Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Lidah tajam Bu Rida


__ADS_3

Sore hari, aku berjalan sambil menggendong Zain menuju warung sayuran. Di pinggir jalan ku tatap rumah Raihan dalam keadaan pintu gerbang tertutup rapat mungkin sepertinya Raihan sedang pergi.


Aku melangkahkan kakiku menuju warung sayuran dengan semangat karena besok aku ingin berjualan gorengan lagi. Meskipun Raihan melarang ku dagang untuk sementara waktu dan sudah memberikan uang banyak padaku tapi aku tidak ingin bertumpu tangan saja, Toh aku sudah merasa sehat dan kuat.


Tiba di warung, aku bertemu dengan Bu Rida serta Bu Siti, pemilik warung yang biasa aku menitipkan dagangan kerupuk ku. Aku tersenyum dan menyapa mereka yang sedang memilih sayuran namun Bu Rida mengalihkan pandanganya seperti tidak ingin melihatku dan hanya Bu Siti saja yang menyapaku dengan ramah.


"Eh, ada Nuri...rasanya lama tidak bertemu. Terus kenapa tidak mengirim kerupuk lagi ke warung saya Nur?" tanya Bu Siti sambil menepuk lenganku.


Aku tersenyum tipis padanya lalu menjawab," saya belum ada waktu lagi untuk membuat kerupuknya Bu!" aku beralasan padahal sebenarnya aku sedang malas membuatnya karena hasilnya hanya akan di kuasai oleh ibuku.


"Lho, Bu Siti ini tidak tau ya kalau Nuri ini sudah beralih profesi jadi tukang gorengan keliling." Bu Rida tiba tiba saja menyela obrolan kami sambil menatap sinis ke arahku. Aku merasa sikap Bu Rida berubah semenjak aku dekat dengan Raihan.


"Oala beneran Nuri? pantes saja tidak membuat kerupuk lagi orang sibuk jualan. Hebat kamu Nuri, Padahal kerupuknya cukup laku di warung saya lho, orang orang pada nanyain."


Bu Rida terlihat mencebik kan bibirnya mendengar Bu Siti memuji ku lalu menimpalinya," Halah, hebat apanya sih Bu Siti. Jualan gorengan keliling kok di bilang hebat."


Aku hanya diam dan menyimak saja obrolan mereka tanpa ingin menimpali ucapan pedas Bu Rida.


"Ya hebat lah Bu, masih muda tapi mau berjualan gorengan keliling tanpa ada rasa malu. Anak muda jaman sekarang kan kebanyakan gengsian Bu Rida." Aku senang melihat Bu Siti membelaku.


"Tuntutan hidup Bu Siti, karena hidup itu harus makan. Ya seperti si Nuri ini hidupnya susah di tambah lagi pendidikan dia rendah. Dia hanya tamatan SMA jadi ya bisanya hanya jualan gorengan karena skill dia hanya itu. Coba kalau dia kuliah kayak anak saya Risa bisa kerja di kantoran dia."


Bu Rida membicarakan ku seolah olah tidak ada aku di dekatnya. Dadaku rasanya sesak sekali mendengar ucapan hinaan darinya. Aku tidak menyangka sama sekali kalau Bu Rida yang aku anggap orang baik ternyata memilliki lidah setajam silet. Ku tahan emosiku agar tidak meledak karena ini di tempat umum dan aku tidak ingin membuat kekacauan karena amarahku pada Bu Rida.


"Bukannya si Risa masih kuliah ya Bu Rida? dia belum kerja dan belum tentu juga Risa kerja apa setelah lulus. Intinya jangan merendahkan orang lain Bu Rida karena nasib orang ke depannya tidak ada yang tau. Siapa tau ke depannya si Nuri jadi pengusaha meskipun hanya tamatan SMA."


Dalam hati aku mengaminkan ucapan Bu Siti. Semoga saja suatu hari nanti aku bisa mengubah takdir hidupku menjadi lebih baik agar tidak lagi di rendah kan oleh orang lain. Aku kagum pada Bu Siti, wajahnya terlihat jutek dan cerewet tapi ternyata hatinya baik. Namun sebaliknya, Bu Rida yang berpenampilan baju lebih tertutup dan istri seorang ustad ternyata memiliki lidah yang berbisa.


"Hah, pengusaha. Halu nya jauh amat Bu Siti! Tidak mungkin si Nuri jadi pengusaha, pengusaha apaan? pengusaha gorengan? kalau si Risa sih sudah jelas dia kuliah dan sudah di pastikan akan mendapatkan pekerjaan yang bagus dan gaji besar kalau dia sudah lulus nanti."


Bu Siti tidak menimpalinya lagi melainkan hanya tersenyum miring dan menggelengkan kepalanya. Mungkin Bu Siti tidak menyangka istri seorang ustad berbicara menghina orang lain, sama halnya dengan ku yang tidak menyangka atas sikap dan sifat Bu rida. Karena biasanya bu Rida bersikap lemah lembut pada orang lain. Apa begini kah watak asli istri seorang ustad yang sebenarnya? entah lah aku tidak tau.


