
Setelah berada di dalam outlet itu, seorang SPG muda dan cantik menghampiri kami dan menyapa dengan ramah.
"Selamat siang mas, mba ada yang bisa kami bantu?"
Kami menoleh."Terima kasih mba, tapi biarkan calon istri saya ini pilih pilih dulu."Raihan balik menyapa.
"Oh, iya silahkan mas, mba, kalau begtu saya permisi dulu dan kalau nanti butuh bantuan silahkan panggil saya saja."
"Baik mba, terima kasih."Ucap Raihan, lalu melirik ke arahku dan berkata.
"Sayang pilih saja barang apa saja yang kamu inginkan."
Aku yang sedang memperhatikan sekitar melirik nya lalu menggeleng pelan.
"Kenapa?"tanya Raihan.
"Aku tidak ingin membeli apa apa. Bukannya kamu sendiri yang mau membeli? kenapa menawariku?"
"Aku ini laki laki tidak butuh tas, aku sengaja bawa mba kemari agar memilih barang apa yang mba suka. Bukan nya tadi saat di luar mba memperhatikan outlet ini?"
"Ya ampun Rai, aku pikir kamu mau membeli produk yang kamu inginkan. Aku memperhatikan tempat ini bukan berarti ingin memiliki produk-produk mewah yang ada di sini Rai, aku hanya kagum saja. Lagi pula aku ini orang kampung dan orang biasa rasanya tidak pantas saja memakai barang bermerk dan mahal nya kebangetan."
"Apa mba pikir barang mewah itu hanya untuk orang kaya saja?"
"Ya, karena orang miskin seperti ku mana mampu untuk membelinya."
"Tapi aku ingin membelikan nya untuk mu mba."
"Jangan buang-buang duit Rai, lebih baik uangnya di gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. Ya sudah yuk kita keluar." Aku sudah melangkah hendak keluar namun Raihan menahan tanganku dan berucap.
"Kalau sudah berada di sini harus membeli mba."
Aku mengernyitkan kening ku." Masa sih! tapi aku tidak ingin membeli tas Rai, lagi pula tas disini harganya puluhan juta terus ngapain beli tas harga puluhan juta? buang buang duit saja. Mending duitnya buat investasi tanah. Kalau tanah semakin lama semakin mahal harganya, lah tas?"
"Ya ampun ternyata calon istriku ini brilian juga."
"Apa, calon istri!" Ucap seseorang dengan suara keras sehingga membuat beberapa orang menoleh padanya.
Begitu pula dengan kami, yang juga ikut menoleh ke arah sumber suara dan ternyata orang yang bicara dengan suara keras itu adalah Nura. Dia nampak cantik dan terkesan se xi. Tubuhnya yang ramping di tutupi oleh dress ketat di atas lutut tanpa lengan dan hanya berupa kemben yang melingkar di dadanya. Rambutnya tergerai sebahu dan sebuah kaca mata bertengger di atas kepalanya. high heel sepuluh senti dengan lilitan tali di bagian betis nya menambah kesan ke anggukan seorang Nura yang notabene nya seorang gadis kota dan kaya raya. Penampilan nya saat ini berbanding terbalik dengan ku yang terkesan berpenampilan kampungan.
Ini merupakan untuk kedua kalinya aku bertemu dengannya. Di pertemuan pertama kami adalah pada saat syukuran perusahaan Raihan yang mana Nura nampak sangat anggun dengan gamis serta hijab yang membalut tubuh tingginya. Penampilan nya saat ini jauh berbeda sekali hingga aku nyaris tidak mengenalinya. Yang menjadi pertanyaan ku saat ini adalah apa seperti ini penampilan keseharian Nura? memakai pakaian se xi nyaris memperlihatkan lekuk tubuhnya.
__ADS_1
Nura sedang berdiri tidak jauh dari kami dan kedua tangannya menenteng dua paper bag seperti nya dia habis belanja di outlet ini. Aku cukup terkejut melihatnya karena selain bertemu dengan kekasih Raihan tanpa di duga, penampilan Nura pun cukup membuat aku terkejut. Ku lirik Raihan, dia nampak santai saja seolah olah kehadirannya dan apa yang sudah di dengar olehnya bukan suatu masalah baginya.
"Nu..Nura..."Ucap ku dengan gugup.
