oleh dua satpam itu.
"Bapak boleh kembali kesini lagi kalau uangnya sudah ada. Sekarang silahkan bapak pergi dulu karena di belakang masih banyak yang mengantri."
Pak Umar menepis lengannya dari dua satpam itu kemudian menatap tajam ke arah mba staf.
"Awas kamu ya!" tunjuk nya pada staf itu lalu beranjak pergi. Mba staf, dua satpam serta orang orang yang melihatnya geleng-geleng kepala saja.
Setelah kepergian pak Umar, aku baru keluar dari tempat persembunyian ku lalu ikut duduk di kursi panjang untuk mengantri. Beberapa menit kemudian sudah tidak ada lagi yang mengantri hanya tinggal aku seorang. Aku pun mendekati tempat pembayaran.
"Mba saya mau membayar biaya perawatan atas nama ibu Mariam pasien paru paru basah."
"Sebentar ya mba."
__ADS_1
Beberapa detik kemudian.
"emm....untuk pasien atas nama ibu Mariam sudah di bayar kan seluruhnya mba."
Aku mengernyitkan dahi ku mendengarnya.
"Maksudnya apa ya mba saya tidak mengerti?"
"Maksud saya, untuk biaya perawatan atas nama ibu Mariam sudah lunas mba."
"Lunas? tapi saya baru membayar rawat UGD saja mba."
"Iya, tapi ini sudah di lunasi sebanyak delapan juta tanggal enam atas nama bapak Raihan."
"Raihan?"pupil mataku membulat sempurna. Aku tidak menyangka Raihan sempat-sempat nya memikirkan sekaligus membayarkan biaya perawatan ibu Mariam. Padahal dia selalu bersikap jutek pada sumi begitu pula Sumi pada nya. Apa Raihan sengaja agar aku tidak mengeluarkan uang ku untuk membiayai perawatan Bu Mariam. Aku pikir aku harus menanyakan nya langsung pada Raihan.
Aku merogoh ponselku di tas kecil yang selalu ku bawa kemana pun aku pergi untuk menyimpan ponsel dan uang. Kemudian aku segera menelpon Raihan agar langsung bisa bicara dan benar saja Raihan langsung mengangkat telpon ku.
"Iya sayang, kangen ya tumben telpon,"kata Raihan di seberang telepon sana.
"Rai aku.."
"Nuri ..!"dokter Bayu memanggilku.
Aku menoleh nampak dokter Bayu sedang berjalan ke arahku dan sudah dekat. Rasanya tidak enak hati jika bicara dengan Raihan di depannya apalagi Raihan adalah kekasih adiknya.
"Apa sudah selesai?"tanya nya setelah berdiri di hadapanku.
"Sudah dok."
"Ya sudah kita ke ruangan Bu Mariam sekarang."
Aku mengangguk. Kemudian kami berjalan beriringan menuju ruang Bu Mariam. Tiba di sana nampak Sumi sedang berkemas kemas dan dua orang suster sedang mencopoti selang infus Bu Mariam. Salah satu dari perawat itu nampak tersenyum malu-malu pada kami namun aku rasa dia tersenyum malu pada dokter bayu.
"Apa sudah selesai?"tanya dokter Bayu pada dua suster itu.
"Su..sudah dok,"ucap suster yang tersenyum malu tadi. Dia menunduk kan wajahnya dan dari gesture serta sikap nya aku bisa memastikan bahwa dia menyukai dokter Bayu. Aku tersenyum saja, rasanya hal yang wajar jika dokter Bayu jadi incaran para perawat di rumah sakit ini, karena selain masih muda dia sangat tampan. Tapi kenapa Sumi mengatakan dokter Bayu ada kemiripan denganku? apa iya aku mirip dengan nya? lebih baik nanti aku bercermin saja setelah tiba di rumah.
"Nuri...apa taksinya sudah ada?"tanya Sumi.
Aku menoleh kearahnya."Sudah," jawabku.
"Dimana taksi itu menunggunya?"
"Disini."
"Maksudmu disini dimana Nuri?"
__ADS_1
Aku melirik ke arah dokter Bayu dan Sumi mengikuti arah pandanganku.
"Maksudmu dokter bayu yang akan mengantar kita pulang?"
"Iya mba Sum, sekalian aku ingin tau dimana rumah wanita cantik dan berhati malaikat ini,"kata dokter Bayu sembari melirik ku.
