Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Keinginan manis Raihan


__ADS_3

Raihan tersenyum melihat kepergian mas Surya dari kamar rawat ku. Setelah itu, dia mendekatiku lalu berucap," Apa model suami seperti itu yang akan selalu mba pertahankan? apa mba rela menghabiskan sisa hidup mba dengan pria yang tidak memiliki rasa tanggung jawab sepertinya? Aku tidak mengerti kenapa mba bisa mencintai laki laki sepertinya dan menikah dengannya?" Raihan menghela nafas setelah mengungkapkan kekecewaannya padaku. Kecewa karena menurutnya aku mencintai mas Surya dan tetap mempertahankannya untuk tetap menjadi suamiku.


"Rai...!"


"Istirahat lah mba..!" Raihan berjalan menghampiri Zain dan mengabaikan panggilanku.


Ku urungkan niatku untuk menjelaskannya melihat sikap Raihan yang sepertinya tidak ingin berbicara denganku.


Raihan mendiami ku setelah kedatangan mas Surya. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya bermain bersama Zain. Biasanya Raihan akan duduk di tepi ranjang lalu mengajak ku mengobrol atau becanda tapi hari ini tidak. Raihan lebih banyak diam dan bicara pun seperlunya. Jujur rasanya tidak enak sekali di diami Raihan yang biasanya cerewet padaku.


Tak terasa sudah lima hari aku di rawat di rumah sakit. Kondisiku pun sudah mulai membaik. Aku senang sekali ketika dokter membolehkan aku pulang hari ini. Namun satu hal yang mengganjal di pikiranku yaitu bagaimana Raihan bisa membayar biaya administrasinya yang jumlahnya tidak sedikit.


Ketika ada seorang perawat yang memasuki ruang rawat ku dan hendak mencabut jarum infus di tanganku, aku berpikir ini kesempatannya aku mencari tau tentang berapa biaya yang harus di keluarkan selama aku di rawat di rumah sakit. Maksud tujuanku mencari tau adalah siapa tau suatu hari nanti aku memiliki Rizki lebih aku akan mengembalikannya pada Raihan.


"Mba apa saya boleh minta tolong!" ucapku pada perawat yang sedang mencabut jarum di tanganku.


"Minta tolong apa mba?"


"Apa saya boleh tau berapa biaya rawat inap saya di sini?"


"Kenapa tidak mba tanyakan pada mas nya? karena sepertinya mas nya sudah melunasinya."


"Dia tidak akan mau memberi tahu berapa jumlahnya mba!"


"Owh, begitu ya, ya sudah mba, nanti saya akan mintakan pada bagian administrasi."


"Terima kasih ya mba?"


"Sama sama mba, ya sudah kalau begitu saya permisi dulu."


Aku mengangguk dan sang suster keluar dari kamarku. Tak selang lama Raihan datang bersama Zain.


"Apa sudah di copot jarum infusnya mba?"


"Sudah Rai."


"Kita pulang hari ini ya mba, saya siap siap dulu."


Aku mengangguk dan Raihan mulai mengemasi barang barang kami. Tak lama kemudian, perawat yang ku mintai tolong tadi kembali lagi ke kamarku lalu memberikan sebuah kertas. Raihan melihat kami dan bertanya,"kertas apa itu mba?"

__ADS_1


Aku sedikit tersentak karena Raihan mengetahui aku memegang sebuah kertas pemberian perawat yang baru saja keluar dari kamarku dan dengan gugup aku menjawabnya,"Oh, ini catatan tentang obat yang harus ku minum di rumah Rai!" aku terpaksa berbohong karena aku tidak ingin Raihan mengetahuinya bahwa aku sedang mencari tau tentang biaya perawatan ku.


