
"Rai, besok kamu jangan pergi kemana mana ya? keluarga ustad Amir akan bersilaturahmi ke rumah kita." Ibu memberi tahu sekaligus mencegah ku sampai aku terbatuk mendengarnya. Aku tau apa maksud kedatangan keluarga Risa ke rumahku nanti. Mereka butuh jawaban dariku, bersedia atau tidak bertunangan dengan anaknya, Risa. Jika di pikir lucu sekali, mestinya aku yang meminang Risa bukan Risa yang meminang aku.
Risa adalah adik kelas ku waktu SMA, aku tau dia sudah menyukai ku sejak dulu. Kita juga satu kampus namun beda tingkat dan beda fakultas. Dia sering kali mencari perhatian dariku namun aku tidak pernah meliriknya. meskipun Risa terbilang cantik dari segi wajah tapi bagiku kecantikannya tidak sebanding dengan kecantikan yang mba Nuri miliki.
Aku sendiri baru tau jika Risa satu kampung denganku ketika aku mengantar mba Nuri ke rumah salah satu pelanggannya yang tak lain adalah ibunya. Bahkan ibunya sempat menawarkan aku untuk dekat dengan Risa. Jujur saja, saat itu aku tidak suka dengan sikap ibunya dan untuk menolak tawarannya aku terpaksa mengatakan bahwa Risa cantik dan primadona di kampus serta banyak penggemar. Aku tidak bisa menyukai wanita yang memiliki banyak fans laki laki. Bukan tanpa alasan aku mengatakan demikian. Sebab, jika aku menolak secara langsung aku takut membuat ibu dan anak itu sakit hati atas penolakan ku. Padahal sebenarnya aku sendiri tidak tau bagaimana keseharian Risa di kampus karena aku tidak pernah memperhatikannya.
Aku diam sejenak memikirkan jawaban apa yang harus aku ucapkan agar ibuku tidak marah atau tidak kesal padaku karena sebenarnya aku malas sekali menemui mereka. Selang beberapa detik aku menjawabnya hanya dengan satu kata," inshaallah,"dengan nada pelan. Lalu fokus kembali pada layar laptopku.
Ibu menutup bukunya kemudian membuka kacamata baca nya lalu meletakan nya di atas meja. Saat ini aku dan ibu sedang duduk bersama di ruang keluarga. Ibu yang sedang membaca buku sementara aku sedang mengontrol usahaku.
"Rai !"panggil ibu.
Aku mendongak dan menyahutinya,"kenapa Bu?"
"Apa kamu masih dekat dengan Nuri?" tanya ibu dengan wajah seriusnya.
Aku diam sejenak." Memang kenapa Bu kalau aku berteman dengan mba Nuri?" jawab ku kemudian, Namun aku balik bertanya padanya.
"Rai, kamu kan tau kalau Nuri itu sudah punya suami, ibu tidak mau kamu di sebut mengganggu istri orang. Bagaimana kalau ustad Amir tau kamu dekat dengan istri orang?"
"Aku tau Bu, tapi hubunganku dan mba Nuri hanya sebatas berteman tidak lebih. lagi pula kenapa ibu memikirkan ustad Amir? apa hubungannya dengan dia?"Aku jadi kesal pada ibu, membawa nama orang lain di dalam urusanku.
"Ustad Amir itu kan orang terpandang di kampung ini Rai, jadi kalau kamu berbuat yang tidak tidak namanya akan ikut tercoreng."
"Lantas apa hubungannya aku dengan dia Bu? kenapa harus tercoreng?" tanya ku dengan nada sedikit tinggi karena aku mulai kesal.
"Karena dia itu calon mertuamu Rai !"
Aku menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya. Aku menahan emosiku agar tidak menyakiti hati ibuku meskipun sebenarnya aku benar benar kesal pada penekanannya.
"Bu, sudah berapa kali aku katakan pada ibu bahwa aku tidak mencintai Risa. Bagaimana mungkin aku bisa bertunangan dengannya!"