Aku tersenyum malu karena menurutku Dokter Bayu terlalu berlebihan memujiku. Tanpa sengaja pandanganku mengarah pada suster yang malu malu itu, dia terlihat cemberut seperti tidak suka mendengar pujian dokter Bayu padaku.
"Jangan berlebihan dok, fans dokter itu banyak, nanti kalau saya di serang sama fans dokter gimana?"canda ku.
"Ha ha, ada ada saja."
"Emm...kamu...siapa namanya saya...lupa?"tanya dokter Bayu pada suster malu malu sembari memijit keningnya seperti sedang berusaha mengingat.
"Saya....Mira dok,"jawab suster yang baru di ketahui bernama Mira sembari tersenyum malu.
"Ah, ya Mira, tolong ambilkan kursi roda dan bawa kemari," titah dokter Bayu.
"Ba..baik dok."Kemudian Mira bergegas pergi untuk mengambil kursi roda.
Setelah Mira kembali dan membawa kursi roda, Bu Mariam di dudukan di kursi roda itu. Awal nya Bu mariam menolak dengan alasan dia bisa berjalan tanpa tanpa harus menggunakan kursi roda itu, namun dokter Bayu tetap bersikeras agar Bu mariam menggunakan kursi roda saja mengingat jarak kamar paru paru dan parkiran cukup jauh.
"Dokter, bi..biar saya saja yang mendorong ibu ini!" Mira menawarkan diri pada dokter Bayu yang baru saja hendak mendorong kursi roda Bu Mariam.
Sejenak dokter Bayu terdiam dan begitu pula denganku serta Sumi."Oh, kamu baik sekali Mira. Silahkan kalau begitu,"kata dokter Bayu dengan senang hati membiarkan Mira untuk mendorong kursi roda Bu Mariam. Senyum mengembang pun terlihat di bibirnya, dia nampak senang mendapat persetujuan dari dokter bayu meskipun hanya berupa mendorong kursi roda. Begitu lah kalau kita sudah suka atau jatuh cinta pada seseorang apa pun akan di lakukan.
"Kalian tunggu di sini,"titah dokter bayu pada kami setelah berada di depan lobi.
Dokter Bayu berjalan ke arah parkiran dan aku mengekor karena aku membawa motor dan hendak mengambilnya. Namun ketika aku sudah berada di depan parkiran khusus roda dua, ku lihat ke dalam sana motor ku tidak ada di tempat. Aku mulai panik karena takut seseorang mencuri motor ku. Aku tidak ingin itu terjadi sebab motor itu pemberian Raihan apalagi harganya mahal. Namun ketika aku sedang berjalan untuk mendekati tukang penjaga parkir sebuah mobil membunyikan klakson di belakangku.
"Nuri..!"panggil dokter Bayu di dalam mobil berwarna hitam itu. Aku menoleh kebelakang lalu mendekati mobilnya.
"Mau kemana?" tanya dokter Bayu.
"Motor ku tidak ada di tempat, aku mau menanyakan dulu pada penjaga parkir,"jawab ku dengan cemas.
Dokter Bayu tersenyum lebar." Itu motormu," tunjuk nya pada sebuah mobil pick up yang sedang terparkir cantik di pinggir ujung jalan. Aku membulatkan mataku kenapa motorku berada di atas mobil itu? tanya ku dalam hati.
"Aku yang menyewa mobil itu untuk membawa motormu hingga sampai rumah dan kamu ikut dengan mobil ku."
"Kok bisa motor ku naik mobil itu kan kuncinya ada di aku?" Aku malah mempertanyakan bagaimana bisa motor itu naik ke atas mobil dalam keadaan terkunci.
"Motor mu tidak di kunci, mungkin kamu lupa menguncinya. Nanti jangan lagi seperti itu kalau ada yang mencuri bagaimana?"
Aku berusaha mengingatnya apa iya aku lupa menguncinya? tapi ya sudah lah, mungkin saja aku terlupa. Kemudian aku menaiki mobil dokter Bayu dan duduk di samping pengemudi karena dia sendiri yang meminta aku untuk duduk di depan. Setelah itu dokter Bayu mulai melajukan mobilnya menuju depan rumah sakit dimana Sumi dan ibunya sedang menunggu. Tiba di sana terlihat Mira masih setia menunggu kami. Wajah mira berubah tak enak di pandang ketika melihat aku dan dokter bayu turun dari mobil dan aku merasa dia cemburu padaku.
Di sepanjang perjalanan pulang tak banyak yang kami obrolkan hingga tiba di rumah dan baru turun dari mobil bang Supri berteriak.
__ADS_1
"Nurii...Zain hilang."