
Aku membuka isi paper bag yang telah di bawakan oleh si pria dingin itu. Pria bernama Dino memiliki sikap datar dan dingin namun siapa sangka ternyata dia bisa tertawa juga. Raihan bilang Dino merupakan teman baik sejak dari SMP namun satu tingkat di atasnya. Selain teman sejak SMP Dino juga membantu usahanya mulai dari nol. Bukan tanpa alasan Dino di angkat jadi asistennya atau kaki tangannya karena Dino satu satu nya teman yang dapat di percaya oleh nya. Selain itu, Dino juga satu satunya orang yang tau bagaimana sepak terjang usahanya. Pantas saja mereka bersikap seperti bukan seorang bawahan pada seorang atasan melainkan bersikap selayaknya pada seorang teman akrab meskipun sikap Raihan sedikit arogan tapi aku yakin itu hanya sebuah candaan semata.
Aku mengeluarkan semua isi paper bag itu dan nampak tiga setel pakaian berbeda model, satu setel pakaian tidur, tiga jilbab berbeda warna dan motif serta tiga setel pakaian dalam. Ku perhatikan harga yang tertera pada bandrol di setiap masing masing item semuanya mahal.
Aku melirik ke arah Raihan yang sedang sibuk memainkan ponselnya sembari duduk di atas sofa.
"Rai..!"Panggil ku.
Dia mengalihkan pandangannya padaku lalu menyahut."Iya sayang, kenapa?"
"Apa Dino yang memilihkan semua pakaian ini?"
"Iya, memang kenapa? apa tidak cocok?"
"Oh, pandai juga dia memilihkan pakaian yang bagus dan cocok di badan ku."
Raihan memajukan bibir bawahnya." Pandai bagaimana aku yang memberi tahu ukuranya termasuk...pakaian dalam mba."
Kedua alisku saling bertautan, kenapa Raihan bisa tahu ukuran pakaian dalam ku? Padahal dia tidak pernah bertanya bahkan aku pun tidak pernah memberi tahu.
"Mba tidak usah khawatir bukan si Dina yang memilihkan pakaian luar mau pun dalam untuk mba secara langsung melainkan di bantu oleh staf wanita."
Padahal bukan itu yang ku pikirkan melainkan darimana Raihan tau ukuran pakaian dalam ku." Tapi..dari mana kamu tau ukuran pakaian dalam ku?"
Raihan mendongak menatapku dengan wajah bengong." Ya....aku hanya mengira ngira saja sayang." Ucap nya lalu mengelus pelipisnya.
"Ngira ngira!"
"Iya, sudah sana mandi dulu, bau."
"Tapi ini harga nya mahal semua, Rai."
"Tidak apa mba, mba itu kan istimewa jadi..."
"Gombal terus kamu Rai." Setelah berucap aku mengambil satu setel pakaian tidur lalu beranjak ke kamar mandi. Kamar mandi itu nampak mewah dan berukuran luas. Ada bathtub, shower, closet, wastafel beserta kaca cermin berukuran cukup besar dan letak letak nya terpisah pisah dengan jarak yang saling berjauhan. Tapi yang membuat aku tercengang adalah dinding kamar mandi itu berupa kaca besar tanpa gorden hingga bisa melihat pemandangan kota Jakarta.
Duugh
"Aduuuh." Aku meringis sembari memegang keningku setelah berbenturan dengan sebuah dada bidang.
Tiba tiba saja Raihan sudah berada di belakangku saat aku berbalik hendak keluar kamar mandi untuk melaporkan pada nya masalah gorden karena aku tidak mungkin bisa mandi ditempat terbuka seperti ini.
"Sakit ya sayang." Ucap nya lalu ikut mengelus keningku.
"Kamu kok main nyelonong saja sih, Rai? gimana coba kalau aku sedang mandi."
"Ya tidak apa apa hehe. Aku kemari mau mengantar kan handuk, nih!" Raihan menyodorkan handuk baru berupa kimono.
__ADS_1
"Tapi itu kan sudah ada, Rai." Tunjuk ku ke arah handuk kimono yang tergantung.
"Itu bekas aku pakai sayang."
"Memangnya kapan kamu mandi disini?"
"Tadi pagi dan tadi sore."
"Hah!"
"Aku sebenarnya sudah booking kamar ini dari kemarin sore sayang dan tadi malam pun aku tidur disini. Soalnya aku lagi malas bolak balik ke apartemen."
"Oo."
"Ya sudah, mandi dulu gih. Aku keluar dulu."
"Rai!" Aku memanggil Raihan ketika dia sudah beranjak.
Raihan berbalik." Kenapa mba?"
"Itu...memang kaca nya tidak pakai gorden ya?" tunjuk ku pada dinding kaca." Aku tidak bisa mandi kalau tempatnya terbuka seperti ini, Rai. Gimana kalau ada orang yang ngintip?"
Raihan tertawa. Aku tau dia menertawakan ke kampungan ku tapi aku tidak peduli yang aku inginkan saat ini adalah kaca itu di tutup oleh gorden.
"Tidak akan ada yang ngintip kamu mandi sayang."