Raihan tidak lagi bertanya dia melanjutkan lagi berkemas. Ketika Raihan masuk ke dalam kamar mandi, ini kesempatan aku untuk membaca kertas yang ada di tanganku. Kemudian aku membacanya dengan detail atas perincian biaya hingga pada totalnya yang berjumlah fantastis. Aku membelalak kan mataku ketika melihat nominal angka yang tertera di kertas. Dua puluh tiga juta dua ratus tujuh puluh ribu. Biaya rawat inap ku selama lima hari. Kenapa mahal sekali dan apakah Raihan memiliki banyak uang sehingga dia mampu membayar rawat inap ku yang berjumlah fantastis ini? pikirku.


"Apa mba sudah siap kita pulang sekarang?"pertanyaan Raihan membuyarkan lamunanku.


"Owh, iya Rai..aku sudah siap."


Raihan mengambil kursi roda untuk ku namun aku menolaknya dan berucap,"aku sudah sehat dan bisa jalan kaki Rai, jadi tidak perlu pakai kursi roda." Aku menolaknya karena aku tidak ingin Raihan capek mendorongku hingga parkiran.


"Mba baru pulih, sudah naik saja dan mba bisa sambil memangku Zain."


Akhirnya aku menuruti perintah Raihan, aku tidak ingin berdebat dengannya. Kemudian aku menaiki kursi roda sambil menggendong Zain dan Raihan mendorong kursi rodaku serta membawa dua tas di tangannya hingga menuju parkiran mobil.


Sepanjang jalan kami terdiam tidak ada obrolan apa pun. Aku memilih untuk memejamkan mataku meskipun tidak ingin tidur sementara Raihan memilih fokus mengemudi.


Hingga tak terasa kami tiba di depan rumah Raihan. Aku melirik ke arah Raihan dan Raihan sendiri sedang menoleh ke arahku.


"Rai, kamu membawaku ke rumahmu lagi?"


"Aku akan mengantarkan mba pulang kalau mba benar benar sudah pulih."


"Turun yuk mba, sini Zain nya biar aku yang gendong." Raihan tidak menanggapi ocehan ku melainkan mengalihkannya. Dia mengambil Zain dari pangkuanku lalu memasuki rumahnya. Dan aku, mau tak mau mengekor di belakangnya karena aku tak mungkin pulang ke rumah tanpa membawa Zain.


Rumah Raihan masih terlihat sepi karena Bu haji belum pulang dari Bogor, di rumah anak pertamanya. Kata Raihan dua hari lagi Bu haji akan pulang. Aku dan Raihan duduk di atas sofa ruang keluarga sementara Zain main mobil mobilan di lantai. Raihan membelikan banyak mainan lagi untuk Zain ketika di rumah sakit.


"Sebentar ya mba!" Raihan bangkit dari duduknya lalu berjalan menuruni tangga dan aku hanya memperhatikan punggungnya saja. Tak selang lama dia kembali lagi sambil membawa sebuah paper bag di tangannya serta beberapa piring lalu meletakkan nya di atas meja. Raihan mulai menata beberapa kotak makanan di atas piring. Terlihat ada nasi, ayam bakar, rendang, capcay serta sup salmon. Aku mengerutkan dahi ku sambil memandangi hidangan di atas meja. Aku heran kapan Raihan membeli makanan ini tiba tiba saja sudah ada? pikirku. karena penasaran aku pun bertanya," Rai, kapan kamu membeli makanan ini? bukan kah di jalan tadi kita tidak berhenti ya?"


Raihan tersenyum sambil tangannya meletak kan nasi serta sup salmon di atas sebuah piring. Mungkin makanan itu akan dia berikan untuk makan Zain.


"Tadi saat masih di rumah sakit."


"Jadi tadi kamu ke luar untuk membeli ini?"


Raihan mengangguk dan berucap," ayok mba di makan, dokter bilang mba harus makan makanan yang mengandung gizi."


Aku yang sangat jarang sekali memakan makanan bergizi merasa malu mendengar ujaran Raihan. Raihan bilang dia tau tentang bagaimana hidupku dan bisa saja Raihan tau masalah makanan apa yang sering aku makan tiap hari.


