Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Dukungan Raihan


__ADS_3

Keesokan harinya, Kerupuk buatan ku dan Raihan sudah kering sempurna. Aku tersenyum senang sekaligus bangga melihat setumpuk kerupuk kering di atas penampi. Bagaimana tidak senang dan bangga, kerupuk yang ada di hadapanku saat ini merupakan kerupuk hasil ide dan resep ku sendiri bukan resep ibu atau orang lain.


Ku siapkan wajan besar di atas kompor lalu menaruh banyak minyak di dalamnya. Aku akan mencoba menggorengnya dengan harapan kerupuknya mengembang dan rasanya enak.


Setelah minyak panas, ku masukan beberapa kerupuk berbentuk pipih ke dalam wajan. Beberapa detik kemudian, seulas senyum terukir di bibirku melihat kerupuk hasil karya ku mengembang sempurna.


Setelah itu, aku memakannya dengan harapan rasanya enak. Aku tersenyum kembali setelah memakan kerupuk yang telah di goreng. Satu kata untuk kerupuk ku yaitu, perfect.


Ku lanjutkan lagi menggoreng dengan jumlah yang banyak untuk di jual di setiap warung langganan ku. Ketika aku sedang sibuk menggoreng dan tanpa ku sadari, Seseorang berdiri di belakangku dan menepuk pundak ku. Tak perlu lagi aku menoleh ke belakang karena dari wangi parfum nya saja sudah bisa menebak siapa orang yang berdiri di belakangku.


"Rai..kebiasaan deh main nyelonong masuk terus ngagetin."Aku mengomel namun pandanganku tetap fokus pada wajan serta tanganku sibuk membolak balik kerupuk."


"Ha..ha!kok mba bisa tau kalau aku yang datang?"


Aku mematikan kompor terlebih dahulu karena kerupuk mentah yang ku goreng sudah habis di goreng semuanya. kemudian aku berbalik mengarah pada Raihan.


"Gimana tidak tau Rai, dari wangi parfum mu saja sudah bisa di tebak."


"Wah, kalau mba sudah hapal sama wangi parfum ku berarti selama ini mba memperhatikan aku ya?"


Aku jadi salah tingkah, apa yang Raihan katakan memang benar kalau aku sering kali memperhatikan Raihan jika bertemu dengannya, mulai dari penampilannya hingga wangi parfumnya. Namun kemudian aku menyangkalnya karena aku merasa malu jika berkata jujur.


"Percaya diri sekali kamu Rai," ucap ku sambil mengangkat toples ukuran besar berisi kerupuk yang baru saja aku goreng.


"Ha..ha..ha..!" Raihan tertawa renyah sambil tangannya terulur meraih toples besar yang sedang ku pegang.


"Sini aku saja yang bawa mba!" ucap Raihan, menawarkan diri.


"Tidak perlu Rai, ini enteng banget lho!"Aku menolaknya.


"Tapi ini toplesnya besar banget mba."Raihan masih memaksa.


"Jangankan toples ini yang beratnya tidak seberapa, galon saja sering aku angkat Rai," Ucap ku dengan bangga sebab apa yang aku katakan adalah benar karena dulu aku pernah sempat membuka jasa isi air galon, air sumur yang sudah di masak sampai mendidih. Tapi usaha itu tidak lah berlangsung lama karena keterbatasan kayu bakar yang sulit di cari.


"Kuat banget dong mba, kalau angkat aku kuat tidak ya?"goda Raihan sambil tersenyum mesem.


"Ngapain aku angkat kamu, memangnya kamu anak ke.....!" aku segera membekap mulutku, hampir saja keceplosan menyebut Raihan anak kecil. Dia pasti akan merajuk jika aku menyebutnya anak kecil.

__ADS_1


"Sekali lagi mba sebut aku anak kecil, aku cium kamu mba!" ancam nya padaku sambil menatap kesal. Ternyata meskipun ucapan ku tidak di teruskan Raihan sudah tau apa yang akan aku katakan.


Aku tersenyum saja mendengar ucapannya, karena terlepas dari benar atau pun tidak ancamannya, Raihan sudah sering mencium ku meskipun aku tidak mengatakan dia anak kecil.