Aku meninggalkan Bu Rida serta Bu Siti kemudian mendekati pemilik warung lalu memesan apa saja yang aku butuhkan. Setelah selesai berbelanja, aku bergegas meninggalkan warung serta Bu Rida dan Bu Siti yang masih berbelanja. Namun sebelumnya aku pamit dulu pada mereka meskipun Bu Rida tidak menanggapinya.

__ADS_1


Aku beranjak pergi meninggalkan warung sambil menggendong Zain dan menenteng plastik besar. Namun tanpa ku sangka aku melihat Raihan sedang duduk di atas motornya lalu tersenyum ke arahku. Dia sedang menungguku di atas motor sportnya di tepi jalan depan warung. Aku heran kenapa Raihan ada di sini dan ada perlu apa? Aku segera menghampirinya.


"Rai..kok kamu bisa ada di sini?"


"Bisa dong mba, kan aku punya kaki dan motor he..he!"


"Maksudku kamu sedang apa di sini?"


"Sedang menunggu mba belanja."


"Lho, kok....!"


"Sudah, yuk naik. Sini belanjaannya biar ku letak kan di depanku saja mba!"


Meskipun masih merasa heran pada Raihan darimana dia tau jika aku ada di warung memberikan kantong plastik yang ku pegang padanya lalu menaiki motornya. Sebelum Raihan menancap gas, aku menyempatkan mataku menoleh ke arah warung dan ku lihat Bu Rida tengah memperhatikan kami dengan mukanya yang terlihat masam sekali.


Raihan memberhentikan motornya di depan rumahku. Aku turun dari motor dan hendak mengambil plastik belanjaan ku namun Raihan mencegahnya.


"Biar aku saja yang bawa mba."


Tanpa ku suruh Raihan berjalan menuju arah dapur untuk menyimpan barang belanjaan ku dan aku mengekor di belakangnya.


"Terima kasih ya Rai?" ucap ku setelah Raihan meletakkan belanjaan ku di atas meja.


"Apa mba mau jualan lagi?" tanya Raihan serius.


"I..iya Rai!" jawab ku dengan gugup karena aku tidak mengikuti perintahnya untuk tidak berjualan untuk sementara waktu.


"Apa uang dariku kurang mba? Apa mau aku tambah lagi agar mba tidak jualan?" tanya Raihan dengan wajah datar. Sepertinya dia tidak suka aku membantah perintahnya.


"Rai...aku tau kamu banyak uang dan terima kasih banyak atas uang yang sudah kamu berikan untuk ku. Tapi aku tidak ingin berpangku tangan Rai...karena aku sudah terbiasa mencari uang."


"Aku hanya ingin mba sehat. Kalau mba down lagi bagaimana?"

__ADS_1


"Aku sudah sehat Rai, inshaallah aku kuat."


Raihan menghela nafas berat dan berucap,'' ya sudah terserah mba saja." Kemudian dia mengambil alih Zain di gendonganku dan membawanya ke ruang tamu.


Tiba tiba suara petir menggelegar di atas langit kemudian turun hujan yang cukup lebat. Aku yang sedang berada di dapur berlari ke ruang tamu karena aku takut Zain menangis mendengar suara petir. Namun setelah di ruang tamu ku dapati Raihan sedang memeluk Zain dengan erat lalu aku tersenyum melihatnya.


"Apa dia menangis Rai?"


"Tidak mba, hanya terkejut saja!"


"Aku titip Zain dulu sebentar ya?"


"Siap..!"


Aku kembali lagi ke dapur untuk membuat pisang goreng sebagai cemilan di waktu hujan begini. Setelah selesai menggoreng aku membuat kopi untuk Raihan dan teh untuk diriku sendiri. Ku letak kan semuanya di atas nampan lalu membawanya menuju ruang tamu dimana Raihan berada.


"Wah, istri pengertian!" Raihan bergumam ketika aku meletak kan secangkir kopi dan sepiring pisang goreng tepat di hadapannya.


Aku menoleh pada Raihan lalu membesarkan mataku namun Raihan hanya tersenyum saja melihat ekspresi ku yang menurutnya lucu.


"Mumpung hangat Rai, di makan pisang gorengnya," titah ku pada Raihan yang sedang menyeruput kopinya dengan nikmat.


"Nanti juga saya habisin mba, he..he !" jawab Raihan lalu mengambil satu pisang goreng yang ada di atas piring lalu menyuapkan nya ke dalam mulutnya.


"Enak kali ya kalau punya istri? mau apa apa di layani termasuk ketika hujan, ingin yang hangat hangat di hangatin sama kopi serta gorengan," ucapnya dengan nada menggoda. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya.


"Apa kamu tidak kuliah hari ini Rai?" tanyaku di sela sela makan pisang goreng.


"Tidak mba, aku tadi hanya ke showroom saja sebentar dan bertemu dengan salah satu custamer yang mau membeli tiga unit mobil di showroom ku."


Aku mengerutkan dahi ku mendengar penjelasan dari Raihan lalu bertanya," apa maksudnya tadi Rai? showroom mu?"


Raihan terlihat salah tingkah namun tak lama dia menjawab," itu...maksudnya custamer yang mau membeli tiga unit mobil sekaligus di showroom tempat aku bekerja mba."

__ADS_1


Aku manggut manggut kecil namun aku merasa Raihan sedang menyembunyikan sesuatu padaku tapi entahlah mungkin itu hanya perasaanku saja.


__ADS_2