"Oh, apa jangan jangan kamu masih mengharapkan Nuri yang sudah jadi istri orang Rai?" tanya ibu dengan kalimat yang di tekan kan.
"Tolong jangan bawa bawa mba Nuri di dalam urusanku ini Bu, tidak ada hubungannya dengan dia. Ini masalah perasaan ku yang tidak memiliki perasaan apa apa pada Risa. Lagi pula, aku ini masih terlalu muda untuk menikah Bu, masih banyak cita cita yang belum aku gapai."
Setelah berujar aku berdiri tegak sambil membawa laptop ku. Namun sebelum aku beranjak pergi meninggalkan ibu yang masih duduk dan bungkam aku berkata," Meskipun aku tidak di takdir kan bersama dengan mba Nuri, bukan berarti aku memiliki keinginan untuk menikahi Risa Bu. Di dunia ini masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari Risa serta keluarganya."
Perubahan sikap ibu membuatku bertambah tidak menyukai Risa dan orang tuanya karena kedatangan mereka beberapa waktu yang lalu telah memberikan pengaruh pada ibuku. Ibu yang biasanya selalu bersikap lembut, bijak dan selalu mendukung apa pun yang menjadi keputusanku atau keinginan ku, sekarang berubah menjadi seorang ibu pemaksa serta penekan.
__ADS_1
Ibu masih duduk mematung serta pandanganya nanar. Aku tau dia sedih karena aku menolak keinginannya. Sungguh bukan bermaksud melukai hatinya tapi karena masalah wanita apalagi jodoh masa depan ku, aku lebih sensitif dan selektif. Tidak mungkin aku memperistri Risa, bukan hanya karena aku tidak mencintai nya melainkan aku tidak menyukai sifat dan sikapnya yang jauh dari kriteria wanita yang aku inginkan.
Aku meletakkan laptop di atas meja belajar sekaligus meja kerja ku. Setelah itu, aku merebah kan tubuhku di atas kasur empuk. Sambil menyilang kan kedua tangan ku sebagai bantal, pikiran ku menerawang kemana mana. Aku memikirkan mba Nuri, memikirkan ibu serta memikirkan pinangan Risa. Aku bingung harus bagaimana menyikapi mereka yang masih saja mengharapkan aku bertunangan dengan Risa. Andai saja ibu tidak mendukung nya, mungkin aku sudah menolaknya mentah mentah.
Keesokan harinya, ketika matahari sudah nampak sedikit meninggi, aku ke luar rumah dan mengambil salah satu motor sport ku di dalam garasi. Saat aku sudah mengeluarkan nya, ibu sudah berdiri di depan garasi dan bertanya dengan nada menyelidik," mau kemana kamu Rai, masih pagi gini? bukan nya hari ini kamu libur kuliah ya?"
Keberadaan ibu yang tiba tiba membuat aku sedikit terkejut namun aku menyikapinya dengan setenang mungkin kemudian menjawabnya," kuliah ku memang libur tapi usahaku tidak libur kan Bu! aku mau ngecek ke showroom."
"Tapi Rai, ibu kan sudah bilang tadi malam kalau hari ini Risa dan keluarganya mau datang."
"Tapi belum pasti mereka datangnya jam berapa kan Bu?"
Ibu bungkam.
"Usaha ku ini jauh lebih penting dari pada sekedar menunggu mereka yang datangnya belum pasti Bu. Kalau usahaku bangkrut karena kurang kontrol akan sulit di bangunnya lagi karena butuh dana yang besar. Tapi, kalau pertemuan dengan keluarga ustad Amir gagal tidak masalah, toh di luar sana masih banyak perempuan yang lebih cantik dan berbeda beda latar belakang sedang mengantri ingin ku pacari. Apalagi Risa tidak ada apa apanya di bandingkan dengan mereka."