Nura berjalan anggun ke arah kami dengan ekspresi datar. Aku semakin gugup di dekati olehnya. Aku merasa seperti seorang pelakor yang telah kepergok jalan dengan lelaki miliknya.
Setelah berdiri di dekat kami, dia menelisik penampilanku dari atas hingga bawah sembari menunjukan ekspresi ketidaksukaan nya padaku lalu tak selang lama pandangan nya di arahkan pada Raihan.
"Apa maksud mu menyebut dia calon istri, Rai?"Tanya nya, raut wajahnya datar.
"Kamu sudah mendengarnya?"Raihan balik bertanya. Sikap nya tenang dan biasa saja.
Nura tersenyum miring."Tadi malam kamu memutus kan aku dan sekarang kamu menyebut janda anak satu ini sebagai calon istrimu!" tunjuk nya padaku.
"Jaga bicara mu Nura."Bentak Raihan sehingga mengundang beberapa orang melihat ke arah kami.
"Apa kamu mau tau siapa dia?" Raihan bertanya padanya sambil menunjuk ke arahku."Dia adalah wanita yang sering sekali aku ceritakan padamu. Dia wanita yang selama ini aku cintai."Sambungnya kemudian.
Nampak Nura tercengang mendengar pengakuan Raihan tentang siapa aku baginya. Sementara aku hanya menunduk kan wajahku. Sungguh aku tidak ingin berada di situasi seperti ini dan andai saja aku memiliki pintu Doraemon, ingin rasanya aku menghilang di tengah-tengah mereka.
"Di..dia.."
"Ya, dia Nuri wanita yang sangat aku cintai selama ini. Kamu sudah mengenalnya juga kan sebelumnya? Kamu jangan bicara berlebihan Nura. Bukannya kita sudah sepakat kalau aku tidak bisa mencintaimu dalam waktu dua bulan maka kita akhiri hubungan bohongan ini."
"Tapi nyatanya aku tidak bisa mencintaimu Nura, aku tidak bisa. Lagi pula kita sudah menyepakatinya dari awal bukan?"
Nampak air mata Nura mengalir, kemudian dia menoleh padaku dan aku langsung menunduk. Ingin rasanya aku berlari saat ini juga.
"Apa, apa istimewanya wanita ini Rai? dia hanya wanita biasa. Dia juga hanya seorang janda dan memiliki anak. Wanita ini jauh di bawah level ku, tapi kenapa kamu memilih dia Rai?"
Ku pejamkan mataku, Nura menghina ku. Namun apa yang dikatakan oleh nya adalah benar bahwa aku hanya seorang janda memiliki anak satu dan level ku jauh di bawahnya dalam segi apapun.
"Jaga bicara mu Nura." Raihan membentaknya." Mestinya kamu bercermin setelah itu kamu akan tau apa istimewanya dia bagiku."
Aku mendongak." Rai, lebih baik kalian selesai kan dulu masalah kalian. Sini biar aku yang menggendong Zain." Setelah berucap aku langsung mengambil paksa Zain dari gendongan nya dan ketika aku hendak melangkah Raihan menahan lenganku.
"Jangan pergi sayang, sudah tidak ada lagi pembahasan diantara kami."
Aku menggeleng, ku tatap wajah Raihan dengan mata yang sudah berkaca kaca dan siap tumpah. Rasa malu, sedih, berbaur jadi satu saat ini. Aku tidak menghiraukan cegahan nya kemudian ku tarik lenganku dari genggamannya lalu bergegas keluar dari outlet.
Aku tidak menghiraukan panggilan Raihan ketika aku melangkah pergi menjauhinya. Dan Raihan pun tidak berusaha mengejar ku maka ku biarkan saja. Ketika aku melangkah lebar sambil berlinang air mata dan tidak memperhatikan jalan aku menabrak tubuh seseorang hingga terhuyung namun tidak sempat jatuh karena sosok tubuh itu telah lebih dulu menahan ku.
__ADS_1
Aku mendongak menatap wajah sosok yang ku tabrak sekaligus menolong ku. Nampak pria paruh baya namun terlihat masih muda dan gagah serta tampan. Aku merasa jantung ku berpacu dengan cepat dan aku merasa telah mengenal sosok pria ini sejak lama tapi kapan dan dimana. Pria itu menatap ku tanpa kedip bahkan mulutnya terbuka sedikit. Aku tidak tau apa yang sedang dia pikirkan tentangku.