"Kaca itu hanya tembus pandang dari dalam dan tidak akan tembus pandang dari luar."
"Maksudmu?"
"Maksud ku kita bisa melihat pemandangan di luar dari dalam tapi jika kita melihatnya dari luar kita tidak bisa melihat pemandangan yang ada di dalam. Kaca ini di desain khusus dan berbeda dengan kaca yang ada di lobby perhotelan atau perkantoran yang bisa tembus pandang di luar maupun di dalam."
"Ooh, Kamu yakin kamar mandi ini aman dan tidak akan ada yang mengintip?"
"Di jamin aman. Paling yang ngintip aku sendiri mba, he he."
Ku cubit gemas perutnya. Raihan mengaduh lalu menahan tanganku dan di saat itu pula dia hendak mencium ku namun aku segera menutup mulutnya sebelum bibir nya berlabuh di atas bibirku.
"Ja..jangan Rai, jangan lakukan itu di sini."
Raihan mengalihkan tanganku dari mulutnya." Memang kenapa sih, aku cuma ingin cium mba doang dan tidak akan berbuat lebih."
"Iya, tapi, aku..aku takut kita lepas kontrol, Rai. apa lagi ini di ruangan sepi."
Raihan terdiam namun tak lama dia menyunggingkan senyum."Iya sayang, aku mengerti. Maaf ya!" Setelah berucap dia melabuhkan kecupan di keningku."Ya sudah mandi gih." Setelah itu, dia keluar dari kamar mandi.
"Mba!"Raihan menyembulkan kepalanya di pintu. Aku mengernyitkan dahiku melihatnya.
__ADS_1
"Jangan lupa di kunci pintunya. Aku takut lupa kalau ada mba sedang mandi hehe." Setelah berkata dia menutup pintu itu kembali. Aku geleng-geleng kepala saja melihatnya.
Raihan nampak sedang mendekur halus sembari memeluk Zain ketika aku keluar dari kamar mandi. Melihat mereka sedang tidur nyenyak mataku pun tiba tiba ikut mengantuk. Aku menoleh ke arah sebuah sofa panjang dan aku pikir sofa itu cukup menampung seluruh anggota tubuhku karena aku tidak mungkin tidur satu ranjang dengan pria yang belum menjadi suamiku.
"Mau kemana mba?"Tiba tiba Raihan bertanya ketika aku sudah memutar tubuhku untuk berjalan ke arah sofa.
Aku memutar balik dan menyipitkan kedua mataku melihatnya sedang duduk tegak."Kamu belum tidur, Rai? aku pikir kamu sudah tidur."
"Belum, aku nunggu mba."
"Kenapa harus nunggu aku? kenapa tidak langsung tidur saja kalau sudah mengantuk."
"Bagaimana bisa tidur bidadari ku saja belum tidur."
"Emm, ya sudah kalau begitu aku juga mau tidur sekarang."
"Mau kemana mba?" Raihan bertanya kembali di saat aku akan berjalan ke arah sofa.
"Ya mau ke sofa lah, tidur."
"Kenapa harus di sofa? disini saja. Mba lihat kan ranjang ini cukup besar dan muat untuk lebih dari tiga orang.
"Tapi aku.."
"Mba takut aku berbuat macam macam sama mba?"
Aku terdiam. Ternyata Raihan tau apa yang sedang aku pikirkan.
"Mba tidak usah khawatir. Aku tidak akan berbuat macam macam sama mba. Aku kan pernah bilang kalau aku tidak ingin benih ku tumbuh di luar nikah he he."
"Janji ya kamu tidak akan berbuat macam macam?"
"I'm promise honey."
Setelah memastikan Raihan tidak akan berbuat macam macam aku pun ikut naik keatas ranjang empuk itu. Aku merebahkan tubuhku di samping kiri Zain sementara Raihan di samping kanan nya. Sebelum memejamkan mata ku lirik Raihan terlebih dahulu ternyata dia sedang memperhatikanku.
"Kenapa lihatin aku seperti itu?"
"Oh tidak. Ya sudah tidur gih." Ucap nya, kemudian aku pun memejamkan mataku dan dalam hitungan menit pikiran ku sudah berada di alam bawah sadar.
Mataku mengejap di saat silauan sinar matahari menerpa wajahku. Setelah netra mataku terbuka seratus persen aku melirik ke samping ternyata Zain dan Raihan sudah tidak ada di ranjang. Ekor mataku mengedar ke sekeliling kamar tidak ku temukan juga keberadaan mereka.
"Apa Zain sedang di mandikan Raihan!" monolog ku. Akhirnya dengan rasa malas aku beranjak dari ranjang.
"Rai, Zain.." Panggilku sembari berjalan ke arah kamar mandi namun tidak ada sahutan di dalam sana.
Aku penasaran kenapa Raihan tidak menyahut dan tanpa ragu aku pun membuka pintu kamar mandi itu lalu masuk ke dalamnya. Setelah berada di dalam aku geleng-geleng kepala melihat dua pria yang aku sayangi sedang tidur di dalam bathtub berselimut busa sabun dengan posisi Zain tengkurep di atas dada Raihan.
__ADS_1