Ibu terdiam mendengar ujaran ku dan aku tersenyum melihat ekspresi bengong nya. Baru tau dia kalau anak nya yang tampan ini memiliki fans banyak di luar sana. Bukan omong bohong. Apa yang aku katakan memang benar adanya. Bukan hanya Risa yang mengejar cintaku namun masih banyak di luar sana yang tidak bisa aku ceritakan.
"Begitu banyak wanita yang mengejar cintaku namun hanya satu wanita yang aku kejar cintanya yaitu kamu mba Nuri...Wanita satu satunya yang menempati ruang hatiku."
Di tengah kebisuan, aku melajukan motorku keluar pintu gerbang dan ku arahkan menuju rumah mba Nuri. Namun sebelum aku tiba di rumahnya, ku titipkan motorku terlebih dahulu pada sebuah bengkel kecil. Bukan tanpa alasan aku menitipkan motor dan berjalan kaki menuju rumah mba Nuri.
Aku berjalan ke arah dapur karena aku yakin mba Nuri pasti lagi sibuk di sana. Setelah tiba di dapur, benar saja mba Nuri sedang berdiri di depan kompor dan sibuk menggoreng kerupuk. Ku tepuk pundaknya dan perbuatan ku cukup membuatnya sedikit terkejut.
"Rai..kebiasaan deh, main nyelonong masuk terus ngagetin." Mba Nuri mengomel tanpa menoleh ke arahku. pandangannya tak lepas dari wajan yang berisi minyak dihadapannya.
"Ha..ha, kok mba bisa tau kalau aku yang datang?" tanya ku penasaran.
Terlihat mba Nuri mematikan kompornya terlebih dahulu kemudian berbalik mengarah kepadaku lalu menjawabnya," gimana tidak tau Rai, dari wangi parfum mu saja sudah bisa di tebak."
Jujur aku senang mendengar pengakuan mba Nuri bahwa dia hapal dengan wangi parfum yang ku pakai tiap hari. kemudian aku menggodanya," Wah, kalau mba sudah hapal sama wangi parfum ku, berarti selama ini mba memperhatikan aku ya?"
Mba Nuri terlihat salah tingkah. Dan aku merasa apa yang aku ucapkan adalah benar bahwa selama ini dia memperhatikanku.Tapi sayangnya, mba Nuri tidak mengakuinya melainkan menyangkalnya dengan malu malu.
"Percaya diri sekali kamu Rai," sanggahnya, sembari mengangkat toples ukuran besar berisi kerupuk yang baru saja dia goreng.
Aku tertawa renyah sambil tangan ku terulur meraih toples besar yang sedang dia pegang dan berkata," sini aku saja yang bawa mba!" menawarkan diri.
"Tidak perlu Rai, ini enteng banget lho!" dia menolak.
__ADS_1
"Tapi ini toplesnya besar banget mba."Aku masih saja memaksa.
"Jangankan toples ini yang beratnya tidak seberapa, galon saja sering aku angkat Rai,"
"Kuat banget dong mba, kalau angkat aku kuat tidak ya?"aku menggodanya lagi.
"Ngapain aku angkat kamu, memangnya kamu anak ke.....!" mba Nuri segera membekap mulutku sepertinya dia takut keceplosan. Namun, meskipun dia tidak melanjutkan ucapannya, aku tau kalau dia mau mengatai aku anak kecil.
"Sekali lagi mba sebut aku anak kecil, aku cium kamu mba!" ancam ku. Aku sedikit kesal padanya. Aku pun memasang wajah di tekuk. Namun mba Nuri tidak menghiraukan ekspresi ku, dia hanya tersenyum tipis lalu duduk di lantai. Aku memperhatikan gerakan tangannya yang lincah memasuki kerupuk ke dalam sebuah plastik kecil.