"Saya mohon maaf pak, saya tidak sengaja dan saya ucapkan terima kasih karena bapak sudah menolong saya dan anak saya sehingga kami tidak sampai terjatuh."
"Ha..Hanum!"Ucap pria itu. Pria itu tidak merespon ucapan maaf ku melainkan menyebut aku dengan nama yang sama saat Oma dokter Bayu Pertama kali bertemu dengan ku. Dan apa yang dilakukan oleh pria ini adalah sama dengan apa yang di lakukan oleh Oma.
Aku mengernyitkan dahi ku karena ini untuk kedua kalinya orang memanggilku dengan sebutan Hanum. Aku menerka siapa pria ini? kenapa dia memanggilku sama dengan sebutan Oma dokter Bayu. Apa jangan-jangan pria ini adalah suami dari almarhum mama dokter Bayu dan berarti pria ini adalah papa dokter Bayu dan juga papa dari Nura.
Cukup lama pria itu memperhatikan wajahku hingga aku sedikit risih di buatnya.
"Maaf pak, nama saya Nuri bukan Hanum." Bersamaan dengan berucap seseorang memanggil pria yang sedang berdiri di hadapanku.
"Pa, papa!"
Aku maupun pria itu menoleh ke arah sumber suara dan nampak wanita yang sudah tak lagi muda berpenampilan seperti seorang sosialita berdiri dengan jarak beberapa meter dari kami. Dan aku yakin wanita itu adalah istri dari pria ini dan mama dari Nura. Ketika wanita itu berjalan ke arah kami dan di saat itu pula aku pamit pada pria dihadapan ku.
"Saya permisi pak." Ucap ku, lalu beranjak pergi. Aku tau pria itu hendak mencegah ku namun melihat istrinya sudah dekat dia mengurungkannya.
Sembari berjalan aku bergumam."Pantas saja dokter Bayu tampan dan Nura cantik, ternyata keturunan dari papa nya yang juga nampak tampan dan gagah.
Setelah menjauh dari mereka, aku kebingungan akan pergi kemana. Apalagi aku tidak tau seluk beluk mall besar ini. Aku menoleh ke belakang tidak ada Raihan mengekor di belakangku. Aku pikir mungkin urusan nya belum selesai dengan Nura. Aku merogoh ponsel ku dan sialnya ponsel itu dalam keadaan mati. Jika ponselnya mati bagaimana aku bisa menghubungi Raihan dan memberitahu dia dimana posisiku saat ini.
"Mama Zen haus, lapal." Ucap Zain yang sedang ku gendong.
"Ah iya sayang, kita cari air minum dan makanan dulu ya?"
Zain mengangguk.
Kemudian aku mencari sebuah coffe shop yang letaknya di lantai atas. Setelah menemukannya aku pun masuk ke dalamnya. Aku hanya memesan air mineral serta roti saja untuk Zain karena aku sendiri belum lapar.
Setelah mendapatkan air mineral dan roti lalu mencari meja yang kosong.
"Kita duduk disini ya nak, sambil menunggu uncle Raihan. Mudah mudahan uncle Raihan tau keberadaan kita di sini."
Zain mengangguk.
Perlahan aku menyuapi Zain roti. Dan selama itu pula aku teringat atas kejadian di outlet tadi.
"Apa Raihan masih mengobrol dengan Nura? atau dia mencari ku?" Aku bermonolog.
Setengah jam kami berada di coffe shop itu hingga roti milik Zain habis di makan olehnya. Aku memutuskan untuk keluar dari coffe shop itu dan mencari Raihan.
__ADS_1
Ketika aku berjalan mencari Raihan sambil menggendong Zain, aku menemukan pria yang aku cari sedang mengobrol akrab dengan pria paruh baya yang ku tabrak tadi di sebuah restauran yang hanya berdinding kaca. Dan dari luar nampak pula wanita sosialita juga Nura ikut serta di sana. Aku perhatikan dari balik kaca besar itu mereka seperti sebuah keluarga yang bahagia, canda dan tawa pun menyertai mereka. Aku tidak mengerti kenapa air mataku menetes melihat pemandangan itu.
"Apa, apa kamu melupakan aku dan Zain yang sedang menunggumu Rai?" Ku usap air mata lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.