Aku duduk dilantai dapur untuk membungkus kerupuk dengan ukuran plastik kecil. Raihan ikut duduk dan kami saling berhadapan. Dia memperhatikan gerakan tanganku yang sedang memasuk kan kerupuk ke dalam plastik berukuran kecil.


"Mba telaten banget bungkusin nya!" puji Raihan. Aku tersenyum lalu menimpalinya," ini kan pekerjaanku selama tiga tahun Rai." Pengakuanku membuat Raihan sedikit tercengang dan dia bertanya kembali seperti tidak percaya. "Mba serius tiga tahun bekerja membuat kerupuk?"


Pandangan ku alihkan mengarah padanya." Kalau tidak membuat kerupuk darimana aku bisa makan Rai, sementara aku saja tidak bekerja di luar." Sedikit demi sedikit dan tanpa di sadari aku membuka privasi ku pada Raihan. Entah karena aku sudah merasa nyaman karena Raihan satu satu nya orang yang dekat dengan ku dan orang yang aku percayai.


"Tapi mba kan punya suami. Kenapa dia tidak mencukupi kebutuhan mba dan membiarkan mba bekerja keras? bukannya dia bekerja dan bergaji besar?"


Seketika aku bungkam. Dari mana Raihan bisa tau kalau gaji suamiku besar? aku bertanya dalam benak ku. Aku kebingungan untuk menjawab pertanyaan Raihan.


"Mba, katakan saja terus terang sama aku! mba percaya kan sama aku?" tanya Raihan lagi. Dia masih saja penasaran.


"Rai, kamu belum mencicipi kerupuk buatan kita yang kemarin lho, coba ini di cicipi enak tidak menurutmu?" Aku mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa aku merasa enggan jika menceritakan masalah bagaimana suami ku menafkahi ku.


Terdengar Raihan menghela nafas berat. sepertinya dia kecewa karena aku tidak ingin menceritakan yang sebenarnya. Namun meskipun begitu, dia menuruti tawaran ku untuk mencicipi kerupuk di dalam toples.


"Really?" or are you kidding and just want to make me happy?"tanyaku, dengan gaya nya aku memakai bahasa Inggris, bahasa yang sudah lama sekali tidak aku gunakan semenjak keluar dari perusahaan.


"No, im so serious. Katanya mba tidak bisa bahasa Inggris. Lah ini apa? intonasinya saja sudah kayak orang bule beneran."


"Ha..ha..ha ! bisa saja kamu Rai! sebenar nya aku bisa sih bahasa Inggris karena dulu bahasa Inggris itu salah satu tuntunan pekerjaan yang harus aku kuasai makannya aku belajar hingga bisa. Karena kalau tidak bisa bahasa Inggris aku kesulitan bicara sama beberapa klain orang Eropa Rai."


"Wah, keren mba Nuri, selain cantik juga bisa bahasa Inggris dan....!"


"Sudah jangan memujiku Rai, itu hanya masa lalu dan sekarang kamu lihat kan aku? ini lah pekerjaanku sekarang membuat kerupuk dan....!"


"Calon pengusaha sukses!" celetuk Raihan sambil senyum mesem.


Aku terdiam sejenak memandang Raihan lalu tersenyum hangat."Amin Rai, terima kasih ya doanya?"ucap ku. Raihan mengulurkan tangannya kemudian mengusap usap kepalaku yang terbungkus oleh jilbab dan berujar,"Tetap semangat ya mba, tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha dan bekerja keras inshaallah apa yang menjadi keinginan kita akan terlaksana. Yang penting harus tetap berikhtiar dan berdoa sama sang pemberi rezeki. Libat kan dia dalam setiap urusan kita."


Raihan memberi dukungan serta nasehat padaku. Hal seperti ini lah yang seharusnya aku dapatkan dari orang orang terdekatku seperti ibu serta suamiku. Namun tidak, aku malah mendapatkan nya dari orang lain yang tidak memiliki hubungan apa apa denganku namun pengertian dan menyayangiku.