"Mba telaten banget bungkusin nya!" puji ku. dia tersenyum lalu menjawab," ini kan pekerjaanku selama tiga tahun Rai." Pengakuannya membuat ku sedikit tercengang dan aku bertanya kembali memastikan."Mba serius tiga tahun bekerja membuat kerupuk?"
"Kalau tidak membuat kerupuk darimana aku bisa makan Rai, sementara aku saja tidak bekerja di luar." Sedikit demi sedikit dan tanpa di sadari dia membuka privasinya padaku.
Aku memandang mba Nuri dengan wajah serius."Tapi mba kan punya suami. Kenapa dia tidak mencukupi kebutuhan mba dan membiarkan mba bekerja keras? bukannya dia bekerja dan bergaji besar?"
Seketika dia bungkam dan seperti kebingungan untuk menjawab pertanyaan ku dan seperti ada yang di tutup tutupinya.
"Mba, katakan saja terus terang sama aku! mba percaya kan sama aku?" tanya ku lagi."
Namun, Mba Nuri mengalihkan pembicaraan. Aku menghela nafas berat karena aku sedikit kecewa padanya yang tidak mau berterus terang padaku. Padahal kita sudah sangat dekat dan pertemuan kali ini bukan lah pertemuan pertama kalinya melainkan untuk ke sekian kalinya. Namun masih saja ada yang di tutup tutupinya.
Kemudian aku mencicipi kerupuk yang ada di dalam toples. Kerupuk yang kami buat bersama kemarin atas ide dan resep mba Nuri sendiri sementara aku hanya sekedar membantunya saja. Setelah kerupuk itu berada dalam mulutku, jujur ku katakan bahwa rasa kerupuknya enak sekali. Aku tidak menyangka mba Nuri bisa menciptakan rasa kerupuk yang sangat enak. Pujian pun tak henti hentinya ku lontarkan dan itu cukup membuat mba Nuri terlihat senang.
Aku mengulurkan tanganku, kemudian mengusap kepalanya yang terbungkus oleh jilbab dan berkata,"Tetap semangat ya mba, tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha dan bekerja keras inshaallah apa yang menjadi keinginan kita akan terlaksana. Yang penting harus tetap berikhtiar dan berdoa sama sang pemberi rezeki. Libat kan dia dalam setiap urusan kita." Aku memberi dukungan serta nasehat padanya agar dia tetap semangat menjalankan usahanya.
Entah dalam keadaan sadar atau tidak sadar, mba Nuri meraih tanganku yang sedang mengusap kepalanya lalu menempelkan telapak tanganku pada sebelah pipinya. Memiringkan kepalanya sedikit dan sebelah tangannya tetap menahan punggung tanganku hingga telapak tanganku tetap menempel di pipinya. Dia memejamkan matanya dengan senyuman yang tersungging di bibir tipis miliknya seperti sedang merasakan sentuhan telapak tanganku yang hangat.
Seulas senyum tersungging di bibir tipis ku melihat perilaku nya padaku yang tak biasa. Karena biasanya aku lah yang lebih dulu berperilaku macam macam padanya seperti memeluk serta mencium nya yang secara tiba tiba. Mengelus punggungnya serta mengusap air matanya ketika dia menangis.
Aku menjewel hidung mancungnya dan membuatnya membuka mata lalu melepaskan tanganku dari pipinya. Dia menunduk malu padaku atas kelakuannya sendiri.
"Menyesal aku menjewel hidungmu mba, biar mba tidak melepaskan tanganku."
Dia semakin menunduk kan wajah malu nya. Kemudian aku meraih daku nya hingga kami saling bertatapan.
"Aku tau mba sudah memiliki perasaan padaku kan?" tanya ku dengan serius.
Namun, mba Nuri menyangkal perasaannya padaku. Dia bilang dia hanya terharu saja telah mendapat dukungan dariku atas usahanya. Jujur aku kecewa padanya, padahal aku hanya ingin tau perasaannya saja. Tapi, mungkin dia bingung karena statusnya yang saat ini masih seorang istri.
__ADS_1