Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Dinner romantis


__ADS_3

Setelah Raihan menjelaskan tentang kemana Zain akan di bawa aku pun mengijinkan nya. Setelah itu, Raihan memberikan Zain pada kedua orang itu. Zain sendiri tidak menolak melainkan menurut ketika salah satu dari mereka menggendongnya.


"Zain jangan nakal ya nak!" pesan ku pada Zain yang sudah berada di gendongan salah satu dari mereka.


"Okey mama, don wolly." Ucap nya sembari tersenyum nyengir.


Aku tersenyum gemas mendengar respon Zain yang entah siapa mengajari nya bahasa Inggris karena aku sendiri tidak pernah mengajarinya.


"Good boy." Raihan mengelus pucuk kepala nya. Aku menduga bahwa Raihan lah yang mengajari Zain bahasa Inggris.


"Ya sudah kalian bawa anak saya sekarang tapi ingat harus hati hati dan tidak boleh lengah."


"Siap pak boss." Ucap mereka serempak lalu beranjak pergi membawa Zain.


"Siapa mereka Rai?" Tanya ku sembari memperhatikan kedua punggung wanita itu yang hendak memasuki sebuah lif.


"Staf ku di kantor he he." Jawab Raihan sembari tersenyum nyengir lalu menggaruk tengkuknya.


"Ooo, pantas saja mereka nurut."


"Kalau tidak nurut ya ku pecat. Lagi pula aku memberi upah sepadan selama menjaga Zain kok sayang. Tidak hanya sekonyong konyong menyuruh mereka mengasuh Zain tanpa memberi upah. Dan mereka juga tidak menolaknya malah justru sebaliknya senang dapat uang banyak hanya dalam waktu beberapa jam saja."


Aku tersenyum tipis mendengar ujarannya." Ya, bos mah bebas lah ya, namanya juga banyak duit jadi menghambur hamburkan uang pun tidak masalah."


"Aku tidak menghambur hambur kan uang sayang ku...Zain itu anak ku. Jadi tidak masalah kan kalau aku menggaji mereka mahal agar mereka bisa menjaga Zain dengan baik." Bersamaan dengan berucap dia menarik hidungku hingga aku kesulitan bernafas. Aku buru buru menepis pelan lengannya hingga terlepas.


"Kamu bikin aku tidak bisa nafas, Rai."


Raihan tertawa renyah." Maaf sayang habisnya aku gemas sekali sama kamu mba."


"Benar kah?" Ku tatap dalam manik matanya begitu pula dengan Raihan menatap balik sorot mataku. Setelah itu, dia meraih daku ku kemudian di angkatnya lebih tinggi karena ukuran tubuh ku hanya sebatas dada nya.


"Aku benar-benar sangat mencintai kamu mba. Tidak ada mba di sisiku aku merasa separuh jiwaku hilang. Oleh karena itu, aku mohon sama mba jangan pernah tinggalkan aku ya mba kalau tidak....aku bisa mati berdiri."


"Gombal." Ucap ku sembari tersenyum meledek.


Raihan tak menghiraukan ledekan ku melainkan dia me lu mat habis bibirku. Mata ku membelalak mendapat serangan untuk kedua kalinya. Namun, aku tidak menolak justru sebaliknya meresponnya dengan baik. Ciuman Raihan sudah menjadi candu bagiku dan sulit untuk menolaknya dan rasanya ingin lagi dan lagi tiada puasnya. Kami berciuman kembali di atas ketinggian enam puluh sembilan level. Di atas gedung tertinggi yang ada di ibu kota dengan suasana kerlap kerlip kota Jakarta di sekeliling gedung menambah kesan ke indah dan keromantisan apa yang sedang kami lakukan. Kami saling pagut, mengecap dan bertukar saliva tanpa ada rasa jijik terutama Raihan padaku padahal aku belum mandi dan sikat gigi dari tadi siang. Apalagi saat ini tidak ada Zain di antara kami begitu pula dengan tempatnya begitu sepi hanya ada kami berdua jadi kami bebas serasa dunia ini hanya milik kami berdua.