Aku makan dengan lahap, Selain enak aku juga lapar serta nafsu makan ku mulai kembali. ayam bakar serta daging rendang yang tidak pernah aku nikmati setelah menikah dengan mas Surya dan saat ini aku bisa menikmatinya secara gratis. Aku pun tidak ingin menyiakan kesempatan yang ada. Aku makan sedikit tergesa seperti yang tidak makan dua hari saja hingga bumbu rendang belepotan di bibirku.

__ADS_1


Aku baru sadar jika dari tadi Raihan memperhatikan ku makan sambil menyuapi Zain. Raihan tersenyum padaku dan aku merasa malu sekali lalu aku pun memelankan gerakan makan ku.


Raihan mengulurkan kan tangannya ke arah wajahku kemudian menempelkan jempolnya di bibirku yang belepotan oleh bumbu rendang lalu mengusapnya dengan pelan dan aku merasa terkesima di buatnya.


"Seperti anak kecil saja makan nya!" ucap Raihan sembari tersenyum manis. Aku menundukkan wajahku merasa malu sekali.


"Tidak apa apa mba, lagi proses pemulihan. Aku justru senang selera makan mba sudah kembali," sambungnya lagi. Entah Raihan memaklumi ku karena memang selera makan ku kembali normal atau merasa kasihan padaku yang baru merasakan makan daging.


"Mba istirahat saja di kamar!" titah Raihan setelah kami selesai makan dan Raihan membereskan bekas makan kami.


"Aku merasa pegal Rai, tidur terus," keluh ku. Raihan tersenyum lalu berucap," ya sudah temani Zain saja. Aku kebawah dulu."


Aku mengangguk. Raihan berjalan sambil membawa sampah serta piring piring kotor bekas kami makan. Aku hanya memperhatikan punggungnya yang sedang berjalan menuruni anak tangga.


Ku hampiri Raihan yang sedang mencuci piring di wastafel dan berdiri di sampingnya. Aku memperhatikannya gerakan tangannya yang lincah mencuci piring.


"Mba, kenapa kemari?" tanya Raihan setelah menyadari keberadaan ku.


"Aku ingin membantumu cuci piring Rai!"


"Tidak perlu mba, ini hanya sedikit dan mau selesai," tolak Raihan tanpa menghentikan gerakan tangannya.


"Kalau di perhatikan kamu cekatan dan serba bisa ya melakukan pekerjaan wanita Rai?"


"Ya habis gimana ya mba, namanya juga seorang bujangan dan belum memiliki istri jadi apa apa harus di lakukan sendiri termasuk mengerjakan pekerjaan wanita."


"Owh, begitu!"


Raihan selesai mencuci piring lalu membersihkan tangannya. Karena Raihan sudah selesai aku pun hendak pergi dari dapur namun tiba tiba dua buah tangan melingkar di pinggangku. Raihan memeluk ku dari belakang dan meletak kan dagunya di pundak ku.


"Rai....!"


"Kapan ya aku bisa memiliki mba seutuhnya? menjadikan mba istriku dan menjadikan ibu dari benih benihku?" tanya Raihan sambil merekatkan pelukannya. Hembusan nafas hangat serta wangi mint terendus di hidungku. Dan aku merasa aku menyukai hembusan nafas Raihan. Perlakuannya membuatku memejamkan mataku. Keinginannya terdengar manis sekali di telingaku. Aku di inginkan oleh laki laki yang mencintaiku dengan tulus.


Namun tak lama aku tersadar bahwa statusku adalah wanita yang sudah memiliki seorang suami. Aku memegang kedua telapak tangan Raihan yang bertengger di perutku dengan pelan lalu melepaskannya.


"Rai, aku harus menemui Zain, takut dia mencari ku," ucap ku lirih. Raihan tidak menanggapinya dia hanya diam mungkin Raihan merasa kecewa atas sikapku.


Aku meninggalkan Raihan yang masih berdiri mematung menuju dimana Zain sedang bermain. Tiba di sana ku dapati Zain yang sedang tertidur di atas lantai. Aku kaget sekali melihatnya bagaimana Zain bisa tertidur di atas lantai ketika dia sedang bermain? apa dia merasa benar benar mengantuk? pikirku.

__ADS_1


__ADS_2