Aku tersenyum hangat. Ku raih tangan Raihan yang sedang mengusap kepala ku lalu menempelkan telapak tangannya pada sebelah pipiku. Memiringkan kepalaku sedikit dan sebelah tanganku tetap menahan punggung tangannya hingga telapak tangannya tetap menempel di pipiku. Ku pejamkan mataku dengan senyuman yang tersungging di bibirku merasakan sentuhan telapak tangan Raihan yang hangat.

__ADS_1


Kenapa aku bersikap demikian secara sadar pada Raihan? karena aku merasa sangat senang saja dengan dua sisi. Pertama, aku senang kerupuk hasil ide ku berhasil dengan sempurna. Dan yang kedua, aku mendapat dukungan penuh dari sosok orang yang sangat tulus mencintaiku namun cintanya belum ku balas. Entahlah kapan aku bisa membalas cintanya karena statusku yang sudah memiliki seorang suami.


Seulas senyum tersungging di bibir tipis Raihan melihat perilaku ku padanya yang tak biasa. Karena biasanya Raihan lah yang lebih dulu berperilaku macam macam padaku seperti memeluk serta mencium ku yang secara tiba tiba. Mengelus punggungku serta mengusap air mataku ketika aku menangis. Begitu lah Raihan, manis dan lembut sekali perlakuannya padaku. Perlakuan manis dan lembut yang tidak pernah aku dapatkan dari suamiku.


Raihan menjewel hidungku dan membuatku membuka mata lalu melepaskan tangannya dari pipiku. Aku menunduk malu pada Raihan atas kelakuanku sendiri.


"Menyesal aku menjewel hidungmu mba, biar mba tidak melepaskan tanganku."


Aku semakin menunduk kan wajah malu ku. Kemudian Raihan meraih daku ku hingga kami saling bertatapan.


"Aku tau mba sudah memiliki perasaan padaku kan?" tanya Raihan dengan wajah serius.


"Aku..aku hanya senang saja mendapat dukungan dari kamu Rai!" Aku menyangkalnya.


Wajah Raihan berubah dari tatapan serius menjadi tatapan kecewa kemudian berucap," ya mba, aku akan selalu mendukungmu apa pun itu." Lalu tersenyum dengan senyuman yang dia paksakan.


Aku tau Raihan kecewa dengan jawabanku. Dia berharap aku berkata jujur padanya bagaimana perasaanku padanya? dan terlebih dari itu, dia ingin aku membalas cintanya. Namun, bagaimana aku bisa membalas cintanya sementara aku memiliki seorang suami meskipun berlaku buruk padaku. Aku tidak ingin di sebut menyelingkuhi suamiku dan aku juga tidak ingin Raihan di sebut pebinor. Meskipun sebenarnya aku menyukai Raihan dan merasa sangat nyaman dengannya.


Aku melanjutkan lagi kegiatanku membungkusi kerupuk. Raihan masih tetap membantuku. Namun kali ini, kami bekerja dalam diam hanya sesekali dan seperlunya saja kami bicara.


"Rai, sebaiknya kamu istirahat saja kamu pasti capek!" ucapku. Membuka kebisuan di antara kami.


"Aku tidak capek mba, biar aku bantu mba sampai selesai." Raihan menolaknya tanpa menghentikan pergerakan tangannya yang sudah tidak terlihat kaku.


Aku tidak lagi bicara melainkan melanjutkan pekerjaanku hingga pekerjaan kami selesai.


"Alhamdulilah akhirnya kelar juga, terima kasih ya Rai, sudah mau membantuku lagi!"


Raihan tidak menjawab melainkan tersenyum dan berkata," mba, aku ke depan dulu ya?"


Aku mengangguk," apa mau aku buatkan kopi atau teh, Rai?"


"Tidak perlu mba, aku hanya ingin istirahat saja di depan." Kemudian Raihan beranjak pergi dari dapur.


Ku rapihkan kembali tempat bekas membungkusi kerupuk yang terlihat acak acakan. Setelah selesai berbenah aku melirik jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas dan aku pikir bahwa Raihan pasti sudah lapar.


Aku berjalan menuju kulkas lalu membukanya.Terlihat hanya ada dua ikat bayam dan tiga butir telur serta satu papan tempe. Aku memang sengaja hanya menyetok tiga bahan itu untuk makan Zain.

__ADS_1


__ADS_2