Cukup lama kami berciuman hingga aku merasa kehabisan nafas. Raihan menjeda, memberi sedikit celah agar oksigen masuk ke dalam paru paru ku namun setelah itu dia me lu mat kembali bibirku dan lagi aku tidak menolaknya melainkan menyambutnya dengan suka rela.


Entah berapa lama kami berciuman hingga aku benar benar kehabisan nafas dan aku merasa bibirku pun mulai membengkak. Di saat merasakan hal itu aku mendorong pelan dada Raihan agar dia melepas kan tautan bibirnya.


Setelah kami melepaskan pagutan aku menghirup oksigen dengan amat rakus. Sementara Raihan tersenyum saja melihat tingkah ku. Setelah merasa nafasku kembali normal aku meraba bibirku dan benar saja bibir yang mulanya tipis menjadi terasa tebal.


"Kok jadi gini." Ucap ku dengan polos. Karena terus terang ini untuk pertama kalinya aku mengalami hal seperti itu meskipun aku pernah menikah.


Raihan tertawa cukup keras. Seperti nya dia puas sekali telah membuat bibir tipis ku menjadi tebal.


"Kalau bibir yang jarang di cium itu ya begitu sayang sekalinya di cium jadi bengkak. Makannya sering sering lah berciuman biar tidak bengkak." Raihan meledek sekaligus menggodaku dan dengan gemas aku mencubiti perutnya.


"Aduuhh, ampun, ampun mba." Raihan mengaduh sembari tertawa kegelian. Namun tak lama dia berhasil menangkap tangan ku lalu membawa tubuh ku kedalam dekapannya.


"Minggu besok aku akan melamar mba ke rumah. Minta restu dari keluarga mba dan sekalian mencari tanggal yang cocok untuk pernikahan kita. Dan aku ingin nya dalam bulan ini kita sudah menikah mba."


Di tengah pelukan Raihan aku mendongak tinggi." Bulan ini?"


Raihan menunduk." Iya, kenapa sayang? apa keberatan?"


Aku menggeleng pelan.

__ADS_1


"Semakin cepat semakin lebih baik kan sayang! aku takut jika di undur waktunya akan berdampak kurang baik. Selain itu aku juga takut semakin lama semakin tidak bisa menahan hawa nafsu. Kalau kita sama sama tidak bisa menahannya dan lepas kontrol bagaimana? Aku tidak ingin benih ku tumbuh di luar nikah mba hehe."


Aku melepaskan diri dari pelukan nya." Mikirnya jauh banget sih Rai, lagi pula siapa yang tidak bisa menahan hawa nafsu. Mungkin itu kamu kali aku mah enggak."


"Jadi, apa mba tidak mau buru buru nikah?"


Aku menggeleng cepat." Wanita mana sih Rai yang menolak di nikahi oleh seorang pria yang memiliki pola pikir sama dan sejalan?"


"Jadi artinya mba mau kita menikah secepatnya?"


"Tentu saja aku tidak menolak."


Raihan tersenyum." Semoga kita bisa menikah akhir bulan ini ya mba dan semoga dalam tempo dua Minggu ini kita bisa mempersiapkan segalanya."


"Bukannya hanya mendaftar diri di KUA? kenapa harus mempersiapkan segalanya?"


"Apa mba pikir aku hanya akan melakukan ijan qobul di depan penghulu? tidak dong mba. Aku akan membuat pesta pernikahan yang mewah dan mengundang orang orang yang aku kenal biar mereka tau betapa cantiknya istriku."


"Apa, apa itu tidak berlebihan Rai? apa kamu tidak malu sama orang orang kalau membuat pesta pernikahan?"


"Kenapa harus malu?"


"Karena...kamu hanya akan menikahi seorang janda anak satu, Rai. Bagaimana kalau orang orang..."


"Seeett." Raihan meletak kan telunjuk nya di bibirku." Apapun status mba aku tidak peduli. Di mataku mba itu sangat istimewa maka aku pun akan menikahi mba secara istimewa pula."


Lagi, Raihan membawa tubuhku ke dalam pelukannya dan mengecupi pucuk kepalaku." Sebentar lagi status mba akan berubah menjadi seorang nyonya Gemilang hehe." Aku tersenyum mendengarnya.


Kruuuk kruukk


Tiba tiba cacing-cacing di perutku berteriak cukup berisik membuat aku malu sekali pada Raihan. Aku pun segera melepaskan diri dari dekapannya dan berdiri tegak.


Aku tersenyum malu lalu mengangguk." Aku cuma makan pagi, Rai." Jawab ku jujur. Ya, aku teringat siang hari saat aku mau makan nasi Padang yang ku beli ternyata ibu lebih dulu memakannya. Setelah itu, aku tidur tanpa makan hingga Zain hilang di saat aku terbangun. Dari situ aku sibuk mencari Zain hingga melupakan jika perutku belum terisi makanan.


Raihan tidak merespon melainkan menuntun dan membawaku ke sebuah meja yang letaknya beberapa meter dari tempat kami berdiri. Setelah berdiri di samping meja yang hanya terdiri dari dua kursi nampak di atas meja itu sudah terhidang banyak makanan cantik di atasnya di sertai bunga dan sebuah lilin di tengah tengah meja.


"Ayok sayang duduk." Raihan menarik kursi untuk ku duduki.


"Terima kasih, Rai."


Dia tersenyum." Sama-sama sayang."


Setelah aku duduk Raihan pun ikut duduk. Ku alihkan pandanganku ke arah samping kiri dan seketika itu pula aku benar benar merasa seperti sedang melayang di atas awan melihat pemandangan di darat. Luar biasa sekali restauran yang sedang ku singgahi ini. View nya langsung menjorok ke darat hingga nampak hampir setengah permukaan kota Jakarta.


"Ini namanya sky dining sayang." Ucap Raihan di tengah aku menatap kagum ke daratan.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah nya."Sky dining." Ulang ku.


"Iya, mba ingat tidak saat kita dinner di sebuah restauran di atas bukit di kabupaten? aku pernah bilang sama mba bahwa ada tempat dinner yang view nya jauh lebih menarik. Nah tempat yang aku maksud itu ya ini mba. Aku juga pernah bilang kalau aku akan mengajak mba ke tempat yang aku maksud suatu hari nanti."


"Jadi kamu sengaja membawa aku kemari sebagai kejutan karena..."


"Iya sayang. Sesuai dengan perkataan ku kalau aku tidak hanya sekedar berkata tapi bisa membuktikannya. Mba suka tidak tempat ini?"


"Suka pake banget, Rai."


Raihan tersenyum lebar.


"Tapi kenapa di sini sepi sekali tidak seperti di bawah?"

__ADS_1


"Ya karena aku membooking khusus malam ini untuk kita. Biar enak saja tidak ada yang mengganggu."


"Hah, pasti mahal banget, Rai."


"Tidak usah di pikirin sayang. Uang ku tidak akan habis kalau hanya sekedar menyewa restauran ini dalam tiga jam. Mba doain aku saja agar rezeki ku selalu lancar supaya aku selalu bisa memberikan yang terbaik dan membuat mba bahagia."


"Kebahagian ku tidak dapat di ukur dengan kemewahan yang kamu berikan Rai. Aku hanya butuh kesetiaan mu serta tanggung jawab mu saja."


"Aku mengerti sayang. Dan tentu saja mba tidak perlu ragu dengan kesetiaan ku. Kalau tentang tanggung jawab, memberikan mba kehidupan yang layak serta kemewahan sehingga hatinya merasa senang pun itu salah satu tanggung jawab ku sebagai seorang suami bukan?"


Ucapan Raihan terdengar begitu manis sekali di telingaku hingga aku benar benar terbuai. Aku berharap ucapannya bukan sekedar ucapan semata tapi dapat di buktikan setelah kita menikah nanti.


"Ayok di makan katanya lapar tadi. Apa mau aku suapi?"


Aku menggeleng cepat." Tidak usah Rai, aku bisa makan sendiri." Kemudian aku menatap pada beberapa menu yang tersaji. Menu nya nampak aneh dan asing di mataku. Setiap masing-masing piring atau wadah berisi secuil makanan namun tertata cantik dan unik.


"Menu makanan yang di sediakan di restauran ini adalah perpaduan jepang dan Peru, mba. Tapi mba tidak usah khawatir makanan yang ada di meja ini semuanya berbahan halal kok." Ternyata Raihan memperhatikan kediamanku. Padahal bukan itu yang aku pikirkan saat ini melainkan memikirkan keberadaan nasi.


"Apa di restauran ini tidak ada nasi?"Tanya ku tanpa malu.


"Ada kok, maaf ya sayang aku lupa hehe." Kemudian dia menoleh ke suatu arah lalu memberi aba aba seperti memanggil seseorang. Aku mengikuti arah pandangan Raihan ternyata dia memanggil dua orang pelayan yang sedang berdiri tegap di pojokan. Aku pikir hanya ada kami di tempat ini ternyata ada dua pelayan yang sedang menunggu dan bertugas melayani kami.


Dua pelayan itu pun mendekati kami." Selamat malam mas, mba. Ada yang bisa kami bantu?"Tanya salah satu dari mereka.


"Emm, saya lupa mba. Bisa tambahkan menu Nasi putih dua?" ucap Raihan.


"Bisa mas. Sebentar ya akan kami ambilkan."


"Terima kasih mba."


Kemudian dua wanita itu pergi dari hadapan kami. Sembari menunggu pesanan datang Raihan menjelaskan nama nama makanan yang tersaji satu persatu. Menu perpaduan Jepang dan Peru. Mulai dari bahan yang di oleh hingga ke toping-toping nya agar aku tidak ragu untuk memakannya.


Selang beberapa menit pelayan itu kembali lalu meletak kan dua mangkok nasi ukuran kecil di hadapan kami.


"Silahkan mas, mba. Jika ada yang kurang boleh panggil kami kembali."


"Ah, ya terima kasih, mba." Kemudian pelayan itu pun kembali ke tempat semula.


"Ayok sayang di makan." Ucap Raihan dan aku mengangguk. kami mulai makan dalam diam namun sesekali bicara dan melempar senyum hingga tak terasa tiga puluh menit kemudian kami selesai makan. Ku tatap sisa makanan yang masih banyak aku jadi teringat pada ibu, bang supri serta Sumi. Andai saja mereka ikut makan enak bersama ku saat ini mungkin makanan nya tidak akan menyisa banyak.


"Kenapa sayang?"


"Makanan nya sisa banyak."


"Terus?"


"Apa tidak di bungkus saja bawa pulang?"


Raihan tersenyum lebar. Aku tau dia menertawakan ke kampungan ku namun aku tidak peduli lagi pula sayang sekali jika di biarkan begitu saja apalagi sudah membayar nya sangat mahal.


"Iya sayang kita serahkan saja sama pelayan." Kemudian Raihan memanggil pelayan itu kembali.


"Iya mas, ada yang bisa kami bantu?"Tanya salah satu pelayan itu setelah berada di hadapan kami.


"Ini mba, istri saya sedang ngidam ingin makanan yang belum tersentuh ini bisa take away saja ?"


Aku sedikit membesarkan bola mataku mendengar Raihan mengaku bahwa aku istrinya yang sedang ngidam ingin membawa pulang makanan sisa yang ada di meja.


"Tentu saja bisa mas, akan kami segera persiapkan."

__ADS_1


__ADS_2